Seks: Kutukan atau Karunia ?


Seks Ala Binatang

Seks Ala Binatang adalah Seks yang berdasarkan nafsu belaka, tidak didasarkan pada DHARMA atau moral

Apakah seks suatu kutukan atau karunia ? Apakah seks suatu kejahatan (evil) atau kebajikan (virtue)? Agama memiliki pandangan berbeda mengenai hal ini. Agama Hindu dengan tegas menyatakan seks (kama) sebagai satu dari empat tujuan hidup manusia, yang disebut Purusharta. Tiga tujuan yang lain adalah “DHARMA“, hidup bermoral, “ARTHA“, harta kekayaan material, dan “MOKSHA”  bersatunya atman dengan Brahman (Tuhan). Seks sendiri memiliki dua tujuan: tujuan antara (prokreasi) dan tujuan dalam dirinya sendiri, yaitu untuk kenikmatan seks itu sendiri (rekreasi). Seks di sini bukan suatu kejahatan (evil) tetapi suatu karunia atau keutamaan (virtue).
Konsep penciptaan di dalam Hindu, sesuai dengan filsafat Samkya adalah perjumpaan antara purusa dan predana, dari sini alam semesta beserta isinya lahir melalui proses panjang. Suatu filsafat penciptaan yang lebih sesuai dengan teori evolusi. Keberadaan manusia di dunia ini bukan karena terlempar atau dilemparkan oleh Tuhan dari sorga, akibat kesalahan wanita. Di dalam WEDA Tuhan tidak saja dipuja sebagai Bapak, tetapi juga sebagai Ibu, seperti Ibu Pertiwi, Dewi Ibu ( Mother Goddness ). Perempuan dan lelaki memiliki kedudukan sederajat ( Ardhanaraswari ). Perempuan tidak dianggap penggoda moral, yang seluruh tubuhnya dianggap pembangkit nafsu birahi seperti – maaf – vagina, karena itu harus ditutupi dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Seks Dalam Agama Hindu.
Di dalam agama Hindu, ada dua aliran pemikiran tentang seks yang saling berlawanan. Aliran pemikiran pertama memandang seks secara negatif dipimpin oleh Bhagawan Wararucci dengan bukunya Sarasamuccaya. Aliran pemikiran kedua memandang seks secara positif dipimpin oleh Bhagawan Vatsyayana dengan bukunya Kama Sutra.
Wararucci antara lain mengatakan : “Ada satu alat pada tubuh si wanita, sangat menjijikkan dan sangat kotor; mestinya dibenci, dan dijauhi. Yaitu kulit yang berukuran sebesar kaki kijang. Di tengah-tengah kulit itu terdapat luka yang menganga yang tidak sembuh, yang menjadi saluran jalan air seni, penuh berisi keringat dan segala macam kotoran; itulah yang membuat orang bingung di dunia ini, kegila-gilaan, buta dan tuli karenanya “. Sarasamuccaya: 424-442 (stri/wanita)
Di tempat lain ia mengatakan betapa beruntungnya lahir sebagai manusia. Bagaimana bisa menusia lahir bila tidak melalui seks, dan bila tidak ada perempuan? Banyak orang menafsirkan bahwa pandangan Wararucci tentang seks disebabkan karena ia adalah seorang sanyasin, seorang yang sudah sepenuhnya di jalan spiritual. Dan pandangannya ini ditujukan kepada para sanyasin lain yang sama seperti dirinya.
Sebaliknya Vatsyayana menyatakan “Seksualitas adalah penting bagi kehidupan manusia, seperti makanan perlu untuk kesehatan badan, dan atas mereka bergantung dharma dan artha”
Kama adalah salah satu dari empat tujuan hidup, di samping DHARMA, ARTHA dan MOKSHA. ” Kama Sutra bukanlah karya pornografi. Ia adalah studi sistematik dan tidak berat sebelah mengenai salah satu aspek esensial dari keberadaan kita. Pertama dan utamanya, ia adalah satu gambar dari seni kehidupan khususnya seksualitas pada tubuh wanita, bagi warga kota yang beradab dan canggih, memenuhi tataran cinta, erotisme dan kenikmatan hidup, sejajar dengan risalah di bidang politik, ekonomi dan etik, Dharma Sastra dan Artha Sastra ” . ( Alain Danielou – The Complete Kama Sutra Park Street Press).
Di dalam Kama Sutra seks seolah-olah diberikan kebebasan tanpa batas, Di sini seks memang dieksploitasi secara luas dari segala kemungkinannya. Tetapi Kama Sutra juga mengatakan ” Seseorang tidak dapat memberikan dirinya kesenangan tanpa batasan. Aktivitas seseorang harus dikoordinasikan dengan memperhatikan Dharma dan Artha “. “Orang yang cabul adalah sia-sia, ia mengalami penghinaan, tidak menimbulkan kepercayaan dan mengundang cemohan orang. Mereka yang memanjakan dirinya dengan seks secara berlebihan menghancurkan dirinya sendiri dan juga hubungan-hubungan mereka “.
Kama harus diletakkan dalam bingkai Dharma dan Moksha. “Tiga tujuan pertama ( Dharma, Artha dan Kama ) tidak hanya dikejar demi kesenangan yang mereka berikan, tetapi juga demi pertumbuhan spiritual, menggabungkannya dengan tujuan keempat (Moksha) menjamin tiga tujuan pertama tidak dikejar secara tidak etis atau berlebihan, dan menyesuaikan seluruh kehidupan dan banyak kesenangannya dengan kesenangan tak terbayangkan dari pencerahan.” (Roger Walsh – Essential Spirituality )
Berbagai teknik percumbuan dan hubungan seksual dalam Kama Sutra ditujukan kepada laki-laki dan perempuan. Dengan menguasai teknik-teknik itu secara baik, kedua pasangan akan mencapai kepuasan. Jadi perempuan bukan sekedar sawah yang dapat digarap oleh laki-laki sesuka hatinya sendiri… Tujuan Kama Sutra adalah untuk menjamin kepuasan maksimal bagi suami istri, sehingga mereka dapat memelihara kasih sayang dan kesetiaan dalam berumah tangga mereka. Dan karena itu tidak mencari yang lain (selingkuh – admin).
Seks diciptakan agar manusia saling membutuhkan satu sama lain. Saling berkomunikasi satu sama lain. Saling mencintai. Dan untuk belajar rendah hati. Supaya dapat menikmati seks, kita perlu untuk dipersatukan dengan manusia yang lain untuk secara fisik menjadi cukup dekat bagi pemuasan seksual. Kita perlu mengatasi keangkuhan kita untuk membuat teman, untuk menjadi baik, romantis. Seks mengajari kita kerendahan hati ! Kita harus memberi untuk menerima kasih sayang, dan kita perlu saling membantu satu sama lain. Seks mengajarkan tanpa-keserakahan, cinta dan kemurahan hati.

