Tag Archives: Dharma

Umat Hindu Ciledug Me-Galungan

Umat Hindu Ciledug

Hari Raya Galungan

Persembahyangan hari raya Galungan yang jatuh pada Budha Kliwon Dunggulan tanggal 27 Maret 2013 untuk umat Hindu di wilayah Ciledug dan seiktarnya berpusat di Pura Dharma Sidhi Ciledug. Jumlah umat Hindu Ciledug yang melaksanakan persembahyangan sangat banyak sehingga memenuhi areal utama mandala pura yang luasnya sekitar 250 meter persegi ini, serta umat yang tidak mendapat tempat melaksanakan persembahyangan tahap kedua. Persembahyangan dipimpin oleh manggala upacara Ida Pedanda Putra Sidemen, beliau merupakan manggala upacara untuk wilayah ciledug dan sekitarnya. Kerama Suka Duka Hindu Dharma Ciledug dengan kelian banjar I Nengah Arsa (ketua ke 3) merupakan pengempon pura Dharma Sidhi yang berdiri tahun 1990 ini, hadir pula mantan ketua banjar yang ke dua, I Ketut Artha,ketua PHDI kota Tangerang I Ketut Sedana, ketua PHDI propinsi Banten AA. Anom Suartha, sedangkan sesepuh pendiri pura yang sekaligus ketua banjar pertama, I Ketut Sumitha saat ini sudah berdomisili di Tabanan Bali.

KINI TELAH HADIR WEBSITE BANJAR CILEDUG www. banjarciledug .org

Persembahyangan dimulai pukul 20.00 WIB diawali dengan puja mantra oleh Ida Pedanda, saat suara genta pertama dibunyikan sebagai tanda awal pujawali, segera diiringi oleh kekidungan. Purwakaning angriptarum ….  . selanjutnya kekidungan Ida ratu saking luhur …, Om Om Sembah i katunan …. , Atur tityang para siswa lintang jugul …
Suasana spiritual sangat terasa, bau harum dupa, suara genta dan kekidungan menjadi satu dalam suasana yang khusuk. Sekitar 35 menit puja mantra dihaturkan kehadapan Ida Panembahan Hyang Agung Ida Sanghyang Widhi Wasa yang melinggih di Pura Dharma Sidhi, lalu dilanjutkan dengan persembahyangan bersama.

Persembahyangan bersama hari raya Galungan diawali dengan puja Tri sandya, yang dituntun oleh Mangku Gede pura Dharma Sidhi I Gusti Mangku Ambara. Muspa Panca Sembah merupakan acara utama dalam setiap persembahyangan, pertama nunas penyucian diri dengan sembah tanpa sarana bunga, selanjutnya nunas penyaksian saking bethara surya, yang ketiga merupakan persembahyangan kehadapan Ida Hyang Widhi ; Ida panembahan Yang Agung sane melinggih ring Padmasana pura Dharma Sidhi, selanjutnya sembah ke empat adalah nunas waranugraha. Sembah ditutup kembali dengan tanpa sarana.

Dalam dharma wacananya yang bersamaan dengan nunas tirtha, ketua PHDI propinsi Banten AA.Anom Suartha menyatakan hari raya Galungan merupakan hari kemenangan Dharma atas Adharma. Sehingga dalam hati kita yang ada adalah kesucian, ketulusan hati dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Kita mampu melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai abdi negara dengan terbuka dan tulus.

” Bapak-bapak sebagai anggota banjar memberikan dukungan (kewajiban) kepada pengurus banjar, pengurus banjar melaksanakan tugas dan kewajiban, Parisada melaksanakan pembinaan umat sehingga umatnya mampu melaksanakan dharma dan swadharma, inilah kemenangan-kemenangan hidup (dharma)”.

Lebih lanjut beliau mengatakan tujuan melaksanakan persembahyangan pada hari raya Galungan ini adalah memohon anugerah, amerta, rezeki, panjang umur, keselamatan dengan ketulusan dan kesucian hati yang paling dalam, kehadapan Ida Hyang Panembahan, Ida Sanghyang Widhi Wasa.

AA. Anom Suartha mengucapkan terima kasih kepada umat Hindu atas peran swadaya dan swadharma umat dalam perayaan hari raya Nyepi tahun Saka 1935, ucapan selamat juga disampaikan kepada Sekeha Truna Truni Hindu Dharma Ciledug atas prestasi sebagai juara pertama lomba Ogoh-ogoh tingkat propinsi Banten.

