Jatayu dan Sempati


Gegunungan atau Kekayonan merupakan lambang dari kayu kehidupan (The tree of life), juga lambang kehidupan di hutan lebat. Gunungan ini juga melambangkan dunia beserta isinya. Gunungan dimainkan mewakili kehidupan hutan, angin, air, petir, gempa bumi maupun api. Semua kejadian alam bisa diwakili dan digambarkan lewat gunungan.

Dasaratha adalah raja Ayodya. Tahta itu diwarisinya dari ayahnya yang bernama Sang Aja, ayah Sang Aja adalah Sang Raghu. Dasaratha mempunyai tiga permaisuri yaitu Dewi Kausalya yang melahirkan Rama. Dewi Kekayi yang melahirkan Bharata dan Dewi Sumitra yang melahirkan sikembar Laksama dan Satrughna.

Dewi Kekayi adalah permaisuri kedua Raja Dasaratha, ia sangat cantik dan pemberani. Dewi Kekayi dua kali menyelamatkan nyawa Raja Dasaratha, pertama sewaktu Raja Dasaratha menderita borok bisul dipahanya. Dewi Kekayi dengan nekad dan tanpa mengenal jijik kemudian menyedot borok nanah itu, Raja Dasaratha berangsur sembuh. Yang kedua, saat Raja Dasaratha tergelincir di taman istana, Dewi Kekayi menyelamatkannya walau patah tangan kirinya. Dewi Kekayi adalah penggambaran seorang ibu yang demikian mencintai putranya agar sukses dalam hidupnya, tetapi berpandangan sempit dan kurang bijaksana.

Rama adalah putra sulung dari Raja Dasaratha dengan Dewi Kausalya. Rama adalah awatara Wisnu atau titisan Dewa Wisnu. Rama beristrikan Dewi Sita putri Raja Janaka dari kerajaan Methila setelah memenangkan sayembara dengan merentang busur panah meilik Raja Janaka. Oleh ayahnya Raja Dasaratha dipanggil Ramaragawa. Begawan Wasista memberi nama Ramayana yang artinya kereta perata jalan (kebenaran). Oleh Yogiswara diberi nama Ramawijaya, Rama yang selalu jaya, Resi Riasringan memberi nama Ramadewa karena penjelmaan Dewa. Begawan Wiswamitra memberi nama Ramabadra atau Ramacandra karena berwajah lembut seperti bulan. Rama mempunyai senjata sakti bernama panah Guawijaya dan panah Bajra.

Laksmana adalah adik tiri Rama yang sangat setia. Ia dilahirkan oleh Dewi Sumitra, juga disebut Sumitraputra atau putra Sumitra. Laksmana adalah titisan Dewa Suman bagian dari Dewa Wisnu, ibaratnya Dewa Wisnu adalah apinya, Dewa Suman adalah nyalanya.

Jasa Render 3d 0812 9489 4000

Jasa Render 3d 0812 9489 4000

Bharata adalah adik Rama, ibu Bharata adalah Dewi Kekayi. Meskipun ibunya menagih janji kepada Raja Dasaratha agar Bharata menjadi Raja Ayodya, tetapi dia menyadari tahta raja bukan haknya. Rama kemudian memberi terompahnya kepada Bharata sebagai lambang bahwa Rama yang memerintah kerajaan Ayodya.

Sita adalah putri dari Raja Janaka dari kerajaan Methila. Kecantikannya luar biasa. Sita disebut sebagai titisan bidadari Dewi Sri Widawati. Sebagai istri yang setia Sita mengikuti Rama dan Laksmana masuk kehutan 13 tahun lamanya, yang kemudian diculik Raja Alengka yaitu Rahwana. Sita disebut sebagai lambang ibu pertiwi, karena ketika perang besar berakhir dan Sita bertemu Rama, tetapi Rama memendam keraguan akan kesucian cinta Sita kepada Rama. Akhirnya diadakan upacara api unggun untuk menguji kesucian Sita, dilindungi Dewa Agni sehingga tak terbakar api. Sita melahirkan dua anak kembar bernama Kusa dan Lawa, setelah itu Sita masuk ke bumi ke tempat ibu pertiwi.

