Ajaran Abadi Upadesamrta


Ajaran Abadi Upadesmrta

Ajaran Abadi Upadesmrta

Upadesamrta, sebelas sloka dalam Bahasa Sanskerta yang merupakan inti sari cara mencapai kemajuan dalam bhakti tahap demi tahap dengan mengendalikan indera-indera dan pikiran, adalah hasil karya Srila Rupa Gosvami, salah seorang di antara murid-murid terkemuka Sri Caitanya Mahaprabhu (1486-1534).
Terjemahan dan penjelasan hasil karya Sri Srimad A.C. Bhaktivedenta Swami Prabhupada ini dapat dimanfaatkan sebagai pedoman dalam usaha mencapai tujuan tertinggi kehidupan manusia dengan cara menjadi gosvami dan penyembah murni Tuhan Yang Maha Esa.

Sebelas Sloka; Upadesamrta :

Sloka Satu
vaco vegam manasah krodha-vegam
jihva-vegam udaropastha-vegam
etan vegan yo visaheta dhirah
sarvam apimam prthivim sa sisyat

Orang bijak yang sanggup menahan dorongan untuk berbicara, permintaan-permintaan pikiran, tindakan-tindakan kemarahan dan dorongan-dorongan dari lidah, perut dan kemaluan, memenuhi syarat untuk menerima murid di seluruh dunia.

Sloka Dua
atyaharah prayasas ca
prajalpo niyamagrahah
jana-sangas ca laulyam ca
sadbhir bhaktir vinasyati

Bhati yang dilakukan oleh seseorang dirusakkan apabila dia menjadi terlalu terlibat dalam enam kegiatan berikut; (1) makan lebih dari kebutuhan atau mengumpulkan dana lebih daripada yang dibutuhkan; (2) berusaha terlalu keras untuk benda-benda atau hal-hal duniawi yang sangat sulit sekali diperoleh; (3) berbicara secara tidak perlu tentang hal-hal duniawi; (4) mempraktekkan aturan-aturan kitab suci hanya untuk mengikutinya saja dan bukan demi tercapainya kemajuan rohani, atau menolak aturan-aturan kitab suci dan bertindak secara tersendiri atau secara bertingkah; (5) bergaul dengan orang yang hatinya duniawi dan tidak tertarik pada kesadaran Krsna; dan (6) menjadi tamak terhadap pencapaian-pencapaian yang bersifat duniawi.

Sloka Tiga
utsahan niscayad dhairryat
tat-tat-karma-pravartanat
sanga-tyagat sato vrtteh
sadbhir bhaktih prasidhyati

Ada enam prinsip yang bermanfaat untuk pelaksanaan bhakti yang murni: (1) bersemangat, (2) berusaha dengan keyakinan, (3) menjadi sabar, (4) bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip aturan (seperti sravanam kirtanam visnoh smaranam – mendengar, memuji dan ingat pada Krsna), (5) meninggalkan pergaulan orang yang bukan penyembah, dan (6) mengikuti langkah-langkah para acarya terdahulu. Enam prinsip tersebut pasti menjamin sukses yang lengkap dalam bhakti yang murni.

Sloka Empat
dadati pratigrhnati
guhyam akhyati prcchati
bhunkte bhojayate caiva
sad-vidham priti-laksanam

Memberikan hadiah-hadiah sebagai sumbangan, menerima hadiah sebagai sumbangan, membuka isi hati secara rahasia, bertanya secara rahasia, menerima prasada dan memberikan prasada adalah enam tanda cinta kasih antara sesama penyembah.

Sloka Lima
krsneti yasya giri tam manasadriyeta
diksasti cet pranatibhis ca bhajantam isam
susrusaya bhajana-vijnam ananyam anya
nindadi-sunya-hrdam ipsita-sanga-labdhya

Hendaknya seseorang menghormati di dalam pikiran seorang penyembah yang mengucapkan nama suci Sri Krsna, hendaknya seseorang bersujud dengan hormat kepada seorang penyembah yang telah diterima sebagai murid secara rohani (diksa) dan tekun bersembahyang kepada Arca, dan hendaknya seseorang melayani dengan setia dan bergaul dengan penyembah-murni yang telah maju dalam bhakti yang tidak pernah menyimpang dan hatinya bersih sepenuhnya dari kecendrungan untuk mengkritik orang lain.

