Category Archives: Hari Suci Saraswati

Lintang Jugul

Walaupun anak Bali, lekad di Bali tur lakar mati di Bali, lahir dan besar di Bali belumlah tentu akan tahu semua istilah bahasa Bali. Kenapa berani bilang seperti ini ? Karena bahasa Bali dan bahasa apapun didunia memiliki kosa kata yang sangat sangat banyak. Bes Liu tur sing taen dingeh …. Terlalu banyak dan tidak pernah mendengar hal itu… Apalagi bahasa itu berkembang biak banyak bahasa gaul yang muncul dan menjadi trend di masyarakat…

Kemajuan teknologi seperti sekarang ini sangat membantu perkembangan bahasa, tidak terkecuali bahasa Bali. Saya sangat bangga dengan kreativitas orang Indonesia, seperti http://www.kwikku.com/front.php ini, ternyata ada bahasa Balinya … media sosial baru sepertinya buatan kita, menyertakan penggunaan bahasa Bali bagi penggunanya … Continue reading

Advertisements

TUTUR AJI SARASWATI

ALIH AKSARA DAN TERJEMAHAN TUTUR JATISWARA, TUTUR AJI SARASWATI, TUTUR CANDRABHERAWA (2004)

TUTUR JATISWARA

Lontar ini merupakan sebuah lontar tutur yang pada pokoknya menguraikan tentang nasehat seorang ayah (orang tua) kepada anaknya agar selalu patuh dan bertingkah laku yang baik sesuai dengan petunjuk yang tersurat dan tersirat dalam sastra-sastra agama.

Seorang ayah memberikan nasehat kepada anaknya mengingat pengalaman yang ia alami pada saat anak-anak, bagaimana bertingkah laku yang baik yang patut dilaksanakan di dunia ini agar mendapatkan kerahayuan di dunia dan di akhirat. Nasehat inilah yang dapat dipakai bekal dalam mengarungi bahtera kehidupan.

TUTUR AJI SARASWATI

Naskah ini pada dasarnya berisi ajaran tentang kesukseman, ajaran kerohanian tinggi yang isinya dapat dipilah menjadi dua yaitu: berisi ajaran tentang kesehatan dan ajaran hidup setelah mati yang dikenal dengan kamoksan. Dalam menguraikan ajarannya diawali dengan penyusunan Dasaksara, pengringkesannya menjadi Pancabrahma, Pancabrahma menjadi Tri Aksara, Tri Aksara menjadi Rwa Bhineda, Rwa Bhineda menjadi Ekaksara, dan juga diuraikan mengenai kedudukan dalam badan serta kegunaannya. Bila ingin menggunakan naskah ini sebagai sebuah tuntunan maka sebelumnya haruslah teliti, harus membandingkannya terlebih dahulu dengan naskah lain, dan juga perlu tuntunan seorang yang mumpuni di bidang itu untuk membukakan jalan karena jika sedikit saja keliru dalam mempelajari dan mempraktekkan maka akan berakibat fatal.

TUTUR CANDRABHERAWA

Lontar Tutur Candrabherawa secara tekstual merupakan penggalan dari Kuntiyajna Nilacandra. Secara intrinsik tergolong lontar tutur/tatwa, disusun dalam bentuk prosa menggunakan bahasa Sansekerta singkat dan bahasa Kawi sebagai penjelasan.

Tokoh sentral yang ditampilkan dalam naskah ini adalah Yudisthira Kresna, raja Astina-Dwarawati. Kedua raja ini adalah penganut Siwaisme beserta seluruh rakyatnya. Sedangkan Sri Candrabherawa adalah raja Kerajaan Dewantara, penganut Buddhisme beserta seluruh rakyatnya. Siwaisme yang dianut oleh Yudisthira-Kresna menekankan pada aspek ajaran Karma Sanyasa. Sedangkan Budhisme yang dianut oleh Candrabherawa menekankan pada aspek ajaran Yoga Sanyasa.

Ajaran Karma Sanyasa berpusat pada pembangunan tempat suci, persembahan sesaji yang dikenal dengan Panca Yadnya, dan penyembahan kepada dewa. Sedangkan ajaran Yoga Sanyasa adalah sebaliknya, tidak ada tempat suci, tidak ada persembahan, tidak ada penyembahan kepada dewa. Yang dipuja adalah Sang Hyang Adhi Buddha dengan mempelajari Bajradhara. Tidak ada dewa di luar (tempat suci), tetapi ada dalam diri. Maka itu, dewa dalam diri harus dipuja, agar lepas dari sorga dan neraka, tidak terlahirkan lagi.

Menurut Yudisthira-Kresna, hal yang demikian adalah tidak sesuai dengan ajaran Dharma Sasana dan ajaran Panca Yajna. Lebih-lebih dengan adanya pembangunan istana seperti sorga, kahyangan, penobatan Sri Candrabherawa sebagai Sri Parama Guru/Bhatara Guru, dan para patihnya diberi nama seperti layaknya nama-nama dewa di kahyangan. Hal inilah yang menyebabkan Yudisthira-Kresna murka dan menyerbu Kerajaan Dewantara.