Jatayu dan Sempati – Burung Pembela Kebenaran. Dua burung garuda sakti kakak beradik, yang tua bernama Sempati. Sempati pernah membantu Begawan Rawatmeja yang bertarung dengan Rahwana, dimana dicabuti seluruh tubuhnya dan dijatuhkan di hutan. Satu bulu Sempati dinaiki oleh istri Rawatmeja, Dewi Kausalya dan terbang melesat ke Ayodya. Dewi Kausalya akhirnya diperistri oleh Raja Dasaratha. Sewaktu Sita diculik dibawa terbang oleh Rahwana, burung Jatayu berusaha menyelamatkan Sita. Jatayu dihantam gada ‘Candrasa’ dan sayapnya patah jatuh diutara hutan Dandaka.

Sugriwa – Kera Pembela Rama. Resi Gotama beristri Dewi Windradi mempunyai tiga anak yaitu; Dewi Anjani, dengan adik kembarnya Guwarsa dan Guwarsi. Dewi Anjani mendapat ‘cupu manik astagina’ dari ibunya, yang kemudian menjadi rebutan. Dewi Windradi dikutuk menjadi batu. Resi Gotama melemparkan cupu tersebut ke angkasa dan jatuh ke Telaga Sumala. Guwarsa dan Guwarsi yang terjun dan berenang ke Telaga Sumala berubah wujud dari manusia menjadi kera menjadi Subali dan Sugriwa.

Hanuman. Dewi Anjani yang berbadan manusia dan berwajah kera karena mencuci muka di Telaga Sumala sedang bertapa agar bisa menjadi manusia kembali. Dewa Siwa melihat ketulusan dan kekuatan tapa Anjani kemudian menurunkan ‘Kama Bang’ (bibit kehidupan) yang jatuh dipangkuan Dewi Anjani, saat itu hamillah Dewi Anjani yang kemudian melahirkan anak berupa kera putih yaitu Hanuman. Hanuman diasuh oleh Dewa Bayu bernama Bayusuta atau Maruti. Ia bernama Anjaniputra karena anak dari Anjani, ia bernama Bayu Tanaka juga Kapiwara. Hanuman bisa terbang dan mempunyai kesaktian bisa membesarkan maupun mengecilkan tubuhnya. Juga ia mempunyai kesaktian Aji Mundri yang diberi Sita. Saat usia lanjut ia menjadi pendeta dan bertapa di gunung Kendalisada dengan nama Begawan Mayangkara.

Angadha kera anak Subali diasuh oleh ayah tirinya yaitu Sugriwa. Angadha sangat sakti dan pemberani. Dalam pertempuran antara pasukan Raksasa dan pasukan kera, Angadha maju menjadi senapati. Dua Raksasa sakti putra Kumbakarna, yaitu Aswani Kumba dan Kumba-kumba terbunuh ditangannya.

Anila, kera ini berwarna nila atau biru, rambut kepalanya bisa mengeluarkan api, karena itu ia juga bernama Nilagni. Kelahiran Anila sangat aneh, sewaktu Dewa Siwa menjatuhkan ‘Kama Bang’ di pangkuan Dewi Anjani yang sedang bertapa telanjang di Telaga Sumala. Perbuatan Dewa Siwa dilihat dan ditertawai oleh Dewa Naradha, Dewa Siwa memetik daun ‘ila-ila’ dan melemparkannya ke punggung Naradha, daun itu dirubah oleh Dewa Siwa menjadi bayi kera biru. Akhirnya Naradha memohon maaf atas perbuatannya. Anila setelah besar mengabdi sebagai patih di istana Gua Kiskendha dengan rajanya Sugriwa. Anila berhasil menewaskan patih Prahasta yaitu paman Rahwana dengan menjatuhkan tugu batu kekepala Prahasta. Tugu batu yang pecah berubah wujud menjadi Dewi Windradi.

