Si Kalilingan


Seekor burung, Si Kalilingan namanya, seekor burung yang tidak dapat terbang karena patuknya teramat besar. Kakawin Nirartha-prakreta memuat perumpamaan yang benar-benar menarik perhatian kita. Konteks pembicaraannya adalah di seputar bagaimana kita harus memandang, menyelusuri diri kita sendiri dan selanjutnya melihat diseputar kita, mengamati lingkungan tempat kita berada.

Bahwa berbagai sifat dan watak saudara-saudara kita, keluarga kita, atau teman-teman kita dan seterusnya, dan juga diri kita sendiri tentunya, memang sering dapat digambarkan dengan mengesankan oleh karya-karya sastra yang terwariskan kepada kita. Baca Kekuatan Burung Garuda.

Seekor burung, Si Kalilingan namanya, seekor burung yang tidak dapat terbang karena patuknya teramat besar. diangkat dalam sebait kakawin ini : Ndah mangkambekikang satagelem apet ring analahi ng ulahnya nityasa / lobhe dhih umaku wisesa tinemunya ri turunging acihna ring praja / ndan sabdanya juga lepas lwiraniki ng kalilingan atikabhuta patuk / anghing tan kawenang miber sthiti haneng kuwunika ri wipaksaning hati //

Ya, demikianlah pikiran orang jahat, betapa senang ia mencari kesalahan orang lain / dengan lobanya ia mengaku dirinya hebat; namun belum ada bukti yang diperlihatkannya kepada masyarakat umum / kata-katanya memang hebat, bagaikan burung kalilingan, dengan patuknya yang teramat besar / namun ia tidak dapat terbang, ia diam saja di dalam sangkarnya, karena diborgol oleh dirinya sendiri //

Demikianlah Si Kalilingan, si burung yang berpatuk teramat besar, suaranya yang juga besar, namun ia tidak pernah kemana-mana, ia diam saja di dalam sangkarnya, dijadikan perumpamaan bagi orang-orang yang berpikiran jahat, yang senang mencari-cari kesalahan orang lain, yang dengan sombongnya mengaku dirinya hebat, mengaku dirinya wisesa, mengaku dirinya berkuasa.

Bait kakawin berikut yang merupakan sambungan bait tersebut memperjelas uraian di atas : nistanya pwa ya mangkana ng gati taman surud anekani sestining hati / tan sengeh yadin asyana ng para tekapnikan awedi kasoran ing naya / wetning hyunya pujin stutin ya lingika ng bhuwana lepasa dengku tan wurung / simbanten iki yan makarya ya jugan winawanika ri tambragomuka //

Pada akhirnya demikianlah jadinya perbuatan orang yang tidak henti-hentinya melaksanakan segala kehendak hati / tidak peduli ditertawakan orang lain, karena takut dikatakan kalah bijaksana / oleh karena kesenangannya dipuji dan dihormati ia pun berkata, “Sudah tentu dunia ini terselamatan olehku ” / jangankan ia mampu berbuat demikian, sebaliknya ia sendiri juga akan dibawa ke Neraka //

Si Kalilingan yang begitu gemar di puji dan dihormati, yang begitu gila kekuasaan, yang begitu takut dikatakan kurang bijaksana, melontarkan kata-kata yang lantang; “Dunia ini terselamatkan olehku”, kata-kata yang keluar dari mulutnya yang besar. Padahal ia sendiri tidak pernah beranjak dari sangkarnya, padahal ia sendiri dibelenggu oleh dirinya sendiri, oleh patuknya yang besar itu. Sumber bacaan buku Wija Kasawur Ki Nirdon (RANBB)

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s