Category Archives: Motivasi Diri

Kadung Tuman

Apang Tusing Kadung Tuman ipun melaksana ane corah, merupakan kutipan satua Bali yang sering kita baca. Nah apakah artinya Kadung Tuman ? Kalau kata yang lain tentu sudah dipahami. Apang Tusing = Agar tidak, ipun melaksana = ia melakukan perbuatan, ane corah = yang tidak baik. Jadi kata Kadung Tuman bisa diartikan Kebiasaan, sesuatu yang dilakukan sering-sering, kegiatan berkala, atau terbiasa. Bila kita satukan kalimat basa Bali “Apang Tusing Kadung Tuman ipun melaksana ane corah ” dapat diartikan dalam bahasa Indonesia “Agar tidak menjadi kebiasaan ia melakukan perbuatan yang tidak baik”. Kadung Tuman ngae Hoak, Kebiasaan membuat Hoak. Kadung Tuman itu berkonotasi ke arah yang negatif, perbuatan tidak baik. Jadi kata Tuman berasal dari bahasa Bali.

Saat inipun sedang Viral kata Tuman, entah itu bahasa dari daerah mana. Awalnya admin pikir dari bahasa Bali, Kadung Tuman. Ternyata khasanah bahasa daerah kita sangat dekat satu sama lainnya. Mungkin saja Tuman berasal dari bahasa Bali ? atau Tuman dari bahasa Sunda ? atau juga bahasa Betawi ? . Namun kedekatan bahasa Tuman dengan Kadung Tuman itu bisa saja artinya berbeda. Mungkin juga sebaliknya Tuman dalam bahasa Bali memiliki kemiripan dengan Tuman dari bahasa daerah lainnya, yang sedang viral saat ini. Kata Kadung Tuman yang admin sampaikan ini bukan baru saja ada semenjak viral kata Tuman, tetapi sudah ada sejak dulu menjadi kosa kata basa Bali. Secara pergaulan yang admin rasakan sepertinya memiliki kemiripan makna, baik itu Kata Tuman dalam basa Bali maupun kata Tuman dari bahasa daerah lain, entah itu Sunda, Betawi, Jawa, Sumatra atau mungkin juga basa daerah Papua, Maluku, Ambon, tetapi yang pasti bukan bahasa Inggris hehehe…

Karena majunya teknologi informasi saat ini, menjadi viral itu sangat mungkin kita dapatkan, entah itu sengaja kita buat, atau faktor ketidak sengajaan. Yang utama adalah kreativitas yang tak pernah berhenti, sebab kreativitaslah yang menyebabkan sesuatu menjadi viral. Banyak hal yang viral dalam dunia informasi saat ini, ada yang bertahan lama ada pula yang hanya sesaat. Yen cara Baline wah abulan pitung dina, hanya 1 bulan 7 hari atau 42 hari hehehe…

Nah amonto malu Rare Angon Nak Bali Blog nyatua, lantang satua ne liu ane pelih, apang tusing Kadung Tuman milu-milu bawang, yaa segitu dulu admin bercerita, banyak cerita banyak salah, agar tidak menjadi kebiasaan ikut-ikutan tapi tidak ngerti.


Toleransi : Kata Bijak Hindu

Mendengar kata Toleransi, kita akan membayangkan suatu itu terjalin dengan baik, damai, indah, serasi, selaras, penuh kebahagiaan dan segala yang baik-baik, indah-indah dan berbagai hal positif lainnya. Pada saat yang sama saat kita membaca berita tentan Intoleransi, segera akan terbayang sesuatu kekerasan, kekacauan, kengerian, kegelisahan dan hal-hal yang kurang menentramkam. Bila dikutip dari Wikipedia; Toleransi secara bahasa berasal dari bahasa latin “tolerare”, toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga dapat berarti suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Mari Simak Vidio Toleransi Beragama di Provinsi Banten

