Category Archives: Kesadaran Atma

Jangan Kau Habiskan Waktumu Memikirkan Agamaku

Jangan Kau Habiskan Waktumu Memikirkan Agamaku. Setiap insan yang lahir ke dunia tanpa agama, tanpa identitas. Seorang bayi yang dibuang oleh ibunya tidak tahu agama apa yang akan dianutnya. Akhirnya sang bayi terbuang besar dan menganut agama sang pemurah dan baik hati itu. Tak terpikir sedikitpun oleh sang pembuang, agama apa yang akan dianut oleh sang bayi yang ia lahirkan, demikian pula tidak terpikirkan oleh sang bayi agama apa yang akan dianutnya nanti. Agama yang menuntun pada kebenaran sejati. Baca Sumber dan Hakekat Kebenaran

Perjalanan Hidup Ini

Perjalanan Hidup Ini

Bayi yang terbuang dengan bayi yang memiliki ibu dan ayah tidak menganut agama saat ia dilahirkan, sang pemeliharalah yang menuntun ia untuk besar dan dewasa dengan ajaran-ajaran agama sang induk. Agamaku dan agamamu adalah sama-sama agama. Agamaku dan agamamu telah teruji ratusan bahkan ribuan tahun oleh umatnya. Agamaku dan agamamu hanya sebuah keyakinan hati manusia yang paling dalam akan kebesaran sang Pencipta. Agamaku dan agamamu merupakan tuntunan maha suci untuk umat manusia dalam mengarungi duniawi hanya sebatas usia hidupnya. Bayi yang terlahir hanya dengan Jiwa yang suci, yang akan memperbaiki Jiwanya kembali. Baca Kapan Jiwa Masuk ke Badan Bayi ?

Jangan kau habiskan waktumu untuk memikirkan agamaku. Waktu yang singkat ini tak cukup untuk memikirkan agama yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun itu. Jangan kau habiskan waktumu untuk memikirkan agamaku. Agamaku dan agamamu adalah anugerah Tuhan Sang Maha Tahu. Baca Sejarah Kelahiran Agama Besar Dunia.

Continue reading →

Lontar Kamoksan

LONTAR KAMOKSAN

Lontar Kamoksan ini berisi tentang cara-cara untuk mencapai tujuan hidup dengan melalui praktek-praktek/pelaksanaan ajian-ajian (mantra). Berbagai ajian-ajian ditawarkan dalam naskah lontar ini, dan apabila seseorang tersebut mampu menerapkan ajian tersebut maka akan tercapai apa yang dikehendakinya, baik itu Kawisesan maupun Kamoksan. Ajian-ajian yang terdapat dalam naskah ini memiliki nilai kesakralan tinggi. Hakikat ajian tersebut bersifat sangat rahasia dan tidak semua bisa mempraktekkannya sehingga memerlukan kesigapan, ketelitian, ketekunan dan ketajaman batin pembacanya. Oleh karena itu perlulah kiranya pembaca bila ingin mempraktekkan ajian-ajian ini dituntun oleh seorang guru agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Di dalam Lontar Kamoksan, ajian-ajian yang tergolong kawisesan antara lain Aji Sanghyang Wisesa, Aji Tutur Menget, Aji Palungguhan, Aji Pandawa, Aji Pagantungan Sih Pegating Tiga, Aji Palalangon, Aji Sanghyang Talaga Membeng, Aji Pagedongan, Aji Minaka Darma, Aji Sarira, Aji Wawadonan Titi Murti, Aji Sarining Kala Kalanangan, Aji Yata, Aji Pamuteran, Aji Sayu Rahina Sada, Aji Masun, Aji Wruhing Bapa Babu, Aji Tri Pamuteran, Aji Swakar, Aji Pamoran. Apabila seseorang mampu menerapkan ajian-ajian tersebut dengan baik dan benar, maka ia akan mempunyai banyak istri, menemukan kesukaan, kaya, berkuasa, mencapai sorga, ulung di medan perang, serta menjadi orang tampan.

