Menyerang Agama Sendiri, Tak Mungkin


Agama Hindu, Sanatana Dharma dengan umat penganutnya memang ditugaskan untuk memberikan kedamaian di dunia. Tugas yang sangat berat, tugas yang penuh resiko secara fisik dan mental. Tidak mudah hidup beragama Hindu, tidak mudah untuk dapat ditakdirkan menjalankan Dharma. Karena hanya orang-orang tertentu yang bisa menjadi Hindu dan menjalani tugas dari Tuhan yaitu “Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma

Kedamaian yang selalu diajarkan dalam kitab suci Veda, tidak mudah untuk dijalani. Perlu pemahaman yang dalam dan keberanian dalam menjalani. “Serangan” terhadap agama Hindu dan penganutnya sudah ribuan tahun berlangsung secara turun temurun, serta yang paling unik adalah dengan topik yang sama, “ yachh itu lagi itu lagi, berhala-lah, banyak Tuhan-lah, pemuja batu-lah, bosan… ”. Padahal setiap agama memiliki objek benda yang sama ;bisa berupa batu berukir, batu kotak, batu silang, batu bulat, lonjong, persegi serta alat untuk berkonsentrasi lain, seperti arah yang harus ke Barat, ada yang harus ke Timur, ada yang ke mana-mana, semua itu musti dipahami secara mendalam oleh setiap umat, bahwa itulah kekurangan manusia sehingga membutuhkan objek untuk berkonsentrasi. Berkonsentrasi menuju Tuhan.

Kembali ke penyerang, “Penyerang” ada yang datang dari luar lingkungan dan yang tidak mungkin adalah datang dari orang-orang “kalah” yang lari tunggang langgang setelah menemukan “kebenaran”. Kebenaran dalam pelarian adalah membutakan.

 Bila kita cermati dengan seksama ada hal yang menarik dari orang yang telah “melarikan” diri dari tugas Dharma. Sejak lahir belajar agama Hindu, belajar ber-Trisandya, belajar kebaikan Tri Kaya Parisudha, belajar Karmaphala, belajar menyama braya, belajar hidup sederhana, belajar menuju Moksha tanpa meninggalkan tulang-belulang di dalam kubur hingga puluhan tahun dan lain sebagainya. Sudah tentu dari lubuk hati yang paling dalam, salah satu pelajaran pasti terpatri dalam hati mereka, karena sudah menjadi bagian dari hidup dan pengalaman hidup. Tidak mudah akan melupakan, pasti pada dasar hati yang paling dalam ajaran Dharma itu, TETAP ADA.

Hukum Karma tidak dapat dilupakan begitu saja, karena Hukum Karma adalah bersifat universal, berlaku pada setiap ciptaan-Nya, tidak peduli dengan agama yang dianutnya sejak lahir dan sejak dewasa atau sesudah berkeluarga terjadi perubahan. Kesadaran akan Hukum Karma selalu ada dalam hati umat yang telah “melenggang” dari jalan Dharma.

Dari segi menyama braya, umat Hindu dengan kegiatan keagamaannya yang selalu mengedepankan kebersamaan, kegembiraan dan kedamaian, tidak mudah dilupakan begitu saja dalam kehidupan sehari-hari, maka kenyataan yang ada  “para pelari” saat ini banyak yang mengalami kesepian, menyendiri dan selalu kesedihan, menyalahkan situasi dan kondisi, menyalahkan Takdir.

 “Pelarian” dapat disebabkan oleh politik, ketakutan, ketidakberdayaan, kepasrahan, keiklasan, sensasi, lingkungan, serangan fisik, ataupun ancaman. Pengaruh politik yang menyebabkan “pelarian” pernah terjadi di Indonesia, dimana negara hanya mengakui agama yang mempunyai Kitab Suci saja sehingga menyebabkan banyak orang “berlari” ke sana kemari hanya untuk dapat dikatakan beragama, padahal agama aslinya merupakan agama yang sudah dianutnya sejak lahir. Dalam hal ketakutan pernah terjadi saat-saat runtuhnya kerajaan Majapahit, dalam situasi yang mencekam dan menakutkan, sebagain orang yang tidak memiliki keberanian dan keiklasan menjalankan Dharma harus “berlari” menghindari kematian dan ketakutan tersebut.

Belajar dari sejarah dan melihat peninggalan yang ada, bila kita cermati dengan akal sehat, “ Kenapa peninggalan Hindu berupa puing-puing, bukan berupa bangunan utuh ? Bila “Pelarian” tidak dibarengi dengan kecaman, ancaman, penghancuran, perang, tentunya peninggalan sejarah itu akan berupa bangunan yang bagus dan tetap utuh”.  Peninggalan dapat tetap utuh bila sesuatu itu terjadi dengan damai. Dapat dikatakan bahwa terjadi perang dan kekalahan, terjadi pengrusakan, menyebabkan kehancuran  dan pada sisi spiritual terjadi penetrasi agama, sehingga timbul ketakutan dan ketidakberdayaan. Maka umat berlomba “berlari” dengan menutup mata mengikuti sang raja yang baru.

Di kalangan tertentu biasanya lebih disebabkan karena sensasi belaka, sensasi dalam berita, dan selain dapat mendongkrak popularitas juga untuk mendapatkan pengakuan publik.

Pada jaman modern lebih aneh lagi; sejak lahir telah belajar agama Hindu hidup dalam budaya yang mencintai kedamaian dan keindahan, lalu hanya demi harta, kekayaan, wanita, kemunafikan kita meninggalkan jalan Dharma yang maha suci. Kembalikan ke dalam hati yang paling dalam, segala sesuatu yang hanya ikut-ikutan akan menyebabkan kesengsaraan.

 Dari hal-hal diatas bila ada “serangan” yang seolah-olah berasal dari umat Hindu yang telah “berganti bendera” sangatlah tidak mungkin. Umat Hindu tidak seperti itu, umat Hindu tidak gemar serang-menyerang, tidak ada keinginan untuk dimuliakan atau diagungkan hanya karena mampu ‘menyerang” agama yang pernah dianutnya. Tidak mungkin berasal dari mantan umat Hindu, dijamin 100 %, itu hanya akal-akalan saja. Hukum Karma, Trikaya Parisudha, Catur Guru, Tri Rna tidak mudah hilang dari hati umat Hindu, mereka hanya “terkurung” oleh keadaan dan waktu.

Marilah hidup damai berdampingan penuh kasih, cinta pada sesama dan memahami toleransi yang didasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bebaskan diri dan jiwa , kembali kepada Jalan Dharma, Jalan Keabadian, menuju Moksha. Awighnamastu.

(RANBB)

One response to “Menyerang Agama Sendiri, Tak Mungkin

  1. Betul Kang, setuju banget, pelajaran Agama tentang budi pekerti sudah mulai sejak kecil, baik disekolah maupun di masyarakat

    Like

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s