Dalam agama Hindu sikap Toleransi telah diwariskan oleh para leluhur-leluhur kami, pendahulu kami, orangtua dari orangtua tua kami yang tertua, kita memang harus hidup ber-Toleransi dengan setiap orang. Kita harus menjalin hubungan baik, hormat menghormati terhadap kelompok lain, terhadap agama lain dan terhadap hal di luar kita. Ajaran Agama Hindu yang diwariskan itu adalah Tri Hita Karana. Tri Hita Karana adalah hubungan ketiga kita yang harus senantiasa harmonis, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan alam semesta (Palemahan) dan hubungan manusia dengan manusia (Pawongan). Dasar ini pulalah kenapa Umat Hindu senantiasa melaksanakan Yadnya dalam segala aktivitasnya. Dalam menyambut Tahun Baru pun umat Hindu melaksanakan Yadnya, yaitu kegiatan Melasti. Melasti menjalin hubungan dengan ketiga hal diatas, kepada Tuhan, Alam dan Manusia. Dengan manusianya kita harus ber-Toleransi, agar tercipta kedamaian, dengan damai pula kita dapat ber-Yadnya.

Toleransi merupakan kata bijak Hindu yang senantiasa disampaikan dengan penuh kesadaran agar tercipta kedamaian yang nyata. Tak ada hal yang paling indah selain hidup guyub, damai, rukun dan menyenangkan.

Artikel Terkait :

Mengukur Keberhasilan Tri Hita Karana

Membangun Kesucian Jiwa Dalam Masyarakat

Tri Hita Karana : Alam Adalah Universitas Abadi

Sebotol Minuman Pengganti Kopi

Awalnya biasa saja, melihat photo2 yang di share di grup2 sosmed tiang. Grup sosmed yang sebagian besar adalah perkumpulan orang2 Bali, namanya juga dari Bali. Ada grup Alumni, grup Hobby, grup2 lainnya. Banyak photo2 yang di share utamanya saat-saat mereka kumpul2, foto2 saat bersama, duduk diwarung, ataupun sekedar berkunjung ke rumah teman.

Photo2 itu biasa saja sih, awalnya memang biasa tiang lihat, orang2 duduk2 yang dihadapannya ada sebotol minuman bir, bahkan masing2 sudah memegang sebotol bir, serta dihadapannya ada beberapa botol yang telah kosong. Awalnya tiang lihat biasa saja……

Namun setelah diperhatikan, ternyata photo2 itu bukan sekali, setiap mereka kumpul, dari grup2 WA mana saja, saat berkumpul selalu ada botol2 itu. Selalu dihadapan mereka ada sebotol minuman itu. Timbullah pertanyaan dalam hati tiang, apakah segelas Kopi sudah digantikan oleh sebotol bir ?

Pages: 1 2

Creator dan Publisher

Sekali-kali jadilah Sang Creator, tidak melulu menjadi Publisher dan Buzzer …

Semua orang tahu apa itu creator, ya orang yang meng-creat sesuatu dan dapat akhiran -or menunjukan orang atau si pelakunya. Jadi creator adalah pembuat sesuatu, pelaku dari sesuatu hingga terbentuk sesuatu pula. Creator itu kreatif, imajinatif, produktif. Sang pembuat biasanya orang yang kreatif karena punya pemikiran (imajinasi) yang unik dan menarik, sehingga akan menjadi produktif (menghasilkan sesuatu). Orang Bali Kreative

Orang Bali umumnya sudah menjadi Creator, utamanya bidang seni. Jangan ditanya lagi kemampuan seni orang Bali itu. Dunia sudah mengakuinya. Bukan baru jaman internet ini saja, tetapi sudah sejak awal dikenalnya informasi media. Bali sudah terkenal akan seni dan budayanya.

Namun dibidang yang lain, orang Bali terkenal hanya sebagai publisher (tukang sebar) dan hanya Buzzer (tukang hembusin). Bidang apa itu? Orang Bali tidak banyak yang creat tulisan-tulisan, orang Bali tidak banyak yang membuat artikel-artikel. Jangankan artikel panjang yang bermanfaat,  yang pendek namun bermanfaat saja jarang, bahkan sangat jarang.

