Tag Archives: Moksha

Pengemis dan Bos

Setiap aku jalan, kemana saja, untuk aktivitas apa saja, tidak jarang aku melihat pengemis. Pengemis tua renta, pengemis muda belia atau pengemis anak-anak yang lucu-lucu bahkan bayi, yang belum tahu apa itu mengemis ikut menjadi pengemis. Pengemis lelaki, perempuan, bahkan antara laki-laki atau perempuan. Satu pertanyaan dalam hatiku, Agama apakah yang mereka anut ?

Kita lupakan dulu para pengemis itu. Setiap aku jalan, kemana saja, untuk aktivitas apa saja, tidak jarang aku melihat bos-bos dengan pakaian yang mewah. Bos pria dengan dasi yang licin, bos wanita dengan sepatu  hak (sol) tinggi. Serta tidak jarang orang-orang kaya turun dari mobil mewah beserta anak-anak meraka yang menggunakan jam tangan yang mahal. Perhatian si anak-anak yang terus menerus memperhatikan gadget yang ada di tangan. Satu pertanyaan dalam hatiku, Agama apakah yang mereka anut ?

Kembali kita ke dua hal diatas, si pengemis dan si bos. Pengemis dan bos dua mahluk sosial yang sama-sama ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Pengemis dan bos merupakan kisah nyata yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Pengemis tentu berbeda dengan bos, bos tentunya tidak sama dengan pengemis dihadapan kita, tetapi dihadapan-Nya adalah sama. Benarkah pengemis dan bos berbeda dihadapan kita ?

Yang mampu melihat perbedaan antara pengemis dan bos adalah Continue reading →

Hinduism divides a person’s life in four stages or Asramas

Four stages of life

Hinduism not only tells you the aims of life but it also shows the practical way to how to achieve those aims. To do this, Hinduism divides a person’s life in four stages or Asramas:

1. Brahmacharya-Asrama.

2. Grihastha-Asrama.

3. Vanaprastha-Asrama.

4. Sannyasa-Asrama.

In the old times, people used to live for about 100 years or more. Therefore, a person’s life span is assumed to be about hundred years and each stage is expected to last for about 20 to 25 years. The second asrama is expected to last longer compared to others. Remember, this is a guideline and not a compulsion to anybody, even for the Brahmins (priests) but it was an ideal way to live a well-planned life.

1. Brahmacharya-Asrama:

Brahmacharya means celibacy. This is the student phase of life. In this Asrama, one is supposed to acquire knowledge from his teacher and to remain celibate. The stage generally starts from 8 years of age. The student is introduced to his Guru through a ceremony called “Upanayana.”

Notably, this stage is only for boys and not for girls and the student needs to stay with his teacher until he finishes his studies. This stage ends at the age 20 to 25 or less depending upon the situation.

2. Grihastha-Asrama:

Grihasthashrama means the stage of life when the person is married and has to fulfill all his duties towards his wife, children, father, and mother. This stage starts when Brahmacharya Asrama ends. So, this is the second stage of life. During this stage, he has to earn his livelihood by using his skills he learnt from his teacher during Brahmacharya Asrama. This is the most important stage of life and tends to last longer than other stages. During this stage, he is authorized to enjoy “Kama” as well as he has to work hard to secure “Artha.”  This stage is expected to end at 50 years of age.

3. Vanaprastha-Asrama.

Vanaprastha means “going to the forest.”  This is the third stage of life. This is the stage when the person is to retire, give up sexual life, give up all the possessions to children, and enter the forest. He could leave his wife to the care of his sons or allow her to accompany him. He will live as a hermit, surviving on alms.

Jasa Perspektif 3d 0812 9489 4000

Jasa Perspektif 3d 0812 9489 4000

Notably, a person cannot enter Vanaprasthashrama unless and until his daughters are married and his sons are able to earn their own livelihood. This ensures that the person completes all his duties towards his families.

