Bebas Menyiram Air


Dimana ada kebebasan, disana dengan sendirinya hadir ketidakbebasan. Ini bukan kalimat bersayap, tapi sebuah pernyataan lugas bahwa siapa pun yang memperjuangkan kebebasan, ia juga telah mengambil langkah pasti untuk memperjuangkan ketidakbebasan. Tak ada kebebasan tanpa batas.

Kebebasan adalah kesempatan dahsyat. Ia bisa menjelma menjadi sebuah revolusi yang mengubah nasib seseorang dalam sekejap. Sejak Soeharto runtuh, kita kembali dihadapkan pada persoalan kebebasan dan ketidakbebasan. Orang segera menghirup udara kebebasan menyatakan pendapat, yang karena tidak dibatasi oleh ketidakbebasan, bermetamorposa menjadi hujatan-hujatan. Kita mulai bimbang dan was-was, karena kebebasan itu mulai banyak menelan korban. Pengemudi yang khilaf menyerempet orang di pinggir jalan mobilnya dibakar massa. Pencopet dan tukang kutil di pasar bonyok dikeroyok. Pedagang kaki lima semakin unjuk gigi bebas jualan dan terang-terangan berani menantang petugas tibum.

Kebebasan tanpa ketidakbebasan tak hanya membuat orang tak lagi manusiawi, namun akan menciptakan suasana yang simpang siur, kalut, situasi yang tak mudah dipahami, sampai akhirnya kita saling mencurigai, saling gebug. Inilah situasi yang penuh kecemasan, emosional, dan siapapun akan bertindak sewenang-wenang untuk membungkam dan merontokkan orang lain.

Akhir-akhir ini kebebasan memang semakin mengkerdilkan perasaan. Orang sedih, karena kebebasan pers misalnya, disusupi pornografi. Kebebasan berpendapat bukannya membangkitkan kegairahan berkreatifitas, justru kesempatan untuk menghujat dan main hakim sendiri. Kita trenyuh, karena kebebasan tak membuat orang santun dan seksama, tapi menjadikan mereka liar dan amburadul.

Di zaman yang terlalu banyak tingkah ini orang rindu kehadiran ketidakbebasan, butuh hukum ditegakkan, kesalahan dicermati, sehingga kita terhindar dari hiruk pikuk baku hantam antarsesama.
Di tengah kebebasan kita butuh ketidakbebasan, agar anti kekerasan tak hanya diucapkan dan dikibarkan dalam spanduk, namun sungguh-sungguh dilaksanakan.

One response to “Bebas Menyiram Air

  1. Berhubung saya sendiri lahir tahun 1998, saya tidak pula hendak sok mengaku bagaimana ketidakbebasan yang dirasakan rakyat Indonesia. Kebebasan itu sendiri sangat kompleks, bisa di ambil dari sisi yang sobat posting, maupun kehidupan yangvlebih kecil lagi.

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s