Category Archives: Pujawali

Membuat Daksina Pralingga

Membuat Daksina Pralingga. Perlengkapan yang diperlukan adalah; Bokor dari perak, Benang Bali Tukelan, Bunga yang harum, dan Uang Kepeng Bolong Satakan. Baca Kekuatan Magis Uang Kepeng.

IMG_7481

Daksina Pralingga

 

Cara menyusun Daksina Pralingga adalah sebagai berikut :

Continue reading

Pujawali : Memuliakan Dan Nunas Waranugraha

Agama Hindu. Pujawali pura Hindu di Indonesia memiliki makna memuliakan kembali Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha dari segala Maha yang ada. Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha Pencipta, Maha Pemelihara dan Maha Pelebur alam semesta beserta isinya. Pada saat Pujawali merupakan saat yang paling tepat memohon waranugraha. Pada saat Pujawali waktu yang sangat baik untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang penuh keiklasan, ketulusan, rasa bakti kepada umat, agama dan tentunya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Agenda Banjar Ciledug untuk Ngiring Pekuluh saat Pujawali pura di Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang  dan Banten berdasarkan Dedudonan  2015. Semua Agenda ini akan menyesuaikan dengan Panitia Pelaksana Pujawali dari masing-masing pura. Kunjungi banjarciledug

31 Januari 2015 : Sabtu

  • Saniscara Kliwon Krulut : Tumpek Krulut
  • Pujawali Pura Kertha Jaya, Tangerang
  • Pujawali Pura Raditya Dharma Cibinong
  • Upakara dipersiapkan oleh Tempek Parung Serab

Continue reading

Resume Pembinaan Umat

Pembinaan umat dalam rangka piodalan Pura Dharma Sidhi oleh I Kadek Sanjana Duaja Pembimbing Masyarakat Hindu Kanwil Kementrian Agama Propinsi Banten, Ciledug 1 September 2014. Website banjar Ciledug www.banjarciledug.org

Selaku Pembimas Propinsi Banten yang dilantik pada 2 Februari 2012 bapak Prof. I Kadek Sanjana Duaja bertugas membimbing masyarakat Hindu yang ada di seluruh propinsi Banten yang meliputi 7 (tujuh) pura yang tersebar di Serang, Ciledug, Tangerang, Rempoa, BSD, dan Tigaraksa. Kegiatan umat Hindu di lingkungan pemerintahan diwakili oleh parisada-parisada, seperti PHDI Kota, PHDI Kabupaten. Sedangkan di tingkat kecamatan adalah banjar suka-duka.

Pelaksanaan pujawali-pujawali pura pada umumnya berdasarkan pawekon (wuku) yang dilaksanakan setiap 6 (enam) bulan sekali, dan berdasarkan sasih (bulan) yang datangnya setiap 1 (satu) tahun sekali. Lihat Kalender Hindu

Pujawali = piodalan = petirtan, semua ini memiliki kesamaan arti sehingga penggunaannya di dalam masyarakat tidak perlu diperdebatkan. Pujawali yang berkaitan dengan Yadnya didasari oleh hutang (Rnam) yang sejak lahir kita sudah terikat dengan hukum karma, yaitu karmawacana. Tri Rnam (hutang) inilah yang menyebabkan adanya Panca Yadnya. Dewa Rnam meliputi Dewa Yadnya dan Butha Yadnya, Rsi Rnam berkaitan dengan Rsi Yadnya dan Pitra Rnam meliputi Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya.

Piodalan/pujawali/petirtan memiliki makna mengungkapkan rasa syukur ‘angayubagia’ atas berlangsungnya proses karma di alam ini. Piodalan juga merupakan konsep pendidikan sosial dan spiritual yang berkesinambungan, sehingga bagi umat Hindu pujawali adalah segalanya. Berdana punia, perbaikan, renovasi, dan lain sebagainya sering dilaksanakan pada pujawali ini.

Dalam hal peranan PHDI, PHDI memiliki peranan dalam menyampaikan aspirasi umat ke pemerintahan daerah, sehingga apapun aspirasi kita untuk kemajuan daerah disampaikan kepada PHDI, baik itu Kota, Kabupaten dan Propinsi. Untuk kegiatan kepemudaan ditingkat banjar adalah STHD sedangkan ditingkat propinsi adalah IPHB ( Ikatan Pemuda Hindu Banten ), demikian pula PWSHD (Persatuan Wanita Suka Duka Hindu Dharma) berada di tingkat banjar yang diwakili oleh WHDI untuk tingkat propinsi.

