Kawangen Sarana Persembahan Suci


Kawangen Sarana Persembahyangan Suci

Kawangen Suci

Kawangen, sering diucapkan Kewangen ( dari kata Wangi ), merupakan kreasi umat Hindu yang dikaitkan dengan daun sirih, kapur dan sebagainya. Dibuat dari daun pisang yang berbentuk “Kojong“, dilengkapi dengan daun-daunan, hiasan dari janur (cili), bunga, uang kepeng yang bentuknya bulat, dan porosannya disebut “silih asih” yaitu terdiri dari dua potong daun sirih diisi kapur serta pinang, sedemikian sehingga bila digulung yang akan tampak adalah satu lembar bagian perutnya, dan yang satu potong lagi bagian punggungnya. Porosan ini dimasukkan ke dalam kojong. Pada upacara persembahyangan Kawangen dipakai untuk memuja Sanghyang Widhi sebagai pemberi anugerah dalam wujud Pradhana-Purusa ( Ardhanareswari ), sebagai mana disebutkan dalam puja pengantarnya. Wujud tersebut disimbolkan dengan porosan silih asih, sebab posisi dari daun-daunan yang menengadah dan menengkurep biasa dipakai untuk melukiskan bentuk Pradhana-Purusa, misalnya letak daun beringin, ancak ataupun maduri pada dewa-dewi, puspa (sekah) dan lain-lainnya. Di samping itu ada pula yang mengemukakan bahwa Kawangen adalah simbol “Omkara“, yaitu ; Kojong merupakan simbol angka tiga; potongan bagian atas yang lonjong merupakan simbol “ardha candra“, uang kepeng yang bentuknya bulat adalah simbol “vindu“, sedangkan cili, bunga serta daun-daunannya adalah simbol “nada“. Seperti diketahui bahwa Kawangen tidak hanya dipakai pada upacara persembahyangan saja tetapi juga dipakai pada upacara-upacara lainnya umpamanya pada upacara Bhutayadnya. Kawangen ditempatkan di atas kulit binatang (bayang-bayang) yang dipersembahkan. Pada upacara Devayadnya, Kawangen dipakai melengkapi “pedagingan“, sedangkan pada upacara Pitrayadnya, Kawangen diletakkan pada persendian-persendian seseorang yang sudah meninggal, ataupun pada puspa (sekah). Rupanya fungsi Kawangen dalam hal ini adalah sebagai “Pengurip-urip“. Disamping itu pada beberapa jenis sesajen akan dipergunakan pula Kawangen sebagai pelengkapnya. Mengenai pemakaian uang disesuaikan dengan fungsinya, yaitu bila dipakai sebagai pengurip-urip sedapat mungkin dipakai uang kepeng, sebab peranan uang dalam ha ini tidak hanya kepeng, tetapi juga sebagai pengganti “Panca Datu” ( emas, perak, tembaga, besi dan permata ). Tetapi juga dipakai pada upacara-upacara persembahyangan yang umum atau sebagai pelengkap sesuatu sesajen, dapat dipergunakan uang logam, sebab yang diutamakan dalam hal ini adalah bentuk yang bulat melambangkan Vindu.

Foto-foto Kegiatan Umat Hindu di Luar Bali

Foto-foto Pura Se Jabodetabek

2 responses to “Kawangen Sarana Persembahan Suci

  1. numpang lapak sobat
    kalau berminat silahkan join, kalo ga ya abaikan saja http://www.digie.co.id/AgusSanjaya

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s