Sang Hyang Dhruva | Dewa Konstalasi Bintang


Dewa Konstalasi Bintang. Umat Hindu di tanah Nusantara sangat asing mendengar nama Sang Hyang Dhruva ini. Demikian juga dengan teks atau naskah atau literatur dalam ranah Nibandha, hampi tidak dijumpai nama Sang Hyang Dhruva. Ini mungkin disebabkan karena adanya konsep ketuhanan manusia Hindu Bali, yang lebih terpusat pada pemujaan kehadapan Sang Hyang Tri Murti.
Perlu dipahami dan diketahui oleh Umat Hindu, bahwa Hinduisme merupakan agama yang berdiri dengan konsep Tuhan yang berbeda dengan agama-agama Abrahamik lainnya. Bahkan Dr. Frank Gaetano Morales, Ph.D, yang merupakan guru besar Universitas Wisconsin-Madison, menyatakan bahwa ” Hinduisme is tradition religion according to selt unique, different by religion in the world “. Bahwa Hindu merupakan agama yang memiliki banyak pemujaan Tuhan secara unik, dan tidak ditemukan dalam agama manapun di dunia. Pemujaan ini mengantarkan salah satu diantara Ista Dewata yang banyak di puja adalah Sang Hyang Dhruva. Ada banyak naskah kuno Hindu menyebutkan bagaimana Sang Hyang Dhruva ini memberikan anugerah kepada pemuja-Nya dan menjadikan alam ini tetap berada dalam sebuah keseimbangan.

Secara harfiah Sang Hyang Dhruva akan masuk dalam wilayah Asta Vasu, atau kelompok dewa yang berjumlah delapan. Dan ini secara langsung merujuk pada dimensi serta kekuatan alam yang tidak terbatas jumlahnya. Dan pembagian itu menempatkan Sang Hyang Dhruva sebagai dewanya konstalasi bintang di luar angkasa yang tidak terhingga.
Ada cerita yang melatar belakangi mengapa Sang Hyang Dhruva menjadi penguasa atas segala macam bintang di jagatraya. Ini sama dengan Bhatara Indra dan dewata yang lainnya yang lahir dari Dewi Aditi, namun kali ini Sang Hyang Dhruva adalah putra Maharaja Uttanapada. Beliau adalah putra dari Sang Hyang Svayambhuva manu, yakni Manu pertama dalam periode Manvantara yang pertama.
Sang Hyang Dhruva adalah sosok yang alim dan santun. Dikisahkan Sang Hyang Dhruva memiliki seorang Ibu Tiri, dan Ibu Tiri tersebut memiliki putra yang Maharaja Uttanapada sendiri cendrung menyayanginya melebihi dari Sang Hyang Dhruva sendiri. Inilah yang membuat hati Sang Hyang Dhruva menjadi  sangat tidak enak untuk tinggal di istana. Sang Hyang Dhruva merasakan ada sebuah hal yang tidak adil menimpa dirinya. Sang Hyang Dhruva berkata kepada Ibunya : ” Ibu, mengapa ayah lebih cendrung menyayangi adik tiriku ibu ? Jika demikian, aku sendiri akan menjadi raja dan tidak seorangpun yang dapat mencampakkan aku kelak.” Sang ibu menjawab dengan nada lembut, ” Anakku, seluruh dunia adalah wilayah ayahmu sebagai seorang raja. Jadi dimanakah engkau akan menjadi penguasa dan raja ? Itu tidaklah mungkin.
“Mungkin ibu, selama kita masih mau untuk berusaha dab bekerja. Aku akan lalukan yang aku bisa dan yang aku mampu ,” kata Sang Hyang Dhruva. Mendengar kata-kata anaknya yang sangat berambisi dan penuh semangat, sang ibu tidak tega mematahkan semangat anaknya itu. Kemudian berkata, “Jika demikian keinginanmu anakku, maka bertapalah ke tengah hutan dan buatlah penguasa jagat raya ini senang ( Brahman). Maka dengan mendapat anugerah Brahman, semua hal yang ingin engkau kehendaki akan menjadi milikmu “.
Mendapat petunjuk demikian, maka Sang Hyang Dhruva kemudian menuju hutan dan mulai bertapa. Tirakatnya kuat dan Sang Hyang Dhruva tenggelam dalam Samadhi, hingga badannya tidak merasakan lagi lapar, haus, panas dan dingin. Semua musim Sang Hyang Dhruva lewati tanpa keluh kesah, dan tirakat kutanya ini mendapatkan perhatian dari tujuh orang suci yang kebetulan lewat di hutan tersebut. Kemuadian mereka menanyai Sang Hyang Dhruva. ” Aduh … anak kecil begini sudah melakukan tapa. Anakku bukalah matamu. Engkau masih belia dan tidak pantas berada di tengah rimba seperti ini. Ini sangat berbahaya anakku, maka pulangkah dan kembali ke rumah orang tuamu pasti sangat mengkhawatirkan drimu anakku “.
Suara tujuh pendeta agung tersebut, menjadikan Sang Hyang Dhruva sedikit terganggu. Maka Sang Hyang Dhruva membuka mata dan mendapati ada tujuh Rsi mulia tengah berdiri. Sang Hyang Dhruva kemudian memberikan sembah panganjali dan mulai berkata. ” Ampun hamba Hyang Maha Suci. Hamba adalah putra Maharaja Uttanapada. Nama hamba adalah Sang Hyang Dhruva. Sengaja hamba datang kemari untuk melakukan tapa demi menyenangkan Brahman yang esa. Jika pendeta agung berkenan untuk memberikan hamba restu, maka anugerahilah semoga tapa hamba berhasil dengan baik .”

