Category Archives: Tilem

Kaya Buat Apa ? Toh Juga Ga di Bawa Mati !

Kaya buat apa ? Toh juga ga di bawa mati ! , kalau bahasa Bali nya, “Sugih lakar anggon gene, mani mati sing kal ngaba kesugihan ! . Sering kita mendengar kalimat ini, baik dari teman, sodara, internet, candaan, warung kopi, pos satpam, entah bergurau atau serius. Namun sebenarnya kalimat ini menjadi semacam ‘sentilan’ bila diucapkan saat-saat warga sekitar kita sedang kerja bakti, atau ngaturangayahnamun kita berangkat kerja. Menjadi serba salah-lah kita, antara menjawab dengan serius atau dengan becanda.

Buat apa kaya ? Bila kita berpikir, hanya untuk diri sendiri mungkin saja benar, berpikir bahwa kekayaan itu hanya uang. menjadi semakin benar, sehingga buat apa kaya, toh juga saat meninggal kita tidak membawa apa-apa, hanya selembar kain yang membungkus tubuh usang ini. Continue reading

Advertisements

Tema Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937

Melalui surat nomor : 287/Parisada Pusat/I/2015, Perihal Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937 yang ditujukan kepada Ketua Parisada Hindu Indonesia Provinsi Seluruh Indonesia, Parisada Pusat menyampaikan hal-hal penting dan pokok untuk dapat dilaksanakan serta diinformasikan kepada umat Hindu.

Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937 yang jatuh pada hari Sabtu, tanggal 21 Maret 2015, Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat memandang perlu menyampaikan beberapa hal pokok sebagai berikut : Continue reading

Pujawali : Memuliakan Dan Nunas Waranugraha

Agama Hindu. Pujawali pura Hindu di Indonesia memiliki makna memuliakan kembali Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha dari segala Maha yang ada. Ida Sanghyang Widhi Wasa sebagai Maha Pencipta, Maha Pemelihara dan Maha Pelebur alam semesta beserta isinya. Pada saat Pujawali merupakan saat yang paling tepat memohon waranugraha. Pada saat Pujawali waktu yang sangat baik untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang penuh keiklasan, ketulusan, rasa bakti kepada umat, agama dan tentunya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Agenda Banjar Ciledug untuk Ngiring Pekuluh saat Pujawali pura di Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang  dan Banten berdasarkan Dedudonan  2015. Semua Agenda ini akan menyesuaikan dengan Panitia Pelaksana Pujawali dari masing-masing pura. Kunjungi banjarciledug

31 Januari 2015 : Sabtu

  • Saniscara Kliwon Krulut : Tumpek Krulut
  • Pujawali Pura Kertha Jaya, Tangerang
  • Pujawali Pura Raditya Dharma Cibinong
  • Upakara dipersiapkan oleh Tempek Parung Serab

Continue reading

Dewasa Tan Dewasa

Dewasa adalah hari yang dianggap baik, sedangkan Tan Dewasa atau Dewasa Hala adalah hari yang dianggap kurang baik dalam hubungannya dengan pekerjaan, upcara Yadnya atau hal-hal lain  yang akan dilaksanakan oleh umat Hindu. Ajaran Dewasa ini bersumber dari Sadangga Weda (Enam Cabang Weda), dimana salah satunya disebut Jyotisha yang berarti ilmu perbintangan (Astronomi). Dari Jyotisha ini berkembang menjadi ilmu Wariga, Dewasa, Wawaran (susunan hari). Dewasa merupakan kata dasar dari Pedewasan yang berarti Hari yang dianggap baik.

Umat Hindu sudah seharusnya tetap mempertahankan keyakinan ini, Padewasan sebaiknya jangan dianggap remeh. Banyak kehidupan kita yang tidak sesuai dengan harapan disebabkan oleh lunturnya keyakinan kita tentang Dewasa dan Tan Dewasa. Semua keyakinan kita sebagai umat Hindu bersumber dari kitab Suci Weda, bukan semata-mata budaya Bali. Lihat Kalender Penting Umat Hindu ditahun 2014.

Berikut Hala-Hayu Dewasa dan Tan Dewasa :

Dewasa Paguntingan (potong rambut) mengikuti Sapta Wara :

  1. Minggu (Redite) : Hala
  2. Senin (Soma) : Hayu, phahalanya panjang umur
  3. Selasa (Anggara) : Hala, Badan panas (Brahma)
  4. Rabo (Budha)  : Hayu, banyak orang kasih sayang
  5. Kamis (Waraspati) : Hala, Wibawa atau kekuatan menurun, musuh bertambag
  6. Jumat (Sukra) : Hala, Tiada kawan baik, disebut musuh
  7. Sabtu (Caniscara) : Hala, Umur pendek atau lebih cepat meninggal

