Pura Luhur Poten Bromo dan Hindu Tengger


Letak Geografis daerah Bromo
Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur, yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Suku Tengger merupakan sub suku Jawa menurut sensus BPS tahun 2010. Suku bangsa Tengger berdiam disekitar kawasan di pedalaman gunung Bromo yang terletak di kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Berdasarkan persebaran bahasa dan pola kehidupan sosial masyarakat, daerah persebaran suku Tengger adalah disekitar Probolinggo, Lumajang, (Ranupane kecamatan Senduro), Malang (desa Ngadas kecamatan Poncokusumo), dan Pasuruan. Sementara pusat kebudayaan aslinya adalah di sekitar pedalaman kaki gunung Bromo. Bromo terkenal sebagai ikon wisata gunung api (aktif) di Jawa Timur. Gunung ini memang tidak sebesar gunung api lainnya di Indonesia, namun Bromo memiliki pemandangan yang begitu indah, sehingga keindahannya yang luar biasa membuat wisatawan yang berkunjung akan berdecak kagum. Dari puncak gunung penanjakan di ketinggian kurang lebih 2.770 mdpl wisatawan dapat menikmati sunrise ‘matahari terbit’ dengan mendaki gunung Penanjakan yang merupakan gunung tertinggi di kawasan itu dimulainya dari dini hari.

Kawasan wisata Bromo tidaklah sulit untuk dijangkau para wisatawan, karena mempunyai empat pintu untuk masuk kawasan taman nasional ini, yaitu dari Malang, Pasuruan, Lumajang, dan Probolinggo. Bromo tidak hanya identik dengan lautan pasir, matahari terbit, hawa dingin, upacara kasada dan sebagainya. Ada satu lagi suguhan masyarakat Tengger yang tidak diperhatikan oleh wisatawan, yaitu adanya desa wisata yang terletak di dusun Seruni, Desa Ngadisari, kecamatan Ngadisari, Kabupaten Probolinggo. Banyak sekali yang bisa dinikmati di desa yang sekarang dalam tahap proses pengembangan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo.

Kondisi Historiografis Bromo
Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin bahwa mereka merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari kata Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang telah diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “Teng” akhiran nama Roro An-“teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-“ger”. Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Dalam setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara adat yaitu Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara yakni Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara tersebut diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.
Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger. Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.