Seks Adalah Sesuatu Yang Alamiah.
Narasi dan simbolisasi seks dalam agama Hindu dilakukan dengan bebas dan penuh rasa hormat. Gambar-gambar wanita dengan dada subur yang terbuka, relief-relief tentang hubungan seks dipahatkan di candi-candi, dipandang secara wajar. Patung-patung itu memang tidak dibuat untuk merangsang nafsu rendah manusia. Itu adalah symbol penciptaan dan pemeliharaan. Orang-orang Hindu memandang seksualitas, tanpa kecurigaan atau ketakutan. Para  lelaki Hindu tidak memandang seksualitas pada tubuh wanita sebagai godaan bagi kesehatan moral mereka. Mereka tidak boleh melemparkan kesalahan kepada orang lain atas tindakan yang dilakukannya akibat kelemahan atau ketidakmampuan moralnya sendiri. Seks tidak dibebani dengan konsep negatif seperti dosa atau penggodaan. Kama tidak pernah dipandang sebagai suatu yang kotor.
Erotisme dan sensualitas adalah kodrat manusia. Erotisme dan sensualitas mengafirmasi kehidupan, karena melalui seks kehidupan manusia terus berlanjut di muka bumi ini. Seks yang baik akan melahirkan generasi yang baik. Oleh karena itu perilaku seksual harus di atur oleh Dharma atau moral. DHARMA dan moral menuntut pengendalian diri, atau Sedhana. Yoga bahkan memberi jalan bagi sublimasi seksual menjadi energi spiritual. Jadi seks di samping baik harus juga benar.
Dalam pandangan Hindu perempuan bukan sumber dosa, setumpuk daging yang hanya berfungsi membangkitkan nafsu seksual laki-laki, atau pabrik untuk melahirkan anak-anak, tetapi partner sejajarnya untuk membagi cinta kasih dan melahirkan generasi demi generasi.
Sumber bacaan buku ” Tuhan Agama dan Negara “ oleh Ngakan Made Madrasuta penerbit Media Hindu. Ditulis oleh Rare Angon Nak Bali Belog untuk blog nakbalibelog.wordpress.com. Insert Potho ” Seks Ala Binatang ” – Taman Safari Gianyar Bali oleh Pecalang Bali Photo

Postingan Terkait Seks

Dewi Sri Laksmi Dewi Kesuburan

Trsna Papa Buddhi

Masturbasi dan Daya Spiritual

Sensualitas Bidadari Supraba

6 responses to “Seks: Kutukan atau Karunia ?

  1. Seks adalah kenikmatan abadi…!! Puncak dari yang ada dan tidak ada…!! Di mana kita bisa menyadari bahwa kenikmatan itu hanya sesaat, tapi justru yang sesaat itu yang membuat ketagihan..! Hehehehe…

    Kunjungan Sore bli.

    Like

  2. singgah diawal desember

    Like

  3. Wawasan baru nih….
    Memang baik kita mengerti ajaran agama lain, bukan berarti kita harus menjadi pengikutnya namun memahami tindakan saudara kita. Saling memahami dan menerima perbedaan sehingga tidak ada saling curiga-mencurigai dan menjelek-jelekkan agama lain.

    Like

  4. Pingback: Kecerdasan | nakbalibelog

  5. sek adalah suatu anugrah,namun harus ttap dikendalikan,

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s