Category Archives: Kajeng Kliwon

Pujawali : Memuliakan Dan Nunas Waranugraha

Agama Hindu. Pujawali pura Hindu di Indonesia memiliki makna memuliakan kembali Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha dari segala Maha yang ada. Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha Pencipta, Maha Pemelihara dan Maha Pelebur alam semesta beserta isinya. Pada saat Pujawali merupakan saat yang paling tepat memohon waranugraha. Pada saat Pujawali waktu yang sangat baik untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang penuh keiklasan, ketulusan, rasa bakti kepada umat, agama dan tentunya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Agenda Banjar Ciledug untuk Ngiring Pekuluh saat Pujawali pura di Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang  dan Banten berdasarkan Dedudonan  2015. Semua Agenda ini akan menyesuaikan dengan Panitia Pelaksana Pujawali dari masing-masing pura. Kunjungi banjarciledug

31 Januari 2015 : Sabtu

  • Saniscara Kliwon Krulut : Tumpek Krulut
  • Pujawali Pura Kertha Jaya, Tangerang
  • Pujawali Pura Raditya Dharma Cibinong
  • Upakara dipersiapkan oleh Tempek Parung Serab

Continue reading

Advertisements

Bangke Maong – Mayat Tengik

Kisah Leak 18 – Bangke Maong (Mayat Bau Tengik)

Dalam ranah per-leak-an, bisa menjadi Bangke Maong merupakan tingkatan yang sudah tinggi yang bisa dicapai oleh penekunnya dan membutuhkan kesabaran, ketekunan serta penugrahan dari Ida Sesuhunan.  Wujud Bangke Maong sendiri berupa mayat bau tengik yang berada di wadah-nya (bangunan untuk membawa mayat, ada yang menyebut wadah, pepaga  dll).

Para tetua di desa menasihatkan, kalau kita pas ketemu dengan Bangke Maong, kalau batin kita tidak kuat sebaiknya hal yang paling bagus dilakukan adalah menghindarkan diri agar jangan sampai melihat langsung. Efek bila kita melihat langsung Bangke Maong tersebut adalah kita bisa kedaut (dihipnotis – red) tidak sadarkan diri bahkan bisa menjadi gila. Di sini kekuatan batin dari orang yang bertemu Bangke Maong sangat menentukan, apabila batinnya lebih kuat maka justru Bangke Maong itu sendiri yang melarikan diri.

Kisah berikut dituturkan oleh Nyoman M (yang pernah berantem dengan teluh), orang desa yang berprofesi serabutan, kadang sebagai petani, kadang jasa pemetik kelapa, dimana Nyoman M sendiri merupakan orang yang melik atau disukai oleh yang berbau niskala.
Suatu hari di desa Nyoman M sedang dilakukan suatu ritual pengabenan karena ada seorang warga desa yang meninggal. Seperti biasanya, Nyoman M pergi ke tempat orang yang mempunyai kedukaan tersebut untuk sekedar membantu melakukan persiapan sebelum dilakukan pengabenan. Persiapan untuk pengabenan biasanya dilakukan di malam hari karena di siang hari kebanyakan warga desa pergi ke sawah untuk melihat hasil pertaniannya. Dia kebetulan membantu dalam penyiapan wadah (pepaga) yang akan dipakai sebagai tempat menguung jenasah.

Saking asyiknya ikut membantu di rumah duka, tidak terasa waktu sudah lewat tengah malam. Nyoman M bergegas minta ijin untuk pulang ke rumah. Jarak antara rumahnya dengan rumah duka sekitar satu kilometer.
Waktu itu belum ada program listrik masuk desa sehingga situasi di malam hari benar-benar gelap dan harus berhati-hati agar tidak terjatuh di tengah jalan. Di tengah perjalanan untuk mencapai rumahnya Nyoman M harus melewati tegalan yang cukup luas. Karena merasa bahwa dia sudah hafal betul dengan medan yang akan dilalui maka Nyoman M sama sekali tidak khawatir dengan situasi di tegalan tersebut.
Tiba-tiba dari kejauhan di dengarnya anjing yang melolong-lolong, Nyoman M masih cuek saja karena menganggap cuman kebetulan saja malam itu anjing melolong dengan panjangnya. Dia mulai agak waspada ketika indera penciumannya mencium bau yang tidak sedap, seperti bau sesuatu yang tengik. Ada apa gerangan?, apakah ada bangkai anjing yang sengaja dibuang di tegalan tersebut?.

