Category Archives: Renungan

Menelisik Misteri Sabdo Palon

Dalam upaya menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya mengawali dengan mengkaji Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon. Di sini tidak akan dipersoalkan siapa yang membuat karya-karya tersebut untuk tidak menimbulkan banyak perdebatan. Karena penjelasan secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan pendekatan spiritual dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada satu titik terang. Dan akhirnyapun dapat dirunut secara logika historis.

Menarik memang di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon ? Karena kata ”Sabdo Palon Noyo Genggong” sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V ( memerintah tahun 1453 – 1478 ) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo ( 1135 – 1157 ) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :

…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.

  • …; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tri tunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.

Continue reading

Bhagavadgita II.47

Karmany Evādhikāraste

Mā Phaleshu Kadācana

Mā Karma Phala Hetur Bhūr

Mā Te Sango`Stv Akarmaṇy

                        (Bhagavadgita II.47)

Kewajibanmu Kini Hanya Bertindak

Bekerja Tanpa Terikat Pada Hasil

Jangan Sekali Pahala Menjadi Motifmu

Jangan Pula –

Hanya Berdiam Diri Jadi Tujuanmu

Hidup itu Menunggu Kompor

Hidup itu menunggu kompor. Yach begitulah pepatah orang Bali. Sebuah pepatah yang penuh dengan makna yang sangat dalam bagi orang Bali. Kompor sebagai “finishing” badan kasar kita untuk kembali ke Panca Maha Butha. Maka orang Bali sangat bijaksana dalam menyikapi hidupnya sehari-hari, penuh dengan toleransi, kebahagiaan, ketulusan hati, kedermawanan, kesederhanaan, kesabaran, kesetiaan, karena mereka tahu persis bahwa sang jiwa dalam menuju ke alam Sorga hanyalah ditemani karma wacananya. Tidak ada harta benda duniawi yang akan dipanggulnya, tidak ada uang dalam dompetnya, tidak ada batu permata dalam jari-jemarinya, tidak dalam mobil mewah dalam perjalanannya,  termasuk badan kasarnyapun harus dikembalikan kepada Yang Maha Pemilik. Menjadi tugas kompor untuk memproses kembalinya Panca Maha Butha ke asalnya. Proses ini sering disebut Kremasi.

IMG_20160401_145901Dahulu, kompor ini dengan bahan bakar “lengis gas” (minyak tanah) yang tempatnya digantung diatas pohon agar bahan bakar dapat turun ke kompor dengan baik. Proses Kremasi di Bali semakin berkembang dari jaman-ke jaman, Teknologi dapat dengan mudah mempengaruhi kebiasaan orang Bali dalam melaksanakan upacara. Tetapi teknologi tidak mempengaruhi makna upacara keagamaan orang Bali. Seperti halnya kompor ini, yang saat ini menggunakan tabung, mirip tabung gas, namun bahan bakarnya tetap sama yaitu “lengis gas” hanya saja tabung ini memiliki tekanan sehingga dapat mendorong minyak dalam tabung. Orang Bali memang pintar dan kreatif. Bahkan dibeberapa tempat saat ini telah lebih maju dalam proses Kremasi, yaitu menggunakan Oven, oven yang khusus untuk proses Kremasi Jenasah.

Setelah melihat Kompor ini, bagaimana perasaan Anda sebagai orang Bali ? Cepat atau lambat, semakin hari kematian semakin dekat, usia memiliki batas, usia milik Yang Maha Pemilik. Tak ada yang akan kita bawa dalam perjalanan menuju Sorga selain karma wacana, kaya atau miskin sama-sama di “finishing” oleh kompor ini. Reinkarnasi yang kita jalani saat ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperbanyak karma wacana yang baik dan sesuai dengan ajaran agama Hindu, Trikaya Parisudha, serta kitab-kitab suci tuntunan hidup lainnya. Semoga hidup kita bermanfaat bagi masyarakat, penuh dengan kedamaian, kesadaran jiwa, kebijaksanaan, keharmonisan, keindahan, yang semuanya akan kita gunakan untuk menciptakan Sorga dalam kehidupan yang akan datang. Tercapainya Sorga akan menuntun kita dalam mencapai Moksa. Om Swaha ……..

