Category Archives: Jangan Mati di Bali

Basa Bali Campur

Semenjak i cang punya website baru, jarang sekali untuk update blog-blog yang lama-lama. Website i cang yang domain dan hostingnya ūüôā hehehe, dibelikan oleh I Putu Gede, seorang Web Developer, pemain futsal, seorang keponakan yang telah bekerja sebagai seorang pekerja IT. Ne luungne ngelah ponakan, Inilah bagusnya punya keponakan¬† Catatan Ringan Seorang Pekerja IT,¬† Isinya sebagian besar hanya opini, sedikit fakta dan bumbu penyedap, misi bumbu cara nak ngae lawar ūüôā¬† Seorang web developer, suami dari Ani, donk Ani Yudoyono, tapi Ani Yudana ūüôā,¬† ayah dari Callysta, fotografer amatir, pemain futsal profesional, nah sebatas desa pekraman gen, ae tu hehehe,¬† penggemar dunia militer, mantan perokok dan milanisti tentunya. Pang sing penasaran Lihat webnya I Putu Gede

yudana

You Need Programmers ?

Continue reading

Advertisements

Kaya Buat Apa ? Toh Juga Ga di Bawa Mati !

Kaya buat apa ? Toh juga ga di bawa mati ! , kalau bahasa Bali nya, “Sugih lakar anggon gene, mani mati sing kal ngaba kesugihan ! . Sering kita mendengar kalimat ini, baik dari teman, sodara, internet, candaan, warung kopi, pos satpam, entah bergurau atau serius. Namun sebenarnya kalimat ini menjadi semacam ‘sentilan’ bila diucapkan saat-saat warga sekitar kita sedang kerja bakti, atau ngaturangayah,¬†namun kita berangkat kerja. Menjadi serba salah-lah kita, antara menjawab dengan serius atau dengan becanda.

Buat apa kaya ? Bila kita berpikir, hanya untuk diri sendiri mungkin saja benar, berpikir bahwa kekayaan itu hanya uang. menjadi semakin benar, sehingga buat apa kaya, toh juga saat meninggal kita tidak membawa apa-apa, hanya selembar kain yang membungkus tubuh usang ini. Continue reading

Jangan Kau Habiskan Waktumu Memikirkan Agamaku

Jangan Kau Habiskan Waktumu Memikirkan Agamaku. Setiap insan yang lahir ke dunia tanpa agama, tanpa identitas. Seorang bayi yang dibuang oleh ibunya tidak tahu agama apa yang akan dianutnya. Akhirnya sang bayi terbuang besar dan menganut agama sang pemurah dan baik hati itu. Tak terpikir sedikitpun oleh sang pembuang, agama apa yang akan dianut oleh sang bayi yang ia lahirkan, demikian pula tidak terpikirkan oleh sang bayi agama apa yang akan dianutnya nanti. Agama yang menuntun pada kebenaran sejati. Baca Sumber dan Hakekat Kebenaran

Perjalanan Hidup Ini

Perjalanan Hidup Ini

Bayi yang terbuang dengan bayi yang memiliki ibu dan ayah tidak menganut agama saat ia dilahirkan, sang pemeliharalah yang menuntun ia untuk besar dan dewasa dengan ajaran-ajaran agama sang induk. Agamaku dan agamamu adalah sama-sama agama. Agamaku dan agamamu telah teruji ratusan bahkan ribuan tahun oleh umatnya. Agamaku dan agamamu hanya sebuah keyakinan hati manusia yang paling dalam akan kebesaran sang Pencipta. Agamaku dan agamamu merupakan tuntunan maha suci untuk umat manusia dalam mengarungi duniawi hanya sebatas usia hidupnya. Bayi yang terlahir hanya dengan Jiwa yang suci, yang akan memperbaiki Jiwanya kembali. Baca Kapan Jiwa Masuk ke Badan Bayi ?

Jangan kau habiskan waktumu untuk memikirkan agamaku. Waktu yang singkat ini tak cukup untuk memikirkan agama yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun itu. Jangan kau habiskan waktumu untuk memikirkan agamaku. Agamaku dan agamamu adalah anugerah Tuhan Sang Maha Tahu. Baca Sejarah Kelahiran Agama Besar Dunia.

