Category Archives: Wija Kasawur

Sang Kawi

Sang Kawi artinya sang Pencipta. Ia adalah sebutan untuk Ida Sang Hyang Widhi, tapi juga untuk seorang pengarang (Jawa Kuna),  pengarang karya sastra kakawin. Banyak karya sastra yang lahir dari tangan para Kawi itu, mulai dari kakawin Ramayana, Arjunawiwaha, Bharatayudha, Hariwangsa, Gatotkacasraya, Semaradhana, Sutasoma, Arjunawijaya, Bhomantaka, Siwaratrikalpa, Nagarakretagama dan sebagainya.

Dan Sang Kawi bernama Yogiswara, Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Mpu Kanwa, Mpu Dharmaja, Mpu Monaguna, Mpu Triguna, Mpu Tantular, Mpu Tanakung, Prapanca, Mpu Nirartha, dan yang lain, nama-nama penuh makna.

Sang Kawi adalah hamba keindahan, yang biasa berkeliling mencari Dewa Pujaannya itu (Istadewata). Ia mencarinya di pantai, di gunung, di hutan dan juga di dalam hatinya. Sang Dewa yang lalu dihadirkannya dan diistanakannya dalam padma hatinya dan juga dalam karya sastranya, dalam kalamnya dan juga dalam debu goresan kalamnya, dalam  bunga yang kesepian di tepi pantai, di pasir putih tepi pantai, dalam dengusan ombak membentur karang, dan di goa-goa larang itu sendiri …………..

Continue reading

Advertisements

Si Kalilingan

Seekor burung, Si Kalilingan namanya, seekor burung yang tidak dapat terbang karena patuknya teramat besar. Kakawin Nirartha-prakreta memuat perumpamaan yang benar-benar menarik perhatian kita. Konteks pembicaraannya adalah di seputar bagaimana kita harus memandang, menyelusuri diri kita sendiri dan selanjutnya melihat diseputar kita, mengamati lingkungan tempat kita berada.

Bahwa berbagai sifat dan watak saudara-saudara kita, keluarga kita, atau teman-teman kita dan seterusnya, dan juga diri kita sendiri tentunya, memang sering dapat digambarkan dengan mengesankan oleh karya-karya sastra yang terwariskan kepada kita. Baca Kekuatan Burung Garuda.

Seekor burung, Si Kalilingan namanya, seekor burung yang tidak dapat terbang karena patuknya teramat besar. diangkat dalam sebait kakawin ini : Ndah mangkambekikang satagelem apet ring analahi ng ulahnya nityasa / lobhe dhih umaku wisesa tinemunya ri turunging acihna ring praja / ndan sabdanya juga lepas lwiraniki ng kalilingan atikabhuta patuk / anghing tan kawenang miber sthiti haneng kuwunika ri wipaksaning hati //

Ya, demikianlah pikiran orang jahat, betapa senang ia mencari kesalahan orang lain / dengan lobanya ia mengaku dirinya hebat; namun belum ada bukti yang diperlihatkannya kepada masyarakat umum / kata-katanya memang hebat, bagaikan burung kalilingan, dengan patuknya yang teramat besar / namun ia tidak dapat terbang, ia diam saja di dalam sangkarnya, karena diborgol oleh dirinya sendiri // Continue reading

Kekuatan Burung Garuda

Semua orang mengetahui bahwa Burung Garuda dijadikan lambang negara oleh bangsa Indonesia. Demikian pula pada sebuah partai pemilu 2014 ini ada lambang partai menggunakan Burung Garuda. Kenapa tidak menggunakan burung pipit ? atau kedis perit, petingan,  bondol ? Burung Garuda memiliki kisah yang melegenda hingga kini, kehadirannya mengguncang dunia hingga ke alam dewata. Sedangkan kedis perit, petingan, bondol ? Belum ada yang menceritakan kisahnya, namun dalam bentuk cerita rakyat dan gegendingan Bali (lagu) sangat populer di pulau dewata. Berikut kisah kelahiran, kekuatan Burung Garuda, kisah warisan budaya leluhur bangsa sendiri, sebuah sumbangsih yang sangat besar pada negara kita, bangsa Indonesia.

