Category Archives: rare angon

Youtuber itu Kerja atau Hobby ??

Dalam 10 tahun terakhir sepertinya kata Youtuber makin meroket dan terus meroket, dari kalangan muda-muda kemudian ke anak-anak kini merambah ke orang dewasa dan sudah menjelang senja … Hampir setiap detik dalam dunia informasi yang cepat ini menyangkut kata-kata Youtuber. Padahal secara sederhana Kata Youtuber itu artinya tidak lain adalah pengguna Youtube, yaitu sebuah media untuk berbagi aneka vidio-vidio yang kita miliki. Sepertinya pada awal Youtube lebih digunakan sebagai media menyimpan hasil rekaman kita yang dalam bentuk vidio, yang kemudian bisa di tonton oleh orang lain. pemilik akun pada youtube sering disebut channel. Misal Sobat Budiasa Channel

Iseng googling mengenai Youtuber, ternyata sudah banyak sekali yang membahas mengenai kegiatan yang satu ini, yaitu menjadi Youtuber. Coba saja ketik pada kolom google, anda akan disuguhkan kata kunci seperti Youtuber penghasilan, Youtuber Indonesia, Youtuber Pemula, Youtuber Film, Youtuber Terkaya, Youtuber Subscriber Terbanyak, dan lain sebagainya. Yang menarik bagi Admin Rare Angon Nak Bali Belog, ada Youtuber adalah profesi… Youtube yang dulu belum dilirik orang kini semakin banyak dan populer sebagai sebuah profesi atau sebagai pekerjaan. Dan kata Youtuber yang awalnya hanya berkonotasi sebagai pengguna Youtube, kini memiliki pengertian bahwasanya Youtuber itu adalah Bekerja di Youtube. Atau mungkin juga Youtuber itu orang yang penghasilannya dari Youtube.

Kira-kira dari mana datangnya penghasilan kita sebagai Youtuber ? Setelah cari-cari info, ternyata selain dari iklan yang kita sampaikan pada vidio kita, juga diperoleh dari ketrampilan kita dalam menge-dit vidio-vidio yang kita unggah. Sehingga Youtber bukan sekedar hobby, tetapi juga menghasilkan uang. Jadi kreativitas kitalah yang sebenarnya dihargai atau dikompensasi oleh iklan, dan yang lebih nya lagi, kreativitas yang unik dan profesional justru penghasilannya datang karena dipekerjakan oleh pihak-pihak yang membutuhkan ketrampilan kita tersebut. Seperti kemampuan kita mengambil sudut gambar, angle, atau shake tidaknya vidio-vidio kita, fokus dan penuh imajinasi yang kreatif. Semua ini tergambar dari vidio yang kita unggah yang kemudian pihak profesional bisa mempekerjakan kita. Mungkin itu secara teknis yang tergantung pula dari peralatan yang digunakan Youtuber ada yang pro ada yang amatir. Seperti Sobat Budiasa Channel

Gimana kalo Youtuber dengan alat perekam seadanya ? Seperti menggunakan Handphone ?. Janganlah khawatir akan kesempatan memperoleh penghasilan dari Youtuber, atau dipekerjakan oleh pihak yang membutuhkan. Seperti admin Rare Angon Nak Bali Belog sampaikan diawal, bahwasanya kreatifitaslah yang mendorong pihak terkait menggunakan jasa anda. Ide-ide yang selalu kreatif tercermin dalam vidio-vidio yang kita unggah bisa pula membangkitkan pihak lain yang membutuhkan team kreatif misalnya. Dapat pula karena keberanian dalam berakting, atau kemampuan berkomunikasi, berbicara, atau akting seperti film-film, tidak menutup kemungkinan anda akan dipanggil pihak perfileman. Ayo Youtuber selalu kreatif dalam mengunggah vidio-vidio anda, selain dari iklan semoga ada pihak yang memperkerjakan kreatifitas anda.

