Tag Archives: amah leak

Kajeng Kliwon

LEAK dalam tradisi Bali

Edisi kajeng kliwon : ” Pengleakan angerep pangelekasan kalepasan ”
sekedar hanya untuk pengetahuan semata ,bukan bermaksud sebagai guru leak . Semoga setelah ini sekilas bisa lebih tahu tentang ilmu pengleakan untuk tidak berfikir negatif terlebih dahulu tetap jaga pikiran positif kita dan juga jangan pernah berharap akan mendapatkan jawaban jika bertanya “Apakah anda bisa ngeleak? Leak tidak perlu di takuti, tidak ada leak yang menyakiti, takutlah terhadap pikiran picik, dengki, sombong, balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, pada diri kita sebab itu sumber pengiwa dalam tubuh kita.

Bila tidak diantisipasi tekanan darah jadi naik, kita dapat, Stres, Stroke, Setra.Pada hakekatnya tidak ada ilmu putih dan hitam semua itu hati yang bicara
Sama halnya seperti hipnotis, bagi psikiater ilmu ini untuk penyembuhan, tapi bagi penjahat ilmu ini untuk mengelabui serta menipu seseorang, tinggal kebijaksanaan kita yang berperan.Pintar, sakti, penting namun..ada yang lebih penting adalah kebijaksanaan akan membawa kita berpikir luas, dari pada mengumpat serta takut pada leak yang belum tentu kita ketemu tiap hari. hehehheee,..semoga kebaikan datang dari segala arah ”

Asumsi kita tentang leak paling-paling rambut putih dan panjang, gigi bertaring, mata melotot, dan identik dengan wajah seram. Hal inilah yang membuat kita semakin tajam mengkritik leak dengan segala sumpah serapah

Continue reading →

Bangke Maong – Mayat Tengik

Kisah Leak 18 – Bangke Maong (Mayat Bau Tengik)

Dalam ranah per-leak-an, bisa menjadi Bangke Maong merupakan tingkatan yang sudah tinggi yang bisa dicapai oleh penekunnya dan membutuhkan kesabaran, ketekunan serta penugrahan dari Ida Sesuhunan.  Wujud Bangke Maong sendiri berupa mayat bau tengik yang berada di wadah-nya (bangunan untuk membawa mayat, ada yang menyebut wadah, pepaga  dll).

Para tetua di desa menasihatkan, kalau kita pas ketemu dengan Bangke Maong, kalau batin kita tidak kuat sebaiknya hal yang paling bagus dilakukan adalah menghindarkan diri agar jangan sampai melihat langsung. Efek bila kita melihat langsung Bangke Maong tersebut adalah kita bisa kedaut (dihipnotis – red) tidak sadarkan diri bahkan bisa menjadi gila. Di sini kekuatan batin dari orang yang bertemu Bangke Maong sangat menentukan, apabila batinnya lebih kuat maka justru Bangke Maong itu sendiri yang melarikan diri.

Kisah berikut dituturkan oleh Nyoman M (yang pernah berantem dengan teluh), orang desa yang berprofesi serabutan, kadang sebagai petani, kadang jasa pemetik kelapa, dimana Nyoman M sendiri merupakan orang yang melik atau disukai oleh yang berbau niskala.
Suatu hari di desa Nyoman M sedang dilakukan suatu ritual pengabenan karena ada seorang warga desa yang meninggal. Seperti biasanya, Nyoman M pergi ke tempat orang yang mempunyai kedukaan tersebut untuk sekedar membantu melakukan persiapan sebelum dilakukan pengabenan. Persiapan untuk pengabenan biasanya dilakukan di malam hari karena di siang hari kebanyakan warga desa pergi ke sawah untuk melihat hasil pertaniannya. Dia kebetulan membantu dalam penyiapan wadah (pepaga) yang akan dipakai sebagai tempat menguung jenasah.

Saking asyiknya ikut membantu di rumah duka, tidak terasa waktu sudah lewat tengah malam. Nyoman M bergegas minta ijin untuk pulang ke rumah. Jarak antara rumahnya dengan rumah duka sekitar satu kilometer.
Waktu itu belum ada program listrik masuk desa sehingga situasi di malam hari benar-benar gelap dan harus berhati-hati agar tidak terjatuh di tengah jalan. Di tengah perjalanan untuk mencapai rumahnya Nyoman M harus melewati tegalan yang cukup luas. Karena merasa bahwa dia sudah hafal betul dengan medan yang akan dilalui maka Nyoman M sama sekali tidak khawatir dengan situasi di tegalan tersebut.
Tiba-tiba dari kejauhan di dengarnya anjing yang melolong-lolong, Nyoman M masih cuek saja karena menganggap cuman kebetulan saja malam itu anjing melolong dengan panjangnya. Dia mulai agak waspada ketika indera penciumannya mencium bau yang tidak sedap, seperti bau sesuatu yang tengik. Ada apa gerangan?, apakah ada bangkai anjing yang sengaja dibuang di tegalan tersebut?.

Continue reading →

Siat Peteng

Siat Peteng. Siat; peperangan , peteng; malam. Siat Peteng; peperangan pada malam hari. Apa itu ?

Adalah sebuah hinaan dan sekaligus tantangan untuk menunjukkan prestise dikalangan dunia kawisesan dalam terminology dunia leak di Bali. Pertempuran inilah yang mendongkrak nama dan juga prestise seseorang penekun ilmu kawisesan di Bali. Dalam konteks itulah, mengapa pertempuran leak ini bukan semata-mata karena dendam kesumat saja, melainkan untuk meningkatkan kelas dan menguji ilmu, sejauh mana tingkatan dan tatanan ilmu yang sudah di capai oleh si empunya.

Pertempuran ini sering melibatkan banyak orang atau pun dilakukan seorang diri. Belajar dari sejarah masa lalu, bahwa peperangan adu kawisesan ini sering dilakukan lantaran sebuah ujian yang dilakukan guru kepada muridnya atau dari satu garis perguruan ke perguruan yang lainnya. Ilmu leak dalam tradisi Bali, juga memiliki geneologi garis perguruan yang diwariskan secara murni dan dalam proses belajar  yang sistematis. Ontology, Aksiology dan Epistemology dalam proses belajar  ilmu leak  diturunkan dengan sangat jelas.

Oleh sebab itulah, mengapa geneology garis perguruan leak ini memiliki semacam struktur yang sangat ketat dan juga sistematika ilmu yang sangat kompleks. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan, jika seseorang murid dari salah satu geneology garis perguruan leak ini memiliki masalah dengan murid dari garis perguruan yang lain, maka ia dapat meminta bantuan kepada kakak seperguruannya. Bahkan bantuan pun saja dapat datang dari sang guru.

Disinilah kita dapat menemukan ada banyak siat peteng dengan berbagai macam latar belakang masalah. Siat peteng sendiri bagi masyarakat Bali, bukan barang baru atau bukan sebuah hal yang harus ditutupi keberadaannya. Namun keberadaan siat peteng, ajakan atau tantangan, pelaku, waktu dan tempat yang pasti sulit diketahui banyak orang. Banyak pantangan, larangan dan hal-hal yang bersifat Niskala yang tidak mudah untuk dipahami.

Berikut contoh kalimat-kalimat ujian atau tantangan untuk melaksanakan siat peteng dengan kalimat yang tidak mudah dimengerti oleh masyarakat umum.         “Aduh… titiang jeg ten uning napi sane kamargiang ring ratu ?” . “Nah … yen dot nawang, nyanan antiang tiang  disisin pasihe ….!”

Continue reading →