Category Archives: Pitra Yadnya

Ngayah Adalah Sebuah Proses

Ngayah adalah sebuah proses (opini nakbalibelog). Kita umat Hindu dimanapun berada sudah pasti mengenal istilah Ngayah, Ngaturangayah, Tedun Ngayah, atau bekerja bergotong-royong dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dalam suatu kegiatan keagamaan ataupun sosial budaya Bali lainnya. Ngayah, Ngaturangayah saat ini sepertinya sudah mulai efektif baik dari segi waktu pelaksanaannya maupun jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh Pengayah (orang yang Ngayah). Bila dahulu orang Bali Ngayah bisa dari pagi-pagi buta hingga siang hari dan dilanjutkan pada malam hari, kini Ngayah lebih efektif, karena mulai jam 7 pagi hingga jam 10 saja. Kenapa ? Ya karena sebagian pekerjaan telah dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional dibidangnya, berbeda dengan dulu, apa-apa dikerjakan secara bersama-sama.

Demikian pula dari segi pekerjaan yang dikerjakan, kini banyak menggunakan tenaga-tenaga profesional yang tentunya sangat membantu orang Bali dalam meng-efektif-kan waktunya dalam urusan Ngayah sehingga dapat difokuskan pada kegiatan bekerja mencari nafkah. Lebih-lebih kini segalanya dapat dibayar dengan uang, Ngayah pun dapat dibeli, Ayah-ayahan kita dapat diganti dengan sejumlah uang, dan kita terbebas dari kewajiban Ngayah. Entah sampai kapan ini akan terjadi, budaya Ngayah, Ngaturangayah mulai tergerus globalisasi, terpinggirkan oleh uang ….. Continue reading

MEGUMI PADANGAN

MEGUMI PADANGAN

Dangan artinya Dapur. Megumi Padangan di Dapur mengandung makna untuk mengingatkan bahwa setiap orang pasti akan berhadapan dengan masalah Dapur. Maksudnya setiap orang itu perlu menyiapkan diri guna hidup mandirisetelah nantinya berumah tangga. Mohon Pelukatan di Dapur mengandung arti bahwa orang yang akan melaksanakan Potong Gigi itu perlu bersih diri dulu. Natab Banten Sabuh Rah untuk Perempuan dan Banten Ngeraja Sawala untuk laki-laki sebagai simbolis untuk menyatakan diri kepada Bhatara Brahma dan Dewi Saraswati bahwa mereka (baik laki-laki maupun perempuan) telah siap baik fisik maupun mental dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang berhubungan dengan Dapur jika sudah berumah tangga. Megumi Padangan ini juga mengandung simbolis bahwa mereka siap untuk hidup berumah tangga.

Magumi Padangan adalah salah satu rangkaian upacara pada upacara Metatah atau mepandes atau potong gigi yang akan dilaksanakan oleh Suka Duka Banjar Ciledug, selengkapnya klik www.banjarciledug.org

Atha Sedhengira Mantuk

Atha sedhengira mantuk sang curalaga ringayun
Tucapa haji wirattan karyaca nangisi weka
Pinahajengira lawyan sang putrenalap iniwe
Padha litu hajeng anwan lwir kandarpa pinatelu

Lalu laranira naca sambat putranira pejah
Laki bi sira sumungkem ring putraluru kinusa
Ginamelira ginantikang lawyan lagi ginugah
Inutusira macabda kawajara bibi haji

Hana keleheng i kasih yan tunggal kita pejaha
Kita tiki kati galyus ndyanung panglipura lara
Syapa tiki palarengkwa muktyang raja sumiliha
Ri hilang tanayangkwa dungwang ywenaka pejaha

Na wuwusira masambat karwa strya pega malume
Inariwuwu tekap sang Cri Padwatmaja malara
Pinahayu kinabehan sampun purna rinuruban
Hinanyut i pajanging lek munggwing Pancaka gineseng

