Category Archives: Meditasi Matahari Terbit

Boneka Garam

Boneka Garam

Suatu kali, sebuah Boneka Garam pergi untuk mengukur kedalaman laut agar ia dapat menceritakan kepada yang lain seberapa dalam lautan itu. Tapi pada saat masuk ke air, ia mencair sehingga tidak ada yang bisa melaporkan kedalaman laut.

            Sama seperti itulah mengapa tidak mungkin bagi siapapun untuk menggambarkan Tuhan. Setiap kali kita berusaha, kita melebur menyatu dengan lautan realitas-Nya yang misterius. Kita tidak bisa menggambarkan Brahman. Dalam Samadhi kita dapat mengetahui Brahman. Jadi Tuhan dapat diketahui melalui pengalaman langsung dalam samadhi (anubhava), tetapi pengalaman itu tidak dapat dijelaskan dengan nalar.

            Seseorang yang mengetahui Brahman akan menjadi Brahman (Gita 18.55) dan tidak dapat dijelaskannya, sama seperti boneka garam mencair di laut dan tidak bisa melaporkan kedalaman laut.

            Mereka yang bicara tentang Tuhan tidak memiliki pengalaman nyata. Demikianlah, Brahman hanya dapat dialami dan dirasakan. (dharmawacahaPHDITangsel)

MEGUMI PADANGAN

MEGUMI PADANGAN

Dangan artinya Dapur. Megumi Padangan di Dapur mengandung makna untuk mengingatkan bahwa setiap orang pasti akan berhadapan dengan masalah Dapur. Maksudnya setiap orang itu perlu menyiapkan diri guna hidup mandirisetelah nantinya berumah tangga. Mohon Pelukatan di Dapur mengandung arti bahwa orang yang akan melaksanakan Potong Gigi itu perlu bersih diri dulu. Natab Banten Sabuh Rah untuk Perempuan dan Banten Ngeraja Sawala untuk laki-laki sebagai simbolis untuk menyatakan diri kepada Bhatara Brahma dan Dewi Saraswati bahwa mereka (baik laki-laki maupun perempuan) telah siap baik fisik maupun mental dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang berhubungan dengan Dapur jika sudah berumah tangga. Megumi Padangan ini juga mengandung simbolis bahwa mereka siap untuk hidup berumah tangga.

Magumi Padangan adalah salah satu rangkaian upacara pada upacara Metatah atau mepandes atau potong gigi yang akan dilaksanakan oleh Suka Duka Banjar Ciledug, selengkapnya klik www.banjarciledug.org

RUANG BERNAPAS

Damai di Setiap Langkah. Kita mempunyai ruang untuk segala sesuatu – makan, tidur, menonton tv-, tetapi kita tidak mempunyai ruang untuk sati (penyadaran). Saya menganjurkan agar kita menyediakan ruang  kecil di rumah kita dan menamainya “ruang bernapas”, di mana kita bisa menyendiri dan hanya berlatih bernapas dan tersenyum,  paling tidak pada saat-saat sulit.

Ruang yang kecil itu harus dianggap sebagai Kedutaan Besar dari Kerajaan Kedamaian. Ia harus dihargai dan tidak diganggu dengan kemarahan, teriakan atau hal-hal semacam itu. Ketika seorang anak hampir dibentak, ia bisa berlindung di ruang itu. Baik ayah maupun ibu tidak bisa membentaknya lagi. Ia aman di dalam daerah Kedutaan Besar itu. Orangtua kadang-kadang juga perlu berlindung di ruang itu, duduk bernapas, tersenyum dan memulihkan diri mereka. Oleh karena itu, ruang tersebut digunakan untuk kebaikan seluruh  keluarga. Saya sarankan agar ruang bernapas itu ditata dengan sangat sederhana dan jangan terlalu terang. Anda mungkin ingin mempunyai sebuah genta kecil, dengan suara yang merdu.

Continue reading

Bagaimana cara kita melaksanakan Dharma ?