Amretamasa

Dewaning Dewasa, karya hayu, membangun, segala yang dikerjakan baik sekali, perhitungan menurut Casih dan pananggal (Pananggal dan Pangelong simak pada akhir tulisan ini)

  1. Casih Kasa, Pananggal :10
  2. Casih Karo, Pananggal : 7
  3. Casih Ketiga, Pananggal : 9
  4. Casih Kapat, Panggal : 15
  5. Casih Kalima : Tilem
  6. Casih Kanem, Pananggal : 8
  7. Casih Kapitu, Pananggal : 13
  8. Casih Kawolu, Pananggal : 2
  9. Casih Kasanga, Pananggal : 6
  10. Casih Kadasa, Pananggal : 4
  11. Casih Desta, Pananggal : 5
  12. Casih Sada, Pananggal : 1

Amreta Dewa

Continue reading

Surya dan Sunya

Tilem Kasanga (tilem Caitra) dan purnama kadasa (purnama Waisaka) mendapat perhatian istimewa kita. Tilem kasanga adalah bulan mati ketika matahari berada dalam posisi terdekat di atas khatulistiwa, demikian pula halnya dengan purnama kadasa (Pada tanggal 21 Maret dan 23 Oktober matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa, garis tengah bumi). Maka purnama Kadasa atau Waisaka (jatuh antara Maret – April) dan purnama Kapat atau Kartika (jatuh antara Oktober – November) dinyatakan sebagai purnama yang paling sempurna, bulan dalam posisi yang benar-benar bulat. Maka upacara-upacara yang berkait dengan Dewa Yajna dilaksanakan pada saat ini, upacara memuja Hyang Widhi sebagai Maha-cahaya dan Sumber-cahaya.

Surya, bulan, bintang, benda-benda bersinar, benda-benda yang memancarkan cahaya di langit memang mendapat perhatian manusia yang menempati bumi ini. Surya kemudian diketahui sebagai sumber cahaya, ang kemudian dipancarkan oleh planet-planet yang lain; surya kemudian diketahui “diam” tidak berputar sementara planit-planit lain (termasuk bumi) mengitarinya;  surya diketahui sebagai sumbu, dan juga sumber energi bagi kehidupan di bumi ini. Maka renunngan bermuatan spiritual tentang gelap dan terang, tentang diam dan berputar, tentang yang menjadi sumber dan pancaran atau aliran, tentang sunya, purna, dan seterusnya sampai pada hukum yang menggerakkan bhuwana agung dan bhuwana alit, terus bergulir.

Apabila pada purnama dilakukan upacara Dewa Yajna, maka pada tilem, ketika surya dan bulan sama-sama muncul di ufuk timur dan berada dalam satu garis lurus dengan bumi, dilaksanakan upacara Bhuta Yajna, upacara pengharmonisan alam semesta (bhuta-hita) yang dibangun oleh unsur-unsur panca-mahabhuta dan pancatanmatra, terdiri atas; Pratiwi, apah, teja, bayu, akasa, gandha, rasa, sparsa, rupa dan sabda. Setelah bhuta-hita tercapai bumi diharapkan dapat memancarkan sinar, memantulkan sinar surya yang cemerlang. Dan sehari setelah melakukan bhuta-yajna kita memasuki alam “sepi” alam sunya, alam yang heneng dan hening. Baca artikel tentang Heneng dan Hening.

Yang cukup menarik, Surya dan Sunya biasa disimbulkan dengan windhu (0), simbol kesempurnaan. Penemuan windhu bagi manusia memang telah menjadikan peradaban manusia mencapai tingkat yang tinggi dan sempurna. Dan renungan tentang windhu atau sunya memang renungan yang tak pernah habis ; Dang Hyang Nirartha dalam kakawin Dharma Sunya ada menyuratkan : Yang dicari oleh seorang maha-y0gi hanyalah apa yang disebut sunya, ketika fikiran telah diam, ketika rupa telah tiada (kewat kewala sunya tan pangenangen rinasa-rasa rupeka tan hana), karena sunya itu sangat indah dan sukar dikatakan (kewat kewala sunya nirbana lengeng luput inangan-angen winarnaya). Sedangkan dalam kakawin Nirartha-prakreta Beliau menyatakan : Ketika hati telah tenang dan hening, halus dan cemerlang, kemudian menyusup ke alam sunya, akhirnya fikiran mencapai tingkat yang sempurna (ri heneng ikanang ambek tibra alit mahening aho, lengit atisaya sunya jnana anasraya wekasan).

Surya, Sunya, Suddha (suci) dan Windhu, adalah kata-kata kunci dengan makna yang sangat dalam, bagi orang yang mendambakan kesempurnaan. Sumber bacaan buku Wija Kasawur (2) Ki Nirdon. (RANBB)