Admin Rare Angon Nak Bali Belog, bukanlah Youtuber karena vidio-vidio yang ada pada sobat budiasa channel hanyalah rekaman kegiatan-kegiatan yang dilakukan atas kebetulan saja ada pada waktu yang tepat dan tempat yang tepat, atau the right place and the right time. Berikut beberapa vidio kegiatan saja…

Vidio Ngayah Nuur Tirtha ke Parahyangan Agung Jagatkartta

Mebat Bukan Merebat

Mereviw Buku Bacaan Sendiri

Kadung Tuman

Apang Tusing Kadung Tuman ipun melaksana ane corah, merupakan kutipan satua Bali yang sering kita baca. Nah apakah artinya Kadung Tuman ? Kalau kata yang lain tentu sudah dipahami. Apang Tusing = Agar tidak, ipun melaksana = ia melakukan perbuatan, ane corah = yang tidak baik. Jadi kata Kadung Tuman bisa diartikan Kebiasaan, sesuatu yang dilakukan sering-sering, kegiatan berkala, atau terbiasa. Bila kita satukan kalimat basa Bali “Apang Tusing Kadung Tuman ipun melaksana ane corah ” dapat diartikan dalam bahasa Indonesia “Agar tidak menjadi kebiasaan ia melakukan perbuatan yang tidak baik”. Kadung Tuman ngae Hoak, Kebiasaan membuat Hoak. Kadung Tuman itu berkonotasi ke arah yang negatif, perbuatan tidak baik. Jadi kata Tuman berasal dari bahasa Bali.

Saat inipun sedang Viral kata Tuman, entah itu bahasa dari daerah mana. Awalnya admin pikir dari bahasa Bali, Kadung Tuman. Ternyata khasanah bahasa daerah kita sangat dekat satu sama lainnya. Mungkin saja Tuman berasal dari bahasa Bali ? atau Tuman dari bahasa Sunda ? atau juga bahasa Betawi ? . Namun kedekatan bahasa Tuman dengan Kadung Tuman itu bisa saja artinya berbeda. Mungkin juga sebaliknya Tuman dalam bahasa Bali memiliki kemiripan dengan Tuman dari bahasa daerah lainnya, yang sedang viral saat ini. Kata Kadung Tuman yang admin sampaikan ini bukan baru saja ada semenjak viral kata Tuman, tetapi sudah ada sejak dulu menjadi kosa kata basa Bali. Secara pergaulan yang admin rasakan sepertinya memiliki kemiripan makna, baik itu Kata Tuman dalam basa Bali maupun kata Tuman dari bahasa daerah lain, entah itu Sunda, Betawi, Jawa, Sumatra atau mungkin juga basa daerah Papua, Maluku, Ambon, tetapi yang pasti bukan bahasa Inggris hehehe…

Karena majunya teknologi informasi saat ini, menjadi viral itu sangat mungkin kita dapatkan, entah itu sengaja kita buat, atau faktor ketidak sengajaan. Yang utama adalah kreativitas yang tak pernah berhenti, sebab kreativitaslah yang menyebabkan sesuatu menjadi viral. Banyak hal yang viral dalam dunia informasi saat ini, ada yang bertahan lama ada pula yang hanya sesaat. Yen cara Baline wah abulan pitung dina, hanya 1 bulan 7 hari atau 42 hari hehehe…

Nah amonto malu Rare Angon Nak Bali Blog nyatua, lantang satua ne liu ane pelih, apang tusing Kadung Tuman milu-milu bawang, yaa segitu dulu admin bercerita, banyak cerita banyak salah, agar tidak menjadi kebiasaan ikut-ikutan tapi tidak ngerti.


Filosofi Menggali Sumur Dalam Belajar Agama

Belajar agama dapat diibaratkan seperti menggali sebuah sumur. Banyak orang bangga dan terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan sesaat setelah sumur yang mereka gali sudah mendapatkan air. Dangkal, bahkan sangat dangkal, namun mereka sudah menyombongkan diri sebagai orang yang bisa bicara agama, bisa men-Dharma Wacana-kan, men-siar-kannya. Sumur yang dangkal hanyalah air permukaan yang masih tercampur dengan air comberan got rembesan “saptic tank” sehingga tidak jarang orang-orang yang bicara agama dengan ilmu yang dangkal sama seperti comberan, mulut comberan bau kotoran. Mirip Blog ini.

Galilah lebih dalam sumur anda, pelajarilah lebih dalam agama anda sebelum berbicara tentang kejernihan air sumur anda, tentang kemurnian agama yang anda anut. Tak perlu untuk buru-buru bicara sebelum tahu persis bau mulut kita sendiri yang masih berbau comberan akibat air sumur yang dangkal, akibat dari pengetahuan kita mengenai agama masih dangkal. Beranikah anda menggali sumur lebih dalam dan dalam lagi ? Beranikah anda untuk belajar tentang agama lebih dalam lagi ? Kembali kepada egoisme anda saat ini, saat egoisme sudah menguasai sulit rasanya anda untuk belajar agama lebih dalam, sulit untuk mendapatkan air yang jernih tanpa bau comberan. Mirip Blog ini.