Bagaimana Dharma atau kewajiban spiritual diungkapkan di dalam tindakan ? Secara khusus hal ini tergantung pada waktu dan keadaan. Bagaimanapun juga, ada beberapa aturan umum yang dipakai sepanjang waktu. Dharma mengharuskan untuk menjungjung tinggi kebenaran, tanpa kekerasan dan kasih yang bersifat universal.

Dan apakah itu Dharma ?  Melakoni apa yang engkau katakan, melakukan seperti apa yang engkau ucapkan adalah harus dilaksanakan, tetaplah jaga agar aturan dan praktek tetap dalam satu jalur. Raihlah hidup yang baik, berhasratlah pada kehidupan yang beriman, hiduplah takut akan Tuhan, hiduplah untuk mencapai Tuhan, itulah yang disebut dengan Dharma.

Sabda Sathya Sai 4, halaman 339

Ketika secara sadar kita memulai sebuah kehidupan spiritual, maka kita harus mengingat dasar atau pondasi dari kehidupan spiritual itu. Dasar kebenaran itu diketahui oleh semuanya. Hal ini merupakan pelajaran yang diajarkan oleh setiap agama yang ada di dunia. Semua ajaran ini dirangkum menjadi sebuah aturan emas :” Jangan melakukan sesuatu kepada orang lain yang mana engkau tidak suka orang lain lakukan kepadamu “. Aturan ini mengajarkan kepada kita untuk memberikan perhatian kepada yang lainnya dan menghormati kualitas keTuhanan yang kita miliki. Baca Artikel terkait Swadharma.

Apakah sebenarnya yang merupakan kewajibanmu? Biarkan Aku meringkasnya untukmu. Pertama, rawatlah orang tuamu dengan kasih dan rasa hormat dan rasa terima kasih. Kedua, ucapkanlah kebenaran dan bertindaklah dengan penuh kebajikan. Ketiga, kapanpun engkau memiliki waktu luang, lantunkan nama Tuhan berulang-ulang dengan wujud-Nya di pikiranmu. Keempat, jangan terlibat dalam membicarakan keburukan orang lain atau mencoba untuk mengungkap kesalahan yang lainnya. Dan yang terakhir, jangan menyakiti yang lainnya dalam bentuk apapun juga.

Sabda Sathya Sai 4, halaman 348-349

Aturan-aturan yang terkandung dalam Dharma lebih lanjut akan dirangkum menjadi sebuah jalan setapak kebajikan. Secara umum setiap orang mengetahui apa itu benar dan apa itu salah. Jika mereka tidak bertindak berdasarkan pengetahuan tersebut, maka itu berarti mereka telah menyangkal kewajiban spiritual mereka.

Dharma dapat digolongkan ke dalam kesucian, kedamaian, kebenaran dan ketabahan. Dharma juga adalah yoga, persatuan, penggabungan dan itu adalah sathya (kebenaran). Sifat yang lain dari Dharma adalah keadilan, pengendalian indria, rasa hormat, kasih, martabat, kebaikan, meditasi, simpati, tanpa kekerasan. Inilah Dharma yang bertahan dari yuga ke yuga. Dharma menuntun seseorang menuju kasih yang universal dan kesatuan.

Pancaran Dharma, halaman 21.

Sumber bacaan buku Jalan Setapak Menuju Tuhan (Pathways to God) Jonathan Roof. Penerbit Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia, Jakarta 2013. (RANBB)

Jangan Mengganti Nama Tuhan

SAD GURU berkata,” Jangan mengganti nama Tuhan yang telah kaucintai, kau hormati dan kau pilih untuk diingat serta diulang-ulang. Satu nama Tuhan harus kau pilih dan kau gunakan seterusnya untuk japa dan meditasi.”

Bila sadhaka selalu mengganti-ganti nama dan wujud Tuhan yang dipilihnya disebut bakti yang tidak murni.

Mengubah-ubah nama dan wujud Tuhan adalah sangat tidak baik dan berbahaya. Kesetiaan pada nama dan wujud Tuhan yang telah kaupilih adalah sumpah yang paling mulia, tapa yang medalam. Continue reading