Tag Archives: Hukum Karma

Hidup itu Menunggu Kompor

Hidup itu menunggu kompor. Yach begitulah pepatah orang Bali. Sebuah pepatah yang penuh dengan makna yang sangat dalam bagi orang Bali. Kompor sebagai “finishing” badan kasar kita untuk kembali ke Panca Maha Butha. Maka orang Bali sangat bijaksana dalam menyikapi hidupnya sehari-hari, penuh dengan toleransi, kebahagiaan, ketulusan hati, kedermawanan, kesederhanaan, kesabaran, kesetiaan, karena mereka tahu persis bahwa sang jiwa dalam menuju ke alam Sorga hanyalah ditemani karma wacananya. Tidak ada harta benda duniawi yang akan dipanggulnya, tidak ada uang dalam dompetnya, tidak ada batu permata dalam jari-jemarinya, tidak dalam mobil mewah dalam perjalanannya,  termasuk badan kasarnyapun harus dikembalikan kepada Yang Maha Pemilik. Menjadi tugas kompor untuk memproses kembalinya Panca Maha Butha ke asalnya. Proses ini sering disebut Kremasi.

Artikel Terkait Lainnya :

IMG_20160401_145901Dahulu, kompor ini dengan bahan bakar “lengis gas” (minyak tanah) yang tempatnya digantung diatas pohon agar bahan bakar dapat turun ke kompor dengan baik. Proses Kremasi di Bali semakin berkembang dari jaman-ke jaman, Teknologi dapat dengan mudah mempengaruhi kebiasaan orang Bali dalam melaksanakan upacara. Tetapi teknologi tidak mempengaruhi makna upacara keagamaan orang Bali. Seperti halnya kompor ini, yang saat ini menggunakan tabung, mirip tabung gas, namun bahan bakarnya tetap sama yaitu “lengis gas” hanya saja tabung ini memiliki tekanan sehingga dapat mendorong minyak dalam tabung. Orang Bali memang pintar dan kreatif. Bahkan dibeberapa tempat saat ini telah lebih maju dalam proses Kremasi, yaitu menggunakan Oven, oven yang khusus untuk proses Kremasi Jenasah.

Setelah melihat Kompor ini, bagaimana perasaan Anda sebagai orang Bali ? Cepat atau lambat, semakin hari kematian semakin dekat, usia memiliki batas, usia milik Yang Maha Pemilik. Tak ada yang akan kita bawa dalam perjalanan menuju Sorga selain karma wacana, kaya atau miskin sama-sama di “finishing” oleh kompor ini. Reinkarnasi yang kita jalani saat ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperbanyak karma wacana yang baik dan sesuai dengan ajaran agama Hindu, Trikaya Parisudha, serta kitab-kitab suci tuntunan hidup lainnya. Semoga hidup kita bermanfaat bagi masyarakat, penuh dengan kedamaian, kesadaran jiwa, kebijaksanaan, keharmonisan, keindahan, yang semuanya akan kita gunakan untuk menciptakan Sorga dalam kehidupan yang akan datang. Tercapainya Sorga akan menuntun kita dalam mencapai Moksa. Om Swaha ……..

Artikel Terkait Lainnya :

Siklus Aku

SIKLUS AKU. Apa yang kami maksud dengan “Tuhan tidak mencipta sesuatu” sesungguhnya telah mencipta baik yang sadar maupun yang tidak sadar. Yang Mutlak telah menciptakan “Aku” itu sendiri. Yang Kuasa tidak menciptakan sesuatu dari yang lain, tetapi dari diri-Nya sendiri. Dirinya inilah yang menjadi “Aku” itu, karena Aku “Atma” adalah percikan kecil dari-Nya, merupakan lidah Api Agung dari Api Keramat. Tetapi “Aku” bukanlah Yang Mutlak, karena Aku tidak Maha Besar seperti diri-Nya, dan juga tidak menciptakan alam semesta seperti diri-Nya. Aku hanyalah mahluk ciptaan-Nya, bukan Yang Kuasa itu. Walaupun demikian Aku mewarisi sifat-sifat dari yang Maha Kuasa.

Karena “Aku” telah ada baik yang sadar maupun yang tidak sadar sesungguhnya mental (kesadaran) itu telah tercipta. Hal ini jelas dalam kitab Atharvaveda XIX.52.1 disebutkan Kamas tad agre samavartata, manaso retah prathamam yad asit, artinya “Kekuatan kemauan lahir pertama-tama sekali di dunia Ia adalah intisari pikiran”. Intisari pikiran ini yang kemudian kita sebut sebagai kesadaran. Aku hadir mulai dalam bentuk kesadaran materi, kesadaran tumbuhan, kesadaran hewan, hingga kesadaran manusia seperti sekarang ini. Tiap tahapan evolusi kesadaran dapat dijelaskan dengan teori evolusi dan dapat diperbandingkan dengan turunnya awatara ke dunia ini. Baca artikel tentang Awatara Wisnu.

