Category Archives: Kakawin

Sang Kawi

Sang Kawi artinya sang Pencipta. Ia adalah sebutan untuk Ida Sang Hyang Widhi, tapi juga untuk seorang pengarang (Jawa Kuna),  pengarang karya sastra kakawin. Banyak karya sastra yang lahir dari tangan para Kawi itu, mulai dari kakawin Ramayana, Arjunawiwaha, Bharatayudha, Hariwangsa, Gatotkacasraya, Semaradhana, Sutasoma, Arjunawijaya, Bhomantaka, Siwaratrikalpa, Nagarakretagama dan sebagainya.

Dan Sang Kawi bernama Yogiswara, Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Mpu Kanwa, Mpu Dharmaja, Mpu Monaguna, Mpu Triguna, Mpu Tantular, Mpu Tanakung, Prapanca, Mpu Nirartha, dan yang lain, nama-nama penuh makna.

Sang Kawi adalah hamba keindahan, yang biasa berkeliling mencari Dewa Pujaannya itu (Istadewata). Ia mencarinya di pantai, di gunung, di hutan dan juga di dalam hatinya. Sang Dewa yang lalu dihadirkannya dan diistanakannya dalam padma hatinya dan juga dalam karya sastranya, dalam kalamnya dan juga dalam debu goresan kalamnya, dalam  bunga yang kesepian di tepi pantai, di pasir putih tepi pantai, dalam dengusan ombak membentur karang, dan di goa-goa larang itu sendiri …………..

Continue reading

Aku Hanya Minta Kwangen

Aku Hanya Minta Kwangen. Sering kudengar lagu yang menceritakan seorang anak yang sudah mencari ayahnya kesana-kemari. Namun apa yang si anak dapatkan saat berjumpa dengan sang ayah. Sang ayah telah tidur. Sang ayah tidur untuk selama-lamanya. Lagu ini diiringi oleh gamelan Angklung kematian, menambah hatiku bergetar mendengar bait demi bait yang dinyanyikan dengan irama pupuh. Tidak jelas bagiku yang kurang paham dengan pupuh. Mungkin saja itu pupuh Sinom.”Uduh Bapa … cingak titiang …”

Aku hanya minta Kwangen, ya, dalam bait demi bait lagu ini, tidak ada yang dapat menemani sang ayah dalam perjalanannya ke alam sana. Tidak ada harta, tidak ada kekayaan, emas, baju yang mewah, mobil yang mahal. Perjalanan yang sangat jauh, jauh sekali harus ditempuh sang ayah. Namun sebaliknya akan menjadi sangat dekat bila diiringi doa sang anak, doa dari sebuah Kwangen.

Setiap hari kudengarkan lagu ini tanpa pernah bosan, sambil mengerjakan tugas utama sebagai seorang ayah, mencari nafkah untuk kebutuhan keluargaku yang sederhana ini. Terkadang Aku larut dalam alunan Angklung kematian. Tak sadar terkadang air mata ini menetes membasahi pipi teringat akan sang ayah yang sudah lanjut usia. Maaf ayah, anakmu saat ini sedang melanjutkan tugas-tugas leluhur, melanjutkan generasi-generasi keluarga kita.

Sang ayah yang telah ditunggu lama sekali oleh sang anak, sang cucu, namun kini sang ayah dijumpai dalam keadaan tidur selama-selamanya. Dalam keadaaan saat seperti ini sang ayah hanya minta Kwangen Pmeras-an. Kwangen sebagai bagian dari upacara yang akan mengantarkan sang ayah. Kwangen yang akan membuka jalan bagi sang ayah. Iklaskanlah perjalanan sang ayah, karena ini merupakan bagian dari tugas sang ayah “nangun wasa kerti” untuk anak-anak ayah sekalian. (RANBB)