Continue reading

Lagu-Lagu Sanghyang (Gending Sanghyang)

Wau nusdus; Merik sumunung asep, menyan majegau, ia cendana hukus maulekan, ia lelingan Betara Tiga; ia wus matinining, ia manusa ngasti pukulum, ia nurunan Dedari kendran, ia Sang Supraba, Tunjung Biru, ia Tunjung Biru, ia mengerangsuk meanggo-anggo, ia sesalukin baju mas-masan, ia melicat miber megenana, ia mengelo ngaja-kanginan, ia jalan Dedari metangun jero, ia tamane bek misi sekar, ia sekar emas sandingin pudak, anggrek gringsing, ia tigakancu, manas, soli, sempol, ia kedapane malelepe; melelepe makebiyur sari, lamun mudus Kadewatan, turun Dedari kendran (Baca artikel sensualitas Dewi Supraba)

Nyaluk gelung; Gelung, ia gelung agung, mebulingker ia sekar gadung, metitis Garuda mungkur, ia, sekar sempol, ia sekar gambir, sandat gubar anggen susun, merak kekuncir kuning, payas dane ia mepulilit, mengigel tengahing natar, ia igal dane manggu-pipir, metanjek megulu wangsul.

Mangunan sanghyang; Sekar menuk mengedanin, ia ia putih, ia ia putih mengambiar, buka bintange diduur, bintang karti, bintang kartikane sedih; ia liyer, ia ia liyer, liyer, buka tuara bakat ruruh, ruruh nuju, ruruh nuju, galang sasi, ia ia lengkik, ia lengkik lengkik, sayang san munyin dasihe; dasih nike, dasih nika, tut kalanin, ia ia aduh ! ia ia ia ia aduh mirah ! I dewa dadi pengelipur, lipuranda, lupuran Dedari kale, ia ia lengkik, ia ia ia ia lengkik, metanjek megulu wangsul. (Baca Gudha Artha adalah Mistik Hindu) Continue reading

Atha Sedhengira Mantuk

Atha sedhengira mantuk sang curalaga ringayun
Tucapa haji wirattan karyaca nangisi weka
Pinahajengira lawyan sang putrenalap iniwe
Padha litu hajeng anwan lwir kandarpa pinatelu

Lalu laranira naca sambat putranira pejah
Laki bi sira sumungkem ring putraluru kinusa
Ginamelira ginantikang lawyan lagi ginugah
Inutusira macabda kawajara bibi haji

Hana keleheng i kasih yan tunggal kita pejaha
Kita tiki kati galyus ndyanung panglipura lara
Syapa tiki palarengkwa muktyang raja sumiliha
Ri hilang tanayangkwa dungwang ywenaka pejaha

Na wuwusira masambat karwa strya pega malume
Inariwuwu tekap sang Cri Padwatmaja malara
Pinahayu kinabehan sampun purna rinuruban
Hinanyut i pajanging lek munggwing Pancaka gineseng

Kakawin Pitra Yadnya – Girica

Dewasa Tan Dewasa

Dewasa adalah hari yang dianggap baik, sedangkan Tan Dewasa atau Dewasa Hala adalah hari yang dianggap kurang baik dalam hubungannya dengan pekerjaan, upcara Yadnya atau hal-hal lain  yang akan dilaksanakan oleh umat Hindu. Ajaran Dewasa ini bersumber dari Sadangga Weda (Enam Cabang Weda), dimana salah satunya disebut Jyotisha yang berarti ilmu perbintangan (Astronomi). Dari Jyotisha ini berkembang menjadi ilmu Wariga, Dewasa, Wawaran (susunan hari). Dewasa merupakan kata dasar dari Pedewasan yang berarti Hari yang dianggap baik.

Umat Hindu sudah seharusnya tetap mempertahankan keyakinan ini, Padewasan sebaiknya jangan dianggap remeh. Banyak kehidupan kita yang tidak sesuai dengan harapan disebabkan oleh lunturnya keyakinan kita tentang Dewasa dan Tan Dewasa. Semua keyakinan kita sebagai umat Hindu bersumber dari kitab Suci Weda, bukan semata-mata budaya Bali. Lihat Kalender Penting Umat Hindu ditahun 2014.

Berikut Hala-Hayu Dewasa dan Tan Dewasa :

Dewasa Paguntingan (potong rambut) mengikuti Sapta Wara :

  1. Minggu (Redite) : Hala
  2. Senin (Soma) : Hayu, phahalanya panjang umur
  3. Selasa (Anggara) : Hala, Badan panas (Brahma)
  4. Rabo (Budha)  : Hayu, banyak orang kasih sayang
  5. Kamis (Waraspati) : Hala, Wibawa atau kekuatan menurun, musuh bertambag
  6. Jumat (Sukra) : Hala, Tiada kawan baik, disebut musuh
  7. Sabtu (Caniscara) : Hala, Umur pendek atau lebih cepat meninggal

Amretamasa

Dewaning Dewasa, karya hayu, membangun, segala yang dikerjakan baik sekali, perhitungan menurut Casih dan pananggal (Pananggal dan Pangelong simak pada akhir tulisan ini)