Aku hadir sebagai kesadaran yang paling rendah (kesadaran hidup) mengarungi samudera kehidupan. Aku hadir dalam kehidupan tumbuhan laut pemula. Aku hadir dalam binatang-binatang laut pemula. Aku hadir disitu untuk memberikan daya hidup. Aku mengarungi samudera luas dengan beragam pola kehidupan. Kesadaranku, kecerahanku, tertutup oleh api emosi kebendaan. Kehidupan ini tidak menyadari kehadiran Aku, karena ia telah dibutakan oleh api emosi kebendaan. Antara binatang satu dan lainnya acapkali bertempur memperebutkan kekuasaan. Ketentraman menjadi hilang. Pertikaian di mana-mana, sampai pada akhirnya Awatara turun untuk menyelamatkan sisi kehidupan. Ia datang memberikan kebijaksanaan. Ia datang memberikan kedamaian. Baca artikel tentang Turunnya Avatara ke Bumi

Hukum Karma telah terjadi. Setiap karma yang baik meningkatkan kualitas hidup. Karma buruk malah menjerumuskannya ke lembah terdalam. Punarbawa telah membuatku lahir kembali. Tapi karma baik meningkatkan kualitas hidup sehingga Aku bisa hadir dalam kehidupan yang lebih tinggi. Dari lautan Aku ke daratan, karena laut penuh gejolak, kehidupan berevolusi dari lautan ke daratan. Perpindahan ini cukup melegakan pada mulanya, namun emosi perkelahian, kebencian terus membelenggu, sehingga menutupi cahaya-cahaya terangku. Percekcokan pun masih tetap terjadi, perkelahian, pergumulan, pertentangan, permusuhan di mana-mana, sampai akhirnya Kurma Awatara menyelamatkan bumi ini dari kehancuran. Aku juga hadir di situ, dalam kehidupan itu.

Setelah perpindahan dari laut ke daratan, bukan berarti kedamaian di sini telah ditemukan. Malah perkelahian masih terjadi. Dimana-mana kebuasan merajalela, yang satu menindas yang lemah, menghancurkannya, memangsanya. Aku hadir dalam abad ini, hingga Narasima turun lagi untuk menyelamatkan isi dunia.

Berbekal dari batin-batin naluri, berbekal dari kesadaran-kesadaran fisik, karma positif selalu meningkatkan kualitas badan yang Aku tempati. Aku mulai menggunakan akal, kemudian memikirkan tentang nasib, cita-cita dan masa depan. Aku telah menggunakan pikiran, sesuatu yang belum pernah dimiliki dalam kehidupan “Aku” sebelumnya. Aku hadir sebagai mahluk berpikir. “Aku” menempati badan yang berpikir, “Aku” disebut Swayambhu Manu, mahluk pertama yang menggunakan pikiran. Tapi pikiran ini juga cendrung hanya digunakan untuk memenuhi nafsu-nafsu fisik belaka. Sinar terangku sudah lebih tampak di sana daripada bentuk kehidupan sebelumnya. Walaupun demikian ternyata evolusi pikiran ini masih membuat kekacauan-kekacauan hidup. Sampai akhirnya Parasu Rama datang menyelamatkan isi dunia. Dia adalah Awatara pemburu. Dia adalah penyelamat kehidupan dari perburuan.

Pada bentuk kehidupan yang lebih tinggi, sebagai Manu, di mana kehidupan masih dipenuhi oleh sensasi-sensasi perasaan, maka Rama hadir untuk menyelamatkan isi dunia. Tahap berikutnya turunlah Krishna dan Budha, sebagai Sang Penyelamat.

Kehidupan terus bergulir hingga “Aku” menempati kehidupan masa kini. Itulah perjalanan sang “Aku”, yang panjang dan melelahkan. Kini cahaya kesadaran telah memancar terang, kini emosi-emosi negatif telah kutinggalkan. Bila semua badan Kulepaskan, bila semua pikiran Kulepaskan, maka tinggalah “Aku”. dan “Aku” kembali pada-Nya. Itulah perjalanan hidupku. Aku berasal dari Yang Mutlak, menempati bentuk-bentuk kehidupan dari yang rendah, terus berevolusi ke yang tinggi karena karma. Haruskah evolusi Aku hentikan di sini? Atau haruskah Aku berulangkalu menempati badan ini?

Sumber bacaan buku Membangkitkan Kesadaran Atma Sangkan Paraning Dumadi oleh bapak Sastrawan. (RANBB)