Di dalam Lontar Kamoksan, ajian yang berhubungan dengan kamoksan antara lain Aji Kalepasan Ring Sarira, Aji Tuturira Sanghyang Kalepasan, Aji Wekasing Ujar, Aji Sanghyang Dharma, Aji Wekasing Aputih, Aji Dharma Kalepasan Kamoksan. Kamoksan atau Kalepasan mengacu pada makna terlepasnya Atma dari tubuh manusia untuk manunggal dengan Paramatma. Supaya Atma dengan mulus dapat melepas dari tubuh juga memerlukan pengetahuan spiritual khusus, baik dalam hal mengenal, mengetahui tanda-tanda, kapan waktu, maupun jalan yang akan ditempuh oleh Atma ketika melepas dari tubuh. Di dalam lontar Kamoksan, dijelaskan beberapa ajian atau ilmu tentang pelepasan Atma dari tubuh, antara lain Aji Pakekesing Pati, Aji Tengeraning Pati, Aji Wekasing Bhuwana, Aji Patyaning Tiga, Aji Patitisan, Aji Pakeker, Aji Pamancutan.

Di dalam Lontar Kamoksan dijelaskan bahwa moksa dapat dicapai melalui suatu tahapan spiritual, yang dimulai dengan memahami nama dewa, besarnya, warnanya, dan tempat bersemayam dewa tersebut. Dewa-dewa tersebut dikenali satu per satu secara bertahap, baik dalam posisi horisonta maupun vertical, sampai pada tataran tertinggi, yaitu “berada dalam diam”.

Baca Artikel Terkait :

Continue reading →

TUTUR AJI SARASWATI

ALIH AKSARA DAN TERJEMAHAN TUTUR JATISWARA, TUTUR AJI SARASWATI, TUTUR CANDRABHERAWA (2004)

TUTUR JATISWARA

Lontar ini merupakan sebuah lontar tutur yang pada pokoknya menguraikan tentang nasehat seorang ayah (orang tua) kepada anaknya agar selalu patuh dan bertingkah laku yang baik sesuai dengan petunjuk yang tersurat dan tersirat dalam sastra-sastra agama.

Seorang ayah memberikan nasehat kepada anaknya mengingat pengalaman yang ia alami pada saat anak-anak, bagaimana bertingkah laku yang baik yang patut dilaksanakan di dunia ini agar mendapatkan kerahayuan di dunia dan di akhirat. Nasehat inilah yang dapat dipakai bekal dalam mengarungi bahtera kehidupan.

TUTUR AJI SARASWATI

Naskah ini pada dasarnya berisi ajaran tentang kesukseman, ajaran kerohanian tinggi yang isinya dapat dipilah menjadi dua yaitu: berisi ajaran tentang kesehatan dan ajaran hidup setelah mati yang dikenal dengan kamoksan. Dalam menguraikan ajarannya diawali dengan penyusunan Dasaksara, pengringkesannya menjadi Pancabrahma, Pancabrahma menjadi Tri Aksara, Tri Aksara menjadi Rwa Bhineda, Rwa Bhineda menjadi Ekaksara, dan juga diuraikan mengenai kedudukan dalam badan serta kegunaannya. Bila ingin menggunakan naskah ini sebagai sebuah tuntunan maka sebelumnya haruslah teliti, harus membandingkannya terlebih dahulu dengan naskah lain, dan juga perlu tuntunan seorang yang mumpuni di bidang itu untuk membukakan jalan karena jika sedikit saja keliru dalam mempelajari dan mempraktekkan maka akan berakibat fatal.

TUTUR CANDRABHERAWA

Lontar Tutur Candrabherawa secara tekstual merupakan penggalan dari Kuntiyajna Nilacandra. Secara intrinsik tergolong lontar tutur/tatwa, disusun dalam bentuk prosa menggunakan bahasa Sansekerta singkat dan bahasa Kawi sebagai penjelasan.

Tokoh sentral yang ditampilkan dalam naskah ini adalah Yudisthira Kresna, raja Astina-Dwarawati. Kedua raja ini adalah penganut Siwaisme beserta seluruh rakyatnya. Sedangkan Sri Candrabherawa adalah raja Kerajaan Dewantara, penganut Buddhisme beserta seluruh rakyatnya. Siwaisme yang dianut oleh Yudisthira-Kresna menekankan pada aspek ajaran Karma Sanyasa. Sedangkan Budhisme yang dianut oleh Candrabherawa menekankan pada aspek ajaran Yoga Sanyasa.