Lontar Kamoksan

LONTAR KAMOKSAN

Lontar Kamoksan ini berisi tentang cara-cara untuk mencapai tujuan hidup dengan melalui praktek-praktek/pelaksanaan ajian-ajian (mantra). Berbagai ajian-ajian ditawarkan dalam naskah lontar ini, dan apabila seseorang tersebut mampu menerapkan ajian tersebut maka akan tercapai apa yang dikehendakinya, baik itu Kawisesan maupun Kamoksan. Ajian-ajian yang terdapat dalam naskah ini memiliki nilai kesakralan tinggi. Hakikat ajian tersebut bersifat sangat rahasia dan tidak semua bisa mempraktekkannya sehingga memerlukan kesigapan, ketelitian, ketekunan dan ketajaman batin pembacanya. Oleh karena itu perlulah kiranya pembaca bila ingin mempraktekkan ajian-ajian ini dituntun oleh seorang guru agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di dalam Lontar Kamoksan, ajian-ajian yang tergolong kawisesan antara lain Aji Sanghyang Wisesa, Aji Tutur Menget, Aji Palungguhan, Aji Pandawa, Aji Pagantungan Sih Pegating Tiga, Aji Palalangon, Aji Sanghyang Talaga Membeng, Aji Pagedongan, Aji Minaka Darma, Aji Sarira, Aji Wawadonan Titi Murti, Aji Sarining Kala Kalanangan, Aji Yata, Aji Pamuteran, Aji Sayu Rahina Sada, Aji Masun, Aji Wruhing Bapa Babu, Aji Tri Pamuteran, Aji Swakar, Aji Pamoran. Apabila seseorang mampu menerapkan ajian-ajian tersebut dengan baik dan benar, maka ia akan mempunyai banyak istri, menemukan kesukaan, kaya, berkuasa, mencapai sorga, ulung di medan perang, serta menjadi orang tampan.

Di dalam Lontar Kamoksan, ajian yang berhubungan dengan kamoksan antara lain Aji Kalepasan Ring Sarira, Aji Tuturira Sanghyang Kalepasan, Aji Wekasing Ujar, Aji Sanghyang Dharma, Aji Wekasing Aputih, Aji Dharma Kalepasan Kamoksan. Kamoksan atau Kalepasan mengacu pada makna terlepasnya Atma dari tubuh manusia untuk manunggal dengan Paramatma. Supaya Atma dengan mulus dapat melepas dari tubuh juga memerlukan pengetahuan spiritual khusus, baik dalam hal mengenal, mengetahui tanda-tanda, kapan waktu, maupun jalan yang akan ditempuh oleh Atma ketika melepas dari tubuh. Di dalam lontar Kamoksan, dijelaskan beberapa ajian atau ilmu tentang pelepasan Atma dari tubuh, antara lain Aji Pakekesing Pati, Aji Tengeraning Pati, Aji Wekasing Bhuwana, Aji Patyaning Tiga, Aji Patitisan, Aji Pakeker, Aji Pamancutan.

Di dalam Lontar Kamoksan dijelaskan bahwa moksa dapat dicapai melalui suatu tahapan spiritual, yang dimulai dengan memahami nama dewa, besarnya, warnanya, dan tempat bersemayam dewa tersebut. Dewa-dewa tersebut dikenali satu per satu secara bertahap, baik dalam posisi horisonta maupun vertical, sampai pada tataran tertinggi, yaitu “berada dalam diam”.

Baca Artikel Terkait :

Continue reading

Si Kalilingan

Seekor burung, Si Kalilingan namanya, seekor burung yang tidak dapat terbang karena patuknya teramat besar. Kakawin Nirartha-prakreta memuat perumpamaan yang benar-benar menarik perhatian kita. Konteks pembicaraannya adalah di seputar bagaimana kita harus memandang, menyelusuri diri kita sendiri dan selanjutnya melihat diseputar kita, mengamati lingkungan tempat kita berada.

Bahwa berbagai sifat dan watak saudara-saudara kita, keluarga kita, atau teman-teman kita dan seterusnya, dan juga diri kita sendiri tentunya, memang sering dapat digambarkan dengan mengesankan oleh karya-karya sastra yang terwariskan kepada kita. Baca Kekuatan Burung Garuda.

