Bali is Bali


Semua orang Bali, ya kuli, petani, laki, perempuan, pendeta, guru adalah seniman. Sanjungan ini sudah sering didengung-dengungkan sejak 1930-an, ketika dunia digerogoti resesi dan kian banyak orang Barat melakukan perjalanan ke Timur. Salah seorang di antara mereka adalah Miguel Covarrubias, seniman yang kemudian menulis Island of Bali, buku terlengkap dan terbaik yang pernah ditulis tentang Bali.
Buku Miguel yang memuat sanjungan buat Bali itu lantas dikutip berkali-kali, dilontarkan dalam pertemuan pariwisata, dalam pidato-pidato, dicetak di atas brosur promosi turisme, sehingga kian membujuk banyak orang untuk berkunjung ke Pulau Dewata. Sekarang pun pernyataan Miguel ini masih suka dikutip-kutip orang yang menulis bertumpuk kekaguman terhadap Bali. Dengan sendirinya sanjungan itu juga meledakkan kebanggaan tersendiri buat manusia Bali. Apa lagi ketika kemudian sanjungan lain segera muncul seperti Island Of God (Pulau Dewata), The Last Paradise (Surga Terakhir), Island of Temple (Pulau dengan ribuan pura), kebanggaan itu boleh jadi kian menjadi-jadi. Semakin yakinlah orang-orang Bali bahwa orang asing bakalan kian banyak mengunjungi pulau mereka. Ada yang berkunjung sebagai pelancong, sebagai peneliti, atau sebagai pribadi yang berminat mendalami kebudayaan khas Bali.
Prikehidupan mulai berubah. Ada nilai-nilai yang mulai bergeser. Kesenian mulai menunjukkan sosoknya yang jelas hendak kemana akan melangkah. Terjadilah pemilahan, ada kesenian untuk turis, ada kesenian yang diusahakan tetap pada akarnya. Kenikmatan tidak lagi hanya semata berarti keterlibatan total dalam kehidupan ritual keagamaan dan masyarakat, namun juga ditentukan oleh peranan dollar yang dibawa wisatawan.  Dari sini kemudian mulai timbul kekhawatiran, tidaklah turisme akan merusak Bali ?.
Lima puluh tahun lagi, akankah kita mendapatkan Bali seperti yang kita nikmati setengah abad silam ? Adakah saat itu sanjungan Miguel Covarrubias masih menampakkan wujudnya? Adakah Bali bisa tetap jadi Island of God karena dewata sudah pergi jauh, tak tega menyaksikan, seperti tulis WS.Rendra (Alm), pura dan tempat-tempat suci dicemari ?.
Pasti sudah banyak yang mengatakan kekhawatiran tersebut terlampau dibesar-besarkan kendati cukup beralasan. Mereka berteriak, “Cobalah datang ke dusun, di sana kehidupan masyarakat Bali tetap asli !”
Tahun baru 1988 (Sekarang tahun 2010 atau 12 tahun yang lalu – red ) seorang rekan berlibur ke Bali bersama keluarganya. Ia meminta saya mengantarnya kesebuah tempat dengan masyarakat khas Bali. Kalau permintaan itu dilontarkan lima belas tahun silam, tentu enteng saya memenuhinya. Tapi permintaan itu tercetus ketika pariwisata sudah menjadi industri dan modernisasi, akibat kepesatan komunikasi, sudah merasuk jauh ke desa-desa.
Saya mencoba menawarkan Bali Selatan, ke daerah Gianyar, Klungkung, ke desa-desa sentra kesenian. Ia tertawa terkekeh-kekeh menyambut tawaran saya,”Di tempat-tempat itu tak ada lagi Bali,”sahutnya,”Justru wilayah yang kau tawarkan tersebut paling nyata menerima pengaruh turisme.”
“Tapi mereka tetap terlibat dalam kehidupan khas Bali.”
“Apa misalnya ?”
“Upacara adat dan keagamaan mereka masih tetap Bali.”
“Tapi perekonomian mereka, bukanlah perpanjangan ekonomi yang dibawa turis ?”.
Saya anjurkan ke Bali Utara, ditolaknya. Alasannya, “Kalau kita mencari kehidupan masyarakat Bali yang masih asli jangan ke daerah pesisir, pergilah ke pegunungan.”
“Ke Trunyan kalau begitu, ke Trunya !” saya anjurkan.
Ia menolak disertai derai tawa panjang. “Di Trunyan yang terjadi tak cuma bisnis pariwisata, juga politik pariwisata. Buat apa ke sana kalau berniat mencari Bali yang Bali ?”