Kakawin Pitra Yadnya – Girica

Dewasa Tan Dewasa

Dewasa adalah hari yang dianggap baik, sedangkan Tan Dewasa atau Dewasa Hala adalah hari yang dianggap kurang baik dalam hubungannya dengan pekerjaan, upcara Yadnya atau hal-hal lain  yang akan dilaksanakan oleh umat Hindu. Ajaran Dewasa ini bersumber dari Sadangga Weda (Enam Cabang Weda), dimana salah satunya disebut Jyotisha yang berarti ilmu perbintangan (Astronomi). Dari Jyotisha ini berkembang menjadi ilmu Wariga, Dewasa, Wawaran (susunan hari). Dewasa merupakan kata dasar dari Pedewasan yang berarti Hari yang dianggap baik.

Umat Hindu sudah seharusnya tetap mempertahankan keyakinan ini, Padewasan sebaiknya jangan dianggap remeh. Banyak kehidupan kita yang tidak sesuai dengan harapan disebabkan oleh lunturnya keyakinan kita tentang Dewasa dan Tan Dewasa. Semua keyakinan kita sebagai umat Hindu bersumber dari kitab Suci Weda, bukan semata-mata budaya Bali. Lihat Kalender Penting Umat Hindu ditahun 2014.

Berikut Hala-Hayu Dewasa dan Tan Dewasa :

Dewasa Paguntingan (potong rambut) mengikuti Sapta Wara :

  1. Minggu (Redite) : Hala
  2. Senin (Soma) : Hayu, phahalanya panjang umur
  3. Selasa (Anggara) : Hala, Badan panas (Brahma)
  4. Rabo (Budha)  : Hayu, banyak orang kasih sayang
  5. Kamis (Waraspati) : Hala, Wibawa atau kekuatan menurun, musuh bertambag
  6. Jumat (Sukra) : Hala, Tiada kawan baik, disebut musuh
  7. Sabtu (Caniscara) : Hala, Umur pendek atau lebih cepat meninggal

Amretamasa

Dewaning Dewasa, karya hayu, membangun, segala yang dikerjakan baik sekali, perhitungan menurut Casih dan pananggal (Pananggal dan Pangelong simak pada akhir tulisan ini)

  1. Casih Kasa, Pananggal :10
  2. Casih Karo, Pananggal : 7
  3. Casih Ketiga, Pananggal : 9
  4. Casih Kapat, Panggal : 15
  5. Casih Kalima : Tilem
  6. Casih Kanem, Pananggal : 8
  7. Casih Kapitu, Pananggal : 13
  8. Casih Kawolu, Pananggal : 2
  9. Casih Kasanga, Pananggal : 6
  10. Casih Kadasa, Pananggal : 4
  11. Casih Desta, Pananggal : 5
  12. Casih Sada, Pananggal : 1

Amreta Dewa

Continue reading

Kanistaning Kanistama

Panca Yadnya adalah lima ajaran agama Hindu, yang merupakan satu bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh umat manusia di dalam kehidupannya sehari-hari. Sebab Tuhan menciptakan manusia beserta makhluk hidup lainnya berdasarkan atas Yadnya, maka hendaklah manusia memelihara dan mengembangkan dirinya, juga atas dasar Yadnya sebagai jalan untuk memperbaiki dan mengabdikan diri kepada Sang Pencipta yakni SangHyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

 Dalam agama hindu ada yang di sebut dengan tingkatan yadnya yakni :

  1. Nista yadnya
  2. Madya yadnya
  3. Utama yadnya

Tingkat Nista/Kanistama (sederhana).di mana dalam agama hindu tingkatan ini sering di sebut dengan tingkatan yang paling rendah atau kecil. Tingkat nista ini dibagi pula dalam tiga bagian.

  1. Kanistaning Kanistama yakni Upacāra yang paling kecil dari tingkatan Upacāra terkecil. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Pras Daksina. Baca Upakara Hari Raya Hindu.
  2. Madyaning Kanistama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang terkecil. Disanggar pesaksi (Surya) memakai banten Suci
  3. Utamaning Kanistama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang tergolong madyaning nista. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Dewa – Dewi.