Kapi Jembawan adalah pembantu dari keluarga Resi Gotama. Kapi Jembawan-lah yang memberitahu Guwarsa dan Guwarsi bahwa kakaknya Dewi Anjani mempunyai ‘cupu manik astagina’. Dengan melihat isi cupu itu, kehidupan para Dewa di sorga akan terlihat.

Subali – Kera Musuh Rama. Subali adalah kera yang sangat sakti, ia kakak dari Sugriwa. Subali memiliki ‘Aji Pancasona’ ia akan hidup abadi. Bila mati dan tersentuh bumi, ia akan hidup kembali. Subali berhasil membunuh Mahesasura dan Lembusura yang tinggal di goa Sela Metangkep.

Ramabargawa adalah seorang pertapa, putra bungsu dari pendeta sakti Resi Jamadagni yang beristri Dewi Renuka putri dari Raja Prasnajid. Suatu saat ia mendapati lembunya di ambil oleh Raja Arjuna Sasrabahu dari kerajaan Maespati, ia marah, dibunuhnya Arjuna Sasrabahu itu dengan kapaknya. Empat anak Arjuna Sasrabahu membalas dendam dengan membunuh ayahnya Resi Jamadgni. Semenjak itu Ramabargawa bersumpah akan membunuh semua kesatria dimuka bumi. Ramabargawa tewas di panah Rama sekaligus tubuhnya disucikan dari dosa oleh Rama.

Rahwana atau Dasamuka – Musuh Rama dari Kerajaan Alengka. Rahwana atau Dasamuka adalah anak hasil hubungan Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi yang gagal dalam proses membuka rahasia ‘Sastra Jendra’ yaitu pengetahuan untuk hidup dalam alam keilahian. Dewi Sukesi melahirkan bukan berupa bayu tetapi darah, telinga dan kuku manusia. Darah itu tak lama berubah menjadi bayi yang berkepala sepuluh dan dinamakan Rahwana karena berasal dari darah dan Dasamuka karena berkepala sepuluh. Ia ingin menjadi mahluk paling sakti di tiga dunia yaitu dunia Dewa, dunia manusia dan dunia raksasa. Adik Rahwana bernama Kumbakarna, Sarpakenaka dan Wibisana, sedangkan istri Rahwana adalah bidadari Tari, adik kembar dari bidadari Tara yang menjadi istri Sugriwa. Anak Rahwana adalah Indrajit, Saksadewa, Trikaya, Trinetra dan Tritutha.

Kumbakarna adalah adik Rahwana, yang dilahirkan dalam bentuk telinga (karna), ia bertapa menemani kakaknya di gunung Gohkarna dengan tidur selama berbulan-bulan. Tidak ada yang bisa membangunkan Kumbakarna, akhirnya bulu kakinya diikat kereta kuda sehingga bulu kakinya tertarik keras dan ia terbangun. Menurut Kumbakarna ia maju berperang bukan untuk membela Rahwana dengan kejahatannya tetapi untuk membela negara yang berperang dengan musuh, yaitu pasukan kera. Kumbakarna tewas oleh panah Rama, arwah Kumbakarna langsung masuk sorga.

Sarpakenaka adalah adik Rahwana dan Kumbakarna yang terlahir sebagai kuku, ia penggambaran nafsu dari Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi, karena ia selalu mengumbar nafsunya dan banyak mempunyai suami. Ia jatuh cinta pada Laksmana, namun ditolak sehingga hidungnya ‘grumpung’ putus ditarik Laksmana. Suami Sarpakenaka yaitu Kala Khara, Kala Dusana dan Trisirah tewas terkena panah kesatria Rama dan Laksmana. Kuku Sarpakenaka sangat berbisa dan bisa menyedot lawan, tetapi ia tewas ditangan Hanuman sikera putih.

