Pemangku


Pada setiap tempat di Bali maupun di luar Bali yang dihuni oleh penduduk yang beragama Hindu sebagai tempat tinggal, tempat usaha, wilayah/desa;  pasti terdapat tempat-tempat peribadatan yang diberikan nama menurut jenis bangunannya dan fungsi dari tempat-tempat peribadatan tersebut seperti ; Pelinggih, Perahyangan, Sanggah, Pemerajan, Panti, Penataran, Tri Kahyangan, Dang Kahyangan, dan lain sebagainya. Disamping itu, pada setiap tempat peribadatan itu telah ditentukan pula jadwal waktu-waktu tertentu untuk menyelenggarakan upacara-upacara keagamaan, jenis upacaranya dan siapa-siapa yang patut menyelenggarakan serta memimpin/Pemanggku upacara-upacara tersebut. Setiap tempat peribadatan dalam satu desa/wilayah pastinya di sungsung  oleh warga desa adat. Setiap warga desa adat memikul kewajiban-kewajiban yang patut dipenuhi atau dilaksanakan. Kewajiban dalam hidup bermasyarakat pada dasarnya merupakan kewajiban sosial yang menginginkan keserasian dan keseimbangan hidup sebagai landasan untuk mewujudkan ketentraman, keadilan dan kesejahteraan lahir-bathin dalam persekutuan hidup bersama.
Secara garis besarnya kewajiban warga desa adat meliputi :

iklan dulu :

Aset Anda1

1. Melaksanakan  ( tugas-tugas krama desa)
Ayahan desa berupa: kerja bakti memperbaiki/membangun pura milik desa adat, menyelenggarakan upacara Dewa Yajna (ngodalin) di pura milik desa, menyelenggarakan upacara Bhuta Yajna (mecaru) di desa setiap tilem kesanga, melaksanakan upacara makiyis, menyelenggarakan pembangunan-pembangunan untuk kepentingan desa adat dan melaksanakan tugas-tugas lainnya bagi desa adat.
2. Wajib tunduk dan mentaati peraturan-peraturan yang berlaku bagi desa adat yaitu : awig-awig baik tertulis maupun tidak tertulis, paswara dan sima yang telah berlaku. Selain itu warga desa adat berkewajiban pula menjaga keamanan dan ketentraman bersama, menjaga nama baik desanya dan melaksanakan suka-duka (gotong-royong) antara sesamanya.
Awig-awig desa juga merupakan suatu perwujudan dari otonomi desa yang merupakan faktor pendukung utama dari kedudukan desa adat sebagai persekutuan hukum, yaitu yang membentuk aturan hukumnya sendiri dan tunduk pada aturan hukum yang dibuat itu. Isi awig-awig umumnya menyangkut patokan yang bertujuan memelihara ketertiban dan ketentraman dalam kehidupan desa adat, sehingga di dalamnya dapat dijumpai pula adanya penentuan sanksi-sanksi bagi warga yang melakukan pelanggaran. Pelanggaran atau kasus dapat berupa kasus Adat, kasus Non Adat dan Kasus Campuran.

Setiap desa adat memiliki perangkat desa ( secara umum) sebagai berikut :
Bendesa sebagai Kepala Desa Adat
Petajuh Bendesa sebagai Wakil dari Bendesa
Penyarikan sebagai juru tulis Bendesa
Kasinoman desa sebagai juru arah
Sulinggih/Pemangku untuk urusan upacara agama di pura

Bagi para sulinggih/pemangku dibebaskan dari wajib kerja dan wajib materi, baik untuk banjar maupun untuk desa adat, karena kedudukan seorang sulinggih/pemangku adalah dipandang suci dan patut dihormati oleh krama banjar dan krama desa. Di samping itu seorang sulinggih/pemangku bertugas melakukan lokaphalasastra yaitu menyelesaikan upacara keagamaan di masyarakat. Selain itu seorang sulinggih/pemangku juga berfungsi sebagai guruloka yaitu pemimpin masyarakat di bidang keagamaan dan kerohanian. Adapun hak dari sulinggih/pemangku yaitu bebas dari ayahan desa, sesuai dengan tingkat kepemangkuannya, dapat menerima bagian dari sesari aturan / sesangi, dan dapat menerima bagian dari hasil pelaba Pura (bagi Pura yang memiliki ). Dengan wewenang yang dimilikinya seperti nganteb upakara upacara pada Kahyangan yang diamongnya, dapat ngeloka pala seraya sampai dengan madudus alit sesuai dengan tingkat pawintennya dan juga atas panugrahan Nabe, waktu melaksanakan tugas agar berpakaian serba putih dandanan rambut; wenang agotra, berambut panjang anyondong menuntupi kepala dengan destar. Beberatan Sulinggih/pemanggku adalah menjalankan Yama Niyama Brata yaitu;  Ahimsa, Brahmacari, Awyawahara, Satya, Asteniya, Akroda, Gurucusrusa, Sauca, Aharalagawa dan Apramada.

Aspek-aspek Agama Hindu dalam kaitannya dengan kemajuan teknologi
Tujuan Agama Hindu adalah Moksa dan Jagatdhita, yaitu kesejahteraan sekala niskala, maka dalam mengejar kesejahteraan sekala niskala ini mau tidak mau kita dihadapkan pada teknologi. Agama Hindu menerima teknologi secara selektif sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Agama Hindu. Bahwa teknologi itu hanya sebagai sarana penopang/penunjang  untuk mencapai hakikat tujuan hidup beragama di dalam pelaksanaan upacara/upakara agama, dalam kehidupan sebagai manusia beragama. Teknologi berpengaruh di dalam mencapai kesejahteraan hidup dan kehidupan. Sangat perlu ditetapkan masalah aspek-aspek agama dalam kaitannya dengan teknologi, agar masyarakat dapat dituntun dan dibina guna menjaga kemantapan beragama dan melestarikan kebudayaan.

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s