Tingkat madya (menengah), tingkata ini beradasatu tingkat di atas nista yadnya dan berada di bawah nya utamaning yadnya. Tingkat menengah ini dibagi tiga bagian.

  1. Kanistaning madyama yakni Upacāra yang paling kecil dari tingkatan Upacāra yang menengah. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Dewa-Dewi.
  2. Madyaning madyama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang tergolong nistaning madya. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Catur rebah.
  3. Utamaning madyama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang tergolong madyaning madya. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Catur Niri dan banten dibawah/sor sanggar pesaksi menggunakan Caru lantaran memakai Angsa

Tingkat utama (yang paling besar/utama), utamaning nista adalah tingkatan yadnya yang paling atas dari semua tingkatan yang ada. juga dibagi dalam tiga bagian.

  1. Kanistaning utama yakni Upacāra yang paling kecil dari tingkatan Upacāra yang besar/utama. Disanggar pesaksi (Surya) sama dengan yang ada pada tingkatan Upacāra Utamaning madya.
  2. Madyaning utama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Kanistaning Utama. Upacāra yang tergolong madyaning utama, Disanggar pesaksi (Surya) memakai Catur Muka, sedangkan banten dibawah sanggar pesaksi (Surya) menggunakan Caru lantara memakai Kambing.
  3. Utamaning utama yakni Upacāra yang lebih besar diantara Upacāra-Upacāra Yajña lainnya. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Catur Kumba, sedangkan banten dibawah/sor sanggar pesaksi (Surya) menggunakan Caru lantaran memakai Kerbau

Yang menentukan sukses atau tidak suksesnya upacara Yadnya tidak terletak pada banten saja, tetapi yang lebih penting adalah niat berkorban dalam kesucian yang tulus dan iklas sebagaimana hakekat pengetian “Yadnya”. (RANBB)

BacaHari Raya Hindu, jangan hanya sekedar Seremonial

Nglungah

Nglungah, kecuali upacara Pitra Yajna, baik mapendem maupun mageseng, seperti yang dilakukan terhadap sawa orang dewasa, maka terhadap sawa anak-anak pun disebut Pitra Yajna, karena yang diupacarai adalah arwah.

Untuk atiwa-tiwa bagi anak-anak, diatur sebagai berikut :

  1. Anak-anak setelah tanggal gigi sama dengan orang dewasa.
  2. Bagi bayi yang berumur dibawah tigang sasihan, dilakukan dengan mependem saja, tanpa upakara (tidak boleh digeseng)
  3. Bayi Rare dan bayi yang sebelum tanggal gigi, lalu meninggal dunia, kemudian berkeinginan mengadakan atiwa-tiwa maka upacara semacam itu disebut Nglungah

Adapun tata cara pelaksanaannya, adalah sebagai berikut :

  1. Piuning ke Pura Dalem, Bebantennya; Canang meraka, daksina, ketipat kelanan, telur bekasem, segehan putih kuning.
  2. Piuning ke Mrajapati, Bebanten; Canang, ketipat, daksina peras.
  3. Piuning ke Sedahan Setra, Bebanten; Canang meraka, ketipat kelanan.
  4. Piuning Bangbang Rare, Bebanten; Sorohan, pengamheyan, pengulapan, peras, daksina. Kelungah nyuh gading disurat Om Kara.

Banten kepada roh bayi : Bunga pudak, bangsah pinang, kereb sari, punjung dan banten bajang. Tirtha pangrapuh yang dimohon di Pura Dalem dan Mrajapati.

Setelah banten-banten tersebut diatas semuanya ditempatkan di atas gegumuk bangbang maka yang menjalankan upakara, mulailah memuja, untuk memohon kepada Bhatara/Bhatari, secepatnya roh bayu kembali suci.