Continue reading

Surya dan Sunya

Tilem Kasanga (tilem Caitra) dan purnama kadasa (purnama Waisaka) mendapat perhatian istimewa kita. Tilem kasanga adalah bulan mati ketika matahari berada dalam posisi terdekat di atas khatulistiwa, demikian pula halnya dengan purnama kadasa (Pada tanggal 21 Maret dan 23 Oktober matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa, garis tengah bumi). Maka purnama Kadasa atau Waisaka (jatuh antara Maret – April) dan purnama Kapat atau Kartika (jatuh antara Oktober – November) dinyatakan sebagai purnama yang paling sempurna, bulan dalam posisi yang benar-benar bulat. Maka upacara-upacara yang berkait dengan Dewa Yajna dilaksanakan pada saat ini, upacara memuja Hyang Widhi sebagai Maha-cahaya dan Sumber-cahaya.

Surya, bulan, bintang, benda-benda bersinar, benda-benda yang memancarkan cahaya di langit memang mendapat perhatian manusia yang menempati bumi ini. Surya kemudian diketahui sebagai sumber cahaya, ang kemudian dipancarkan oleh planet-planet yang lain; surya kemudian diketahui “diam” tidak berputar sementara planit-planit lain (termasuk bumi) mengitarinya;  surya diketahui sebagai sumbu, dan juga sumber energi bagi kehidupan di bumi ini. Maka renunngan bermuatan spiritual tentang gelap dan terang, tentang diam dan berputar, tentang yang menjadi sumber dan pancaran atau aliran, tentang sunya, purna, dan seterusnya sampai pada hukum yang menggerakkan bhuwana agung dan bhuwana alit, terus bergulir.

Apabila pada purnama dilakukan upacara Dewa Yajna, maka pada tilem, ketika surya dan bulan sama-sama muncul di ufuk timur dan berada dalam satu garis lurus dengan bumi, dilaksanakan upacara Bhuta Yajna, upacara pengharmonisan alam semesta (bhuta-hita) yang dibangun oleh unsur-unsur panca-mahabhuta dan pancatanmatra, terdiri atas; Pratiwi, apah, teja, bayu, akasa, gandha, rasa, sparsa, rupa dan sabda. Setelah bhuta-hita tercapai bumi diharapkan dapat memancarkan sinar, memantulkan sinar surya yang cemerlang. Dan sehari setelah melakukan bhuta-yajna kita memasuki alam “sepi” alam sunya, alam yang heneng dan hening. Baca artikel tentang Heneng dan Hening.

Yang cukup menarik, Surya dan Sunya biasa disimbulkan dengan windhu (0), simbol kesempurnaan. Penemuan windhu bagi manusia memang telah menjadikan peradaban manusia mencapai tingkat yang tinggi dan sempurna. Dan renungan tentang windhu atau sunya memang renungan yang tak pernah habis ; Dang Hyang Nirartha dalam kakawin Dharma Sunya ada menyuratkan : Yang dicari oleh seorang maha-y0gi hanyalah apa yang disebut sunya, ketika fikiran telah diam, ketika rupa telah tiada (kewat kewala sunya tan pangenangen rinasa-rasa rupeka tan hana), karena sunya itu sangat indah dan sukar dikatakan (kewat kewala sunya nirbana lengeng luput inangan-angen winarnaya). Sedangkan dalam kakawin Nirartha-prakreta Beliau menyatakan : Ketika hati telah tenang dan hening, halus dan cemerlang, kemudian menyusup ke alam sunya, akhirnya fikiran mencapai tingkat yang sempurna (ri heneng ikanang ambek tibra alit mahening aho, lengit atisaya sunya jnana anasraya wekasan).

Surya, Sunya, Suddha (suci) dan Windhu, adalah kata-kata kunci dengan makna yang sangat dalam, bagi orang yang mendambakan kesempurnaan. Sumber bacaan buku Wija Kasawur (2) Ki Nirdon. (RANBB)