iklan layanan Blogger

“Ke daerah Tabanan bagaimana ? Bali Barat masih asli, belum banyak dijamah turis, kecuali Tanah Lot.”
“Di Bali Barat kita tak banyak menyaksikan praktik kegiatan adat dan agama dalam kehidupan sehari-hari,” sahutnya. “Yang banyak kita saksikan kegiatan pertanian. Yang kubutuhkan adalah kegiatan masyarakat Bali secara total.”
“Kalau begitu kita kemana dong ?” tanya saya putus asa.
“Lho, kau yang lebih tahu tentang pulaumu, bukan aku,”jawabnya sigap sambil mengangkat pundaknya, hampir menyentuh daun telinganya yang lebar.
Mungki ia melihat wajah saya yang kecewa. Maka buru-buru ia menyuguhkan sebuah cerita.
“Ketika mahasiswa aku punya teman, namanya Windi. Orangnya cantik, lincah, cerdas dan anggun. Ia menjadi primadona kampus kami. Boleh jadi ia gadis Indo, karena wajah dan penampilannya mirip betul bintang film Mieke Wijaya. Hampir semua mahasiswa, dan bahkan dosen serta guru besar, memanggilnya Mieke, tidak Windi. Panggilan itu sangat membahagiakannya. Kadang-kadang, kalau memperkenalkan dirinya dengan mahasiswa baru atau mahasiswa daerah lain yang mengunjungi kampus kami, ia dengan bangga menyebut dirinya sebagai Mieke. Lalu tepuk tangan riuh menyambutnya.
“Windi benar-benar telah menjadi Mieke. Jika bersolek ia mentah-mentah meniru Mieke. Jalannya, lenggoknya, persis Mieke.
“Totalitas ia telah menjadi Mieke Wijaya. Ia bangga. Sampai kemudian suatu ketika ia mengalami kecelakaan lalu lintas tatkala piknik bersama pacarnya. Mukanya rusak kena pecahan kaca, tangannya patah, sehingga setelah sembuh sikunya bengkok. Windi sangat tertekan hidupnya. Ia merasa diri paling buruk rupa di dunia. Ia cakar orang yang memanggilnya Mieke. Karena tak tahan ia pulang kampung dan bunuh diri.”
Saya terkejut mendengar kisah itu, lalu bertanya, “Apa hubungan kisah Windi yang bunuh diri dengan Bali ?”
“Ada. Kisah Windi mengajarkan jangan kita mabuk sanjungan, dan jadilah diri sendiri. Bali menerima banyak sanjungan turis, sehingga ia menjadi Island of God dan sebagainya. Bagiku Bali sebaiknya cukup menjadi Bali saja. Jadilah sebuah pulau yang bergelar Bali is Bali. Ya kalau Bali bisa bertahan sebagai pulau kahyangan, surga terakhir, kalau tidak……”
“Bisa bunuh diri,” sahut saya.
Akhirnya keluarga itu menginap di Kuta, sebuah tempat yang menurut dia tak lagi mencerminkan Bali is Bali.

17 Januari 1988
Bali is Bali olih Gde Aryantha Soethama

diposting oleh rare-angon nak bali belog

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s