Category Archives: Bali Magis

Melajah NgeLeak ; Mengasikkan

Macam-macam ilmu pengLeakan :

Aji Calon Arang, Ageni Worocana, Brahma Maya Murti, Cambra Berag, Desti Angker, Kereb Akasa, Geni Sabuana, Gringsing Wayang, I Tumpang Wredha, Maduri Geges, Pudak Setegal, Pengiwa Swanda, Pangenduh, Pasinglar, Pengembak Jalan, Pemungkah Pertiwi, Penyusup Bayu, Pasupati Rencanam, Rambut Sepetik, Rudra Murti , Ratna Geni Sudamala, Ratu Sumedang, Siwa Wijaya, Surya Tiga Murti, Surya Sumedang, Weda Sulambang Geni, keputusan Rejuna, Keputusan Ibangkung buang, Keputusan tungtung tangis, keputusan Kreta Kunda wijaya, Keputusan Sanghyang Dharma, Sang Hyang Sumedang, Sang Hyang Surya Siwa, Sang Hyang Geni Sara, Sang Hyang Aji Kretket, Sang Hyang Siwer Mas, Sang Hyang Sara Sija Maya Hireng, dan lain-lain yang tidak diketahui tingkatannya yang mana lebih tinggi dan yang mana lebih rendah. Continue reading →

Membuat Daksina Pralingga

Membuat Daksina Pralingga. Perlengkapan yang diperlukan adalah; Bokor dari perak, Benang Bali Tukelan, Bunga yang harum, dan Uang Kepeng Bolong Satakan. Baca Kekuatan Magis Uang Kepeng.

IMG_7481

Daksina Pralingga

 

Cara menyusun Daksina Pralingga adalah sebagai berikut :

Continue reading →

Tema Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937

Melalui surat nomor : 287/Parisada Pusat/I/2015, Perihal Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937 yang ditujukan kepada Ketua Parisada Hindu Indonesia Provinsi Seluruh Indonesia, Parisada Pusat menyampaikan hal-hal penting dan pokok untuk dapat dilaksanakan serta diinformasikan kepada umat Hindu.

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937 yang jatuh pada hari Sabtu, tanggal 21 Maret 2015, Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat memandang perlu menyampaikan beberapa hal pokok sebagai berikut : Continue reading →

Bangke Maong – Mayat Tengik

Kisah Leak 18 – Bangke Maong (Mayat Bau Tengik)

Dalam ranah per-leak-an, bisa menjadi Bangke Maong merupakan tingkatan yang sudah tinggi yang bisa dicapai oleh penekunnya dan membutuhkan kesabaran, ketekunan serta penugrahan dari Ida Sesuhunan.  Wujud Bangke Maong sendiri berupa mayat bau tengik yang berada di wadah-nya (bangunan untuk membawa mayat, ada yang menyebut wadah, pepaga  dll).

Para tetua di desa menasihatkan, kalau kita pas ketemu dengan Bangke Maong, kalau batin kita tidak kuat sebaiknya hal yang paling bagus dilakukan adalah menghindarkan diri agar jangan sampai melihat langsung. Efek bila kita melihat langsung Bangke Maong tersebut adalah kita bisa kedaut (dihipnotis – red) tidak sadarkan diri bahkan bisa menjadi gila. Di sini kekuatan batin dari orang yang bertemu Bangke Maong sangat menentukan, apabila batinnya lebih kuat maka justru Bangke Maong itu sendiri yang melarikan diri.

Kisah berikut dituturkan oleh Nyoman M (yang pernah berantem dengan teluh), orang desa yang berprofesi serabutan, kadang sebagai petani, kadang jasa pemetik kelapa, dimana Nyoman M sendiri merupakan orang yang melik atau disukai oleh yang berbau niskala.
Suatu hari di desa Nyoman M sedang dilakukan suatu ritual pengabenan karena ada seorang warga desa yang meninggal. Seperti biasanya, Nyoman M pergi ke tempat orang yang mempunyai kedukaan tersebut untuk sekedar membantu melakukan persiapan sebelum dilakukan pengabenan. Persiapan untuk pengabenan biasanya dilakukan di malam hari karena di siang hari kebanyakan warga desa pergi ke sawah untuk melihat hasil pertaniannya. Dia kebetulan membantu dalam penyiapan wadah (pepaga) yang akan dipakai sebagai tempat menguung jenasah.

Saking asyiknya ikut membantu di rumah duka, tidak terasa waktu sudah lewat tengah malam. Nyoman M bergegas minta ijin untuk pulang ke rumah. Jarak antara rumahnya dengan rumah duka sekitar satu kilometer.
Waktu itu belum ada program listrik masuk desa sehingga situasi di malam hari benar-benar gelap dan harus berhati-hati agar tidak terjatuh di tengah jalan. Di tengah perjalanan untuk mencapai rumahnya Nyoman M harus melewati tegalan yang cukup luas. Karena merasa bahwa dia sudah hafal betul dengan medan yang akan dilalui maka Nyoman M sama sekali tidak khawatir dengan situasi di tegalan tersebut.
Tiba-tiba dari kejauhan di dengarnya anjing yang melolong-lolong, Nyoman M masih cuek saja karena menganggap cuman kebetulan saja malam itu anjing melolong dengan panjangnya. Dia mulai agak waspada ketika indera penciumannya mencium bau yang tidak sedap, seperti bau sesuatu yang tengik. Ada apa gerangan?, apakah ada bangkai anjing yang sengaja dibuang di tegalan tersebut?.

Continue reading →

Lagu-Lagu Sanghyang (Gending Sanghyang)

Wau nusdus; Merik sumunung asep, menyan majegau, ia cendana hukus maulekan, ia lelingan Betara Tiga; ia wus matinining, ia manusa ngasti pukulum, ia nurunan Dedari kendran, ia Sang Supraba, Tunjung Biru, ia Tunjung Biru, ia mengerangsuk meanggo-anggo, ia sesalukin baju mas-masan, ia melicat miber megenana, ia mengelo ngaja-kanginan, ia jalan Dedari metangun jero, ia tamane bek misi sekar, ia sekar emas sandingin pudak, anggrek gringsing, ia tigakancu, manas, soli, sempol, ia kedapane malelepe; melelepe makebiyur sari, lamun mudus Kadewatan, turun Dedari kendran (Baca artikel sensualitas Dewi Supraba)

Nyaluk gelung; Gelung, ia gelung agung, mebulingker ia sekar gadung, metitis Garuda mungkur, ia, sekar sempol, ia sekar gambir, sandat gubar anggen susun, merak kekuncir kuning, payas dane ia mepulilit, mengigel tengahing natar, ia igal dane manggu-pipir, metanjek megulu wangsul.

Mangunan sanghyang; Sekar menuk mengedanin, ia ia putih, ia ia putih mengambiar, buka bintange diduur, bintang karti, bintang kartikane sedih; ia liyer, ia ia liyer, liyer, buka tuara bakat ruruh, ruruh nuju, ruruh nuju, galang sasi, ia ia lengkik, ia lengkik lengkik, sayang san munyin dasihe; dasih nike, dasih nika, tut kalanin, ia ia aduh ! ia ia ia ia aduh mirah ! I dewa dadi pengelipur, lipuranda, lupuran Dedari kale, ia ia lengkik, ia ia ia ia lengkik, metanjek megulu wangsul. (Baca Gudha Artha adalah Mistik Hindu) Continue reading →