07/02/2012

Novel Gandamayu


Novel Gandamayu

Novel Gandamayu

Novel Gandamayu, karya Putu Fajar Arcana terdiri atas cerita Di Bawah Bulan, Kutukan, Permohonan Kunti, Meruwat Durga, Akulah Jodohmu, Nakula Terlunta, Pandawa Terpukul, Bintang Kemukus, Bayang-Bayang Matahari. Tokoh Novel Gandamayu diantaranya, Sahadewa, Dewi Durga, Kalika, Sudamala, Dewa Siwa,, Dewi Uma, Kalantaka dan Kalanjaya, Resi Tamba Petra, Diah Soka dan Diah Padapa, Kunti, Yudistira, Bima, Pandawa dan Korawa. Novel Gandamayu memiliki beberapa lokasi cerita; Indraprasta, Setra Gandamayu, Siwa Loka, Prangalas, Kuru Setra dan Kaliakah.

Kalika, sekali lagi aku bilang perjuangan kita sama, perjuangan melawan dominasi laki-laki atas seluruh ruang hidup kita. Bahkan, pikiran dan tingkah laku semua ditentukan oleh mereka. Kutukan yang telah kita jalani di tempat ini beberapa tahun lalu adalah bukti bahwa sedalam apapun cinta dan kesetiaan yang telah kita tunjukkan pada laki-laki, mereka tetap sangsi dan kita harus menjalani tes demi tes lagi….”

“Dan lihatlah,” Tambah Uma, “Kita berdua meski dalam wujud yang sudah berbeda, tidak berdaya menghadapi semuanya. Sudamala memang telah berhasil mengubah wujudku, tetapi ia dibantu oleh Dewa Siwa, representasi dari kekuatan para lelaki. Bahkan, kalau kamu sekarang pergi ke Kahyangan, keadaan tidak akan lebih baik. Para dewa sibuk berbisik-bisik bergosip….”

“Apa yang harus kita lakukan Dewi ?”

Uma tercekat. Pikirannya macet. Ia tak punya gagasan apa pun. Melawan dengan cara menantang seluruh gagasan yang dimunculkan Dewa Siwa atau para lelaki lainnya tentulah tak akan mengubah keadaan. Jangankan soal itu, mengembalikan wajah Kalika ke wujud semula saja ia tidak punya kekuatan apa pun. Uma boleh sakti karena bisa terbang, tetatpi ia tetap sosok dewi yang tak berdaya. Seluruh para lelaki, yang mengaku sebagai dewa Kahyangan. Sebagai perempuan, Uma tetap menjadi bayang-bayang matahari, bayang-bayang para lelaki yang setiap saat, setiap waktu mengendalikan segala keinginan.

Uma menemani Kalika sampai senja benar-benar pamit dari langit barat. Sisa cahaya yang dipantulkan di pucuk pohon kenanga membawa kabar keresahan Dewa Siwa. Para dewa menemukan tubuh Uma seperti kepompong yang telah ditinggalkan kupu-kupu, bersandar di pilar Siwa Loka. Siwa panik, berlari kesana kemari mengelilingi Kahyangan. Ia merasa kehilangan dewi penerang Kahyangan selamanya …..

Rare Angon Nak Bali Belog mengajak untuk mari membaca, pang sing Belog

28/01/2012

Penjor | Pering Selonjor


Penjor adalah Pering Selonjor, Pering (bambu) selonjor (sebatang) jadi bambu sebatangĀ  yang dihias dan dibuat sedemikian rupa sehingga akan terlihat indah. Selain indah Penjor di Bali yang berhubungan dengan Upacara Yadnya, dituntut pula benar dan sesuai dengan Filsafat, Susila dan Apacara. Pada Hari Raya Galungan, yang jatuh pada tanggal 1 Februari 2012 ini, masyarakat Hindu Bali di seluruh Nusantara bahkan di dunia tentunya sudah bersiap-siap membuat Penjor. Pada Hari Raya Galungan umat Hindu “Memenjor” yang terbuat dari Sebatang bambu dihiasi dengan “busung” /janur, dilengkapi pula dengan “keraras” /daun pisang kering, “kolong-kolong” terbuat dari janur, “Plawa” / kayumas, Pala Bungkah – Pala Gantung, Kelapa Bungkulan, Jajan dan Sampyan Penjor. Untuk mengikat dipergunakan “Tali Tutus ” / tali bambu, bukan tali plastik seperti kebanyakan saat ini. Penjor untuk keperluan Upakara Yadnya dilengkapi dengan Sanggah Cucuk sebagai tempatĀ  menaruh persembahan / Yadnya.

Penjor merupakan perlambang dari Gunung Udaya / Tohlangkir yang lazim disebutkan dengan nama Gunung Agung, Penjor merupakan ungkapan rasa syukur dan bakti kita kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atas segala kesejahteraan dan kedamaian yang telah dianugrahkan kepada umat manusia. Gunung Agung adalah tempat suci, demikian pula gunung-gunung yang lain di Nusantara, sehingga kesucian ini diwujudkan dengan didirikannya tempat-tempat suci Hindu / Pura, seperti di Gunung Mahameru, Gunung Semeru, atau Gunung Himalaya.