Seekor burung, Si Kalilingan namanya, seekor burung yang tidak dapat terbang karena patuknya teramat besar. diangkat dalam sebait kakawin ini : Ndah mangkambekikang satagelem apet ring analahi ng ulahnya nityasa / lobhe dhih umaku wisesa tinemunya ri turunging acihna ring praja / ndan sabdanya juga lepas lwiraniki ng kalilingan atikabhuta patuk / anghing tan kawenang miber sthiti haneng kuwunika ri wipaksaning hati //

Ya, demikianlah pikiran orang jahat, betapa senang ia mencari kesalahan orang lain / dengan lobanya ia mengaku dirinya hebat; namun belum ada bukti yang diperlihatkannya kepada masyarakat umum / kata-katanya memang hebat, bagaikan burung kalilingan, dengan patuknya yang teramat besar / namun ia tidak dapat terbang, ia diam saja di dalam sangkarnya, karena diborgol oleh dirinya sendiri // Continue reading

Atha Sedhengira Mantuk

Atha sedhengira mantuk sang curalaga ringayun
Tucapa haji wirattan karyaca nangisi weka
Pinahajengira lawyan sang putrenalap iniwe
Padha litu hajeng anwan lwir kandarpa pinatelu

Lalu laranira naca sambat putranira pejah
Laki bi sira sumungkem ring putraluru kinusa
Ginamelira ginantikang lawyan lagi ginugah
Inutusira macabda kawajara bibi haji

Hana keleheng i kasih yan tunggal kita pejaha
Kita tiki kati galyus ndyanung panglipura lara
Syapa tiki palarengkwa muktyang raja sumiliha
Ri hilang tanayangkwa dungwang ywenaka pejaha

Na wuwusira masambat karwa strya pega malume
Inariwuwu tekap sang Cri Padwatmaja malara
Pinahayu kinabehan sampun purna rinuruban
Hinanyut i pajanging lek munggwing Pancaka gineseng

Kakawin Pitra Yadnya – Girica

MANTRA PITRA PUJA

Mantra Pitra Puja

1. Asana               : Om prasada sthiti sarira siva suci nirmalaya namah svaha.

2. Pranayama        : Om ang namah, Om ung namah, Om mang namah.

3. Karasodhana     : tangan Kanan  (Om suddhamam svaha)

tangan Kiri (Om ati suddhamam svaha)

4. Pitra Puja               :

Om svargantu pitaro devah, Svargantu pitara ganam, Svargantu pitarah sarvaya, Namah svada.

“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat tempat di surga, semoga semua atma suci mendapat tempat di surga, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”

Om moksantu pitaro devah, Moksantu pitara ganam, Moksantu pitarah sarvaya, Namah svada.

“Om Hyang Widhi semoga atmanya mencapai moksa, semoga semua atma suci mencapai moksa, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”

Om Sunyantu  pitaro devah, Sunyantu pitara ganam, Sunyantu pitarah sarvaya, Namah svada.

“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat ketenangan, semoga semua atma suci mendapat ketenangan, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”

Om Bhagyantu  pitaro devah, Bhagyantu pitara ganam, Bhagyantu pitarah sarvaya, Namah svada.

“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat kebahagiaan sejati, semoga semua atma suci dianugrahi kebahagiaan yang sejati, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”

Om Ksamantu  pitaro devah, Ksamantu pitara ganam, Ksamantu pitarah sarvaya, Namah svada.

“Om Hyang Widhi semoga atmanya mendapat pengampunan, semoga semua atma suci dibebaskan segala dosanya, sembah hamba hanyalah kepada Hyang Widhi dan hormat hamba kepada smua atma suci.”

5. Hening sejenak   : (Mohon atma yang meninggal tersebut segera menyatu kepada Hyang Widhi dan bebas dari pahala karma buruknya).

6. Parama Santi            : Om Santih Santih Santih Om.

(ditetapkan berdasarkan surat PHDI Pusat Nomor : 0198/Parisada-P/XI/2004 tanggal 5 Nopember 2004 dan Surat Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Nomor : DJ.V/Dt.V.II/5/BA.03.1/1718/2004 tanggal 10 Nopember 2004.)