Mendengar itu, tujuh orang bijak tadi kemudian pergi meninggalkan Sang Hyang Dhruva yang masih duduk dalam tapa. Lama waktu berjalan, maka berkenanlah Brahman dengan tapa yang dilakukan oleh Sang Hyang Dhruva. Kemudian beliau menampakkan diri dihadapan Sang Hyang Dhruva dan menanyakan apakah yang menjadi permintaan dari Sang Hyang Dhruva.
Sebenarnya setelah mendapatkan pengelihatan Ilahi itu, Sang Hyang Dhruva tidak menginginkan apapun juga. Sang Hyang Dhruva sudah sangat merasa puas dengan apa yang ia lakukan. Namun Brahman mendesak Sang Hyang Dhruva agar meminta sesuatu, akhirnya Sang Hyang Dhruva diberkian anugerah menjadi Dewata dan penguasa konstalasi bintang di jagat raya. Sang Hyang Dhruva dinaikkan dan mendapatkan sebuah wilayah dimana wilayah ini kemudian dikenal dengan Dhruva Loka.
Dhruva Loka kemudian menjadi pusat perputaran bintang di jagat raya. Jika Semeton Rare Angon Nak Bali Belog (reg) ingin melihat Dhruva Loka, maka beliau dikenal dengan Bintang Utara. Jadi seluruh susunan Naksaktra dalam Hindu disemayami oleh Sang Hyang Dhruva. Satu hal penting bagi yang mendalami ilmu Jyotisha, atau ilmu astronomi berdasar Veda, mereka haruslah berbhakti kepada Sang Hyang Dhruva, sebab diyakini bahwa Sang Hyang Dhruva merupakan penguasa apapun bentuk dan rupa yang berkaitan dengan bintang.
Ahli Wariga di Bali, sebenarnya mengenal Sang Hyang Dhruva dengan nama Sang Hyang Naksaktra, inilah yang merujuk pada sosok Sang Hyang Dhruva itu sendiri. Penyebutan bintang dalam konteks ini dapat dipahami sebagai satu bentuk pemujaan terhadap aspek yang menjadi obyek yang dikendalikan. Sama seperti Sang Hyang Baskara di puja dengan nama Surya demikian juga Sang Hyang Dhruva.
Penggambaran Sang Hyang Dhruva ini sangat tampan. Terlihat muda dan segar dengan berdiri di ujung puncak jagat raya. Disinari banyak bintang dan jika semeton Rare Angon Nak Bali Belog (red) menemukan gambar semacam itu, maka beliaulah yang disebut dengan Sang Hyang Dhruva.
Saking Buku Sang Hyang Purana karya Gede Agus Budi Adnyanam S.pd.B. Di posting oleh Rare Angon Nak Bali Belog.Suksma

2 responses to “Sang Hyang Dhruva | Dewa Konstalasi Bintang

  1. Saya memang baru pernah mendengar nama beliau, thanks BLI..😀

    Like

  2. selamat hari raya Galungan lan Kuningan

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s