Dalam peperangan tersebut, satu persatu para ksatria Pandawa berhasil ditaklukkan oleh Sri Candrabherawa, termasuk pula Sri Kresna berhasil dikalahkan. Akhirnya Yudisthira maju menghadapi Sri Candrabherawa mengadu kesaktian, yaitu dengan melepas roh dari raga masing-masing secara bergantian. Dalam adu kesaktian ini, Yudisthira menggelar aji kalepasan, maka lepaslah atma Yudisthira dari raganya, dan oleh Candrabherawa atma tersebut secepatnya ditangkap dan dimasukkan kembali ke raga Yudisthira hingga Yudisthira hidup kembali. Kemudian Candrabherawa melepaskan atmanya dari dalam raganya dan langsung menghadap Bhatara Guru memohon agar tidak diberitahukan dimana tempatnya kepada Yudisthira, sehingga Yudisthira menjadi kebingungan mencarinya. Kemudian Yudisthira pergi menghadap Bhatara Nilakanta, Bhatara Guru. Di situlah Yudisthira mendapat penjelasan bahwa Sri Candrabherawa merasa malu jika kesaktiannya diketahui oleh Yudisthira, karena ia hanya mempercayai Yoga Sanyasa sebagai jalan satu-satunya untuk mencapai kesempurnaan tertinggi, dengan mengabaikan Karma Sanyasa. Yudisthira pun diberi tahu bahwa atma Sri Candrabherawa berada di “Anta Sunya”, dan segeralah atma Sri Candrabherawa ditangkap dan dimasukkan ke dalam raganya sehingga Sri Candrabherawa hidup kembali.

Setelah Sri Candrabherawa hidup kembali, segeralah menyembah kehadapan Yudisthira. Yudisthira kemudian memerintahkan kepada Sri Candrabherawa agar mengikuti ajaran Dharma Sasana dengan seluruh rakyatnya. Tidak lagi ‘amada-mada’ kahyangan, seperti memberi nama para mantri dengan nama dewata.

Demikianlah, Ajaran Karma Sanyasa maupun Ajaran Yoga Sanyasa sesungguhnya tidak ada yang lebih tinggi salah satu darinya. Keduanya akan dapat mengantarkan seseorang untuk mencapai kesempurnaan tertinggi. Karma Sanyasa dan Yoga Sanyasa adalah ‘ayah-ibu’ masyarakat.

Baca : BABAD ARYA KEPAKISAN (1998)

Baca : BABAD BULELENG, BABAD ARYA GAJAH PARA, BABAD KI TAMBYAK

Continue reading

Hari Raya Hindu, Jangan Hanya Sekedar Seremonial

Hari raya Hindu Bali, tiang tekankan pada Bali karena Hindu itu sangat luas dengan kebebasan yang sangat luas dalam menerapkan isi Kitab Suci Weda. Semua jalan menuju pada-Nya, itulah kalimat singkat yang ada dalam ajaran Weda. Hendaknya umat Hindu Dharma sekarang ini tidak hanya menekankan pada  hal-hal upakara dan upacara atau ritus (seremoni) semata, hingga Filsafat dan Susila agama Hindu yang sebenarnya merupakan isi ajaran agama Hindu sering diabaikan. Seakan-akan agama Hindu Dharma kelihatannya sebagai agama upacara semata.

Pada hakekatnya hari raya Hindu mempunyai tujuan ganda yaitu Wahya dan Adyatmika, Sekala dan Niskala, Nyata dan Gaib atau Material dan Spiritual. Sehingga setiap perayaan hari raya hendaknya diikuti kegiatan-kegiatan nyata yang relevan dengan tujuan hari raya tersebut. Hari raya dengan yadnya yang dipersembahkan sebagai alat didaktik metodik pembinaan umat Hindu, yang mengandung unsur-unsur positif dalam berbagai aspek kehidupan.

Hal-hal nyata yang dapat dilaksanakan saat persiapan, pelaksanaan maupun setelah hari raya yang tentunya relevan dengan hari raya tersebut. Berikut contoh hari raya dan kegiatan yang relevan, agar terjadi peningkatan dalam hal pengetahuan Filsafat maupun Susilanya.

Hari Raya Galungan 

Hari raya Galungan dan Kuningan sangat berkaitan dengan kisah kemenangan Dharma, ” Satyam Eva Jayate ” Kebenaran pasti menang ! Hal-hal yang dapat dilaksanakan dalam rangka hari raya Galungan adalah :

  1. Lomba membuat penjor, baik dari segi bentuk, kelengkapan sarana dalam sebuah penjor maupun sejarah, kenapa dibuatnya sebuah penjor.
  2. Lomba membuat lawar, dari segi kuliner bisa dinilai kelezatannya, dari segi Filsafat tentunya diperlombakan dalam bentuk penulisan latar belakang dibuatnya lawar merah dan lawar putih.
  3. Kontes menggambar baik lukisan, wayang, ataupun seni pahat tokoh-tokoh yang berkaitan dengan kisah dibalik hari Raya Galungan seperti Mayadenawa, Dewa Indra, Senjata Dewata Nawa Sanga dan lain sebagainya.
  4. Kontes mebebasan atau membaca sloka Ramayana.