Kala Marica adalah salah satu pembantu Rahwana yang sakti, yang bertugas memisahkan jarak antara keberadaan Rama, Sita dan Laksmana di hutan Dandaka. Kala Marica merubah dirinya menjadi kijang emas yang luar biasa indahnya. Kala Marica adalah lambang seorang abdi yang setia kepada rajanya, tetapi ragu-ragu dalam membela kebenaran.

Indrajit adalah putra Rahwana dengan bidadari Dewi Tari, disebut Indrajit karena pernah mengalahkan Dewa Indra atau Dewa Penguasa Perang. Ia juga disebut Megananda atau Meganada karena ia dicipta dari Mega. Indrajit pernah mengalahkan Hanuman sikera putih dengan menggunakan panah ‘nagapasa’ atau panah ular. Indrajit tewas dipanah Laksmana dalam pertempuran antara pasukan kera melawan pasukan raksasa.

Kataksini salah satu punggawa dari Rahwana yang bertugas menjaga laut Alengka. Ia berdiri ditengah laut, mulutnya bisa membesar tak terhingga. Bibir atasnya menyentuh langit, bibir bawahnya menyentuh dasar samudra yang dalam. Hanuman yang sedang terbang diatas laut Alengka tersedot kedalam perut Raksasa Kataksini. Supaya Hanuman bisa selamat, ikan mas penjelmaan Dewa meminta untuk mencabut satu sisiknya, dan tubuh Hanuman menjadi menjadi besar sehingga perut Kataksini pecah dan tewas.

Sokrasana adalah mata-mata dari Rahwana yang sangat pandai, ia bisa menyamar dan berubah menjadi apa saja. Penyamarannya diketahui oleh Wibisana adik dari Rahwana yang mengabdi kepada Rama. Rama mengampuni dan menyuruhnya untuk pulang ke Alengka.

Wibisana – Pembela Rama dari Kerajaan Alengka. Nama lengkapnya adalah Gunawan Wibisana, ia adik bungsu dari Rahwana, yang terlahir sempurna. Wibisana banyak mengetahui rahasia-rahasia hidup dan rahasia kegaiban. Tindak tanduknya sangat kesatria dan baik budi. Wibisana mempunyai putri bernama Trijata.

Trijata adalah putri Wibisana dari perkawinannya dengan bidadari Triwati. Trijata sangat setia dan cantik. Trijata yang menemani dan menjaga Sita sewaktu Sita ditawan di istana Alengka oleh Rahwana. Sewaktu Hanuman menjadi Rase agar bisa mendekati Sita di Alengka, yang dielus-elus dipangkuan Trijata, Hanuman jatuh cinta sehingga keluarlah sinar cinta putih Hanuman yang mengenai tubuh Trijata. Sinar itu terpental ke tengah laut, oleh Dewa Baruna-dewa penguasa laut, sinar itu dipelihara dan menjelma menjadi kera putih bernama Trigangga atau Watugangga.

Dewi Tara adalah bidadari sorga yang dijadikan anugerah oleh Dewa bagi siapapun yang bisa membunuh dua raksasa Mahesasura dan Lembusura. Kera Sakti Subali berhasil membunuh dua raksasa itu, tetapi karena adik Subali yang bernama Sugriwa mengira Subali tewas, maka ditutupnya pintu goa tempat pertempuran. Dewi Tara akhirnya dikawini Sugriwa. Ketika Subali keluar gua, dan menghajar Sugriwa sehingga jatuh diutara gunung Muliawan dan bertemu Rama dan Laksmana.

Punakawan Wayang Bali

Tualen adalah penjelmaan dari Dewa Ismaya, yaitu adik dari Dewa Siwa. Arti Tua adalah tua dan Len adalah bijaksana, jadi berarti orangtua yang bijaksana. Ada yang berpendapat bahwa Tualen adalah Resi Agastya yang membawa Hindu dari India ke Indonesia. Tualen ini dalam wayang Jawa dinamakan Semar.