Baca Juga : Jangan Belajar Agama di Internet.

Menggali sumur ada seninya, ada usaha kerja kerasnya, ada pengorbanannya, ada ketabahannya, ada keikhlasannya dan ada pula rasa jenuh untuk menggalinya. Demikian pula dalam belajar agama, ada seninya, ada usaha yang harus dilakukan, ada kegembiraan, ada kebanggaan yang dalam saat-saat menemukan kemurnian pengetahuan tersibak diantara bebatuan, setelah anda berusaha menggali untuk mendapatkan sumber air yang pertama. Sumber air pada permukaan yang dangkal jadikanlah sebagai pemacu semangat untuk mendapatkan air yang lebih jernih lagi. Pengetahuan awal tentang agama jadikanlah sebagai dasar yang kuat untuk mendalami pengetahuan agama yang lebih tinggi. Cukup rasakan dahulu sendiri air dari sumur anda, tak perlu untuk di-siar-kan ke tetangga, bahwasanya air anda sudah jernih, bahwasanya agama anda itu sudah menyejukkan. Rasakan hingga benar-benar kita merasa sehat, tidak mual karena bau comberan, rasakan jiwa kita mendapat ketenangan tidak menyebabkan tetangga kita merasa “mual” melihat kelakuan anda beragama. Mirip Blog ini.

Kita harus berani menggali lebih dalam galian sumur untuk mendapatkan kemurnian air, kita harus berani memperdalam pengetahuan agama agar memperoleh kemurnian agama itu sendiri. Belum terkontaminasi dengan air comberan bekas cucian orang, atau air rembesan penampungan kotoran orang, pengetahuan agama yang kita pelajari bukan hasil penafsiran dari penafsiran yang ditafsirkan orang. Cobalah gali sendiri hingga lebih dalam, sehingga kita mendapatkan air dari sumber yang lebih dalam sehingga menjadi lebih jernih, dan baunya berkurang. Pelajarilah pengetahuan agama dari berbagai sumber menuju sumber yang lebih dalam (filsafat) hingga kita dapat memahami lebih pada pengetahuan agama itu. Mirip Blog ini.

Baca Juga : Belajar Nge-Leak Mengasikkan

Belajar sejarah agama menjadi penting bagi orang yang ingin memperdalam agamanya. Sejarah, sesuatu yang benar-benar terjadi yang tercatat oleh alam, terekam dalam bentuk-bentuk yang unik oleh alam, tersimpan rapi dalam lapisan-lapisan tanah sumur yang kita gali, dalam lembaran-lembaran buku yang kita pelajari. Setiap lapisan tanah menyimpan sejarah dari sebuah episode peradaban dan akan menuju pada satu titik peradaban yang sama, setiap sumber ilmu pengetahuan agama yang dipelajari akan menuntun kita pada sumber yang sama. Beranikah kita untuk mempelajari sejarah agama kita ? Beranikah kita mengetahui dari mana sumber kita sebenarnya ? Peradaban adalah guru yang menuntun kita dalam mendalami agama, peradaban menunjukkan bagaimana kejernihan yang sebenarnya dari ilmu pengetahuan yang kita pelajari saat ini dan kita akan mendapat jawaban atas pertanyaan, dari mana sumber ilmu pengetahuan itu sebenarnya ? Mirip Blog ini.

Orang yang masih dikuasai egoisme, akan berhenti pada penggalian sumur pertama saat ia menemukan sumber air, tak peduli apakah air itu bau comberan, bau kotorannya sendiri atau terkontaminasi zat kimia beracun lainnya. Menikmati air yang terkontaminasi sama saja dengan mengendapkan racun pada badan kita, belajar agama dari sumber dengan pengetahuan yang dangkal, sama saja dengan menjerumuskan jiwa kita ke dalam kesengsaraan. Apalagi air sumur yang dangkal, tidak kita jernihkan dengan penyaringan-penyaringan, diendapkan kotorannya, demikian juga pengetahuan yang kita terima tanpa ada pemahaman-pemahaman secara bertahap pada intelektual kita, kemudian ke nalar hingga kepada hati sanubari kita sebagai penentu kebijaksanaan yang paling utama. Akan sangat berbahaya bila belajar agama tanpa menggunakan hati sanubari, tak ubahnya anda adalah sebuah mesin robot yang hidup tetapi tidak memiliki perasaan. Mirip Blog ini.