Sloka Enam
drstaih svabhava-janitair vapusas ca dosair
na prakrtatvam iha bhakta janasya pasyet
gangambhasam na khalu budbuda-phena-pankair
brahma-dravatvam apagacchati nira-dharmaih

Karena mantap berada pada kedudukan aslinya yang sabar akan Krsna, seorang penyembah-murni tidak menyamakan diri dengan badan. Hendaknya seorang penyembah yang seperti itu jangan dilihat dari sudut pandang duniawi. Memang, hendaknya tidak dianggap penting jika seorang penyembah memiliki badan yang lahir dalam keluarga rendah, badan dan wajah yang kurang baik, badan yang cacad, badan yang terjangkit penyakit atau badan yang kurang sehat. Menurut pandangan biasa, kekurangan-kekurangan semacam itu barangkali menonjol dalam badan seorang penyembah-murni, dan walaupun memiliki apa yang nampak sebagai kekurangan, badan seorang penyembah-murni tidak dapat dicemari. Badan seorang penyembah-murni persis seperti air Sungai Gangga, yang kadangkala menjadi penuh gelembung, busa dan lumpur selama musim hujan. Air Sungai Gangga tidak dapat dicemari. Orang yang sudah maju dalam pengertian rohani akan mandi di Sungai Gangga tanpa memperhatikan keadaan airnya.

Sloka Tujuh
syat krsna-nama-caritadi-sitapy avidya-
pittopatapta-rasanasya na rocika nu
kintv adarad anudinam khalu saiva justa
svadvi kramad bhavati tad-gada-mula-hantri

Nama suci, watak, kegiatan dan perbuatan Krsna semua manis secara rohani bagaikan manisan gula. Walaupun lidah orang yang menderita sakit kuning avidya (kebodohan) tidak dapat merasakan sesuatu yang manis, namun alangkah ajaibnya bahwa hanya dengan mengucapkan nama-nama yang manis ini setiap hari dengan saksama, timbullah rasa nikmat yang alami dalam lidahnya, dan penyakitnya berangsur-angsur dihancurkan sampai akar-akarnya.

Sloka Delapan
tan-nama-rupa-caritadi-sukirtananu-
smrtyoh kramena rasana-manasi niyojya
tisthan vraje tad-anuragi jananugami
kalam nayeg akhilam ity upadesa-saram

Hakikat dari segala nasihat adalah bahwa seseorang hendaknya menggunakan waktunya sepenuhnya –dua puluh empat jam sehari– dalam memuji dan ingat pada nama, bentuk rohani, sifat-sifat dan kegiatan kekal Tuhan dengan baik, dan dengan demikian berangsur-angsur menyibukkan lidah dan pikiran. Dengan cara demikian hendaknya dia tinggal di Vraja [Goloka Vrndavana dhama] dan mengabdikan diri kepada Krsna di bawah bimbingan para penyembah. Hendaknya orang mengikuti langkah-langkah penyembah-penyembah tercinta Tuhan, yang terikat secara mendalam terhadap bhakti kepada Tuhan.