  1. Casih Kasa, Pananggal :10
  2. Casih Karo, Pananggal : 7
  3. Casih Ketiga, Pananggal : 9
  4. Casih Kapat, Panggal : 15
  5. Casih Kalima : Tilem
  6. Casih Kanem, Pananggal : 8
  7. Casih Kapitu, Pananggal : 13
  8. Casih Kawolu, Pananggal : 2
  9. Casih Kasanga, Pananggal : 6
  10. Casih Kadasa, Pananggal : 4
  11. Casih Desta, Pananggal : 5
  12. Casih Sada, Pananggal : 1

Amreta Dewa

Continue reading

Siat Peteng

Siat Peteng. Siat; peperangan , peteng; malam. Siat Peteng; peperangan pada malam hari. Apa itu ?

Adalah sebuah hinaan dan sekaligus tantangan untuk menunjukkan prestise dikalangan dunia kawisesan dalam terminology dunia leak di Bali. Pertempuran inilah yang mendongkrak nama dan juga prestise seseorang penekun ilmu kawisesan di Bali. Dalam konteks itulah, mengapa pertempuran leak ini bukan semata-mata karena dendam kesumat saja, melainkan untuk meningkatkan kelas dan menguji ilmu, sejauh mana tingkatan dan tatanan ilmu yang sudah di capai oleh si empunya.

Pertempuran ini sering melibatkan banyak orang atau pun dilakukan seorang diri. Belajar dari sejarah masa lalu, bahwa peperangan adu kawisesan ini sering dilakukan lantaran sebuah ujian yang dilakukan guru kepada muridnya atau dari satu garis perguruan ke perguruan yang lainnya. Ilmu leak dalam tradisi Bali, juga memiliki geneologi garis perguruan yang diwariskan secara murni dan dalam proses belajar  yang sistematis. Ontology, Aksiology dan Epistemology dalam proses belajar  ilmu leak  diturunkan dengan sangat jelas.

Oleh sebab itulah, mengapa geneology garis perguruan leak ini memiliki semacam struktur yang sangat ketat dan juga sistematika ilmu yang sangat kompleks. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan, jika seseorang murid dari salah satu geneology garis perguruan leak ini memiliki masalah dengan murid dari garis perguruan yang lain, maka ia dapat meminta bantuan kepada kakak seperguruannya. Bahkan bantuan pun saja dapat datang dari sang guru.

Disinilah kita dapat menemukan ada banyak siat peteng dengan berbagai macam latar belakang masalah. Siat peteng sendiri bagi masyarakat Bali, bukan barang baru atau bukan sebuah hal yang harus ditutupi keberadaannya. Namun keberadaan siat peteng, ajakan atau tantangan, pelaku, waktu dan tempat yang pasti sulit diketahui banyak orang. Banyak pantangan, larangan dan hal-hal yang bersifat Niskala yang tidak mudah untuk dipahami.

Berikut contoh kalimat-kalimat ujian atau tantangan untuk melaksanakan siat peteng dengan kalimat yang tidak mudah dimengerti oleh masyarakat umum.         “Aduh… titiang jeg ten uning napi sane kamargiang ring ratu ?” . “Nah … yen dot nawang, nyanan antiang tiang  disisin pasihe ….!”

Continue reading

Belajar Spiritual Bali : LEAK

Rangda by co that

Belajar Spiritual Bali : LEAK. Kata LEAK sudah mendarah daging di benak masyarakat hindu di Bali atau asal Bali yang tinggal di perantauan sebab kata-kata ini sangat sering kita dengar dan membuat bulu kuduk merinding atau hanya sekedar ga berani keluar malam gara-gara kata “LEAK” ini. Begitu juga keributan sering terjadi antar tetangga gara-gara seorang nenek di sebelah rumah di tuduh bisa ngeLEAK…ironisnya lagi yang menyebut si A atau B bisa ngeLEAK adalah sekelas balian sonteng, dan sebangsanya. Bahkan bayi menangis tengah malam, yang mungkin kedinginan atau perut kembung yang tidak di ketahui oleh ibunya, juga tuduhannya pasti “amah LEAK” apalagi kalau yang bilang balian sakti, wah.

—KENAPA HARUS DI KUBURAN…

—BEDA PENESTIAN, PENGIWA, DAN LEAK…

—SUMPAH PARA LEAK…

—TINGKATAN PELAJARAN LEAK…

—SANGKEPAN LEAK….

—KEKUATAN LEAK TERLETAK PADA SIHIRNYA…

—DASA AKSARA BUKAN DASAR ILMU LEAK…

 

Green Property

Cluster Baru Green Property I-GIST

Continue reading