Umat Ciledug – Rare Angon Nak Bali Belog

Nak Pecalang Bali

Om Swastiastu , Nak Pecalang Bali. Kegiatan ke-Bali-an di luar Bali pada 15 tahun terakhir semakin terasa dan terdengar lebih jelas.  Selain perubahan system politik di negara RI ini juga karena perkembangan media informasi, baik media radio, media koran, media televisi maupun media internet atau dunia maya. Sangat disayangkan apabila perkembangan ini tidak dimanfaatkan oleh Generari Muda Nak Bali Hindu dalam menyebarluaskan kegiatan keagamaan, kegiatan seni budaya ataupun penyebarluasan tentang ajaran HINDU; Tattwa, Susila dan Upacara. Generasi Muda Nak Bali  Hindu lebih banyak sibuk dengan kegiatan sosial media yang hanya bersifat kesenangan, sibuk dengan meng-update status dan memberi “like” atau saling berbalas komentar….

KUNJUNGI WEBSITE BANJAR CILEDUG www.banjarciledug.org

Apakah semuga Generasi Muda Nak Bali Hindu demikian ??? Tentunya tidak, namun alangkah lebih baiknya apabila dunia informasi yang sudah didepan mata dari pagi hingga menjelan tidur ini dapat digunakan untuk peningkatan kearah yang positif, kearah peningkatan kemampuan spiritual, penyebarluasan informasi kegiatan keagamaan kita, penyebarluasan tentang hal-hal kebaikan yang diajarkan WEDA untuk kedamaian dunia, penyebarluasan tentang Ajaran Dharma.  Semoga. Om Santi Santi Santi Om

Kegiatan Pujawali Pura Dharma Sidhi Ciledug Tangerang Banten pada Budha Kliwon Ugu 12 Desember 2012, berikut foto-fotonya.

IMG_0306IMG_0330 IMG_0358 IMG_0313

 

Seks: Kutukan atau Karunia ?

Seks Ala Binatang

Seks Ala Binatang adalah Seks yang berdasarkan nafsu belaka, tidak didasarkan pada DHARMA atau moral

