Category Archives: Kajeng Kliwon

Dasar Pelaksanaan Hari Raya Agama Hindu

Seperti kita ketahui, dalam perayaan hari suci atau hari raya umat Hindu dapat berdasarkan; Tri Wara dan Panca Wara, Pawukon (Panca Wara, Sapta Wara & Wuku), Sasih (bulan) dan Tahun Saka. Setiap hari raya telah memiliki tatanan upacaranya sesuai dengan fungsi, dan memiliki Tattwa atau makna yang sangat mendalam. Pada kesempatan ini akan Rare Angon Nakbaliblog postingkan hari raya yang dikelompokkan berdasarkan Tri Wara, Panca Wara, Sapta Wara, Wuku, Sasih dan Tahun Saka. Namun sebelumnya mari kita simak kembali apa itu Tri Wara, Panca Wara, Sapta Wara, Wuku dan Sasih dalam Kalender Bali.

  • Tri Wara : Pasah, Beteng, Kajeng atau Dora, Wahya, Bhyantara.
  • Panca Wara : Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon.
  • Sapta Wara : Redite, Soma, Anggara, Budha, Wraspati, Sukra, Saniscara.
  • Wuku : Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Tolu, Gumbreg, Wariga, Warigadian, Juluwangi, Sungsang, Dunggulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menail, Prangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Klawu, Dukut, Watugunung.
  • Sasih : Kasa, Karo, Ketiga, Kapat, Kelima, Keenem, Kepitu, Kewulu, Kesanga, Kedasa, Desta, Sada.

Pelaksanaan hari suci kini di peradaban milenial tentunya mengalami perubahan, akibat globalisasi perubahan zaman, pengaruh kehidupan manusia, pergaulan-pergaulan, pembauran dengan budaya lain, ataupun tempat pelaksanaan. Pengaruh ini harus dapat dipahami dengan seksama, dimengerti dengan bijaksana agar pelaksanaan hari suci kita tetap mengacu pada Tattwa-Tattwa agama yang ada. Kegiatan hari suci dapat terlaksana dengan baik karena pelaksanaan ajaran agama berdasarkan Catur Dresta, yaitu :

  1. Purwa Dresta (Kuno Dresta)
  2. Desa Dresta
  3. Loka Dresta
  4. Sastra Dresta

Pages: 1 2

Pujawali : Memuliakan Dan Nunas Waranugraha

Agama Hindu. Pujawali pura Hindu di Indonesia memiliki makna memuliakan kembali Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha dari segala Maha yang ada. Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha Pencipta, Maha Pemelihara dan Maha Pelebur alam semesta beserta isinya. Pada saat Pujawali merupakan saat yang paling tepat memohon waranugraha. Pada saat Pujawali waktu yang sangat baik untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang penuh keiklasan, ketulusan, rasa bakti kepada umat, agama dan tentunya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Agenda Banjar Ciledug untuk Ngiring Pekuluh saat Pujawali pura di Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang  dan Banten berdasarkan Dedudonan  2015. Semua Agenda ini akan menyesuaikan dengan Panitia Pelaksana Pujawali dari masing-masing pura. Kunjungi banjarciledug

31 Januari 2015 : Sabtu

  • Saniscara Kliwon Krulut : Tumpek Krulut
  • Pujawali Pura Kertha Jaya, Tangerang
  • Pujawali Pura Raditya Dharma Cibinong
  • Upakara dipersiapkan oleh Tempek Parung Serab

Continue reading →

Bangke Maong – Mayat Tengik

Kisah Leak 18 – Bangke Maong (Mayat Bau Tengik)

Dalam ranah per-leak-an, bisa menjadi Bangke Maong merupakan tingkatan yang sudah tinggi yang bisa dicapai oleh penekunnya dan membutuhkan kesabaran, ketekunan serta penugrahan dari Ida Sesuhunan.  Wujud Bangke Maong sendiri berupa mayat bau tengik yang berada di wadah-nya (bangunan untuk membawa mayat, ada yang menyebut wadah, pepaga  dll).

Para tetua di desa menasihatkan, kalau kita pas ketemu dengan Bangke Maong, kalau batin kita tidak kuat sebaiknya hal yang paling bagus dilakukan adalah menghindarkan diri agar jangan sampai melihat langsung. Efek bila kita melihat langsung Bangke Maong tersebut adalah kita bisa kedaut (dihipnotis – red) tidak sadarkan diri bahkan bisa menjadi gila. Di sini kekuatan batin dari orang yang bertemu Bangke Maong sangat menentukan, apabila batinnya lebih kuat maka justru Bangke Maong itu sendiri yang melarikan diri.

