Tag Archives: Brahman

Boneka Garam

Boneka Garam

Suatu kali, sebuah Boneka Garam pergi untuk mengukur kedalaman laut agar ia dapat menceritakan kepada yang lain seberapa dalam lautan itu. Tapi pada saat masuk ke air, ia mencair sehingga tidak ada yang bisa melaporkan kedalaman laut.

            Sama seperti itulah mengapa tidak mungkin bagi siapapun untuk menggambarkan Tuhan. Setiap kali kita berusaha, kita melebur menyatu dengan lautan realitas-Nya yang misterius. Kita tidak bisa menggambarkan Brahman. Dalam Samadhi kita dapat mengetahui Brahman. Jadi Tuhan dapat diketahui melalui pengalaman langsung dalam samadhi (anubhava), tetapi pengalaman itu tidak dapat dijelaskan dengan nalar.

            Seseorang yang mengetahui Brahman akan menjadi Brahman (Gita 18.55) dan tidak dapat dijelaskannya, sama seperti boneka garam mencair di laut dan tidak bisa melaporkan kedalaman laut.

            Mereka yang bicara tentang Tuhan tidak memiliki pengalaman nyata. Demikianlah, Brahman hanya dapat dialami dan dirasakan. (dharmawacahaPHDITangsel)

Gods & Goddesses in Hinduism

Gods & Goddesses in Hinduism
The Basics of Hinduism
Hinduism is generally associated with a multiplicity of Gods, and does not advocate the worship of one particular deity. The gods and goddesses of Hinduism amount to thousands or even millions, all representing the many aspects of only one supreme Absolute called “Brahman”.

Therefore, to believe that the multiplicity of deities in Hinduism makes it polytheistic is erroneous. The Rig Veda says: “Ekam sath, Vipraah bahudhaa vadanti” (The Truth is one). However, to equate “Brahman” with “God” is imprecise. It is neither the “old man in the sky” concept, nor the idea of something capable of being vengeful or fearful.

The doctrine of Spiritual Competence (‘Adhikaara’) and that of the Chosen Deity (‘Ishhta Devata’) in Hinduism recommend that the spiritual practices prescribed to a person should correspond to his or her spiritual competence and that a person should have the freedom to choose (or invent) a form of Brahman that satisfies his spiritual cravings and to make it the object of his worship.

Continue reading

Brihad-aranyaka Upanisad

brihadaranyaka_upanishad

Dari khayalan bimbinglah kami kepada Kebenaran. Dari kegelapan bimbinglah kami kepada Cahaya. Dari kematian bimbinglah kami kepada Keabadian. 1.3.28

SEMESTA ini adalah satu satuan-tiga dan ini dibuat dari nama, bentuk dan aksi. Sumber segala nama adalah kata, oleh karena kata semua nama diucapkan. Kata ada di balik semua nama, seperti Brahman ada di balik kata. Sumber segala bentuk adalah mata, oleh karena mata semua bentuk terlihat. Mata ada di balik semua bentuk, seperti Brahman ada di balik mata. Sumber segala tindakan adalah badan, oleh karena badan semua tindakan dilakukan. Badan ada di balik semua tindakan, seperti Brahman ada di balik tindakan.

Yang tiga itu adalah satu. ATMAN, Jiwa kehidupan dan ATMAN, sekalipun satu, adalah yang tiga itu. Yang Abadi ditutupi oleh yang nyata. Jiwa Kehidupan adalah Yang Abadi. Nama dan bentuk adalah yang nyata dan oleh mereka Jiwa ditutupi. Continue reading

Hari Raya Nyepi

Kebangkitan, Toleransi dan Kerukunan
Menurut agama Hindu, alam semesta ini pada mulanya kosong, sunyi, gelap gulita, tiada ada yang ada. Maka tibalah awal penciptaan, sebutir indung telur bernama Hiranyagarbha sakti merupakan benih pertama dari segala yang tercipta, disebut juga Mahadivya, pada awal yuga pertama. Inilah cahaya Brahman, Mahatman pertama, kekal abadi, tiada terlukiskan, cemerlang memancar kemana-mana, keseluruh penjuru. Ini adalah asal mula paling halus alam benda atau alam jasmani dan alam bukan-benda atau alam rohani. Dari indung telur cahaya Brahman ini terlahir Pitamaha, satu-satunya makhluk yang disebut Prajapati pertama. Continue reading