Apakah seks suatu kutukan atau karunia ? Apakah seks suatu kejahatan (evil) atau kebajikan (virtue)? Agama memiliki pandangan berbeda mengenai hal ini. Agama Hindu dengan tegas menyatakan seks (kama) sebagai satu dari empat tujuan hidup manusia, yang disebut Purusharta. Tiga tujuan yang lain adalah “DHARMA“, hidup bermoral, “ARTHA“, harta kekayaan material, dan “MOKSHA”  bersatunya atman dengan Brahman (Tuhan). Seks sendiri memiliki dua tujuan: tujuan antara (prokreasi) dan tujuan dalam dirinya sendiri, yaitu untuk kenikmatan seks itu sendiri (rekreasi). Seks di sini bukan suatu kejahatan (evil) tetapi suatu karunia atau keutamaan (virtue).
Konsep penciptaan di dalam Hindu, sesuai dengan filsafat Samkya adalah perjumpaan antara purusa dan predana, dari sini alam semesta beserta isinya lahir melalui proses panjang. Suatu filsafat penciptaan yang lebih sesuai dengan teori evolusi. Keberadaan manusia di dunia ini bukan karena terlempar atau dilemparkan oleh Tuhan dari sorga, akibat kesalahan wanita. Di dalam WEDA Tuhan tidak saja dipuja sebagai Bapak, tetapi juga sebagai Ibu, seperti Ibu Pertiwi, Dewi Ibu ( Mother Goddness ). Perempuan dan lelaki memiliki kedudukan sederajat ( Ardhanaraswari ). Perempuan tidak dianggap penggoda moral, yang seluruh tubuhnya dianggap pembangkit nafsu birahi seperti – maaf – vagina, karena itu harus ditutupi dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Seks Dalam Agama Hindu.
Di dalam agama Hindu, ada dua aliran pemikiran tentang seks yang saling berlawanan. Aliran pemikiran pertama memandang seks secara negatif dipimpin oleh Bhagawan Wararucci dengan bukunya Sarasamuccaya. Aliran pemikiran kedua memandang seks secara positif dipimpin oleh Bhagawan Vatsyayana dengan bukunya Kama Sutra.
Wararucci antara lain mengatakan : “Ada satu alat pada tubuh si wanita, sangat menjijikkan dan sangat kotor; mestinya dibenci, dan dijauhi. Yaitu kulit yang berukuran sebesar kaki kijang. Di tengah-tengah kulit itu terdapat luka yang menganga yang tidak sembuh, yang menjadi saluran jalan air seni, penuh berisi keringat dan segala macam kotoran; itulah yang membuat orang bingung di dunia ini, kegila-gilaan, buta dan tuli karenanya “. Sarasamuccaya: 424-442 (stri/wanita)
Di tempat lain ia mengatakan betapa beruntungnya lahir sebagai manusia. Bagaimana bisa menusia lahir bila tidak melalui seks, dan bila tidak ada perempuan? Banyak orang menafsirkan bahwa pandangan Wararucci tentang seks disebabkan karena ia adalah seorang sanyasin, seorang yang sudah sepenuhnya di jalan spiritual. Dan pandangannya ini ditujukan kepada para sanyasin lain yang sama seperti dirinya.
Sebaliknya Vatsyayana menyatakan “Seksualitas adalah penting bagi kehidupan manusia, seperti makanan perlu untuk kesehatan badan, dan atas mereka bergantung dharma dan artha”
Kama adalah salah satu dari empat tujuan hidup, di samping DHARMA, ARTHA dan MOKSHA. ” Kama Sutra bukanlah karya pornografi. Ia adalah studi sistematik dan tidak berat sebelah mengenai salah satu aspek esensial dari keberadaan kita. Pertama dan utamanya, ia adalah satu gambar dari seni kehidupan khususnya seksualitas pada tubuh wanita, bagi warga kota yang beradab dan canggih, memenuhi tataran cinta, erotisme dan kenikmatan hidup, sejajar dengan risalah di bidang politik, ekonomi dan etik, Dharma Sastra dan Artha Sastra ” . ( Alain Danielou – The Complete Kama Sutra Park Street Press).
Di dalam Kama Sutra seks seolah-olah diberikan kebebasan tanpa batas, Di sini seks memang dieksploitasi secara luas dari segala kemungkinannya. Tetapi Kama Sutra juga mengatakan ” Seseorang tidak dapat memberikan dirinya kesenangan tanpa batasan. Aktivitas seseorang harus dikoordinasikan dengan memperhatikan Dharma dan Artha “. “Orang yang cabul adalah sia-sia, ia mengalami penghinaan, tidak menimbulkan kepercayaan dan mengundang cemohan orang. Mereka yang memanjakan dirinya dengan seks secara berlebihan menghancurkan dirinya sendiri dan juga hubungan-hubungan mereka “.
Kama harus diletakkan dalam bingkai Dharma dan Moksha. “Tiga tujuan pertama ( Dharma, Artha dan Kama ) tidak hanya dikejar demi kesenangan yang mereka berikan, tetapi juga demi pertumbuhan spiritual, menggabungkannya dengan tujuan keempat (Moksha) menjamin tiga tujuan pertama tidak dikejar secara tidak etis atau berlebihan, dan menyesuaikan seluruh kehidupan dan banyak kesenangannya dengan kesenangan tak terbayangkan dari pencerahan.” (Roger Walsh – Essential Spirituality )
Berbagai teknik percumbuan dan hubungan seksual dalam Kama Sutra ditujukan kepada laki-laki dan perempuan. Dengan menguasai teknik-teknik itu secara baik, kedua pasangan akan mencapai kepuasan. Jadi perempuan bukan sekedar sawah yang dapat digarap oleh laki-laki sesuka hatinya sendiri… Tujuan Kama Sutra adalah untuk menjamin kepuasan maksimal bagi suami istri, sehingga mereka dapat memelihara kasih sayang dan kesetiaan dalam berumah tangga mereka. Dan karena itu tidak mencari yang lain (selingkuh – admin).
Seks diciptakan agar manusia saling membutuhkan satu sama lain. Saling berkomunikasi satu sama lain. Saling mencintai. Dan untuk belajar rendah hati. Supaya dapat menikmati seks, kita perlu untuk dipersatukan dengan manusia yang lain untuk secara fisik menjadi cukup dekat bagi pemuasan seksual. Kita perlu mengatasi keangkuhan kita untuk membuat teman, untuk menjadi baik, romantis. Seks mengajari kita kerendahan hati ! Kita harus memberi untuk menerima kasih sayang, dan kita perlu saling membantu satu sama lain. Seks mengajarkan tanpa-keserakahan, cinta dan kemurahan hati.

