Category Archives: Awatara

Sifat Raksasa Iblis

Apa saja yang termasuk sifat Raksasa (iblis) ?

  • Kesombongan
  • Arogan
  • Congkak
  • Pekerja tidak rapi
  • Tidak penuh kebenaran
  • Nafsu yang tidak terkendali
  • Marah
  • Kekerasan
  • Kebodohan
  • Ego palsu
  • Prestis Palsu
  • Tak punya kecerdasan
  • Gusar
  • Dikhayalkan
  • Bangga dengan diri sendiri
  • Lancang / kurang ajar
  • Dibingungkan oleh kemewahan
  • Tidak tahu tujuan hidup
  • Perilaku yang tidak pantas
  • Mengatakan dunia ini tidak nyata dan palsu
  • Mengatakan dunia ini tidak dikendalikan oleh Tuhan
  • Mengatakan dunia ini hasil dari keinginan seks. Lihat foto Celak Bali
  • Tertarik dengan hal-hal yang tidak permanen / temporer
  • Tertarik dengan kepuasan inderawi / nafsu
  • Memperoleh sesuatu dengan cara-cara yang tidak sah
  • Dibingungkan oleh keinginan / kegelisahan
  • Memetik kesenangan dari kekuatan mental dan fisik
  • Sibuk dalam hal-hal yang tidak menguntungkan, yang tidak sesuai dengan etika dan moral dan jenis pekerjaan yang mengerikan dengan maksud menghancurkan dunia.
  • Tidak mengikuti aturan dan peraturan Yajnya (korban suci)
  • Iri hati kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Krsna
  • Meremehkan agama yang asli (Sanatana Dharma)

Dari Buku Sri Krsna Ayat-ayat Suci Bhagavad-Gita (versi ringkas). Dipost dalam blog Nak Bali Belog oleh Rare Angon Nak Bali Belog. (RANBB)

Advertisements

Gods & Goddesses in Hinduism

Gods & Goddesses in Hinduism
The Basics of Hinduism
Hinduism is generally associated with a multiplicity of Gods, and does not advocate the worship of one particular deity. The gods and goddesses of Hinduism amount to thousands or even millions, all representing the many aspects of only one supreme Absolute called “Brahman”.

Therefore, to believe that the multiplicity of deities in Hinduism makes it polytheistic is erroneous. The Rig Veda says: “Ekam sath, Vipraah bahudhaa vadanti” (The Truth is one). However, to equate “Brahman” with “God” is imprecise. It is neither the “old man in the sky” concept, nor the idea of something capable of being vengeful or fearful.

The doctrine of Spiritual Competence (‘Adhikaara’) and that of the Chosen Deity (‘Ishhta Devata’) in Hinduism recommend that the spiritual practices prescribed to a person should correspond to his or her spiritual competence and that a person should have the freedom to choose (or invent) a form of Brahman that satisfies his spiritual cravings and to make it the object of his worship.

Continue reading

Lagu-Lagu Sanghyang (Gending Sanghyang)

Wau nusdus; Merik sumunung asep, menyan majegau, ia cendana hukus maulekan, ia lelingan Betara Tiga; ia wus matinining, ia manusa ngasti pukulum, ia nurunan Dedari kendran, ia Sang Supraba, Tunjung Biru, ia Tunjung Biru, ia mengerangsuk meanggo-anggo, ia sesalukin baju mas-masan, ia melicat miber megenana, ia mengelo ngaja-kanginan, ia jalan Dedari metangun jero, ia tamane bek misi sekar, ia sekar emas sandingin pudak, anggrek gringsing, ia tigakancu, manas, soli, sempol, ia kedapane malelepe; melelepe makebiyur sari, lamun mudus Kadewatan, turun Dedari kendran (Baca artikel sensualitas Dewi Supraba)

Nyaluk gelung; Gelung, ia gelung agung, mebulingker ia sekar gadung, metitis Garuda mungkur, ia, sekar sempol, ia sekar gambir, sandat gubar anggen susun, merak kekuncir kuning, payas dane ia mepulilit, mengigel tengahing natar, ia igal dane manggu-pipir, metanjek megulu wangsul.

Mangunan sanghyang; Sekar menuk mengedanin, ia ia putih, ia ia putih mengambiar, buka bintange diduur, bintang karti, bintang kartikane sedih; ia liyer, ia ia liyer, liyer, buka tuara bakat ruruh, ruruh nuju, ruruh nuju, galang sasi, ia ia lengkik, ia lengkik lengkik, sayang san munyin dasihe; dasih nike, dasih nika, tut kalanin, ia ia aduh ! ia ia ia ia aduh mirah ! I dewa dadi pengelipur, lipuranda, lupuran Dedari kale, ia ia lengkik, ia ia ia ia lengkik, metanjek megulu wangsul. (Baca Gudha Artha adalah Mistik Hindu) Continue reading

Siklus Aku

SIKLUS AKU. Apa yang kami maksud dengan “Tuhan tidak mencipta sesuatu” sesungguhnya telah mencipta baik yang sadar maupun yang tidak sadar. Yang Mutlak telah menciptakan “Aku” itu sendiri. Yang Kuasa tidak menciptakan sesuatu dari yang lain, tetapi dari diri-Nya sendiri. Dirinya inilah yang menjadi “Aku” itu, karena Aku “Atma” adalah percikan kecil dari-Nya, merupakan lidah Api Agung dari Api Keramat. Tetapi “Aku” bukanlah Yang Mutlak, karena Aku tidak Maha Besar seperti diri-Nya, dan juga tidak menciptakan alam semesta seperti diri-Nya. Aku hanyalah mahluk ciptaan-Nya, bukan Yang Kuasa itu. Walaupun demikian Aku mewarisi sifat-sifat dari yang Maha Kuasa.

Karena “Aku” telah ada baik yang sadar maupun yang tidak sadar sesungguhnya mental (kesadaran) itu telah tercipta. Hal ini jelas dalam kitab Atharvaveda XIX.52.1 disebutkan Kamas tad agre samavartata, manaso retah prathamam yad asit, artinya “Kekuatan kemauan lahir pertama-tama sekali di dunia Ia adalah intisari pikiran”. Intisari pikiran ini yang kemudian kita sebut sebagai kesadaran. Aku hadir mulai dalam bentuk kesadaran materi, kesadaran tumbuhan, kesadaran hewan, hingga kesadaran manusia seperti sekarang ini. Tiap tahapan evolusi kesadaran dapat dijelaskan dengan teori evolusi dan dapat diperbandingkan dengan turunnya awatara ke dunia ini. Baca artikel tentang Awatara Wisnu.

Aku hadir sebagai kesadaran yang paling rendah Continue reading