Hindu Yang Rumit 119


Hindu yang rumit, Hindu yang sederhana, Hindu yang meliputi segalanya halaman 119 dari buku “Kutemukan Tuhan Yang Mencintai Semua Orang ” oleh Gentha Apritaura merupakan sebuah novel kisah nyata tentang perjuangan seorang anak muda yang mencari Tuhan pencipta alam semesta dan bersikap kasih secara adil kepada alam semesta beserta semua isinya.

Aku tersenyum. Pikiranku membuka kembali lembaran persitiwa selama masih bermain di dunia hitam, menyeruakkan seabrek pertanyaan dalam benak. Bersama Hindu, aku mulai menemukan satu persatu jawabannya. Seiring waktu membuatku malah semakin cinta pada ajaran ini, bukan hanya karena sebiji sloka.

” Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi. Tetapi yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya pula “ Bhagavad Gita:IX,29

Dulu aku bertanya tentang takdir. Tidaklah Tuhan “tidak maha adil” jika mentakdirkan setiap orang terlahir dalam kondisi yang berbeda? Di manakah si A jadi begini atau si B jadi begitu? Ternyata konsep KARMA menjawabnya. Bukankah setiap orang membawa karmanya masing-masing ? Nilai dari KARMA itulah yang membuat setiap orang berada dalam situasi yang berbeda. Dan bagaimana KARMA itu dibayar? Melalui PUNARBHAWA. Aku tidak lagi melihat pintu kesempatan telah tertutup. Hyang Widhi Maha Adil. Dan bukankah tidak hanya manusia yang ber PUNARBHAWA? Tuhan tidak hanya menetapkan aturan-Nya pada manusia. Seluruh jagat berada dalam kekuasaan-Nya. Semestapun bereinkarnasi. Konsep waktu yang berulang secara siklis tidak dikenal dalam ajaran lamaku. Disana dikatakan waktu itu linier. Hidup hanya sekali, lalu setelah tiba saatnya manusia untuk berhadapan dengan hari pembalasan, kiamatlah dunia ini.

Sistem Kalpa Dewa Brahma akan menjawab tentang reinkarnasi jagat dan salah satu kalimat filosofis yang indah dalam upanisad mengatakan ” Dalam kebahagiaan semua datang, dalam kebahagiaan semua hidup, dan dalam kebahagiaan semua akan kembali “. Ah, aku kembali teringat tentang bagaimana VEDA dan bagian-bagiannya menuturkan ajaran DHARMA dengan bahasa yang santun dan penuh dengan kebahagiaan. Bahkan bahasanya masih begitu santun ketika harus membicarakan etika perang. Membuat penganutnya terdidik menjadi pribadi yang damai.

Kini aku telah sampai pada titik di mana aku meyakini HINDU lebih dari sekedar agama. Ini adalah jalan hidup, ini adalah tentang bagaimana aku dan setiap pengikutnya memiliki persepsi tentang bagaimana memandang dan mengartikan kehidupan. Orang bijak berkata, Gusti Pangeran itu dalang agung. Semua yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kehendak-Nya. Tentu, dan kehendak-Nya berjalan ketika Ia merancang sebuah skenario supaya KARMA kita terbayar. Supaya swadharma-Nya dunia ini berjalan. Inilah yang terbaca sebagai takdir, bagi mereka yang percaya takdir, dan terbaca sebagai KARMAPHALA, bagi mereka yang percaya KARMA dan PUNARBHAWA.

Ah, betapa indah ajaran KARMA itu. KARMAPHALA adalah ajaran yang mendewasakan. Kini aku tidak lagi termotivasi oleh pahala dan dosa. Melainkan terdidik untuk merasa malu pada diri sendiri bila melakukan hal yang bodoh, dan puas pada diri sendiri ketika melalukan sesuatu yang positif. Sebab bukan lagi pahala yang  kucari. Kini aku mengerti mengapa berbuat baik adalah karena itu memang baik, dan menghindari berbuat buruk karena itu memang buruk. Dipilih dengan sadar, ditanggung konsekwensinya dengan sadar pula. Adalah insan-insan penuh tanggungjawab yang akan dihasilkan oleh pendidikan KARMAPHALA, bukan manusia robot yang bertindak berdasarkan doktrin dan dogma. Aku bebas!

Ciri khas agama HINDU adalah “tidak punya ciri khas“. Hahahaha…. Dia fleksibel mengikuti akar budaya dimana ajaran ini dilaksanakan. Local Genius bermain di sini. Namun yang pasti, semuanya berjalan pada satu landasan yang disebut DHARMA. Ya, DHARMA. DHARMA itu kebaikan, DHARMA itu kebenaran. Bagaimanapun rupa bungkusnya, selama tidak melenceng dari kebaikan dan kebenaran, itulah DHARMA. Itulah yang diajarkan HINDU. Sesungguhnya bukankah DHARMA itu memang ada dalam setiap manusia? Bukankan ada alarm dalam hati kita yang selalu memperingatkan ketika kita mulai melenceng ke jalan yang salah? Masalahnya tinggal satu, apakah kita mendengarkan atau mengabaikan.

Ah, dibalik kerumitannya, HINDU ternyata begitu sederhana. Kembalilah pada DHARMA, be good, do good. DHARMA itulah yang dinilai oelh Tuhan. DHARMA tidak mengajarkan kekerasan. DHARMA tidak pernah mengajarkan permusuhan. DHARMA tidak pernah mengajarkan sesuatu yang melenceng dari ATMANASTUTI alias hati nurani. DHARMA begitu sederhana, kembalilah pada kebenaran dan kebaikan yang dikatakan hati nuranimu, maka Tuhan akan tahu.

Resume singkat buku terbitan Media Hindu ini semoga dapat memberikan pencerahan, tentunya dengan membaca secara utuh buku “Kutemukan Tuhan Yang Mencintai Semua Orang”  kita akan menemukan Tuhan yang dicari didalam AGAMA HINDU.

4 responses to “Hindu Yang Rumit 119

  1. HI Bli, senang bisa berkunjung di Blog ini..ternyta kita memilih themes yang sama..hehe..salam kenal yah, blognya menarik..keep writing’n sharing.

    Like

  2. hello, terima kasih atas kunjungannya … salam kenal juga .. pas

    Like

  3. kerEn

    Like

  4. Salam kenal… wah saya cari tentang ciri khas agama hindu gak ketemu2.. >.< tetapi makasih pengetahuannya.. hhe…

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s