Lagu Pop Bali Kerupuk


Lagu Pop Bali Kerupuk. Orang Bali adalah juru hibur yang bagus. Sejak berabad-abad silam, seni pertunjukan mereka selalu membuat penikmatnya terlena. Wayang, arja, topeng, prembon, drama gong, barong, gong kebyar, kelentangan, semara pegulingan, adalah kesenian yang menghibur. Gambuh, drama tari yang selalu dipuja dan diagung-agungkan sebagai cikal bakal dan sumber hampir semua seni tari Bali, sesungguhnya adalah seni yang menghibur, yang melenakan.
( Klik disini pilih winamp untuk mendengar lagu pop Bali )

Bali itu Seni

Orang Bali adalah juru hibur yang bagus

Sebagai juru hibur, orang Bali tak membedakan seni untuk entertainment, untuk dipersembahkan kepada Hyang Widhi, atau cuma untuk pelepas penat seperti pertunjukan joged bungbung. Awalnya, dalam urusan berkesenian, apapun yang dibuat dan disuguhkan oleh orang Bali selalu berupaya keras mengacu kepada mutu. Jika kemudian kesenian itu berkembang menjadi seni kemasan, yang mutunya dinilai sangat rendah, itu karena yang menggarapnya tidak lagi bisa disebut seniman. Mereka kaum tukang, yang lebih mementingkan wujud kemasan tinimbang isinya. Para tukang ini biasanya bekerja main comot, tak perlu bersusah-susah merenung untuk mendapat gagasan atau ilham.

Seni main comot ini semakin terasa ketika kemasan-kemasan itu disukai pasar. Jika dulu orang Bali menggelar hiburan dengan kesenian bermutu, kini mereka mencoba menyuguhkan seni massal; ramai, hiruk-pikuk, meriah, mendatangkan banyak duit, dirubung fans, dan mudah membuat orang berjingkrak-jingkrak. Seniman Bali lantas diajak terbiasa akrab dengan seni pop. Seni yang secepat mungkin digarap, dicomot entah dari mana, diolah, dan laris manis.

Dulu, seni yang menghibur itu ibarat nyamikan. Dia bukan makanan utama, cukup sebagai makanan ringan di kala senggang atau menjadi makanan penutup ketika bersantap malam. Kendati sebagai nyamikan, makanan itu tak bisa dianggap enteng. Es krim, misalnya, adalah makanan penutup yang mahal dan sedap. Banyak orang menunggu makanan penutup itu tinimbang menikmati makanan utama.
( Klik disini pilih winamp untuk mendengar lagu pop Bali )

Seni pertunjukan Bali zaman dulu itu seperti es krim. Sangat sedap, dan selalu membuat yang pernah mencicipi kangen bisa segera menikmatinya kembali. Sekarang pun, seni hiburan Bali juga seperti nyamikan. Tentu tak bisa disepadankan nyamikan itu dengan makanan Bali zaman dulu, ketika para seniman belum mengenal seni kemasan. Mereka mencipta tidak dikungkung waktu. Mereka bebas.

Terasa sekali kebebasan itu tak tampak dalam industri lagu pop Bali. Para penggubah lagu mencoba membuat lagu yang disukai pasar. Mereka tak bebas, karena mereka harus menyuguhkan hidangan sesuai selera umum. Seperti apa selera itu, lazimnya bisa segera diketahui lewat lagu macam apa yang laris. Ibarat membuat nyamikan, mereka menggubah lagu pop yang meriah, ramai, cepat menggoda orang untuk membelinya. Yang begini bukan jenis nyamikan es krim, tapi kerupuk. Digigit, ribut. Enteng. Yang penting orang menyukainya.

Tak heran, ketika mendengar sebuah lagu pop Bali, tiba-tiba langsung terasa kita pernah mendengar potongan lagu yang nyaris sama, entah kapan, entah di mana. Ya, seperti makan kerupuk, kita hanya merasakan satu rasa sama. Tentu beda dengan es krim, yang memang kaya aneka rasa. Dalam industri lagu pop Bali, kemasan itu, rasa itu, sama. Yang terasa kemudian adalah, orang begitu mudah menciptakan lagu, dan demikian gampang seseorang menyanyikannya. Tiba-tiba ada sekian pencipta lagu muncul, dan sekian bintang lagu pop melesat kencang.

Mungkin memang seperti itulah umumnya kesenian Bali masa kini. Tatkala sesuatu kesenian muncul, rasanya itu baru, padahal tak lebih dari pengulangan. Kesenian itu sungguh-sungguh jadi hiburan, lebih merosot tinimbang seni kemasan. Industri lagu pop Bali mempertajam bukti, dalam berkesenian masa kini, orang Bali benar-benar terseret dalam industri kesenian massal. Seni kriya Bali sudah dijejali oleh patung massal, patung pulasan. Kini kerawitan Bali modern didesak oleh industri lagu pop yang susah dibedakan oleh telinga awam lagu satu dengan lainnya. Rasanya, semua lagu pop Bali sama saja. Sama-sama Kerupuk.
( Klik disini pilih winamp untuk mendengar lagu pop Bali )
Sumber bacaan buku ” Jangan Mati di Bali – Tingkah Polah Negeri Turis”  merupakan judul buku karya Bapak Gde Aryantha Soethama. Ditulis di blog NakBaliBelog.wordpress.com oleh Eben Nak Bali Belog

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s