Rahajeng Galungan lan Kuningan ring Umat Hindu Sedharma, Dumogi mawit saking asung kertha waranugraha Ida Sanghyang Widhi Wasa, Semeton ngemolihang napi sane keaptiang ring warsa 2012 tur ngantos riwekasan. Ajeg Bali.

Bahan bacaan ; dari buku Arti dan Makna Sarana Upakara oleh Pinandita, Drs. I Ketut Pasek Swastika. di posting oleh Rare Angon Nak Bali Belog.

18/01/2012

Sang Hyang Dhruva | Dewa Konstalasi Bintang


Dewa Konstalasi Bintang. Umat Hindu di tanah Nusantara sangat asing mendengar nama Sang Hyang Dhruva ini. Demikian juga dengan teks atau naskah atau literatur dalam ranah Nibandha, hampi tidak dijumpai nama Sang Hyang Dhruva. Ini mungkin disebabkan karena adanya konsep ketuhanan manusia Hindu Bali, yang lebih terpusat pada pemujaan kehadapan Sang Hyang Tri Murti.
Perlu dipahami dan diketahui oleh Umat Hindu, bahwa Hinduisme merupakan agama yang berdiri dengan konsep Tuhan yang berbeda dengan agama-agama Abrahamik lainnya. Bahkan Dr. Frank Gaetano Morales, Ph.D, yang merupakan guru besar Universitas Wisconsin-Madison, menyatakan bahwa ” Hinduisme is tradition religion according to selt unique, different by religion in the world “. Bahwa Hindu merupakan agama yang memiliki banyak pemujaan Tuhan secara unik, dan tidak ditemukan dalam agama manapun di dunia. Pemujaan ini mengantarkan salah satu diantara Ista Dewata yang banyak di puja adalah Sang Hyang Dhruva. Ada banyak naskah kuno Hindu menyebutkan bagaimana Sang Hyang Dhruva ini memberikan anugerah kepada pemuja-Nya dan menjadikan alam ini tetap berada dalam sebuah keseimbangan.

Secara harfiah Sang Hyang Dhruva akan masuk dalam wilayah Asta Vasu, read more »

08/01/2012

I Kambing Takutin Macan


Ditu di alas rangrang, kacrita ane malu ada pakulewargan ia I Kambing luh madan Ni Rabi. Ngelah pianak aukud madan I Ubuh. Risedek sasih kapat, alase lumlum gadang, bet ulian kekayuan ane mentik luung. Tur tusing kuangan padang mentik di alase ento. Di alase ento masih liu buron ane idup ditu. I Kedis, I Gajah, I Macan, I Sampi, I Bojog tur ane lenan.
Kacarita lantas jani I Kambing luh lakar ngulurin indria kema ke tengah alase ngajak pianakne. I Kambing makedadua melila cita, ngulurin manahe liang. Risedek maseneng-seneng ia I Kambing, saget tepukina teken I Macan Gading. I Macan bengong, sawireh tumben nepukin burin buka ento, ngalih amah ditu disawengkon kekuasaan ia I Macan. Laut I Macan maekin tur metakon kene ,” Ih iba buron soleh, nyen iba ?. Dadi bani mai ngelincak ke gumin awake. Awake madan I Macan Gading, ane nitahin sawengkon alase dini. Sing ja ada ane bani tekening awake”. Medingehan munyin I Macan buka keto, masaut lantas ia I Kambing kene, ” Uduh cai macan, mirib cai tusing nawang, kai suba madan I Kambing. Kai nyidang ngamatiang Macan lelima acepokan tur amah kai. Yan I Kambing nenenan kroda, jeg uug alase nenenan, puun baan api ane pesu uli awak kaine. Apang cai tatas nawang, di tanduk kaine nenenan melinggih Ida Sang Hyang Tiga Wisesa. Yang cai mekeneh mapas anake buka kai, sinah cai mati puun, tur atman caine tan rahayu di kedituanne”.
Keto pasautne I Kambing masemu bangras. Ningeh pemunyine I Kambing buka keto, I Macan jeg mekesiab, muane seming, ngejer, takut, tur makecos melaib. Dugas ia I Macan melaib ngawag ulian takutne, ditu kepanggih teken ia I Bojog kampungane I Macan. I Bojog matakon kene, ngudiang kone cai melaib tanpa karuan buka keto tumben. Buina angkihan caine runtag ngangsur “. Mesaut ia I Macan, ” Mara busan icang kacunduk ajak buron aeng. Awakne poleng-poleng, majenggot, metanduk lanying, ia ngorahang ibane I Kambing, kone ia buron sakti tanpa tanding, cang nagih sarapa teken buron sakti totonan. Ento mekrana cang melaib runtag, apang nemu rahayu “. read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.