Dewasa ini, ritual upakara dan upacara yang digelar umat Hindu Bali bukan hanya di Bali, namun sudah diseluruh Indonesia. Perkembangannya sangat pesat, sehingga pengetahuan Filsafat agama sangat diperlukan agar terjadi kesamaan persepsi  antara umat Hindu di Bali dengan di seluruh Indonesia lebih-lebih dengan umat Hindu yang berlatar belakang budaya Jawa, Sumatera ataupun Kalimantan. Pembinaan yang dilakukan melalui Dharma Wacana, ataupun seminar-seminar. Umat Hindu Bali seyogyanya meningkatkan pengetahuan Filsafat seperti agama Hindu diluar Bali, seperti Hindu yang berlatar belakang Jawa maupun di India. (RANBB)

Hari Suci Pada Wuku Watugunung

Senjata Suci Tombak

 – Sabtu – Umanis – Wuku Watugunung sebagai Hari Suci Sarasawati. ( 16 Juni 2012 ) Hari suci Wuku Watugunung ini didasarkan oleh suatu Epos dan Ethos, sehingga dapat mempersonifikasikan suatu karakter yang keras, didukung juga dengan kesaksian yang dimiliki. Dikisahkan Sang Watugunung adalah seorang anak dari kerajaan Sinta yang rajanya bernama Dewi Sinta, pada suatu hari karena saking nakalnya Sang Watugunung mengakibatkan ibunya marah dan dipukullah kepalanya. Kemudian Sang Watugunung minggat dari rumah, menuju ke Gunung setelah beberapa tahun, maka turunlah Bethara Brahma memberikan panugrahan kesaktian kepadanya.

Diceritakan dikemudian hari Sang Watugunung membuat kerajaan yang bernama kerajaan Watugunung, dan dengan kesaktiannya itulah Sang Watugunung mulai menaklukkan kerajaan-kerajaan lainnya seperti, Kerajaan LANDEP, Ukir, Kulantir sampai dua puluh sembilan kerajaan termasuk kerajaan Sinta. Karena sama-sama tidak mengetahui diantara Ibu dan Anak, maka diambillah Sang Dewi Sinta sebagai istri oelh Sang WATUGUNUNG. Lama-kelamaan Sang Dewi Sinta mengetahui bahwa, suaminya itu adalah anaknya sendiri, tercenganglah hatinya Dewi Sinta, kemudian Dewi Sinta membuat daya upaya agar bisa berpisah dengan anaknya maka Dewi Sinta mengaku telah mengalami proses ngidam, dan yang diidamkan adalah agar Sang Watugunung mau melamar istri Bethara Wisnu, serta menyuntingnya sebagai istri Watugunung. Tidak lama kemudian Sang Watugunung pergi ke Wisnu Loka, untuk memohon kehadapan Bethara Wisnu agar diperkenankan menyunting istrinya beliau dengan alasan bahwa istrinya, yakni Dewi Sinta sedang ngidam dan mengidamkan istri Bethara Wisnu sebagai madunya. Akhirnya Bethara Wisnu menjadi murka, maka terjadilah peperangan yang hebat antara Sang Watugunung dengan Bethara Wisnu, kelihatan dalam peperangan tersebut tidak ada yang kalah, sama-sama saktinya. Kemudian Bethara Wisnu memohon petunjuk kepada Begawan Sukra, bagaimana cara mengalahkan Sang Watugunung, oleh karena demikian, Begawan Sukra mengutus muridnya yang bernama Begawan LUMANGLANG, untuk mengintai percakapan Sang Watugunung dengan istrinya tentang siapa yang dapat mengalahkan dirinya. Selanjutnya Begawan Lumanglang melaksanakan tugas dengan merubah dirinya menjadi seekor laba-laba. Akhirnya Begawan Lumanglang mendapatkan rahasia kelemahan Sang Watugunung bahwa, dia dapat dikalahkan oleh kekuatan Wisnu dengan bentuk seekor. “KURMA” ( Penyu ). Dengan demikian datanglah Begawan Lumanglang kehadapan Bethara Wisnu untuk melaporkan hasil intaiannya. Akhirnya Bethara Wisnu menantang lagi Sang Watugunung untuk berperang lagi, dan dikisahkan dalam peperangan tersebut Bethara Wisnu berubah menjadi seekor KURMA, maka rubuhlah Sang Watugunung dan jatuh ke bumi pada hari, MINGGU – KLIWON – WUKU WATUGUNUNG, disebutlah hari “Watugunung Runtuh” atau Kajeng Kliwon Pemelas Tali. Sang Watugunung mengaku kalah kepada Bethara Wisnu, dan dia memohon kehadapan Bethara Wisnu bahwa kalau dia jatuh di tengah samudra, mohon diberikan matahari terik agar dia tidak kedinginan, dan bila dia jatuh didaratan, mohon diberikan hujan agar dia tidak kepanasan.

Berdasarkan isi Epos tersebut maka para orang tua semeton Rare Angon Nak Bali Belog sejak dahulu kala Continue reading