Tragedi Tanah Bali


Tanah, bagi orang Bali, kini tak lagi semata tumpah darah, tak lagi cuma tempat untuk menandur benih atau mendirikan gubuk, juga masa depan dan harta karun. Tak sesuatu sanggup menyulap hidup orang di Bali, kecuali tanah. Seseorang yang dulu hidup terlunta-lunta, makan hanya sekali sehari, tada ada uang untuk beli kopi di warung, kini kaya raya, naik mobil Mercy, karena menjual tanah. Ia hidup mentereng, rumahnya mencorong, bergaya bos. Tanah-tanah membuat pemiliknya hidup bim salabim, seolah mau beli apa saja mereka mampu, karena menjual beberapa are tanah waris dapat milliaran rupiah.

Jasa Rendering 3d WA 0812 9489 4000

Jasa Rendering 3d WA 0812 9489 4000

Namun, tanah jua yang kini menjadi dilema paling ruwet di Bali. Tak ada persoalan sekusut masalah tanah. Tak ada bencana lebih dahsyat dibandingkan tanah. Tanah membuat orang Bali terbahak-bahak karena meraup untung besar, menyulap hidup menjadi penuh suka cita. Tanah jua membuat mereka bersedih, duka lara, bergelimang nestapa, dan kehilangan jati diri.

Kalau hendak merunut kisah-kisah yang bermula penuh suka cita, dan berakhir dengan tragedi dari mereka yang menjual tanah, bisa ditemukan banyak di Bali. Mereka menjual tanah tanpa pikir panjang, ketika seseorang datang menawar dengan harga tinggi. Mereka lupa, yang dijual bukan hasil jerih payah sendiri, tapi milik leluhur. Tak heran, jika penjualan tanah di Bali sering melahirkan kemelut yang menyeruak ke sana sini.

Tanah Bali adalah rezeki besar. Pantas investor berbondong datang hendak menguasai seluas-luasnya bumi Bali. Para calo datang tanpa peduli tanah bagi orang Bali adalah filosofi hidup, harga diri, penjelajahan ke masa lampau, arah ke depan, tuntunan agar seseorang tidak kehilangan pegangan dan selalu melangkah di jalan lurus. Ketika pemilik uang berhadapan dengan orang Bali yang kukuh dengan filosofi, mereka menebar intimidasi. Pencaplokan ratusan are tanah di Pulau Serangan menjadi sejarah, penguasaan tanah adalah perusakan filosofi hidup dan pembinasaan budaya pemilik dan lingkungannya. Ketika tanah-tanah mereka “dirampas”, mereka hidup terkatung-katung, sarat beban kebimbangan dan rasa bersalah yang terus menuding-nuding. (Gde Aryantha Soethama)

Apa yang bisa diperbuat orang Bali ?, Pada sektor pariwisata harus  dikelola dengan pemerataan tamu, ke seluruh pelosok Bali yang memiliki hotel, bungalow, penginapan. Tidak lagi monopoli penguasa besar, hotel berbintang saja. Hotel, penginapan sudah sangat banyak, karena tidak dikelola dengan adil merata, seolah-olah Bali kekurangan hotel. Sehingga harus mereklamasi teluk benoa untuk pembangunan hotel dan membangun fasilitas lain sebagainya. Mari kita kelola pariwisata yang merata, dari ujung barat hingga timur, dari selatan hingga utara, Bali itu indah, penginapan, bungalow sangat banyak, supportlah mereka yang jauh dari pusat kota untuk mendapatkan pengunjung atau wisatawan. Pengusaha kecil, pengelola penginapan modal kecil harus didukung oleh yang besar, dengan menjadi mitra yang saling menguntungkan. Bali milik bersama, mari hidup berdampingan, sagilik saguluk dalam dunia pariwisata. Tidak perlu lagi membangun hotel, mengundang investor. Tolak Reklamasi Teluk Benoa !!

artikel lain :

http://www.rare-angon.com/2013/09/membangun-kesucian-jiwa-alam-dan.html

http://www.rare-angon.com/2013/08/pariwisata-bali-sejak-1839-hingga-tolak.html

http://www.rare-angon.com/2013/07/1001-tanah-orang-bali.html

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s