Penceramah Agama Anak-Anak


Mengapa Agama Hindu tidak mempunyai penceramah agama dari kalangan anak-anak ?. Apakah karena ada Ajaran Catur Asrama ?. Apakah karena ada ungkapan “Cara Babakan Pule” ?.

Dewasa ini agamaku, semakin menampakan dirinya sebagai bagian dari saudaranya yang lain. Agamaku kini tampil disemua lapisan masyarakat Indonesia, baik di kota, maupun dipedesaan, tampil secara terbuka baik untuk penganutnya maupun terbuka untuk tempat sembahyangnya. Tidak ada yang mengkhawatirkan dalam agamaku, penganutnya selalu diterima dengan baik karena memang pada intinya setiap agama itu tidak mengkhawatirkan agama lain, berbeda dengan penganutnya atau sering disebut “Oknum”. Walau agamaku memiliki banyak sekte, aliran dan kepercayaan, banyak jalan dengan aneka budayanya sendiri-sendiri, namun agamaku tetap berjalan seiring dan seirama, tanpa ada sedikitpun untuk “menggurui” yang lain.

Kembali kenapa Agama Hindu tidak mempunyai penceramah agama dari kalangan anak-anak?. Bagaimana Ajaran Catur Asrama membatasinya ? Ataukah karena ungkapan Nak Bali “Cara Babakan Pule” ini ?.

Penceramah agama Hindu dari kalangan anak-anak, remaja dan dewasa sangat diperlukan untuk mengimbangi perkembangan umat di tanah air. Dimana kita ketahui bahwasannya perkembangan agama Hindu di Indonesia semakin pesat, terlihat dengan adanya kelompok-kelompok banjar suka duka dan tempat peribadatan Pura yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam setiap komunitas Hindu ini terdapat keluarga yang mempunyai anak-anak usia belajar dari sekolah dasar hingga remaja ditingkat sekolah menengah. Hal ini pula yang melatarbelakangi diperlukannya penceramah dari anak-anak, remaja dan dewasa yang mempunyai keberanian untuk tempil dihadapan teman-teman seumurannya.

Kenapa demikian ?, Tentunya bahasa dan topik ceramah yang disampaikan akan mudah diterima oleh pendengar yang sebayanya. Kehadiran orang yang seumuran menjadi lebih mempunyai ikatan emosional dan rasa percaya dengan apa yang disampaikan.

Coba kita bayangkan dan lihat saat ini, penceramah agama Hindu banyak dari kalangan Pandita dan pinandita, atau dari orang-orang yang berpendidikan sangat tinggi, namun hal yang disampaikan dalam ceramahnya tidak (jarang) dapat diterima atau didengar dari kalangan anak-anak dan remaja. Kalaupun ada penceramah dari kalangan anak-anak atau remaja, paling hanya sebatas untuk lomba dan lomba. Setelah lomba dan mendapat juara I maka tidak ada lagi pembinaan kedepannya, apakah dibina untuk menjadi penceramah anak-anak dan remaja, yang benar-benar untuk berceramah tentang agama Hindu di masyarakat.

Apakah karena adanya Ajaran Catur Asrama ?.

Catur Asrama dalam agama Hindu (terutama di Bali) , yaitu Empat tahapan hidup manusia yang terdiri dari : Brahmacari Asrama, Grihasta Asrama, Wanaprastha Asrama, dan Biksuka atau Sanyasin. Brahmacari adalah tingkatan menuntut ilmu. Dalam tingkatan ini manusia diwajiban untuk menuntut ilmu yang setinggi-tingginya. Pengertian yang timbul dari Brahmacari Asrama ini adalah hanya sebatas untuk menuntut ilmu saja, tidak ada hal lain selain menuntut ilmu. Hal lain yang dimaksud adalah ” apakah tidak boleh ilmu agama itu segera  diterapkan dalam bentuk memberi cermah agama dan kita harus menunggu waktu hingga sampai pada tingkatan kehidupan Biksuka ?”

Demikian pula untuk tingkatan Grihasta yaitu tingkatan berumah tangga, sehingga yang muncul adalah kesibukan untuk mencari kebutuhan keluarga, mensejahterakan istri dan anak-anak. Dalam tingkatan Wanaprastha manusia diwajibkan untuk meninggalkan segala bentuk tuntutan jasmani dan beralih ke tuntutan rohani, dengan ini manusia lebih menjalani kehidupannya untuk belajar tentang agama, peningkatan spiritual sebagai persiapan menuju biksuka.  Sampai pula pada tingkatan Biksuka dimana kehidupan kita memang untuk spiritual dengan memberikan tuntunan-tuntunan keagamaan kepada masyarakat dengan ceramah-ceramah agama.

Bila secara ideal masyarakat Hindu dalam setiap tingkatan berjalan sesuai harapan, yakni setiap 1 orang yang menjadi Brahmacari, selanjutnya akan menempuh Grihasta dan Wanaprastha yang pada akhirnya dia tiba di Biksuka yang mampu memberikan tuntunan melalui ceramah agama, tentunya masyarakat Hindu dengan agama Hindu-nya tidak perlu khawatir dengan kehidupan beragamanya karena telah berjalan sesuai dengan Catur Asrama.
Namun kenyataannya, 100 orang menjadi Brahmacari, kemudian menjadi 50 orang menempuh Grihasta, yang menjadi Wanaprastha mungkin hanya 5 orang dan hanya 1 yang menjadi Biksuka. Proses yang sangat panjang untuk dapat meningkatkan pengetahuan agama secara baik dan benar.
Pertanyaan besar untuk umat Hindu, Apakah Catur Asrama menyebabkan pola pikir kita terkotak-kotak sehingga menjadi penceramah agama Hindu harus sudah Biksuka ? Apakah semua yang sudah mencapai Biksuka menjadi Penceramah agama ?

Mungkinkan karena ungkapan “Cara Babakan Pule” ?

Bila kita simak arti ungkapan “Cara Babakan Pule” , yaitu sebatang pohon Pule yang memberikan kulitnya untuk obat manusia, namun obat itu tidak memberikan manfaat pada dirinya sendiri. Dapat pula dikatakan bahwa orang tersebut bersifat ‘menggurui” orang lain. Tentunya ungkapan ini sangat merugikan kehidupan bermasyarakat untuk umat Hindu. Penceramah anak-anak dan remaja sepertinya tidak berhak untuk memberi ceramah tentang agama kepada orang lain. Anak-anak dan remaja dipandang hanya bisa menyampaikan pesan namun tidak dapat mengambil hikmah dari pesan yang disampaikannya untuk dirinya, itulah ungkapan “Cara Babakan Pule”.

Lalu pernahkan kita mendengar anak-anak agama “tetangga” dalam memberikan ceramah agamanya ? Tentunya tidak dapat dia terapkan 100 persen dalam kehidupannya, tetapi bagaimana efek dari pada antusiasme rekan-rekan sebayanya dalam ilmu pengetahuan agama itu, salut !!! Bagaimana dengan umat Hindu ???.

Rare Angon Nak Bali Belog

One response to “Penceramah Agama Anak-Anak

  1. Blogwalking and good night friends😀

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s