Tugas PHDI

  • Menetapkan bhisama (fatwa)
  • Menjembatani hubungan umat Hindu dengan pemerintah
  • Membina semua organisasi/lembaga keagamaan yang bernafaskan Hindu
  • Menjaga kerukunan baik intern, antar dan antara umat Hindu dengan pemerintah dalam mewujudkan kedamaian

Kepemangkuan. Pemangku, Pinandita memiliki wewenang penuh di Uttama Mandala. Continue reading

Kanistaning Kanistama

Panca Yadnya adalah lima ajaran agama Hindu, yang merupakan satu bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh umat manusia di dalam kehidupannya sehari-hari. Sebab Tuhan menciptakan manusia beserta makhluk hidup lainnya berdasarkan atas Yadnya, maka hendaklah manusia memelihara dan mengembangkan dirinya, juga atas dasar Yadnya sebagai jalan untuk memperbaiki dan mengabdikan diri kepada Sang Pencipta yakni SangHyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

 Dalam agama hindu ada yang di sebut dengan tingkatan yadnya yakni :

  1. Nista yadnya
  2. Madya yadnya
  3. Utama yadnya

Tingkat Nista/Kanistama (sederhana).di mana dalam agama hindu tingkatan ini sering di sebut dengan tingkatan yang paling rendah atau kecil. Tingkat nista ini dibagi pula dalam tiga bagian.

  1. Kanistaning Kanistama yakni Upacāra yang paling kecil dari tingkatan Upacāra terkecil. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Pras Daksina. Baca Upakara Hari Raya Hindu.
  2. Madyaning Kanistama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang terkecil. Disanggar pesaksi (Surya) memakai banten Suci
  3. Utamaning Kanistama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang tergolong madyaning nista. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Dewa – Dewi.

Tingkat madya (menengah), tingkata ini beradasatu tingkat di atas nista yadnya dan berada di bawah nya utamaning yadnya. Tingkat menengah ini dibagi tiga bagian.

  1. Kanistaning madyama yakni Upacāra yang paling kecil dari tingkatan Upacāra yang menengah. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Dewa-Dewi.
  2. Madyaning madyama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang tergolong nistaning madya. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Catur rebah.
  3. Utamaning madyama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang tergolong madyaning madya. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Catur Niri dan banten dibawah/sor sanggar pesaksi menggunakan Caru lantaran memakai Angsa

Tingkat utama (yang paling besar/utama), utamaning nista adalah tingkatan yadnya yang paling atas dari semua tingkatan yang ada. juga dibagi dalam tiga bagian.

  1. Kanistaning utama yakni Upacāra yang paling kecil dari tingkatan Upacāra yang besar/utama. Disanggar pesaksi (Surya) sama dengan yang ada pada tingkatan Upacāra Utamaning madya.
  2. Madyaning utama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Kanistaning Utama. Upacāra yang tergolong madyaning utama, Disanggar pesaksi (Surya) memakai Catur Muka, sedangkan banten dibawah sanggar pesaksi (Surya) menggunakan Caru lantara memakai Kambing.
  3. Utamaning utama yakni Upacāra yang lebih besar diantara Upacāra-Upacāra Yajña lainnya. Disanggar pesaksi (Surya) memakai Catur Kumba, sedangkan banten dibawah/sor sanggar pesaksi (Surya) menggunakan Caru lantaran memakai Kerbau

Yang menentukan sukses atau tidak suksesnya upacara Yadnya tidak terletak pada banten saja, tetapi yang lebih penting adalah niat berkorban dalam kesucian yang tulus dan iklas sebagaimana hakekat pengetian “Yadnya”. (RANBB)

BacaHari Raya Hindu, jangan hanya sekedar Seremonial

Diwali is a Major Festival of India

Diwali adalah festival besar di India (3/11). Hal ini dirayakan pada malam bulan baru kadang-kadang di bulan Oktober dan November. Yang tepat hari festival diputuskan menurut kalender Hindu . Hari itu terutama dirayakan untuk memperingati kembalinya Lord Rama dari 14 tahun masa pengasingan . Namun, ada berbagai cerita lain yang terkait dengan festival .

Menurut legenda populer , ketika Lord Rama kembali dari 14 tahun masa pengasingan setelah mengalahkan Raavana , rakyat Ayodhya lilin menyala dan diya untuk merayakan kembali ke kerajaan . Festival ini mendapatkan namanya dari garis diya yang merayakan kembalinya Lord Rama , dan karenanya nama Deepavali , secara harfiah menerjemahkan ke ” garis cahaya . ” Nama telah mendapat berbelit-belit untuk Diwali selama bertahun-tahun . Hari ini melambangkan kemenangan terang atas gelap.

Continue reading

Hinduism divides a person’s life in four stages or Asramas

Four stages of life

Hinduism not only tells you the aims of life but it also shows the practical way to how to achieve those aims. To do this, Hinduism divides a person’s life in four stages or Asramas:

1. Brahmacharya-Asrama.

2. Grihastha-Asrama.

3. Vanaprastha-Asrama.

4. Sannyasa-Asrama.

In the old times, people used to live for about 100 years or more. Therefore, a person’s life span is assumed to be about hundred years and each stage is expected to last for about 20 to 25 years. The second asrama is expected to last longer compared to others. Remember, this is a guideline and not a compulsion to anybody, even for the Brahmins (priests) but it was an ideal way to live a well-planned life.

1. Brahmacharya-Asrama:

Brahmacharya means celibacy. This is the student phase of life. In this Asrama, one is supposed to acquire knowledge from his teacher and to remain celibate. The stage generally starts from 8 years of age. The student is introduced to his Guru through a ceremony called “Upanayana.”