Continue reading

Atha Sedhengira Mantuk

Atha sedhengira mantuk sang curalaga ringayun
Tucapa haji wirattan karyaca nangisi weka
Pinahajengira lawyan sang putrenalap iniwe
Padha litu hajeng anwan lwir kandarpa pinatelu

Lalu laranira naca sambat putranira pejah
Laki bi sira sumungkem ring putraluru kinusa
Ginamelira ginantikang lawyan lagi ginugah
Inutusira macabda kawajara bibi haji

Hana keleheng i kasih yan tunggal kita pejaha
Kita tiki kati galyus ndyanung panglipura lara
Syapa tiki palarengkwa muktyang raja sumiliha
Ri hilang tanayangkwa dungwang ywenaka pejaha

Na wuwusira masambat karwa strya pega malume
Inariwuwu tekap sang Cri Padwatmaja malara
Pinahayu kinabehan sampun purna rinuruban
Hinanyut i pajanging lek munggwing Pancaka gineseng

Kakawin Pitra Yadnya – Girica

Juru Tulis Banjar

Juru Tulis Banjar. Keadaan Banjar di Bali dibedakan atas banjar yang besar dan banjar yang kecil. Bila anggotanya lebih dari 50 kuren (keluarga) disebut banjar besar, demikian pula sebaliknya dengan banjar kecil. Banjar yang besar dibagi lagi menjadi kelompok kecil yang disebut Tempek. Penamaan Tempek berdasarkan lokasi  dari letak bale banjarnya, seperti tempek kangin, tempek kauh, tempek kaja, tempek delod pempatan dan lain sebagainya.

Banjar Ciledug

Kerama Suka Duka Hindu Dharma Banjar Ciledug

Banjar dipimpin oleh Kelihan Banjar, sedangkan Tempek dipimpin oleh kelian Tempek. Struktur organisasi Banjar di Bali bervariasi, baik komposisi pengurusnya maupun namanya. Kendati demikian secara umum komposisi pengurus banjar di Bali adalah : Continue reading

Nglungah

Nglungah, kecuali upacara Pitra Yajna, baik mapendem maupun mageseng, seperti yang dilakukan terhadap sawa orang dewasa, maka terhadap sawa anak-anak pun disebut Pitra Yajna, karena yang diupacarai adalah arwah.

Untuk atiwa-tiwa bagi anak-anak, diatur sebagai berikut :

  1. Anak-anak setelah tanggal gigi sama dengan orang dewasa.
  2. Bagi bayi yang berumur dibawah tigang sasihan, dilakukan dengan mependem saja, tanpa upakara (tidak boleh digeseng)
  3. Bayi Rare dan bayi yang sebelum tanggal gigi, lalu meninggal dunia, kemudian berkeinginan mengadakan atiwa-tiwa maka upacara semacam itu disebut Nglungah

Adapun tata cara pelaksanaannya, adalah sebagai berikut :

  1. Piuning ke Pura Dalem, Bebantennya; Canang meraka, daksina, ketipat kelanan, telur bekasem, segehan putih kuning.
  2. Piuning ke Mrajapati, Bebanten; Canang, ketipat, daksina peras.
  3. Piuning ke Sedahan Setra, Bebanten; Canang meraka, ketipat kelanan.
  4. Piuning Bangbang Rare, Bebanten; Sorohan, pengamheyan, pengulapan, peras, daksina. Kelungah nyuh gading disurat Om Kara.

Banten kepada roh bayi : Bunga pudak, bangsah pinang, kereb sari, punjung dan banten bajang. Tirtha pangrapuh yang dimohon di Pura Dalem dan Mrajapati.

Setelah banten-banten tersebut diatas semuanya ditempatkan di atas gegumuk bangbang maka yang menjalankan upakara, mulailah memuja, untuk memohon kepada Bhatara/Bhatari, secepatnya roh bayu kembali suci.

Kemudian selesai memercikkan tirtha-tirtha semuanya diatas bangbang, maka bangbang un diratakan lagi, sehingga tidak tampak gegumuk lagi. Demikian pula bebanten-bebanten itu pun, ditimbun (dipendem). Sumber buku Rare Angon dan Catur Yajna oleh Jro Mangku Pulasari. (RANBB).

Jangan Mati di Bali

Ya… Jangan Mati di Bali – Tingkah Polah Negeri Turis merupakan judul buku karya Bapak Gde Aryantha Soethama buku ke tiga yang saya miliki dari dua judul sebelumnya ” Bali Is Bali ” dan¬† “Basa Basi Bali“. Buku tentang Bali yang ditulis sendiri oleh orang Bali, lewat buku ini kita menemukan Bali yang meriah oleh berkah turisme, namun yang manusianya kerap terperangkap dalam kepiluan, kegetiran dan terperosok dalam ironi justru pada saat merayakan keramahan, kebahagiaan dan kebanggaan.

“………di Bali kematian adalah sebuah kerepotan publik. Seseorang semasa hidup sering terlibat dalam kerepotan adat dan ritus kematian. Ketika mati, ia yang merepotkan lingkungan ….. ” ( Halaman 20) . Apakah bener demikian ???¬† simak dalam buku setebal 316 halaman ini, Semeton akan mendapatkan¬† suguhan sebuah biografi ysng unik dan otentik tentang negeri turis bernama Bali.

Pada kesempatan lain¬† saya akan posting beberapa artikel, karena pekerjaan 3d impression yang utama masih full… jadi dilain waktu …