Sang Kawi


Sang Kawi artinya sang Pencipta. Ia adalah sebutan untuk Ida Sang Hyang Widhi, tapi juga untuk seorang pengarang (Jawa Kuna),  pengarang karya sastra kakawin. Banyak karya sastra yang lahir dari tangan para Kawi itu, mulai dari kakawin Ramayana, Arjunawiwaha, Bharatayudha, Hariwangsa, Gatotkacasraya, Semaradhana, Sutasoma, Arjunawijaya, Bhomantaka, Siwaratrikalpa, Nagarakretagama dan sebagainya.

Dan Sang Kawi bernama Yogiswara, Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Mpu Kanwa, Mpu Dharmaja, Mpu Monaguna, Mpu Triguna, Mpu Tantular, Mpu Tanakung, Prapanca, Mpu Nirartha, dan yang lain, nama-nama penuh makna.

Sang Kawi adalah hamba keindahan, yang biasa berkeliling mencari Dewa Pujaannya itu (Istadewata). Ia mencarinya di pantai, di gunung, di hutan dan juga di dalam hatinya. Sang Dewa yang lalu dihadirkannya dan diistanakannya dalam padma hatinya dan juga dalam karya sastranya, dalam kalamnya dan juga dalam debu goresan kalamnya, dalam  bunga yang kesepian di tepi pantai, di pasir putih tepi pantai, dalam dengusan ombak membentur karang, dan di goa-goa larang itu sendiri …………..

Ia dimabuk cinta, Sang Kawi memang orang yang mabuk asmara, keinginan untuk “bersatu” dengan dewi keindahan, yang juga adalah seorang jelita yang mempesona adalah cita-citanya. Dalam pertemuan kasih itu ia berharap dapat menikmati ananda, kebahagiaan yang tertinggi.

Dari pertemuan kasih itu ia berharap mendapat inspirasi untuk menulis karya sastra. Tapi bukan hanya itu. Kenikmatan yang tak terlukiskan juga dirasakan dalam proses mencari sang dewi, dan dalam proses yang  penuh kasih itu, sang Kawi terus mengobarkan rasa rindunya, hingga akhirnya ia dapat bersatu dengan sang dewi.

Jadi persatuan dengan sang dewi adalah sarana dan juga tujuan. Dikatakan sarana, karena dengan persatuan itu sang Kawi akan berhasil menciptakan karya sastra keindahan (kalangwan), yakni kakawin. Dikatakan tujuan karena dengan demikian sang Kawi mencapai ananda atau moksa. Maka kakawin adalah candi, tempat bersemayamnya Dewi Keindahan.

Sesungguhnya karya sastra kakawin adalah produk pelaksanaan yoga sang Kawi, yang khas, yaitu yoga keindahan dan yoga sastra. Dewa atau dewi keindahan, sebagai Yang Mutlak dalam alam niskala, berkat semadi Sang Kawi, berkenan turun dan bersemayam di alam sekala-niskala, di atas padma di dalam hati Sang Kawi.

Demikianlah proses kreatif seorang Kawi, proses kreatif yang berdasarkan keyakinan agama. Lewat proses kreatif tersebut lahirlah karya sastra tahan jaman yang “diselamatkan” di Bali. Karya sastra yang membuat tergila-gilanya para peneliti, dan juga para peminat sastra.

Di masa silam para Kawi, orang-orang kreatif tersebut mendapat “perlindungan” sang raja. Sang raja malah sangat sering berkunjung ke pondok-pondok sastra milik sang Kawi, lalu berdiskusi tentang “hakekat hidup” sampai pada “hakekat kekuasaan”.

Kini orang-orang kreatif sangat diperlukan. Tanpa orang-orang kreatif tidak akan ada kesegaran dalam hidup, tanpa orang-orang kreatif, kita tergulung dalam rutinitas.

Orang-orang kreatif, adalah para pencipta, dia yang membuat dunia ini hidup dan senantiasa segar.  Dari buku Wija Kasawur Ki Nirdon 1992 (RANBB)

 

 

G U E S T B O O K H E R E !!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s