Apakah Orang Bali Suka Berkuasa ?


Apakah Orang Bali Suka Berkuasa ?

PILKADA BALI 2013

Pemilukada Propinsi Bali

Seorang pemimpin tentu juga seorang penguasa. Mustahil ia sanggup memimpin dengan baik, jika ia tidak bisa menggenggam erat kekuasaan. Jika seseorang berniat menjadi pemimpin, ia harus merebut kekuasaan. Tak ada kepemimpinan sanggup melangkah tanpa kekuasaan. Karena itu, keinginan orang tua kepada anak-anaknya untuk kelak menjadi pemimpin sama artinya dengan anjuran dan dorongan, “Berkuasalah kau !”.

Tetapi, memimpin tidak berarti sama dengan  menguasai. Jika seseorang memimpin mengandalkan kekuasaan, niscaya ia akan diruntuhkan oleh orang-orang yang dipimpinnya. Karena sesungguhnya tak seorang pun senang dikuasai oleh orang lain. Bagaimana memimpin agar orang-orang yang dipimpin tak merasa dikuasai, begitulah seni memimpin, yang bisa dijelaskan panjang lebar oleh pakar-pakar kepemimpinan.

Acap kali terjadi, seseorang awalnya berkeinginan memimpin. Lambat laun, karena dengan memimpin memperoleh kekuasaan, ia pun ogah melepaskan kepemimpinannya. Ia sedih karena harus berpisah dengan kekuasaan. Ia bertahan tidak karena begitu cintanya pada tugas memimpin, tetapi karena mabuk dan tergila-gila pada kekuasaan. Ia pun kemudian tampil dengan lebih menunjukkan kekuasaan tinimbang kepemimpinannya. Pelawak Bagio (alm) menyebutnya dengan ,”Kalau sudah duduk, lupa berdiri.”  Bagi Rare Angon Nak Bali Belog, “Lanturang ayah-ayahane mangda Baline Sutrepti.”

Zaman dulu, orang Bali memimpin, seperti menjabat kelihan banjar atau kepala desa, tidak karena dahaga akan kekuasaan, tidak jua karena ia berniat menjadi pemimpin. Tapi, karena lingkungannya, krama banjar, menginginkannya menjadi pengurus. Bukan basa-basi jika lantas muncul kesan, menjadi pemimpin sekaa (kelompok) sungguh-sungguh tugas mengabdi dan melayani. Dulu, memimpin sekaa adalah pekerjaan ngayah (payah dan tidak mendapat upah). Karena itu, zaman dulu, orang Bali tidak pernah merasa memimpin, apalagi berkuasa. Mereka memang tidak suka berkuasa. Itu dulu, sekarang orang Bali tampaknya lebih senang berkuasa tinimbang memimpin.

Kita bisa berkaca pada pemilihan Gubernur Bali saat ini, PEMILUKADA 2013 siapapun yang terpilih sebaiknya menjadi pemimpin Bali bukan penguasa Bali. Masyarakat Bali pun saat ini dituntut untuk Cerdas didalam menentukan pemimpinnya. (admin)

Pertanyaan yang muncul pada saat ini adalah; apakah orang Bali sudah berubah sikap dalam urusan kekuasaan ?, Apakah mereka kini telah tumbuh menjadi orang yang suka akan kekuasaan ?, Apakah mereka lebih mementingkan kekuasaan tinimbang kepemimpinan ? Apakah mereka mulai dicekoki keyakinan, bahwa untuk berbuat baik atau berjasa harus melalui kekuasaan ? Bisakah mereka membedakan antara memimpin dengan menguasai ?

Selamat memilih pemimpin baru untuk Bali-ku tercinta, semoga yang terpilih bukan nantinya menjadi penguasa Bali, tetapi beliau akan NGAYAH untuk Bali.
sumber bacaan ” Jangan Mati di Bali – Tingkah Polah Negeri Turis “ Gde Aryantha Soethama, dan Admin blog Rare Angon Nak Bali Belog .

2 responses to “Apakah Orang Bali Suka Berkuasa ?

  1. maaf baru bisa hadir kang, artikelnya sangat bermanfaat, seorang pemimpin biasanya identik dgn kekuasaan, tpi alangkah mulia nya seorang pemimpin jika seorang mampu memimpin menampung semua aspirasi yg pimpinnya, walaupun kadang tdk semua terealisasi, yg penting bijak, adil, dan berdiri sama tinggi, duduk sama rendah …🙂 hehehe…

    Like

  2. saat ini, pemimpin yang benar2 di cintai begitu sulit, tersandung dengan sikap berpolitik para politikus… thanks atas masukkannya sobat budaklembur0703

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s