Baca Juga : Pengetahuan Versus Kebodohan

Okelah … kita belajar agama untuk masing-masing tujuan yang berbeda-beda, untuk ekspresi jiwa yang tidak sama, untuk duniawi atau untuk alam sana. Namun bila mau sedikit saja anda membuka hati sanubari anda dalam belajar agama, maka yang menjadi tujuan belajar agama tidak lain adalah untuk kebahagiaan duniawi dan akhirat. Kebahagiaan dunia kebahagiaan semua orang, tetangga, teman, kerabat dan segala sesuatu diluar diri anda. Kebahagiaan Sorga yang kita kejar tak akan tercapai bila anda menciptakan kesengsaraan di dunia ini, sebab kesengsaraan yang anda ciptakan melekat pada jiwa anda, jiwalah yang menuju pengadilan akhirat, jiwalah yang akan menjadi saksi di akhirat. Masihkah anda bisa berbohong dihadapan Sang Pengadil ?

Hanya Sebuah Opini, untuk Introspeksi Diri Rare Angon Nak Bali Belog

 

Patuturing Yowana; Petuah Untuk Pemuda

Dharma Wacana

Patuturing Yowana

Yg kami hormati, para pembaca, para yowana ring sajebag jagat

Dengan menghaturkan panganjali umat OM SWASTIASTU, ijinkan saya menyampaikan Dharma Wacana melalui blog NakBalibelog ini,

Om Swastiastu

Pertama2 marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadapan Ida Sesuhunan kita, atas segala nikmat dan karunia-Nya kita dalam keadaan sehat walafiat.

Kesempatan yang berbahagia ini marilah kita gunakan untuk berbagi ilmu pengetahuan, marilah kita belajar memberi dan menerima, marilah kita belajar karena pada intinya hidup ini adalah untuk belajar dan belajar..

Dengan kerendahan hati, ijinkan kami menyampaikan Dharma Wacana ini, tanpa bermaksud menggurui, nasikin segara ring semeton sane sampun pradnyan parindikan tattwa, susila utawi upakara, tiga komponen dasar kita sebagai umat Hindu. Mawit saking manah suci nirmala, titiang naler kari melajahang dewek parindikan napi sane kawedarang titiang mangkin.

Apa yang titiang sampaikan juga menjadi pembelajaran bagi titiang pribadi, semoga idadane berkenan untuk mendengarkan.

Kawitin titiang antuk tembang Kawi, tembang kawyamandala …

 PATUTURING YOWANA

Yayi, yayi, kakanta mojar ring kita

Yayi, yayi, mangke dumateng dadi raki Continue reading →

Bersepeda Ke Pura Gunung Salak

Bersepeda Ke Pura Gunung Salak

Rabu, 14 Desember 2016. Merupakan hari yang membahagiakan bagi Saya. Bahagia dan Plong …. Menepati janji yang pernah diikrarkan dalam hati. Menunggu penuh kesabaran dari hari ke hari hingga tak terasa hingga tiga tahun lamanya, Janji yang pernah diikrarkan belum juga terlaksana. Hampir lupa akan janji itu…. Janji itu “Suatu saat Tiang ingin Nangkil ke Luhur dengan bersepeda” ( Saya Ingin Ke Pura Parahyangan Agung Jagatkartta / PAJK Gunung Salak dengan Bersepeda ). Sejatinya saya bukan Goweser seperti teman-teman seperjalanan yang lain, namun Janji tetaplah janji yang harus saya jalani dan penuhi. Hanya semangat dan mental yang membuat saya bisa menyelesaikan perjalanan ini. Tak sepenuhnya saya jalani dengan diatas sepeda (gowes), setiap tanjakan pada setengah perjalanan saya jalani dengan menuntun sepeda. Terutama setelah lepas dari pasar Ciampea, tanjakan terus dan menerus. Yang bisa saya gowes pastinya digowes kalo ga ya… dituntun saja.

img-20161214-wa0059

945855_10208415278399969_1770094467970609168_n

Pura di Jakarta dan Tangerang yang Saya telah Kunjungi sambil bersepeda dari rumah di Bintaro  adalah Pura Tamansari Halim Perdana Kusuma, Pura Amertha Jati Cinere, Pura Dharma Praja, Pura Agung Widya Mandala Lenteng Agung, Pura Agung Wira Dharma Samudra Cilandak, Pura Dharma Sidhi, Pura Parahyangan Jagat Guru BSD, Pura Mertha Sari Rempoa dan yang baru seminggu yang lalu Parahyangan Agung Jagatkartta Tamansari Gunung Salak Bogor yang berjarak 63 KM. Seperti dalam album foto di https://www.flickr.com/photos/dagang_tuak_bali/albums

Continue reading →