Surya dan Sunya


Tilem Kasanga (tilem Caitra) dan purnama kadasa (purnama Waisaka) mendapat perhatian istimewa kita. Tilem kasanga adalah bulan mati ketika matahari berada dalam posisi terdekat di atas khatulistiwa, demikian pula halnya dengan purnama kadasa (Pada tanggal 21 Maret dan 23 Oktober matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa, garis tengah bumi). Maka purnama Kadasa atau Waisaka (jatuh antara Maret – April) dan purnama Kapat atau Kartika (jatuh antara Oktober – November) dinyatakan sebagai purnama yang paling sempurna, bulan dalam posisi yang benar-benar bulat. Maka upacara-upacara yang berkait dengan Dewa Yajna dilaksanakan pada saat ini, upacara memuja Hyang Widhi sebagai Maha-cahaya dan Sumber-cahaya.

Surya, bulan, bintang, benda-benda bersinar, benda-benda yang memancarkan cahaya di langit memang mendapat perhatian manusia yang menempati bumi ini. Surya kemudian diketahui sebagai sumber cahaya, ang kemudian dipancarkan oleh planet-planet yang lain; surya kemudian diketahui “diam” tidak berputar sementara planit-planit lain (termasuk bumi) mengitarinya;  surya diketahui sebagai sumbu, dan juga sumber energi bagi kehidupan di bumi ini. Maka renunngan bermuatan spiritual tentang gelap dan terang, tentang diam dan berputar, tentang yang menjadi sumber dan pancaran atau aliran, tentang sunya, purna, dan seterusnya sampai pada hukum yang menggerakkan bhuwana agung dan bhuwana alit, terus bergulir.

Apabila pada purnama dilakukan upacara Dewa Yajna, maka pada tilem, ketika surya dan bulan sama-sama muncul di ufuk timur dan berada dalam satu garis lurus dengan bumi, dilaksanakan upacara Bhuta Yajna, upacara pengharmonisan alam semesta (bhuta-hita) yang dibangun oleh unsur-unsur panca-mahabhuta dan pancatanmatra, terdiri atas; Pratiwi, apah, teja, bayu, akasa, gandha, rasa, sparsa, rupa dan sabda. Setelah bhuta-hita tercapai bumi diharapkan dapat memancarkan sinar, memantulkan sinar surya yang cemerlang. Dan sehari setelah melakukan bhuta-yajna kita memasuki alam “sepi” alam sunya, alam yang heneng dan hening. Baca artikel tentang Heneng dan Hening.

Yang cukup menarik, Surya dan Sunya biasa disimbulkan dengan windhu (0), simbol kesempurnaan. Penemuan windhu bagi manusia memang telah menjadikan peradaban manusia mencapai tingkat yang tinggi dan sempurna. Dan renungan tentang windhu atau sunya memang renungan yang tak pernah habis ; Dang Hyang Nirartha dalam kakawin Dharma Sunya ada menyuratkan : Yang dicari oleh seorang maha-y0gi hanyalah apa yang disebut sunya, ketika fikiran telah diam, ketika rupa telah tiada (kewat kewala sunya tan pangenangen rinasa-rasa rupeka tan hana), karena sunya itu sangat indah dan sukar dikatakan (kewat kewala sunya nirbana lengeng luput inangan-angen winarnaya). Sedangkan dalam kakawin Nirartha-prakreta Beliau menyatakan : Ketika hati telah tenang dan hening, halus dan cemerlang, kemudian menyusup ke alam sunya, akhirnya fikiran mencapai tingkat yang sempurna (ri heneng ikanang ambek tibra alit mahening aho, lengit atisaya sunya jnana anasraya wekasan).

Surya, Sunya, Suddha (suci) dan Windhu, adalah kata-kata kunci dengan makna yang sangat dalam, bagi orang yang mendambakan kesempurnaan. Sumber bacaan buku Wija Kasawur (2) Ki Nirdon. (RANBB)

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s