Purusa Tattwa atau hakekat kebenaran yang bersumber dari ajaran Agama Hindu hendaknya dijadikan dasar membangun alam dan manusia Bali agar mencapai Bhuta Hita dan Jagat Hita. Bhuta Hita artinya alam yang sejahtera sedangkan Jagat Hita artinya masyarakat yang sejahtera.
Leluhur orang Bali dalam membangun alam dan manusia Bali berpegang dengan konsep Sad Kerti yang diuraikan dalam bab purana Bali. Konsepsi Sad Kerti masih sangat relevan sebagai landasan filosofi membangun Bali yang Bhuta Hita dan Jagat Hita dengan kondisi saat ini. Mengapa ada berbagai persoalan muncul dalam proses pembangunan Bali, karena pada saat pembangunan Bali dimuali bersamaan dengan pembangunan Nasional filosopi Tri Hita Karana dan Sad Kerti tersebut tidak dijadikan unsur yang supremasi dalam menata pembangunan di Bali. Saat ini kalau ingin kembali pada Bali yang Bhuta Hita dan Jagat Hita sudah sangat beralasan untuk menggunakan filosopi Tri Hita Karana dan Sad Kerti sebagai landasan membangun Bali yang sejahtera itu. Filosopi hidup Tri Hita Karana dan Sad Kerti sebagai landasan filosopi pembangunan Bali dari tingak bawah sampai tingkat atas. Terbukti Tri Hita Karana telah dijadikan Pola Dasar Pembangunan baik di Tingkat Daerah Bali maupun di Kabupaten dan Kota se Bali. Sad Kerti itu dapat dibagi dua yaitu Tiga Kerti untuk mengamanatkan pembangunan alam yaitu Samudara, Danu dan Wana Kerti. Tiga Kerti sebagai amanat utnuk membangun manusia dan masyarakat yaitu Atma, Jagat dan Jana Kerti. Jadinya sad Kerti itu adalah filosopi dan konsep pembangunan alam dan manusia Bali Hindu. Dalam menegakkan Purusa Tattwa Bali tidak ada cara lain kecuali membangun alam dan manusia Bali sesuai dengan konsep ajaran Hindu sebagai bentuk Bhakti kepada Hyang Widhi Wasa. Alam Bali akan hancur kalau makna Upacara Yajna yang menggunakan sarana flora dan fauna disalah artikan. Kalau mengacu pada Manawa Dharma Sastra V.40 bahwa penggunaan flora dan fauna itu justru maksudnya agar kita lestarikanlah flora dan fauna tersebut. Kemudian hasil pelestarian itulah baru ia digunakan untuk kebutuhan hidup termasuk sebagai sarana persembahan kepada Tuhan.
Mengapa Bali disebut Bali olih Drs. I Ketut Wiana , diposting oleh rare angon nak bali belog.