Kisah berikut dituturkan oleh Nyoman M (yang pernah berantem dengan teluh), orang desa yang berprofesi serabutan, kadang sebagai petani, kadang jasa pemetik kelapa, dimana Nyoman M sendiri merupakan orang yang melik atau disukai oleh yang berbau niskala.
Suatu hari di desa Nyoman M sedang dilakukan suatu ritual pengabenan karena ada seorang warga desa yang meninggal. Seperti biasanya, Nyoman M pergi ke tempat orang yang mempunyai kedukaan tersebut untuk sekedar membantu melakukan persiapan sebelum dilakukan pengabenan. Persiapan untuk pengabenan biasanya dilakukan di malam hari karena di siang hari kebanyakan warga desa pergi ke sawah untuk melihat hasil pertaniannya. Dia kebetulan membantu dalam penyiapan wadah (pepaga) yang akan dipakai sebagai tempat menguung jenasah.

Saking asyiknya ikut membantu di rumah duka, tidak terasa waktu sudah lewat tengah malam. Nyoman M bergegas minta ijin untuk pulang ke rumah. Jarak antara rumahnya dengan rumah duka sekitar satu kilometer.
Waktu itu belum ada program listrik masuk desa sehingga situasi di malam hari benar-benar gelap dan harus berhati-hati agar tidak terjatuh di tengah jalan. Di tengah perjalanan untuk mencapai rumahnya Nyoman M harus melewati tegalan yang cukup luas. Karena merasa bahwa dia sudah hafal betul dengan medan yang akan dilalui maka Nyoman M sama sekali tidak khawatir dengan situasi di tegalan tersebut.
Tiba-tiba dari kejauhan di dengarnya anjing yang melolong-lolong, Nyoman M masih cuek saja karena menganggap cuman kebetulan saja malam itu anjing melolong dengan panjangnya. Dia mulai agak waspada ketika indera penciumannya mencium bau yang tidak sedap, seperti bau sesuatu yang tengik. Ada apa gerangan?, apakah ada bangkai anjing yang sengaja dibuang di tegalan tersebut?.

Continue reading →

Lagu-Lagu Sanghyang (Gending Sanghyang)

Wau nusdus; Merik sumunung asep, menyan majegau, ia cendana hukus maulekan, ia lelingan Betara Tiga; ia wus matinining, ia manusa ngasti pukulum, ia nurunan Dedari kendran, ia Sang Supraba, Tunjung Biru, ia Tunjung Biru, ia mengerangsuk meanggo-anggo, ia sesalukin baju mas-masan, ia melicat miber megenana, ia mengelo ngaja-kanginan, ia jalan Dedari metangun jero, ia tamane bek misi sekar, ia sekar emas sandingin pudak, anggrek gringsing, ia tigakancu, manas, soli, sempol, ia kedapane malelepe; melelepe makebiyur sari, lamun mudus Kadewatan, turun Dedari kendran (Baca artikel sensualitas Dewi Supraba)

Nyaluk gelung; Gelung, ia gelung agung, mebulingker ia sekar gadung, metitis Garuda mungkur, ia, sekar sempol, ia sekar gambir, sandat gubar anggen susun, merak kekuncir kuning, payas dane ia mepulilit, mengigel tengahing natar, ia igal dane manggu-pipir, metanjek megulu wangsul.

Mangunan sanghyang; Sekar menuk mengedanin, ia ia putih, ia ia putih mengambiar, buka bintange diduur, bintang karti, bintang kartikane sedih; ia liyer, ia ia liyer, liyer, buka tuara bakat ruruh, ruruh nuju, ruruh nuju, galang sasi, ia ia lengkik, ia lengkik lengkik, sayang san munyin dasihe; dasih nike, dasih nika, tut kalanin, ia ia aduh ! ia ia ia ia aduh mirah ! I dewa dadi pengelipur, lipuranda, lupuran Dedari kale, ia ia lengkik, ia ia ia ia lengkik, metanjek megulu wangsul. (Baca Gudha Artha adalah Mistik Hindu) Continue reading →

Atha Sedhengira Mantuk

Atha sedhengira mantuk sang curalaga ringayun
Tucapa haji wirattan karyaca nangisi weka
Pinahajengira lawyan sang putrenalap iniwe
Padha litu hajeng anwan lwir kandarpa pinatelu

Lalu laranira naca sambat putranira pejah
Laki bi sira sumungkem ring putraluru kinusa
Ginamelira ginantikang lawyan lagi ginugah
Inutusira macabda kawajara bibi haji

Hana keleheng i kasih yan tunggal kita pejaha
Kita tiki kati galyus ndyanung panglipura lara
Syapa tiki palarengkwa muktyang raja sumiliha
Ri hilang tanayangkwa dungwang ywenaka pejaha

Na wuwusira masambat karwa strya pega malume
Inariwuwu tekap sang Cri Padwatmaja malara
Pinahayu kinabehan sampun purna rinuruban
Hinanyut i pajanging lek munggwing Pancaka gineseng

Kakawin Pitra Yadnya – Girica