Lu Gue Bahasa Bali Zaman Sekarang


Opini Rare Angon Nak Bali Belog tentang Bahasa Bali pada zaman sekarang. Zaman sekarang tentunya berbeda dengan 40 tahun yang lalu waktu tiang masih kecil, dari segi kurun waktu tersebut dapat dikatakan baru kemarin sore dibandingkan zaman ibu bapak tiang atau zaman kakek tiang. Bahasa Bali waktu tiang kecil sangatlah akrab dan selalu dipergunakan dalam keseharian, seperti bersekolah, berteman, di dalam keluarga dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Secara aturan sor singgih bahasa yang dipergunakan masih sangat diperhatikan, ditaati ataupun dipatuhi oleh masyarakat Bali.

Tiang pun sebagai orang Bali menggunakan bahasa Bali walaupun tidak sepenuhnya menguasai, terkadang salah dan tidak tepat penggunaannya. Sor Singgih Bahasa Bali (aturan tata bahasa Bali menurut tingkatan penggunaannya) seperti, Nista, Madya dan Utama. Kapan menggunakan tingakatan Nista ?, Madya ? atau Utama ?. Pengetahuan penggunaan tingkatan ini selain didapat dari bangku sekolah, juga diperoleh dari pergaulan di masyarakat, pada saat kegiatan-kegiatan keagamaan yang kemungkinan  terjadinya interaksi dengan berbagai tingkatan warga, seperti Pinandita dan Pandita, Brahmana, Ksatrya dan lain sebagainya.

Lalu masihkan zaman sekarang bahasa Bali dipergunakan dalam keseharian masyarakat Bali ? Tiang Rare Angon Nak Bali Belog hanya menilai melalui media yang ada dan kegiatan di masyarakat, mungkin saja tidak dapat mencangkup secara keseluruhan  dan menjadi kesimpulan pada masyarakat Bali.

FESTIVAL SENI BUDAYA BETAWI

Seni Budaya Betawi

Melalu media yang ada saat ini, seperti televisi, koran, ataupun internet, dalam berinteraksi masyarakat Bali sepertinya sudah berubah, bahasa Balinya sangat jarang, lebih sering menggunakan bahasa Lu Gue, Nyokap, Bokap, Broo, Fren, CS, Coy, yang merupakan bahasa luar Bali. (sepertinya dari Jakarta atau Betawi)

Lihat Seni Budaya Betawi klik disini.

Secara tata kramapun saat ini sudah jarang diperhatikan, seperti memberi salam saat berkomunikasi terutama komunikasi tidak langsung. seperti pada jejaring sosial. Selalu merasa akrab dalam berkomunikasi walaupun tidak kenal secara langsung, baik usia maupun kastanya. Hal ini memprihatinkan bagi tiang, kedepannya tidak akan ada lagi Bahasa Bali dan tata krama berbahasa yang baik dan benar. Tidak lagi ada Nista, Madya dan Utama, yang ada hanya Lu Gue, , entah itu berkomunikasi dengan seorang Pinandita, kakek, atau nenek, semuanya sama.

Dalam Sor Singgih bahasa Bali tidak hanya memberikan tuntunan kepada kita tentang berbahasa yang baik dan benar, tetapi juga tuntunan tentang penghormatan kepada pihak lawan bicara, menghargai orang lain yang kita ajak bicara, baik komunikasi langsung maupun komunikasi tidak langsung. Lawan bicara bisa jadi orang yang lebih tua, sehingga kita harus sopan dan hormat, apalagi kita tidak mengenal secara langsung. Minimal Bli, Mbok sebagai rasa hormat kita kepada lawan bicara.

Pertanyaan terakhir bagi tiang, masih pentingkah Bahasa Bali kita ? (RANBB)

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s