Tag Archives: Orang yang Terpelajar Harus Berbudi Luhur

Pikiran Membangun Karakter

Pikiran Membangun Karakter oleh Sri Svami Sivananda.

Di antara Pelayanan, Pelayanan dalam Bidang Pendidikan adalah yang Paling Mulia

Tujuan pendidikan adalah membantu menumbuhkan sifat prima menusia atau karakter yang sempurna dalam diri setiap orang. Para orangtua dan pendidik semuanya bertanggung jawab atas pendidikan. Para orangtua adalah guru di rumah dan para guru profesional adalah guru di sekolah. Agar sifat-sifat prima dalam diri anak-anak berkembang, para orangtua dan guru harus bekerjasama dan saling membantu.

Pengetahuan Sejatilah yang dapat Memberi Kebebasan

Kebebasan yang abadi hanya dapat diperoleh melalui suatu pengetahuan, yaitu pengetahuan yang terkandung dalam kitab-kitab Upanisad. Itulah ilmu tentang kesadaran Tuhan, itulah amanat para rsi. Hanya pengetahuan itulah yang dapat menyelamatkan manusia dan menganugerahkan kedamaian kepadanya. Apa pun bidang yang dipelajari secara khusus untuk penghidupan, tak ada yang lebih tinggi daripada pengetahuan tentang kesadaran Tuhan, karena itu pusatkanlah perhatianmu pada hal tersebut.

Kebijaksanaan Hilang dalam Pengetahuan, Pengetahuan Hilang dalam Keterangan

Bila intelek atau kecerdasan saja yang dipertajam tanpa upaya untuk menumbuhkan dan mempraktekkan kebajikan, bila hanya keterangan-keterangan belaka yang disimpan dalam otak, dunia tidak akan dapat maju dan kesejahteraannya akan berada dalam bahaya.

Orang yang Terpelajar Harus Berbudi Luhur

Tampaknya sekarang orang-orang tidak memiliki kebajikan lagi karena sistem pendidikan kita tidak memberi peluang untuk ajaran atau latihan spiritual. Pendidikan yang sejati tidaklah merusak atau menghalangi perkembangan berbagai sifat bajik dan luhur dalam diri manusia. Ia tak akan puas sekedar mengisi otak dengan berbagai rongsokan yang tidak berguna. Hanya pendidikan yang memberi peluang penuh untuk berkembangnya semua sifat baik yang membedakan manusia dengan mahluk lain yang lebih rendah, adalah pendidikan yang bermanfaat.
Tidakkah manusia telah melatih diri dalam berbagai cabang seni, keahlian dan ilmu pengetahuan ? Bukankah mereka telah merancang berbagai mesin yang tidak terhitung jenisnya ? Bukankah mereka telah mengumpulkan pengetahuan yang tak terhingga banyaknya ? Meskipun demikian manusia belum mendapat kedamaian hati yang sangat diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan. Sebaliknya, dengan berlalunya waktu, pengetahuan ini menenggelamkan manusia ke dalam kesulitan yang makin lama makin besar, sedangkan kedamaian hati makin lama makin menjauh.

Pengetahuan yang Menuntun Menuju Sumber

Pendidikan jaman sekarang disebut Vidya, tetapi sebenarnya istilah ini tidak layak bila melihat tindakan orang-orang terpelajar jama sekarang serta ciri kepribadiannya. Orang yang terpelajar  harus mampu menghirup kebahagiaan batin yang berasal dari atma, terlepas dari keadaan luar. Ia harus memahami tujuan hidupnya. Ia harus mengetahui disiplin KESADARAN DIRI YANG SEJATI.
Apakah tujuan hidup manusia ? Apakah untuk sekedar makan, tidur, menikmati sedikit suka duka, dan akhirnya mati seperti setiap burung atau hewan liar ?
Tujuannya adalah BRAHMAN SAKSHATKARA, menyadari Tuhan Yang Mutlak. Tanpa hal tersebut tak seorang pun dapat mencapai kedamaian batin. Ia harus mendapatkan kebahagiaan itu dengan manunggal dalam Kesadaran Yang Mutlak, dan dengan rahmat Tuhan.

Pertanyaan yang Terpenting

Pertama-tama manusia harus mengetahui alamat lengkapnya; siapakah engkau ? ATMA. Dari manakah asalmu ? Dari ATMA. Ke manakah engkau pergi ? Menuju ATMA. Berapa lamakah engkau akan berada di sini ? Selama masih mengejar kenikmatan indera. Di manakah engkau sekarang ? Dalam maya yang tak nyata dan selalu berubah. Dalam wujud apa ? Sebagai ATMA. Apakah yang sedang kaulakukan sekarang ? Tugas-tugas yang fana. Karena itu, apakah yang harus kaulakukan sejak saat ini ? Melepaskan hal-hal itu dan berusaha melakukan tiga hal lainnya, yaitu memasuki yang kekal, menyibukkan diri dalam tugas yang tak pernah berubah, dan berusaha untuk menunggal dengan ATMA.

Ciri Khas Orang Terpelajar

Ciri khas orang yang terpelajar adalah kerendahan hati, karena menyadari bahwa ia belum mempu mengetahui hal tak terhingga banyaknya yang masih harus diselidiki. Orang terpelajar harus insaf bahwa ia memiliki lebih banyak kewajiban daripada hak istimewa, lebih banyak tugas daripada hak.Orang yang terpelajar harus senang mengabdi dan bukannya ingin menguasai. Karena pengabdian tanpa pamrih bersifat ketuhanan. Pengabdian membuat hidup manusia bermanfaat. Pengabdian adalah cara yang terbaik untuk menggunakan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan sumber-sumber penghasilan manusia.Pendidikan haruslah tidak dianggap sebagai proses mengisi kantong kosong, kemudia isinya keluar sehingga kanyong itu kosong lagi. Bukan kepala yang harus diisi melalui pendidikan. Hatilah yang harus dibersihkan, diperluas, dan diterangi. Pendidikan adalah untuk hidup, bukan untuk mata pencaharian.

Penghayatan Langsung Lebih Berharga daripada Pengetahuan dari Buku

Kebijaksanaan adalah sesuatu yang kita dapat sebagai hasil pengamalan. Pengetahuan yang didapat dari buku sangat berbeda dengan pengetahuan yang didapat dari pengalaman.
Usaha memperbaiki diri sendiri terdiri dari dua aspek: pertaman membuang semua pikiran dan kebiasaan buruk yang ada dalam diri, dan kedua, mengembangkan berbagai kebiasaan yang baik.

Universitas Abadi

Semua orang adalah pelajar dalam UNIVERSITAS JAGAT RAYA yang abadi. Tukang besi, tukang kayu, segala macam tukang, pengemis, petani, pedagang, orang yang paling miskin dan orang yang paling kaya, semuanya mengkaji berbagai pelajaran dalam universitas ini. Janganlah menganggap dunia ini tidak bernilai. Manusia tidak dapat mencintai diri sendiri tanpa sekaligus mencintai orang lain juga.
Pelajarannya adalah : buanglah iri hati, kumpulkan kebahagiaan; buanglah kebencian, penuhi hati dengan kasih; buanglah kekerasan; kesadaran akan manunggal dengan Tuhan. Hanya mereka yang mempraktekkan hal ini dapat mengatakan diri mampu mengikuti pelajaran yang lebih tinggi.

Meditasi Matahari Terbit, Wacana Para Maha Rsi
Gede Arsa Dana, Penerbit: Dhyana Vahini Workshop, 2007