Seks Adalah Sesuatu Yang Alamiah.
Narasi dan simbolisasi seks dalam agama Hindu dilakukan dengan bebas dan penuh rasa hormat. Gambar-gambar wanita dengan dada subur yang terbuka, relief-relief tentang hubungan seks dipahatkan di candi-candi, dipandang secara wajar. Patung-patung itu memang tidak dibuat untuk merangsang nafsu rendah manusia. Itu adalah symbol penciptaan dan pemeliharaan. Orang-orang Hindu memandang seksualitas, tanpa kecurigaan atau ketakutan. Para  lelaki Hindu tidak memandang seksualitas pada tubuh wanita sebagai godaan bagi kesehatan moral mereka. Mereka tidak boleh melemparkan kesalahan kepada orang lain atas tindakan yang dilakukannya akibat kelemahan atau ketidakmampuan moralnya sendiri. Seks tidak dibebani dengan konsep negatif seperti dosa atau penggodaan. Kama tidak pernah dipandang sebagai suatu yang kotor.
Erotisme dan sensualitas adalah kodrat manusia. Erotisme dan sensualitas mengafirmasi kehidupan, karena melalui seks kehidupan manusia terus berlanjut di muka bumi ini. Seks yang baik akan melahirkan generasi yang baik. Oleh karena itu perilaku seksual harus di atur oleh Dharma atau moral. DHARMA dan moral menuntut pengendalian diri, atau Sedhana. Yoga bahkan memberi jalan bagi sublimasi seksual menjadi energi spiritual. Jadi seks di samping baik harus juga benar.
Dalam pandangan Hindu perempuan bukan sumber dosa, setumpuk daging yang hanya berfungsi membangkitkan nafsu seksual laki-laki, atau pabrik untuk melahirkan anak-anak, tetapi partner sejajarnya untuk membagi cinta kasih dan melahirkan generasi demi generasi.
Sumber bacaan buku ” Tuhan Agama dan Negara “ oleh Ngakan Made Madrasuta penerbit Media Hindu. Ditulis oleh Rare Angon Nak Bali Belog untuk blog nakbalibelog.wordpress.com. Insert Potho ” Seks Ala Binatang ” – Taman Safari Gianyar Bali oleh Pecalang Bali Photo

Postingan Terkait Seks

Dewi Sri Laksmi Dewi Kesuburan

Trsna Papa Buddhi

Masturbasi dan Daya Spiritual

Sensualitas Bidadari Supraba

Hindu Yang Rumit 119

Hindu yang rumit, Hindu yang sederhana, Hindu yang meliputi segalanya halaman 119 dari buku “Kutemukan Tuhan Yang Mencintai Semua Orang ” oleh Gentha Apritaura merupakan sebuah novel kisah nyata tentang perjuangan seorang anak muda yang mencari Tuhan pencipta alam semesta dan bersikap kasih secara adil kepada alam semesta beserta semua isinya.

Aku tersenyum. Pikiranku membuka kembali lembaran persitiwa selama masih bermain di dunia hitam, menyeruakkan seabrek pertanyaan dalam benak. Bersama Hindu, aku mulai menemukan satu persatu jawabannya. Seiring waktu membuatku malah semakin cinta pada ajaran ini, bukan hanya karena sebiji sloka.

” Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi. Tetapi yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya pula “ Bhagavad Gita:IX,29

Dulu aku bertanya tentang takdir. Tidaklah Tuhan “tidak maha adil” jika Continue reading →

Yadnya | Dharma yang Wajib Dilaksanakan

Canang Sari

Yadnya merupakan salah satu bagian Dharma yang harus kita laksanakan. Hal ini dapat kita pelajari pada isi Atharwa Weda, XII.1.1 yang terjemahannya sebagai berikut : ” Sesungguhnya Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma, dan Yadnya, yang menyangga dunia.” Keenam hal ini merupakan bentuk isi atau Craddha ( Keimanan, Keyakinan, Kepercayaan ) dalam Agama Hindu, bahwa Dharma itu meliputi :

Satya : Kebenaran, Kesetiaan, Kejujuran

Rta : Bentuk Hukum Tuhan yang murni yang bersifat absolut Transendental, sedangkan Dharma itu ialah Hukum yang bersifat mengatur tingkah laku manusia untuk mencapai kebahagiaan di dalam hidupnya, mengatur mahluk serta alam semesta ini.

Diksa : Inisiasi, Penyucian, Podgala, Abhiseka Continue reading →