Trsnaksayasukha


( Cinta cerdas dan bernurani )

Sambungan dari http://rare-angon.blogspot.com

Dalam Adi Parwa, yang merupakan bagian pertama dari Astha Dasa Parwa (18 bab) Mahabharata, fenomena trsna papa buddhi / cinta tanpa kecerdasan (cinta sesat) disajikan secara indah dalam kisah Bhagawan Cukra dan anaknya Dewiyani. Cerita ini diawali oleh persaingan ketat antara Para Dewa dengan Para Asura untuk berebut pengaruh di alam semesta.  Bhagawan Cukra yang menjadi guru para Asura telah mendapatkan anugrah mantra Sanjiwani dari Dewa Siwa berkat tapanya selama seribu tahun. Mengetahui kenyataan ini, Bhagawan Wrhaspati (guru para Dewa) lalu mengutus Sang Kaca dalam sebuah misi rahasia, untuk mempelajari formulasi mantra yang dapat menghidupkan kembali mahluk dari kematiannya.
Pada awalnya misi dirasa tidak mungkin akan berhasil, namun berkat kecerdasan Sang Kaca dalam memanfaatkan perasaan sang guru terhadap nanak putri (Dewayani), Dewayani diliputi api cinta yang membara kepada Sang Kaca, sedangkan Sang Kaca yang bisa menghindar dari lingkaran cinta tanpa kecerdasan itu, memanfaatkan perasaan mereka untuk sebuah mission imposible.
Apabila mengacu kepada kisah diatas, akan terlihat dengan sangat jelas kelemahan-kelemahan yang ditunjukan oleh Bhagawan Cukra, beliau amat mencintai anaknya, hingga lantaran rasa yang membutakan nurani, mantra sanjiwani bisa jatuh ketangan Maharsi Wrhaspati melalui Sang Kaca.
Jika seandainya saja Bhagwan Cukra memakai logika dan mengesampingkan rengekan Dewayani guna menghidupkan Sang Kaca dari kematiannya, mungkin saja para Dewa akan dapat dikalahkan dan cerita semesta akan berbeda. Sebenarnya Bhagawan Cukra jauh sebelumnya sudah mencium miri rahasia Bhagawan Wrhaspati dan para Dewa untuk menyusupkan Sang Kaca demi mantra Sanjiwani. Saking cintanya pada sang anak, butalah nurani dan kecerdasan Bhagawan Cukra; demikian berkat rengekan Dewayani, akhirnya Bhagawan Cukra mengajari Sang Kaca mantra ajaib itu, selanjutnya setelah mantra Sanjiwani berhasil dikuasai oleh Sang Kaca, Dewayani memohon balasan cinta dan berucap :

“Kewala nghulun sangkan ta sinihan, nguni sedeng ta pinatyan ing daitya, kamo juga manembah, aminta sih ri bapangku, swikara kumon aku manghuripana kita haneng jro weteng ira. Hinuripan nira ta kita, kalinganing ujar mami, yang yogya kita melapa ring hulun, saka Widhi widana nikang panigraha”.

“Karena akulah engkau disayangi, dulu saat engkau dibunuh oleh Daitya (Asura), aku juga yang memohonkan kepada ayahku agar engkau dihidupkan kembali dari perutnya. Kemudian dihidupkannyalah kamu, lantaran permohonanku, jika engkau merasakan itu, nikahi aku sekarang dan jadikan istrimu”.

Setelah mendengar permintaan Dewayani, Sang Kaca menolaknya dengan alasan bahwa seorang murid tidak diperbolehkan menikahi anak daru gurunya (guru nanak putri). Mendengar ucapan Sang Kaca seperti itu, Dewayani lalu mengutuknya. Namun kutukan itu tidak mempan, lantaran Sang Kaca telah menguasai mantra sidhi. Bahkan kutuk balasan dari Sang Kaca terlontar seperti berikut : “Wastu kita marwa dasinta” (kukutuk engkau agar menjadi madu dari pembantumu) dan ternyata kutukan Sang Kaca lah yang manjur.

Dewayani, perempuan malang yang ditolak cintanya oleh Sang Kaca hidup merana dalam keputusasaan, perempuan malang ini hidup dengan kutuk laknat yang menyertainya. Belakangan, lantaran kutuk Sang Kaca yang manjur, Dewayani benar-benar menjadi madu dari pembantunya.

Dewayani merasa tertipu oleh Sang Kaca yang memanfaatkan perasaannya. Demikianlah lantaran trsna papa buddhi Dewayani pada Sang Kaca, para Asura tetap tidak mampu mengatasi para Dewa, sebab sekarang Wrhaspati telah mampu menghidupkan kembali para Dewa yang mati dalam peperangan, berkat mantra Sanjiwani yang sama. Jadi Tresna Papa Buddhi (cinta tanpa kecerdasan / cinta sesat / cinta buta ) inilah disikapi oleh Bhagawan Wararuci dalam kitab Sarasamuccayanya (sloka 448 sampai dengan 485). Di sini Sang Bhagawan menegaskan, bahwa salah satu tujuan utama dari manusia adalah trsnaksayasukha, bukan trsna papa buddhi.

Trsnaksayasukha adalah suatu keadaan dimana manusia mampu lepas dari trsna dalam pengertian negatif, lepas dari cinta yang tanpa memiliki kecerdasan dan hati nurani menuju cinta yang cerdas dan berhati nurani Trsnaksayasukha.
Melalui petikan-petikan kisah diatas, diharapkan manusia khususnya wnita jangan sampai terlena dengan cinta yang sesat, cinta buta, cinta yang tidak memiliki kecerdasan, cinta yang membutakan kesadaran, membutakan nurani; sebab kitab suci Sarasamuccaya menyatakan dengan tegas bahwa mereka itu akan mengalami duka, kesedihan, papa dan sengsara.

Kambil saking ” Wadhu Tatwa “ Seks Ala Bali II oleh IB. Putra M. Aryana, SS, M.Si. diposting oleh Rare Angon Nak Bali Belog

4 responses to “Trsnaksayasukha

  1. nakbalibelog.wordpress.com is amazing, bookmarked!

    mma betting

    Like

  2. I saw many sites but nakbalibelog.wordpress.com is best ever

    tabletki na odchudzanie

    Like

  3. thanks a lot my fren, goodluck

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s