Category Archives: Nyepi

Parade Ogoh-Ogoh Bali di Serang

Parade Ogoh-Ogoh  Bali dalam rangka Perayaan Hari Raya Nyepi 1937 di Propinsi Banten diadakan di Lapangan Kopassus Grup 1 Serang Banten. Ada 6 peserta Parade Ogoh-Ogoh ini yang semuanya merupakan kreativitas anak-anak muda atau Sekeha Truna Truni (STHD) dilingkungan banjar se-Propinsi Banten. Parade Ogoh-Ogoh Bali di Serang ini adalah kegiatan yang sangat positif dalam mempertemukan, mempersatukan, meningkatkan solidaritas, kreativitas anak Bali diperantauan. Tidak kalah bagus, unik, dan indahnya kreasi-kreasi kami yang ada di Serang Banten ini.

Berikut foto dokumentasi kegiatan Parade Ogoh-Ogoh di Serang Banten, pada Jumat 20 Maret 2015. Continue reading

Ngayah, Adat Bali Tak Tergantikan

NGAYAH. Ngayah sudah tidak asing bagi kerama Bali. Dimanapun mereka berada. Ngayah merupakan bagian dari hidup mereka, sudah mendarah daging pada kehidupan mereka. Sejak kecil, Rare Bali sudah diajarkan untuk Ngayah. Ngayah di banjar, Ngayah di desa, Ngayah di nyama braya dan di sekeha truna-truni. Ngayah sudah menjadi kebiasaan mereka, kerama Bali di pulau Dewata dan kini sudah di seluruh “Kerajaan Majapahit Modern” , Indonesia.

Ngayah, Adat Bali Tak Tergantikan. Sebuah harapan yang tidak mudah, yang tidak begitu saja dapat diwujudkan. Sebagian Kerama Bali telah menjalankan, melaksanakan dan mempertahankan Adat dan Kebiasaan mereka sebagai Orang Bali. Namun sebagian lagi, mereka telah tergerus kemajuan teknologi modern, mereka telah disibukkan “waktu-waktu mencari uang”, Ngayah bagi mereka adalah kebiasaan yang harus dilupakan. Buat apa Ngayah, Capek, dan nggak dapat apa-apa !!! Continue reading

Tema Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937

Melalui surat nomor : 287/Parisada Pusat/I/2015, Perihal Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937 yang ditujukan kepada Ketua Parisada Hindu Indonesia Provinsi Seluruh Indonesia, Parisada Pusat menyampaikan hal-hal penting dan pokok untuk dapat dilaksanakan serta diinformasikan kepada umat Hindu.

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937 yang jatuh pada hari Sabtu, tanggal 21 Maret 2015, Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat memandang perlu menyampaikan beberapa hal pokok sebagai berikut : Continue reading

Pujawali : Memuliakan Dan Nunas Waranugraha

Agama Hindu. Pujawali pura Hindu di Indonesia memiliki makna memuliakan kembali Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha dari segala Maha yang ada. Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha Pencipta, Maha Pemelihara dan Maha Pelebur alam semesta beserta isinya. Pada saat Pujawali merupakan saat yang paling tepat memohon waranugraha. Pada saat Pujawali waktu yang sangat baik untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang penuh keiklasan, ketulusan, rasa bakti kepada umat, agama dan tentunya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Agenda Banjar Ciledug untuk Ngiring Pekuluh saat Pujawali pura di Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang  dan Banten berdasarkan Dedudonan  2015. Semua Agenda ini akan menyesuaikan dengan Panitia Pelaksana Pujawali dari masing-masing pura. Kunjungi banjarciledug

31 Januari 2015 : Sabtu

  • Saniscara Kliwon Krulut : Tumpek Krulut
  • Pujawali Pura Kertha Jaya, Tangerang
  • Pujawali Pura Raditya Dharma Cibinong
  • Upakara dipersiapkan oleh Tempek Parung Serab

Continue reading

Suling Gus Teja

Ditengah hiruk pikuknya kegiatan Pilpres 2014 antara Jokowi Versus Prabowo yang menyebabkan Anda setress berat, kemanapun Anda pergi ada kampanye, dijalanan ada spanduk, bendera, famlet, unbul-umbul, bahkan ke media sosial, seperti facebook, twitter, istagram, semuanya penuh dengan kegiatan Pilpres. Pusing !!. Nonton tivi, mendengar radio, membaca koran semua isinya ‘caci maki’ , saling adu argumentasi , tidak hanya team sukses tetapi juga para relawan, simpatisan.

Ada baiknya Anda mendengarkan musik, alunan suling Gus Teja, nonstop satu album, irama instrumental yang menyejukkan hati kita.

Play Music – Listen Audio Files – Gus Teja Bali Jalan Jalan

Gus Teja “Flutes of Love “- Instrumental Suling Bali, Bali Shanti, Dram, Hidden Beauty, Morning Happiness, Putri Cening Ayu, Secret of the lake, The full moon, Whispering of hopes, Bali Jalan-Jalan, Beauty in Colors, Coming Home, Feel With Love,Hero, Jepun Putih, Lost Love, Melody of Peace, Stalatite Cave dan Suara Cinta.

Gus Teja. Suling Gus Teja sangat bagus dan indah sekali didengar telinga. Siapa yang tidak mengenal Gus Teja, tiupan sulingnya begitu khas ngelangunin kayun iraga sareng sami. Suling Gus Teja yang diiringi oleh rindik, gambelan bambu khas Pulau Dewata, yang digabungkan dengan instrument modern seperti gitar, bas, drum membuat karya-karyanya semakin unik dan menakjubkan.