Ajaran Karma Sanyasa berpusat pada pembangunan tempat suci, persembahan sesaji yang dikenal dengan Panca Yadnya, dan penyembahan kepada dewa. Sedangkan ajaran Yoga Sanyasa adalah sebaliknya, tidak ada tempat suci, tidak ada persembahan, tidak ada penyembahan kepada dewa. Yang dipuja adalah Sang Hyang Adhi Buddha dengan mempelajari Bajradhara. Tidak ada dewa di luar (tempat suci), tetapi ada dalam diri. Maka itu, dewa dalam diri harus dipuja, agar lepas dari sorga dan neraka, tidak terlahirkan lagi.

Menurut Yudisthira-Kresna, hal yang demikian adalah tidak sesuai dengan ajaran Dharma Sasana dan ajaran Panca Yajna. Lebih-lebih dengan adanya pembangunan istana seperti sorga, kahyangan, penobatan Sri Candrabherawa sebagai Sri Parama Guru/Bhatara Guru, dan para patihnya diberi nama seperti layaknya nama-nama dewa di kahyangan. Hal inilah yang menyebabkan Yudisthira-Kresna murka dan menyerbu Kerajaan Dewantara.

Dalam peperangan tersebut, satu persatu para ksatria Pandawa berhasil ditaklukkan oleh Sri Candrabherawa, termasuk pula Sri Kresna berhasil dikalahkan. Akhirnya Yudisthira maju menghadapi Sri Candrabherawa mengadu kesaktian, yaitu dengan melepas roh dari raga masing-masing secara bergantian. Dalam adu kesaktian ini, Yudisthira menggelar aji kalepasan, maka lepaslah atma Yudisthira dari raganya, dan oleh Candrabherawa atma tersebut secepatnya ditangkap dan dimasukkan kembali ke raga Yudisthira hingga Yudisthira hidup kembali. Kemudian Candrabherawa melepaskan atmanya dari dalam raganya dan langsung menghadap Bhatara Guru memohon agar tidak diberitahukan dimana tempatnya kepada Yudisthira, sehingga Yudisthira menjadi kebingungan mencarinya. Kemudian Yudisthira pergi menghadap Bhatara Nilakanta, Bhatara Guru. Di situlah Yudisthira mendapat penjelasan bahwa Sri Candrabherawa merasa malu jika kesaktiannya diketahui oleh Yudisthira, karena ia hanya mempercayai Yoga Sanyasa sebagai jalan satu-satunya untuk mencapai kesempurnaan tertinggi, dengan mengabaikan Karma Sanyasa. Yudisthira pun diberi tahu bahwa atma Sri Candrabherawa berada di “Anta Sunya”, dan segeralah atma Sri Candrabherawa ditangkap dan dimasukkan ke dalam raganya sehingga Sri Candrabherawa hidup kembali.

Setelah Sri Candrabherawa hidup kembali, segeralah menyembah kehadapan Yudisthira. Yudisthira kemudian memerintahkan kepada Sri Candrabherawa agar mengikuti ajaran Dharma Sasana dengan seluruh rakyatnya. Tidak lagi ‘amada-mada’ kahyangan, seperti memberi nama para mantri dengan nama dewata.

Demikianlah, Ajaran Karma Sanyasa maupun Ajaran Yoga Sanyasa sesungguhnya tidak ada yang lebih tinggi salah satu darinya. Keduanya akan dapat mengantarkan seseorang untuk mencapai kesempurnaan tertinggi. Karma Sanyasa dan Yoga Sanyasa adalah ‘ayah-ibu’ masyarakat.