Dapat kita lihat di Medsos, dalam satu hari saja berapa artikel pendek yang kita dapatkan ? Entah itu motivasi, provokasi, edukasi, ekonomi, pencerahan, dan berbagai artikel pendek lainnya. Kebanyakan sang kreatornya adalah orang-orang diluar kita, orang Bali sangat jarang. Tetapi herannya, justru kita sangat sering menjadi publisher (tukang sebar-sebarin), tukang buat viral.

Dan anehnya lagi, bila di sebar (share) dalam grup Medsos, artikel orang itu dibahas panjang lebar, ada yang mengkritik dengan pedas, keras, penuh argumentasi sana-sini. Ya hanya dalam grup ini, seperti katak dalam tempurung, bersuara keras hanya yang mendengar dirinya sendiri. “Yen cara Baline, cicing galak jumah, yen pesu bungker ikutne “ Continue reading →

ҪUBHA – AҪUBHA KARMA

Ҫubha  Aҫubha =  Ҫubha + Aҫubha

Ҫubha Karma = perbuatan yang baik, sesuai dengan Dharma

Aҫubha Karma = perbuatan yang tidak baik (jahat), sesuai dengan A-dharma

Ketentuan mengenai baik dan buruk ini telah dinyatakan dalam Ajaran Weda Smerti, Tata Susila (Etika Agama).

Weda merupakan tolok ukur, kriteria batu penguji mengenai perbuatan baik maupun buruk. Kita diwajibkan, bahwa diharuskan untuk berbuat Ҫubha Karma, tetapi sebaliknya kita harus menjauhkan diri dari perbuatan Aҫubha Karma.

Artikel Terkait Subha Asubha Karma :

Baik buruk perbuatan ini akan menentukan pahala yang akan diterimanya. Kalau kita menginginkan kehidupan yang suka atau bahagia, hendaknya ditentukan dari sekarang yaitu dengan jalan melaksanakan Ҫubha Karma. Dengan ringkas dapat dikatakan, bahwa sasaran Ҫubha Karma ialah Surga dan terakhir Moksa, sedangkan sasaran A-ҫubha Karma ialah neraka yang penuh penderitaan atau kesengsaraan. Sesungguhnya tinggi rendah derajat seseorang ditentukan oleh baik buruk perbuatannya sendiri, sesuai dengan benih yang ditabur, demikianlah yang akan diterimanya. Karena Karma itu meliputi pikiran, kata-kata serta perbuatan, maka kita hendaknya melaksanakan dasar pokok Ҫubha Karma, yaitu TriKaya Pariҫuddha (Tiga bagian badan yang patut dibersihkan/disucikan) :

 

  1. Kayika Pariҫuddha : Suci/benar dalam perbuatan
  2. Wacika Pariҫuddha : Suci/benar dalam kata-kata
  3. Manacika Pariҫuddha : Suci/benar dalam pikiran.

 

Dalam Sarasamuccaya 7 :

“Sebab kelahiran menjadi manusia sekarang ini adalah kesempatan melakukan kerja baik sataupun kerja buruk, yang hasilnya akan dinikmati di akhirat, artinya kerja baik ataupun kerja buruk sekarang ini di akhirat sesungguhnya dikecap akan buah hasilnya itu, setelah selesai dinikmatinya, menitislah pengecap itu lagi, maka turutlah bekas-bekas hasil perbuatannya itu, Wasana disebut Samgskara, sisa-sisa yang tinggal sedikit dari bau sesuatu yang masih bekas-bekasnya saja, yang diikuti (peng) hukumannya itu jatuh dari tingkatan Sorga maupun dari Kawah Neraka; adapun perbuatan baik atau buruk yang dilakukan diakhirat, tidaklah itu berakibat sesuatu apapun, oleh karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik atau buruk yang dilakukan sekarang juga.” Continue reading →