Sloka Sembilan
vaikunthaj janito vara madhu-puri tatrapi rasotsavad
vrndaranyam udara-pani-ramanat tatrapi govardhanah
radha-kundam ihapi gokula-pateh premamrtaplavabat
kuryad asya virajato giri-tate sevam viveki na kah

Tempat suci yang bernama Mathura secara rohani lebih tinggi daripada Vaikuntha, atau dunia rohani, sebab Krsna telah muncul di Mathura. Hutan rohani di Vrndavana lebih tinggi daripada Mathura-Puri disebabkan oleh kegiatan rasa-lila Krsna. Bukit Govardhana lebih tinggi daripada hutan di Vrndavana, sebab Bukit Govardhana pernah diangkat oleh tangan suci Sri Krsna dan juga merupakan tempat dilangsungkannya berbagai kegiatan percintaan Krsna. Tempat yang paling tinggi di antara semuanya adalah Sri Radha-kunda, sebab Sri Radha-kunda dibanjiri oleh prema kekal yang sangat manis milik Penguasa Gokula, Sri Krsna. Karena itu, siapakah orag cerdas yang tidak bersedia mengabdikan diri kepada Radha-kunda yang suci ini, yang terletak di kaki Bukit Govardhana?

Sloka Sepuluh
karmibhyah parito hareh priyataya vyaktim yayur jnaninas
tebhyo jnana-vimukta-bhakti-paramah premaika-nisthas tatah
tebhyas tah pasu-pala-pankaja-drsas tabhyo ‘pi sa radhika
prestha tadvad iyam tadya-sarasi tam nasrayet kah krti

Dalam sastra dinyatakan bahwa di antara segala jenis orang yang bekerja demi pahala, orang yang sudah maju dalam pengetahuan tentang nilai-nilai luhur dalam kehidupan diberkati oleh Tuhan Yang Maha Esa, Sri Hari. Di antara banyak orang seperti itu yang sudah maju dalam pengetahuan [para jnani], orang yang telah mencapai pembebasan secara nyata atas kekuatan pengetahuannya mungkin mulai menjalani bhakti. Dia lebih maju daripada yang lain. Akan tetapi, orang yang sudah benar-benar mencapai prema, atau cinta kasih yang murni kepada Krsna, lebih tinggi daripada jnani itu. Para gopi lebih maju daripada semua penyembah yang sudah maju, karena mereka selalu bergantung sepenuhnya kepada Sri Krsna, sang anak gembala sapi rohani. Di antara para gopi, Srimati Radharani lah yang paling dicintai Krsna. Cinta Sri Krsna terhadap kunda [kolam] milik Srimati Radharani semesra cinta-Nya terhadap Srimati Radharani Sendiri sebagai yang paling dicintai diantara para gopi. Karena itu, siapakah yang tidak ingin tinggal di Radha-kunda, dan dalam badan rohani yang dipenuhi dengan rasa kebahagiaan bhakti [aprakrtabhava], mempersembahkan bhakti dengan cinta kasih kepada pasangan rohani, yakni Sri Sri Radha-Govinda, yang melakukan astakaliya-lila, atau delapan jenis kegiatan kekal harian Mereka. Memang, mereka yang melakukan bhakti di tepi Radha-kunda adalah orang yang paling beruntung di seluruh alam semesta.

Sloka Sebelas
krsnasyoccaih pranaya-vasatih preyasibhyo ‘pi radha
kundam casya munibhir abhitas tadrg eva vyadhayi
yat presthair apy alam asulabham kim punar bhakti-bhajam
tat premedam sakrd api sarah snatur dviskaroti

Di antara banyak obyek kebahagiaan yang disayangi, dan diantara semua gadis yang dicintai di Vrajabhumi, Srimati Radharani tentu merupakan obyek cinta Krsna yang paling disayangi. Resi-resi agung telah menguraikan bahwa, dalam segala hal, Krsna mencintai kunda suci Radharani seperti itu juga. Tidak dapat diragukan bahwa Radha-kunda sangat jarang dicapai, bahkan bagi penyembah-penyembah agung sekalipun; oleh karena itu, lebih sulit lagi bagi penyembah-penyembah biasa untuk mencapai Radha-kunda. Apabila seseorang mandi sekali saja dalam air suci tersebut, cinta kasihnya yang murni kepada Sri Krsna terbangkitkan sepenuhnya.

sumber bacaan buku ‘ Ajaran Abadi UPADESAMRTA ‘ oleh Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Ditulis dalam blog oleh Rare Angon Nak Bali Belog

 

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s