Kemudian selesai memercikkan tirtha-tirtha semuanya diatas bangbang, maka bangbang un diratakan lagi, sehingga tidak tampak gegumuk lagi. Demikian pula bebanten-bebanten itu pun, ditimbun (dipendem). Sumber buku Rare Angon dan Catur Yajna oleh Jro Mangku Pulasari. (RANBB).

Adat Bali Dikenal Sebatas Pakaian

Bila mau memasuki pura diwajibkan berpakaian adat, prewed dengan pakaian adat, atau pernikahan anak-anak muda dewasa ini sangat “mewah” dengan pakaian Adat Bali yang lengkap dengan keris. Demikianlah adat yang dikenal hanya sebatas pakaian. Sudahkah anak-anak muda Bali, tamu wisatawan mengetahui dengan jelas apa itu Adat Bali ? Di Bali ada beberapa hal yang berhubungan dengan Adat, seperti  Desa Adat, Hukum Adat, Lembaga Adat dan Tanah Adat

Adat Bali adalah adat yang bersumber kepada ajaran-ajaran Agama Hindu. Ini berarti bahwa keseluruhan dari Adat Bali, baik itu yang berhubungan dengan aspek budaya, maupun aspek hukumnya harus bertitik tolak dari segi ajaran Agama Hindu dan nilai-nilai budaya yang terdapat di kalangan masyarakat Adat Hindu itu sendiri yaitu dalam mereka menghubungkan diri dengan Hyang Widhi Wasa, dengan alam sekitarnya dan dengan sesamanya, yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana mengajarkan bahwa adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) antara manusia dengan wilayah tempat pemukiman dan alam sekitarnya, serta antara manusia dengan sesamanya, akan memungkinkan mereka untuk menikmati kesejahteraan dan kebahagiaan yang disebut Moksha dan Jagatdhita.

Adapun cara untuk melaksanakan hubungan-hubungan  tersebut dilukiskan dalam tiga kerangka ajaran Agama Hindu yaitu yang berkaitan dengan pengamalan Tattwa, Sila Sesana dan Upakara Yajna. Dalam bidang Tattwa misalnya Panca Sradha, Catur Purusartha, Tri Kaya Parisudha, Siwa Sesana, Widhi Tattwa, Purana Dewa, Purwa Gama, Yama Purana Tattwa dan sebagainya. Dalam bidang Sila Sesana, antara lain memahami makna yang terkandung dalam ajaran Catur Guru Bhakti, Sila Kramaning Aguron-guron, Wreti Sesana, Yama Brata, Yama Niama Brata, Sad Guna, Sad Atatayi, Sadripu, Catur Periksa dan lain-lain. Sedang dalam bidang Upakara Yajna melaksanakan Panca Yajna yang terdiri dari Dewa Yajna, Manusa Yajna, Pitra Yajna, Resi Yajna dan Butha Yajna baik dalam arti yang sempit maupun luas.

Secara umum Adat Bali diarahkan untuk membimbing warga adatnya melaksanakan Dharma agama yaitu mengamalkan ajaran Agama Hindu seutuhnya dan mengamalkan Dharma Negara atau menjalankan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya sebagai warga bangsa dan warga negara di bawah bimbingan pemerintah.

Adat Bali bukan sebatas pakaian atau penampilan luar saja, namun sangat penting dan utama adalah pada pemahaman ajaran agama Hindu diatas. Semoga masyarakat Bali dalam memperkenalkan Adat Bali tidak sebatas pakaian, tarian, sejarah, tempat suci, pura, namun juga inti dari Adat Bali yang sebenarnya, yang bersumber dari ajaran agama Hindu. Sehingga tidak ada lagi dualisme sebagian masyarakat kita, dimana objek wisata, budaya,  dan  alam Bali di sanjung (lebih tepat dieksploitasi ) habis-habisan tetapi ajaran agama Hindu yang suci dilecehkan dan dihinakan.

(RANBB)