“Jero, Jero Sandat…….”


“Jero, Jero Sandat…….”
Lama tidak ada suara lagi. Suara menggeram tersebut hilang tanpa meninggalkan jejak. Namun Manda takut kembali ke ranjang, memutuskan tetap berada di kamar mandi untuk sementara waktu dan membiarkan kelembaban ubin mulai merasuk ke bawah kulitnya.
“Jero Sandat …. bangun.”
Hening lagi.
“Jero Sandat ….”
“Iya, iya …. ada apa ? Kenapa ke sini sekarang ?”
Manda terkejut. Secara refleks ia langsung memasang telinga ke pintu yang lumayan dingin, mencoba mendengar suara-suara di kamar.
“Tidak usah banyak omong Jero. Siapa yang tidak mengunci pintu? Tujuannya mengundang aku ‘kan?”
“Jangan main-main, ini sudah malam?”
“Bukan. Ini sudah pagi.”
“Pagi?”
“Bukankah sekarang saat paling baik.”
“Paling baik untuk apa?”
“Jangan pura-pura lupa. Kita sudah sepakat buat anak jauh dari rumah,’kan?”
“Dewa Aji gila. Di sini banyak anak-anak.”
“Anak-anak tidak akan bangun. Mereka payah.”
“Tapi….”
Terdengar suara langkah kaki. “Sudahlah, kemari.”
“Keluar?”
“Ya, diluar.”
“Siapa juga mau di luar,” kata Jero Sandat mulai terdengar manja, “Siapa mau membeku!” kegalakan sikapnya selama ini tiba-tiba berubah menjadi anak baru gede yang minta rembulan diturunkan dari langit.
“Bagaimana kalau di kamar mandi?”
Mendengar kata kamar mandi disebut, Manda terkejut, ia memikirkan sebuah tempat untuk bersembunyi. Namun sudah terlambat, pintu terbuka dan dua orang berlainan jenis yang sedang dimabuk berahi masuk. Mereka berciuman secara ganas, tidak memberi ampun atas kelalaian pasangan; menyedot apa saya yang melemah; menerkam apa saja yang melembut. Mereka membuktikan janji yang sudah tertanam sejak meninggalkan pasangan hidup masing-masing di tanah air.
“Dewa Aji, matikan lampunya.”
Dewa Suwat menekan tombol lampu dengan tangannya yang berhasil terbebas dari kepitan sang kekasih gelap. Belum cukup gelap, kakinya mendorong daun pintu kamar mandi. Setelah benar-benar gulita, kini nafsu keduanya tak terhalangi apa-apa. Mereka membuka semua yang melekat di tubuh masing-masing dan melemparkannya kemans saja, melepaskan semua yang masih tersisa di pasangan dan melemparkan sekenanya. Hampir Manda memekik saat selembar kain, entah apa, entah milik siapa menimpa wajahnya.
“Aduh Dewa Aji, jangan!” pekik Jero Sandat.
“Sudahlah.”
“Jangan!” Jero Sandat kembali memekik.
Manda ingin keluar dari persembunyian, menolong sang bibi yang terus berteriak-teriak. Manda kecil sungguh tidak paham beda teriakan ketakutan dan hasrat membara, ia tetap saja mencari cara untuk jadi penyelamat, pikiran naifnya memaksa dirinya segera menjadi Superman dalam komik,”Apa yang harus kulakukan?” Manda panik.
“Ini dosa, Dewa Aji,” bisik Jero Sandat.
“Kalau dosa? Dulu saat kita di Karangasem apa? Seharusnya juga dosa, ‘kan?”
“Tapi….”
“Ayolah, ini kesempatan kita sebelum semua bangun. Tidak usah dipikirkan, mana lebih dosa melakukan di Karangasem atau di London.”
Lalu, suasana jadi sepi. Manda yang berusaha menahan tangis, hanya mendengar napas keduanya dan suara gesekan yang semakin berisik. Ia ingat perilaku anjing jantan yang menunggangi betinanya di sembarang tempat; ia juga suka bila para ibu merasa risi, lari ke dapur, membawa kembali sebaskom besar air lalu menyiram kedua binatang itu. Akibatnya, kedua anjing yang merasa perilakunya ditolak, coba berlari ke arah saling berlawanan tetapi kesulitan dalam melepaskan ikatan fisik yang telah ditancapkan sepenuh berahi sebelumnya – berikutnya giliran anak-anak menyoraki, melempari dengan batu dan memburu hingga keduanya terpisahkan.”Haruskah aku melakukan itu,” Manda merangkai pikiran jahat, “di sini banyak air, aku bisa menyemprot kedua binatang ini setiap waktu. Tapi tidak ada gayung, apalagi baskom.”Lalu, ia berusaha mengingat di mana letak shower.
Tiba-tiba terdengar keduanya. Dewa Suwat dan Jero Sandat hampir bersamaan mengerang keras hingga ke jurang kepuasan tiada tara. Lalu berhenti total. Menit demi menit berlalu sepi. Hanya suara napas satu dua mereka yang membuat pikiran Manda menuju masa kecil, saat babi sekarat setelah jagal menusuk lehernya, setelah darah tinggal setetes-setetes, begini juga napas babi saat itu.”Sudahkah keduanya mati?” pikir Manda. Ia belum paham bahwa nafsu binatang keduanya sudah mati, setelah tusukan bertubi-tubi mengena pada sumber kenikmatan, setelah tetesan-tetesan terakhir cairan bening kental bersatu — kembali jadi manusia mereka.
“Kalau anak kita laki-laki. Kamu namai saja Ngurah London, ” Dewa Suwat berbisik nakal tiba-tiba. ……

Kutipan Novel Ayu Manda karya I Made Iwan Darmawan, 2010. Ditulis dalam blog nakbalibelog.wordpress.com oleh Rare Angon Nak Bali Belog.

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s