RUANG BERNAPAS

Damai di Setiap Langkah. Kita mempunyai ruang untuk segala sesuatu – makan, tidur, menonton tv-, tetapi kita tidak mempunyai ruang untuk sati (penyadaran). Saya menganjurkan agar kita menyediakan ruang  kecil di rumah kita dan menamainya “ruang bernapas”, di mana kita bisa menyendiri dan hanya berlatih bernapas dan tersenyum,  paling tidak pada saat-saat sulit.

Ruang yang kecil itu harus dianggap sebagai Kedutaan Besar dari Kerajaan Kedamaian. Ia harus dihargai dan tidak diganggu dengan kemarahan, teriakan atau hal-hal semacam itu. Ketika seorang anak hampir dibentak, ia bisa berlindung di ruang itu. Baik ayah maupun ibu tidak bisa membentaknya lagi. Ia aman di dalam daerah Kedutaan Besar itu. Orangtua kadang-kadang juga perlu berlindung di ruang itu, duduk bernapas, tersenyum dan memulihkan diri mereka. Oleh karena itu, ruang tersebut digunakan untuk kebaikan seluruh  keluarga. Saya sarankan agar ruang bernapas itu ditata dengan sangat sederhana dan jangan terlalu terang. Anda mungkin ingin mempunyai sebuah genta kecil, dengan suara yang merdu.

Continue reading

Sifat Raksasa Iblis

Apa saja yang termasuk sifat Raksasa (iblis) ?

  • Kesombongan
  • Arogan
  • Congkak
  • Pekerja tidak rapi
  • Tidak penuh kebenaran
  • Nafsu yang tidak terkendali
  • Marah
  • Kekerasan
  • Kebodohan
  • Ego palsu
  • Prestis Palsu
  • Tak punya kecerdasan
  • Gusar
  • Dikhayalkan
  • Bangga dengan diri sendiri
  • Lancang / kurang ajar
  • Dibingungkan oleh kemewahan
  • Tidak tahu tujuan hidup
  • Perilaku yang tidak pantas
  • Mengatakan dunia ini tidak nyata dan palsu
  • Mengatakan dunia ini tidak dikendalikan oleh Tuhan
  • Mengatakan dunia ini hasil dari keinginan seks. Lihat foto Celak Bali
  • Tertarik dengan hal-hal yang tidak permanen / temporer
  • Tertarik dengan kepuasan inderawi / nafsu
  • Memperoleh sesuatu dengan cara-cara yang tidak sah
  • Dibingungkan oleh keinginan / kegelisahan
  • Memetik kesenangan dari kekuatan mental dan fisik
  • Sibuk dalam hal-hal yang tidak menguntungkan, yang tidak sesuai dengan etika dan moral dan jenis pekerjaan yang mengerikan dengan maksud menghancurkan dunia.
  • Tidak mengikuti aturan dan peraturan Yajnya (korban suci)
  • Iri hati kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Krsna
  • Meremehkan agama yang asli (Sanatana Dharma)

Dari Buku Sri Krsna Ayat-ayat Suci Bhagavad-Gita (versi ringkas). Dipost dalam blog Nak Bali Belog oleh Rare Angon Nak Bali Belog. (RANBB)

Gandhi The Man

“Saya bukanlah seorang visioner, Saya menyatakan diri sebagai seorang idealis praktis”

Nak Bali Belog dalam posting kali ini akan mengutip kata-kata indah penuh motivasi dari buku Gandhi The Man, Seorang pria yang mengubah dirinya demi dunia karya Eknath Easwaran. Semoga menjadi peneduh hati kita dan pemberi semangat Manusia di seluruh dunia dalam menjalani kehidupan ini.

“Tidak ada sedikitpun keraguan dalam diri saya bahwa pria atau wanita manapun mampu mencapai apa yang telah saya capai. Jika ia mau mengeluarkan usaha yang sama dan memelihara harapan serta keyakinan yang sama” Continue reading