Baca : BABAD ARYA KEPAKISAN (1998)

Baca : BABAD BULELENG, BABAD ARYA GAJAH PARA, BABAD KI TAMBYAK

Continue reading →

Penciptaan Dunia

Pada awal tidak ada lahir dan mati, demikian juga siang dan malam. Pada waktu itu hanya ada Tama (kegelapan). Setelah itu Tuhan melaksanakan tapa (Yajna) untuk mengevaluasi Rta (hukum abadi) dan Satya (kebenaran). Pertama-tama tercipta air. Disanalah telur Hiranyagarbha berada (Hiranya berarti emas Garbha berarti kandungan), yaitu sebuah telur yang berwarna seperti emas. Baca Brahman Dalam Wujud Brahma

Telur Hiranyagarbha mengapung di atas air, yang kemudian berubah menjadi prathivi (bumi) dan angkasa. Setelah diciptakannya prathivi lalu diciptakanlah tumbuh-tumbuhan (banaspati) kemudian burung-burung, binatang dan manusia. Pada waktu itu Tuhan memberikan ajaran Veda kepada empat Rsi tentang empat Veda. Baca Catur Weda

Sebelum menciptakan dunia, hanya ada Tuhan, tanpa tergantung pada siapapun, yang kemudian mengucapkan “aham bahu syam” yang berarti; saya ingin menjadi banyak. Sejak saat itu mulailah penciptaan dunia oleh Tuhan.

Periode waktu disebut Yuga, terdiri dari : Krita atau Sathya yuga (4×432.000 tahun), Treta yuga (3×432.000 tahun), Dvapara yuga (2×432.000 tahun), Kali yuga (432.000 tahun). Jumlah total dari keempat yuga tersebut adalah Kalpa (4.320.000 tahun). Pada jaman Krita, manusia hidup 4 ribu tahun (ada satu Veda), pada zaman Treta, manusia hidup 3 ribu tahun (Veda ada 4), pada zaman Dvapara manusia hidup 2 ribu tahun (purana-purana), dan dalam zaman Kali, manusia hidup 100 tahun (tantra). Zaman Kali dimulai sejak tahun 3102 SM, perilaku manusia yang homosek, dan terjadi pertengkaran.

Pada akhir Kalpa atau Kali yuga, akan terjadi Pralaya, atau banjar besar. Lalu Kalpa lain akan mulai. Pada waktu Pralaya, Wisnu akan menjadi Avatara kesepuluh dikenal dengan nama Kalki. Sumber sinopsis Agama Hindu, oleh Nyoman Sedana-PHDI Banten. (RANBB)

 

Sumber dan Hakekat Kebenaran

 SUMBER KEBENARAN

Jika ingin mengetahui kebenaran, pahamilah secara cerdas wahyu Tuhan lalu bandingkan dengan tafsir-tafsirnya serta dengan aturan-aturan moral/etika/susila yang berlaku dalam sosial masyarakat. Jika demikian maka akan sempurnalah pemahaman kita tentang apa sesungguhnya kebenaran dan kebajikan itu.

Sesungguhnya semua kitab suci adalah wahyu Tuhan, ia adalah petunjuk bagi umat manusia untuk hidup damai dan sejahtera, ia adalah sumber dari segala sumber kebajikan dan kebenaran. Apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi terkandung dalam wahyu Tuhan.

Wahyu Tuhan hendaknya dipelajari dengan benar, dengan jalan mempelajari terlebih dahulu tafsir-tafsirnya, sebab Wahyu Tuhan sungguh takut jika dipelajari oleh mereka yang memiliki kedangkalan pemahaman dan sedikit pengetahuan. Sebab bagi mereka yang sedikit pengetahuan dan dangkal dalam analisis, wahyu Tuhan hanya akan dijadikan pembenar dari tindakan-tindakannya yang sesat.

Yang patut dicamkan secara mendalam adalah kebenaran universal dalam wahyu Tuhan, kebenaran universal dalam tafsir-tafsirnya, dan kebenaran universal dari mereka-mereka (orang suci) yang hatinya telah tercerahi oleh kebajikan dan kebenaran.

 HAKEKAT KEBENARAN

Apa pun yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak menyenangkan bagi dirimu, apapun yang menimbulkan duka dan sakit hati bagi dirimu; janganlah hendaknya yang menimbulkan keadaan seperti itu engkau lakukan pada orang lain. Perbuatan apapun yang tidak engkau sukai menimpa dirimu, janganlah perbuatan seperti itu engkau timpakan kepada orang lain.

Continue reading →