Werdah adalah teman Tualen, tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa Werdah adalah murid setia dari Tualen, karena itu sudah dianggap seperti anak dari Tualen. Werdah berarti muda. Werdah adalah penjelmaan dari Dewa Wisnu.

Delem adalah punakawan yang mengabdi pada manusia yang adharma atau kejahatan, tetapi dalam pengabdiannya ia selalu mencoba untuk mengingatkan dan menasehati kebaikan agar sijahat menjadi baik. Delem adalah penjelmaan dari Dewa Brahma.

Sangut sama seperti Delem, ia mengabdi pada manusia yang berwatak jahat tetapi selalu mengingatkan dan menasehati agar manusia menjadi baik. Sangut adalah penjelmaan Dewa Mahadewa.

Punakawan Wayang Jawa

Semar adalah punakawan penjelmaan Dewa Ismaya, dia bertugas menjaga dan mengasuh keturunan dewa-dewa yang ada dibumi, atau mengasuh manusia yang mempunyai sifat dewa. Semar sangat sabar, pengasih dan tak pernah marah, selalu berkata lembut dan merendahkan diri dihadapan tuannya. Kentutnya membuat siapapun baik manusia atau dewa akan terpental terbang. Sampai sekarang Semar di Jawa dianggap sebagai penguasa dunia gaib pulau Jawa.

Gareng adalah anak yang diciptakan oleh Semar ketika Semar sedang memuja Tuhan. Gareng artinya ‘ hati yang kering ‘, karena ia tak pandai berbicara. Ia bermata juling, berhidung bundar, berkalun, berkuncir rambutnya dan kedua tangannya ceko atau bengkok.

Petruk sama seperti Gareng, Petruk juga diciptakan oleh Semar ketika memuja. Ia bermuka manis, selalu tersenyum dan kata-katanya lucu. Petruk bermata juling, berhidung panjang dan rambutnya dikuncir. Petruk dipercaya sebagai raja jin dan gendruwo di tanah Jawa.

Bagong. Ketika Semar diperintahkan Dewa untuk turun ke dunia, ia tak pernah menemukan planet bumi ini. Maka ia memohon kepada Dewa agar diberi teman. Dewa akhirnya mengabulkan permohonan Semar ” Bayanganmu akan menjadi temanmu.” Seketika itu banyangan Semar menjadi mahluk hidup yang diberi nama Bagong. Dalam wayang Bagong bergerak mengikuti gerakan Semat. Bagong gaya dan lagaknya seperti anak kecil, suara Bagong besar dan dalam tetapi seolah kendor. Matanya selalu membeliak liar, berhidung pesek, bibir bawahnya panjang dan tebal, rambut kepalanya tipis dan perutnya besar.

Togog adalah punakawan yang dipercaya oleh majikannya tetapi selalu berpindah-pindah majikan, tak mempunyai kesetiaan pada satu majikan. Togog berhidung pesek, bermata juling, tak bergigi, berkepala botak hanya berambut sedikit di tengkuk.

Sarawata adalah teman Togog, mereka selalu berdua kemanapun pergi. Ia selalu mengaku sebagai orang asing sehingga dalam pertunjukan wayang ia berbahasa campuran Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia – Bahasa Inggris. Ia selalu menyombongkan diri.

Cenk Blonk merupakan dua tokoh dalam Wayang Bali yang diciptakan Dalang Nardayana dan sangat ditunggu-tunggu penampilannya. Selamat dan Sukses buat Cenk Blonk.

Sumber bacaan dari buku Kanjeng Madi KertonegoroFigur Wayang Jawa & Bali Dalam Lakon Abadi” Ramayana – Ceritera & Gambar Tokoh-tokohnya. Penerbit Daya Putih Foundation. Ditulis dalam blog Rare Angon oleh Nak Bali Belog.

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s