Suling Gus Teja

Suling Gus Teja

Gus Teja lahir pada 20 April 1982 di Karangasem Bali, kabupaten paling ujung Timur pulau Dewata. Gus Teja merupakan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mengambil jurusan Karawitan. Sebagai seniman Karawitan tentunya Gus Teja mahir dengan berbagai irama lagu, karawitan, ini tercermin dari irama Suling Gus Teja yang sungguh berbeda dengan yang lain. Bukan lagi suling pupuh, tetapi sungguh lain. Penguasaan alat musik Gus Teja sangat beragam seperti Native American, panflute, ocarina, hulusi, bansuri, quena, dizi, dan penny whistle. (RANBB)

Surya dan Sunya

Tilem Kasanga (tilem Caitra) dan purnama kadasa (purnama Waisaka) mendapat perhatian istimewa kita. Tilem kasanga adalah bulan mati ketika matahari berada dalam posisi terdekat di atas khatulistiwa, demikian pula halnya dengan purnama kadasa (Pada tanggal 21 Maret dan 23 Oktober matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa, garis tengah bumi). Maka purnama Kadasa atau Waisaka (jatuh antara Maret – April) dan purnama Kapat atau Kartika (jatuh antara Oktober – November) dinyatakan sebagai purnama yang paling sempurna, bulan dalam posisi yang benar-benar bulat. Maka upacara-upacara yang berkait dengan Dewa Yajna dilaksanakan pada saat ini, upacara memuja Hyang Widhi sebagai Maha-cahaya dan Sumber-cahaya.

Surya, bulan, bintang, benda-benda bersinar, benda-benda yang memancarkan cahaya di langit memang mendapat perhatian manusia yang menempati bumi ini. Surya kemudian diketahui sebagai sumber cahaya, ang kemudian dipancarkan oleh planet-planet yang lain; surya kemudian diketahui “diam” tidak berputar sementara planit-planit lain (termasuk bumi) mengitarinya;  surya diketahui sebagai sumbu, dan juga sumber energi bagi kehidupan di bumi ini. Maka renunngan bermuatan spiritual tentang gelap dan terang, tentang diam dan berputar, tentang yang menjadi sumber dan pancaran atau aliran, tentang sunya, purna, dan seterusnya sampai pada hukum yang menggerakkan bhuwana agung dan bhuwana alit, terus bergulir.

Apabila pada purnama dilakukan upacara Dewa Yajna, maka pada tilem, ketika surya dan bulan sama-sama muncul di ufuk timur dan berada dalam satu garis lurus dengan bumi, dilaksanakan upacara Bhuta Yajna, upacara pengharmonisan alam semesta (bhuta-hita) yang dibangun oleh unsur-unsur panca-mahabhuta dan pancatanmatra, terdiri atas; Pratiwi, apah, teja, bayu, akasa, gandha, rasa, sparsa, rupa dan sabda. Setelah bhuta-hita tercapai bumi diharapkan dapat memancarkan sinar, memantulkan sinar surya yang cemerlang. Dan sehari setelah melakukan bhuta-yajna kita memasuki alam “sepi” alam sunya, alam yang heneng dan hening. Baca artikel tentang Heneng dan Hening.

Yang cukup menarik, Surya dan Sunya biasa disimbulkan dengan windhu (0), simbol kesempurnaan. Penemuan windhu bagi manusia memang telah menjadikan peradaban manusia mencapai tingkat yang tinggi dan sempurna. Dan renungan tentang windhu atau sunya memang renungan yang tak pernah habis ; Dang Hyang Nirartha dalam kakawin Dharma Sunya ada menyuratkan : Yang dicari oleh seorang maha-y0gi hanyalah apa yang disebut sunya, ketika fikiran telah diam, ketika rupa telah tiada (kewat kewala sunya tan pangenangen rinasa-rasa rupeka tan hana), karena sunya itu sangat indah dan sukar dikatakan (kewat kewala sunya nirbana lengeng luput inangan-angen winarnaya). Sedangkan dalam kakawin Nirartha-prakreta Beliau menyatakan : Ketika hati telah tenang dan hening, halus dan cemerlang, kemudian menyusup ke alam sunya, akhirnya fikiran mencapai tingkat yang sempurna (ri heneng ikanang ambek tibra alit mahening aho, lengit atisaya sunya jnana anasraya wekasan).

Surya, Sunya, Suddha (suci) dan Windhu, adalah kata-kata kunci dengan makna yang sangat dalam, bagi orang yang mendambakan kesempurnaan. Sumber bacaan buku Wija Kasawur (2) Ki Nirdon. (RANBB)

Hari Raya Nyepi

Kebangkitan, Toleransi dan Kerukunan
Menurut agama Hindu, alam semesta ini pada mulanya kosong, sunyi, gelap gulita, tiada ada yang ada. Maka tibalah awal penciptaan, sebutir indung telur bernama Hiranyagarbha sakti merupakan benih pertama dari segala yang tercipta, disebut juga Mahadivya, pada awal yuga pertama. Inilah cahaya Brahman, Mahatman pertama, kekal abadi, tiada terlukiskan, cemerlang memancar kemana-mana, keseluruh penjuru. Ini adalah asal mula paling halus alam benda atau alam jasmani dan alam bukan-benda atau alam rohani. Dari indung telur cahaya Brahman ini terlahir Pitamaha, satu-satunya makhluk yang disebut Prajapati pertama. Continue reading