Tag Archives: hindu dharma

Muda Mudi Banjar Ciledug

Kegiatan me-Banjar merupakan hal utama dalam kehidupan bermasyarakat bagi orang Bali baik itu di daerah Asli, Pulau Dewata, maupun di daerah perantauan seperti Jakarta, Batam, Sulawesi bahkan di Luar Negeri. Me-Banjar memiliki peran yang sangat penting dalam mempertahankan seni budaya, adat istiadat, sradha dan bakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Me-Banjar bagi orang Bali yang sering disebut Suka-Duka ini akan meningkatkan ikatan kekerabatan sesama orang Bali, dalam hal suka dan duka.

rare bali

Merdah Tualen

Me-Banjar tidak hanya untuk kalangan orangtua, atau yang sudah berkeluarga saja, namun bagi Muda-Mudinya pun akan me-Banjar. Perkumpulan Muda-Mudi ini sering disebut Sekaa Truna-Truni (STT), atau lebih lengkap STHD ‘Sekaa Trunia Truni Hindu Dharma‘. Demikian pula dengan STHD Banjar Ciledug yang berprestasi di bidang olahraga dan seni. Berikut kutipan dari media online bali.tribunnews, tentang Kontingen Sekaa Teruna Hindu Dharma (STHD) Ciledug sukses mempertahankan gelarnya dalam ajang Olahraga Gembira X 2014 yang digelar Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma (Peradah) Indonesia DPP DKI Jakarta di pelataran Pura Agung Taman Sari, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Minggu (2/11/2014). 

Ciledug Pertahankan Gelar, Puspayoga Dukung Simakrama Pemuda Hindu

Continue reading →

Sembahyang Purnama dan Tilem Menurut Prasna Upanisad

Emas dari Bali

Kembang Kamboja Bali

Umat Hindu Dharma. Kita hidup di dalam waktu, dalam sejarah. Pergantian waktu dianggap penting bagi kehidupam manusia di dunia ini. Manusia lahir, menjadi dewasa, tua dan mati, semua proses ini terjadi dalam waktu. Pergantian waktu membawa perobahan dari hidup kita, secara biologis maupun mental. Pergantian waktu bisa dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, seabad atau semilenium.

Mengenai sembahyang Purnama dan Tilem ada teks dalam Upanisad yang menyatakan sebagai berikut : “Bulan sesungguhnya adalah tuan dari penciptaan. Dari padanya bagian yang gelap sesungguhnya materi, dan bagian yang terang adalah kehidupan. Oleh karena itu para rsi melaksanakan ritual mereka pada waktu terang (Purnama), beberapa dalam waktu gelap (Tilem)”. Prasna Upanisad I.12.

Teks ini berkaitan dengan pertanyaan tentang penciptaan. Dari mana datangnya seluruh ciptaan ini ? Maharsi dari Upanisad menjawab : “Pada awalnya Sang Pencipta merindukan kebahagiaan penciptaan. Dia tetap dalam meditasi, lalu datang Rayi, materi dan Prana, kehidupan.  Yang Dua ini akan menghasilkan ciptaan bagiku. “

Matahari, bulan , hari, makanan adalah bagian penciptaan. Matahari melambangkan kehidupan dan Bulan melambangkan materi. Tanpa materi, kehidupan atau jiwa tidak bisa hadir di dunia nyata ini. Dan ketika jiwa sudah hadir dalam tubuh di dunia ini, ia memerlukan materi, makanan dan minuman, agar dapat terus  hidup dalam badan fisik ini.

Teks selanjutnya berbunyi :
“Demikianlah, mereka yang mempraktikan aturan (hukum) dari Penguasa Penciptaan, menghasilkan yang kembar. Hanya kepada mereka Brahma Loka, di dalam mana tapasya, kemurnian dan kebenaran didirikan .”  Prasna Upanisad I.15.

Mereka yang mempraktikkan aturan Sang pencipta, pada gilirannya menjadi para pencipta dan seperti dia menghasilkan yang kembar. Ciptaan mereka tentu tidak sama dengan ciptaan Tuhan. Menghasilkan yang kembar artinya, menghasilkan Kehidupan dan Materi. Yang dimaksud dengan menghasilkan Kehidupan dalam Upanisad adalah menghasilkan atau mencapai kebahagiaan rohani. Materi, dalam arti harta benda dan juga kama.

S. Radhakrishnan mengatakan, para maharesi Upanisad tidaklah buta terhadap ketidak berdosaan alam dan keindahan kehidupan seksual dan cinta kasih orang tua.

Jasa Perspektif 3d 0812 9489 4000

Jasa Perspektif 3d 0812 9489 4000

Kepada mereka ada Brahma Loka yang tidak ternoda, di mana di dalamnya kejahatan, kepalsuan atau tipuan tidak hadir. Prasna Upanisad I.16.

Buku Hindu Menjawab 2 Susila dan Upakara oleh Ngakan Made Madrasuta. (RANBB)