Pandita Mpu Jaya Prema | Jadikan Banjar Sebagai Pasraman


Jadikan Banjar Sebagai Pasraman
Pandita Mpu Jaya Prema

Istilah pasraman kini mulai populer, bukan saja di Bali tapi sudah dalam skala nasional. Selama ini di Bali pasraman itu lebih banyak bersifat pendidikan nonformal. Kata pasraman yang diambil dari kata ashram, mula-mula dikaitkan dengan pendidikan di lingkungn griya – rumah para pendeta Hindu – yang sistem pendidikannya jauh dari formal. Murid atau lebih tepatnya sisya yang datang pun beragam dalam usia, dari anak-anak sampai orang tua. Dan yang memberikan pelajaran atau lebih tepatnya wejangan mengenai kerohanian adalah pendeta itu sendiri. Sistem aguron-guron menurut tradisi leluhur di masa lalu.

Kemudian istilah pasraman melebar keluar dari lingkungan griya ke lingkungan Desa Pekraman. Karena pemerintah Prov Bali memberikan dana setiap tahun untuk Desa Pakraman yang dituangkan dalam bantuan kepada Majelis Alit Desa Pakraman sebesar Rp 50 juta. Dana ini diharapkan ada yang dipakai untuk mendirikan pasraman. Maka lahirlah pasraman desa, yang sesungguhnya model pendidikannya juga tak jelas dan tak seragam di setiap desa. Pada awal-awalnya setiap minggu terlihat anak-anak sekolah, datang ke pasraman desa, mereka diberikan pendidikan agama ala kadarnya oleh tokoh setempat atau oleh guru agama Hindu yang ada di desa itu. Pemda Prov. Bali merencanakan menaikkan bantuan ini menjadi Rp 100 juta per tahun dengan catatan Rp 20 juta khusus untuk pasraman desa. Lalu pola pendidikan semacam apa yang dilaksanakan di sana? Belum jelas benar wujudnya.

Sementara itu di tingkat nasional pendidikan dalam wadah pasraman diberikan tempat dalam undang-undang. Lewat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasraman disejajarkan dengan pendidikan madrasah yang ada di pesantren-pesantren. Bahkan dalam bahasa keseharian disebutkan bahwa pasraman itu adalah “pesantren umat Hindu” atau oleh beberapa umat Hindu di balik bahwa pesantren itu adalah “pasraman umat Islam”. Inilah pasraman yang formal, namun syarat-syarat pendirian itu juga begitu formal: dinaungi organisasi yang berbadan hukum, punya gedung sendiri, kurikulum jelas, tenaga pengajar yang cukup, dan berbagai syarat yang hampir sama dengan sekolah swasta lainnya. Bahkan pasraman dalam kaitan dengan undang-undang ini tak lain dari sekolah swasta yang bernapaskan Hindu.

Apakah di Bali kita siap dengan pasraman formal seperti itu? Bukankah sekolah swasta yang dimiliki oleh lembaga yang bernapaskan Hindu di Bali kalah segalanya dibandingkan sekolah swasta yang bernapaskan agama non-Hindu? Gubernur Bali Mangku Pastika pernah mengeluhkan hal itu, kenapa anak-anak Hindu lebih banyak bersekolah di sekolah milik yayasan Kristen dan Katolik. Jawabnya adalah prasarana di sana lebih lengkap yang menunjang mutu pendidikan jadi lebih baik.

Melihat hal ini, sesungguhnya biarkan saja di Bali muncul pasraman desa adat atau pasraman di griya Sulinggih, sementara jika ada yang mau membangun pasraman formal yang sesuai dengan UU Sistem Pendidikan Nasional silakan saja. Apalagi di Bali sudah terbentuk Dewan Pasraman yang nampaknya lebih banyak menaungi pasraman nonformal itu.

Kalau kita membaca kitab-kitab agama dan meneruskan apa yang dirintis oleh para leluhur di masa lalu, sistem banjar adat di Bali dengan adanya balai banjar adalah pasraman sebagai tempat menggembleng manusia Hindu untuk menjadi manusia yang andal dalam berbagai bidang kehidupan.

Kitab Brahma Purana pada sloka 228, 45 menyebutkan tujuan hidup adalah Dharma artha kama mokshanam sarira sadhanam. Lalu kitab Agastia Parwa menyebutkan tahapan dalam perjalanan hidup yang disebut Catur Asrama yaitu Brahmacari Asrama, Grhastha Asrama, Wana Prastha Asrama dan Sanyasin Asrama.

Di India asrama ini biasa disebut ashram dan di Bali sekarang dipopulerkan menjadi pasraman. Memang, kata asrama untuk Indonesia yang terbayang adalah asrama militer atau asrama mahasiswa, ada sejumlah ruang tidur, ruang belajar, ruang makan, ruang sekretariat, aula dan perlengkapan lainya. Padahal bukan itu yang dimaksudkan. Mpu Kuturan, leluhur orang Bali, memperkenalkan konsep Desa Pekraman yang memiliki Kahyangan Tiga  sebagai sarana untuk mempersatukan umat. Itulah penjabaran asrama yang termuat dalam kitab-kitab Hindu. Di wilayah Desa Pekraman inilah umat menempuh pendidikan yang bertujuan mewujudkan Dharma, Artha, Kama dan Moksha secara bertahap sesuai dengan tahapan Catur Asrama.

Memang, dalam perjalanan zaman, ada yang hilang dari konsep lama ini, yakni unsur pendidikannya. Urusan pendidikan sudah diserahkan sepenuhnya ke pemerintah atau dalam istilah kerennya pendidikan formal. Banjar tidak lagi menjadi tempat pendidikan. Memang di beberapa banjar ada pesantian, tetapi itu lebih banyak diikuti oleh orang-orang tua. Dan itu pun sesugguhnya bukan pendidikan dalam arti untuk diamalkan, tetapi sekedar urusan kesenian. Jika penekanannya seni, orang hanya mahir menembang atau mewirama, tetapi tidak mengamalkan apa filosofi dari sastra yang dibaca itu. Contohnya, orang bisa mahir menembangkan berbagai kekawin dan geguritan, hafal Geguritan Sucita Subudi atau Kekawin Ramayana, tetapi kesehariannya masih suka metajen, meceki, mabuk-mabukan dan sebagainya.

Sejalan dengan ide Pemda Prov Bali yang menggagas Pasraman Desa Pekraman dengan memberikan bantuan setiap tahun, maka sebaiknya konsep “banjar sebagai pasraman” layak dihidupkan lagi. Pendidikan agama dan budaya benar-benar dilakukan di sini. Biarlah belajar matematika atau bahasa Indonesia di sekolah negeri, tetapi belajar agama Hindu, belajar bahasa Bali, belajar menembang dan sebagainya diintensifkan di balai banjar yang dijadikan pasraman desa. Hidupkan kembali banjar sebagai pasraman karena membuat pasraman yang formal sangat sulit. Tentu pasraman formal yang sulit itu boleh saja dirintis.

Sumber : http://mpujayaprema.com

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s