Kondisi Ekonomi Desa Ngadisari
Masyarakat Desa Ngadisari bermata pencaharian sebagai petani kurang dari 5% saja masyarakatnya yang berkerja selain menjadi petani. Dalam kehidupan sehari-hari merkea sangatlah sederhana, rajin dan damai. Ladang mereka berada di lereng-lereng gunung dan juga puncak-puncak yang berbukit-bukit.
Kebanyakan dari masyarakat memiliki ladang yang jauh dari tempat tinggalnya sehingga harus membuat gubuk-gubuk sederhana di ladanganya untuk beristirahat sementara waktu. Mereka bekerja hingga sore hari di ladanganya. Pada masa kini, masyarakt Tengger di Desa Ngadisari umumnya hidup sebagai petani di ladang. Mereka memiliki prinsip yang kaut dalam pertaniannya, yaitu tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain.
Mereka hidup dari bercocok tanam di ladang, dengan pengairan tadah hujan. Pada mulanya mereka menanam jagung sebagai makanan pokok, akan tetapi saat ini sudah berubah. Pada musim hujan mereka menanam sayuran seperti kentang, kubis, bawang prey, dan wortel sebagai tanaman perdagangan. Pada penghujung musim hujan mereka barulah menanam jagung sebagai cadangan makanan pokok.
Macam hasil pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Untuk pendistribusian hasil pertanian dilaksanakan melalui tengkulak, tengkulak atau pedagang langsung yang menjemput komoditas pertaniannya. Kelebihan penjualan hasil ladang ditabung untuk perbaikan rumah serta untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.
Selain bertani, ada sebagian masyarakat yang berprofesi sebagai pemandu wisata di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda dan jeep yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan. Aspek pembangunan yang terlihat adalah pada sektor pariwisata, misalnya dengan pembangunan-pembangunan akses-akses menuju gunung  Bromo agar lebih mudah dijangkau wisatawan. Fasilitas yang dibangun untuk pariwisata misalnya hotel, restoran, cafe, musium, toko aksesoris, warung-warung dan sebagainya.
kondisi sosial Desa Ngadisari
Masyarakat Indonesia sangatlah multikultural. Berbagai ragam seni dan budaya tersebar di seluruh Indonesia dan dengan penampakan alamnya akan menimbulkan perilau sosial yang berbeda-beda. Demikian pula dengan kehidupan masyarakat suku Tengger di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura yang menjadi objek kajian dalam praktik kuliah lapangan dalam kesempatan ini.
Kehidupan masyarakat tengger di Desa Ngadisari penuh dengan kedamaian dan kondisi masyarakat yang sangat aman dan rukun. Setiap permasalahan yang terjadi diselesaikan dengan jalan musyawarah yang dipimpin oleh petinggi dan orang-orang berpengaruh lainnya yang secara posisinya sangat dihormati dan dipatuhi oleh masyarakat setempat. Apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakatnya maka itu cukup diselesaikan oleh petinggi saja. Selain patuh pada adat mereka juga patuh pada peraturan pemerintahan sehingga memperkecil peluang terjadinya konflik.
Warga Tengger umumnya termasuk di Desa Ngadisari terkenal dengan karakternya, keluhuran budi pekerti dan sikapnya yang sangat sadar hukum. Di daerah ini jarang terjadi tindakan pencurian, pembunuhan ataupun tindakan kriminal lainnya. Kehidupan di Ngadisari sangat harmonis.
Salah satu aspek yang mendukung tingginya tingkat kerukunan di Desa Ngadisari adalah dasi aspek kepercayaan. Warga Ngadisari yang merupakan suku Tengger tersebut sebagian besar menganut agama Hindu dan sangat taat dengan adat istiadat yang ada. Ketaatan mereka pada Tuhan dan adat yang ada yang juga sangat kental dengan hal-hal yang sifatnya mistis menjadikan karakter mereka sebagai masyarakat yang harmonis sangat kuat.
Apabila ada warga yang melakukan pelanggaran pada akhirnya akan dibiarkan saja oleh yang lainnya. Tidak akan ditgur atau dinasihati lagi dalam bentuk apapun. Hanya di diamkan saja. Hal itu dikarenakan masyarakat percaya akan adanya hukum karma, Tuhan dan juga makhluk penunggu lainnya yang ada di daerah tersebut yang akan membalas perbuatan atau pelanggaran tersebut.
Dewasa ini wilayah Desa Ngadisari yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Gunung Bromo telah mengalami perkembangan dan kemajuan yang signifikan. Salah satunya adalah dengan dibukawa Bromo menjadi daerah kawasan wisata. Perubahan itu tentunya mengakibatkan berbagai dampak perubahan soaial bagi Desa Ngadisari dan sekitarnya. Adapun dampak perubahan sosial yang terjadi sejauh ini bagi Suku Tengger di Desa Ngadisari bersifat kemajuan, tetapi tidak menutup kemungkinan akan adanya dampak negatif dan merugikan.
Dengan adanya orang asing (wisatawan) yang masuk ke wilayah Ngadisari tentunya akan mempengaruhi perilaku masyarakat. Penelitian di lapangan menunjukkan bahwa setelah dibukanya Bromo menjadi kawasan wisata, masyarakat semakin rukun dengan adanya kerjasama dalam mata pencaharian yang baru dengan menyewakan kuda tunggungan, mobil jeep, dan juga penginapan.

sumber : http://ardillaelfirasafitriipsauny.blogspot.com

3 responses to “Pura Luhur Poten Bromo dan Hindu Tengger

  1. Pura luhur ini salah satu center interest bagi pengujung di Gunung Bromo

    Like

  2. Gunung bromo, wisata gunung penuh sejarah, keren..

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s