Notably, this stage is only for boys and not for girls and the student needs to stay with his teacher until he finishes his studies. This stage ends at the age 20 to 25 or less depending upon the situation.

2. Grihastha-Asrama:

Grihasthashrama means the stage of life when the person is married and has to fulfill all his duties towards his wife, children, father, and mother. This stage starts when Brahmacharya Asrama ends. So, this is the second stage of life. During this stage, he has to earn his livelihood by using his skills he learnt from his teacher during Brahmacharya Asrama. This is the most important stage of life and tends to last longer than other stages. During this stage, he is authorized to enjoy “Kama” as well as he has to work hard to secure “Artha.”  This stage is expected to end at 50 years of age.

3. Vanaprastha-Asrama.

Vanaprastha means “going to the forest.”  This is the third stage of life. This is the stage when the person is to retire, give up sexual life, give up all the possessions to children, and enter the forest. He could leave his wife to the care of his sons or allow her to accompany him. He will live as a hermit, surviving on alms.

Jasa Perspektif 3d 0812 9489 4000

Jasa Perspektif 3d 0812 9489 4000

Notably, a person cannot enter Vanaprasthashrama unless and until his daughters are married and his sons are able to earn their own livelihood. This ensures that the person completes all his duties towards his families.

4. Sannyasa-Asrama:

Sannyasa means complete renunciation. This is the last stage of life and may start at 75 years of age but there is no such restriction of age. He is to dedicate himself entirely to spirituality. He is to live on fruits and roots found in the jungle. He is not allowed to eat cooked food or beg for alms. He needs to avoid unnecessary contacts with anybody. He does not need to care about his body. He is to practise austerities and thus be prepared for salvation. If he follow this stage properly, he would be released from the cycle of birth and rebirth and would attain Moksha (salvation).
Continue reading

Sembahyang Purnama dan Tilem Menurut Prasna Upanisad

Emas dari Bali

Kembang Kamboja Bali

Umat Hindu Dharma. Kita hidup di dalam waktu, dalam sejarah. Pergantian waktu dianggap penting bagi kehidupam manusia di dunia ini. Manusia lahir, menjadi dewasa, tua dan mati, semua proses ini terjadi dalam waktu. Pergantian waktu membawa perobahan dari hidup kita, secara biologis maupun mental. Pergantian waktu bisa dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, seabad atau semilenium.

Mengenai sembahyang Purnama dan Tilem ada teks dalam Upanisad yang menyatakan sebagai berikut : “Bulan sesungguhnya adalah tuan dari penciptaan. Dari padanya bagian yang gelap sesungguhnya materi, dan bagian yang terang adalah kehidupan. Oleh karena itu para rsi melaksanakan ritual mereka pada waktu terang (Purnama), beberapa dalam waktu gelap (Tilem)”. Prasna Upanisad I.12.

Teks ini berkaitan dengan pertanyaan tentang penciptaan. Dari mana datangnya seluruh ciptaan ini ? Maharsi dari Upanisad menjawab : “Pada awalnya Sang Pencipta merindukan kebahagiaan penciptaan. Dia tetap dalam meditasi, lalu datang Rayi, materi dan Prana, kehidupan.  Yang Dua ini akan menghasilkan ciptaan bagiku. “

Matahari, bulan , hari, makanan adalah bagian penciptaan. Matahari melambangkan kehidupan dan Bulan melambangkan materi. Tanpa materi, kehidupan atau jiwa tidak bisa hadir di dunia nyata ini. Dan ketika jiwa sudah hadir dalam tubuh di dunia ini, ia memerlukan materi, makanan dan minuman, agar dapat terus  hidup dalam badan fisik ini.

Teks selanjutnya berbunyi :
“Demikianlah, mereka yang mempraktikan aturan (hukum) dari Penguasa Penciptaan, menghasilkan yang kembar. Hanya kepada mereka Brahma Loka, di dalam mana tapasya, kemurnian dan kebenaran didirikan .”  Prasna Upanisad I.15.

Mereka yang mempraktikkan aturan Sang pencipta, pada gilirannya menjadi para pencipta dan seperti dia menghasilkan yang kembar. Ciptaan mereka tentu tidak sama dengan ciptaan Tuhan. Menghasilkan yang kembar artinya, menghasilkan Kehidupan dan Materi. Yang dimaksud dengan menghasilkan Kehidupan dalam Upanisad adalah menghasilkan atau mencapai kebahagiaan rohani. Materi, dalam arti harta benda dan juga kama.

S. Radhakrishnan mengatakan, para maharesi Upanisad tidaklah buta terhadap ketidak berdosaan alam dan keindahan kehidupan seksual dan cinta kasih orang tua.

Jasa Perspektif 3d 0812 9489 4000

Jasa Perspektif 3d 0812 9489 4000

Kepada mereka ada Brahma Loka yang tidak ternoda, di mana di dalamnya kejahatan, kepalsuan atau tipuan tidak hadir. Prasna Upanisad I.16.

Buku Hindu Menjawab 2 Susila dan Upakara oleh Ngakan Made Madrasuta. (RANBB)