4. Sannyasa-Asrama:

Sannyasa means complete renunciation. This is the last stage of life and may start at 75 years of age but there is no such restriction of age. He is to dedicate himself entirely to spirituality. He is to live on fruits and roots found in the jungle. He is not allowed to eat cooked food or beg for alms. He needs to avoid unnecessary contacts with anybody. He does not need to care about his body. He is to practise austerities and thus be prepared for salvation. If he follow this stage properly, he would be released from the cycle of birth and rebirth and would attain Moksha (salvation).
Continue reading →

Seks: Kutukan atau Karunia ?

Seks Ala Binatang

Seks Ala Binatang adalah Seks yang berdasarkan nafsu belaka, tidak didasarkan pada DHARMA atau moral

Apakah seks suatu kutukan atau karunia ? Apakah seks suatu kejahatan (evil) atau kebajikan (virtue)? Agama memiliki pandangan berbeda mengenai hal ini. Agama Hindu dengan tegas menyatakan seks (kama) sebagai satu dari empat tujuan hidup manusia, yang disebut Purusharta. Tiga tujuan yang lain adalah “DHARMA“, hidup bermoral, “ARTHA“, harta kekayaan material, dan “MOKSHA”  bersatunya atman dengan Brahman (Tuhan). Seks sendiri memiliki dua tujuan: tujuan antara (prokreasi) dan tujuan dalam dirinya sendiri, yaitu untuk kenikmatan seks itu sendiri (rekreasi). Seks di sini bukan suatu kejahatan (evil) tetapi suatu karunia atau keutamaan (virtue).
Konsep penciptaan di dalam Hindu, sesuai dengan filsafat Samkya adalah perjumpaan antara purusa dan predana, dari sini alam semesta beserta isinya lahir melalui proses panjang. Suatu filsafat penciptaan yang lebih sesuai dengan teori evolusi. Keberadaan manusia di dunia ini bukan karena terlempar atau dilemparkan oleh Tuhan dari sorga, akibat kesalahan wanita. Di dalam WEDA Tuhan tidak saja dipuja sebagai Bapak, tetapi juga sebagai Ibu, seperti Ibu Pertiwi, Dewi Ibu ( Mother Goddness ). Perempuan dan lelaki memiliki kedudukan sederajat ( Ardhanaraswari ). Perempuan tidak dianggap penggoda moral, yang seluruh tubuhnya dianggap pembangkit nafsu birahi seperti – maaf – vagina, karena itu harus ditutupi dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Seks Dalam Agama Hindu.
Di dalam agama Hindu, ada dua aliran pemikiran tentang seks yang saling berlawanan. Aliran pemikiran pertama memandang seks secara negatif dipimpin oleh Bhagawan Wararucci dengan bukunya Sarasamuccaya. Aliran pemikiran kedua memandang seks secara positif dipimpin oleh Bhagawan Vatsyayana dengan bukunya Kama Sutra.
Wararucci antara lain mengatakan : “Ada satu alat pada tubuh si wanita, sangat menjijikkan dan sangat kotor; mestinya dibenci, dan dijauhi. Yaitu kulit yang berukuran sebesar kaki kijang. Di tengah-tengah kulit itu terdapat luka yang menganga yang tidak sembuh, yang menjadi saluran jalan air seni, penuh berisi keringat dan segala macam kotoran; itulah yang membuat orang bingung di dunia ini, kegila-gilaan, buta dan tuli karenanya “. Sarasamuccaya: 424-442 (stri/wanita)
Di tempat lain ia mengatakan betapa beruntungnya lahir sebagai manusia. Bagaimana bisa menusia lahir bila tidak melalui seks, dan bila tidak ada perempuan? Banyak orang menafsirkan bahwa pandangan Wararucci tentang seks disebabkan karena ia adalah seorang sanyasin, seorang yang sudah sepenuhnya di jalan spiritual. Dan pandangannya ini ditujukan kepada para sanyasin lain yang sama seperti dirinya.
Sebaliknya Vatsyayana menyatakan “Seksualitas adalah penting bagi kehidupan manusia, seperti makanan perlu untuk kesehatan badan, dan atas mereka bergantung dharma dan artha”
Kama adalah salah satu dari empat tujuan hidup, di samping DHARMA, ARTHA dan MOKSHA. ” Kama Sutra bukanlah karya pornografi. Ia adalah studi sistematik dan tidak berat sebelah mengenai salah satu aspek esensial dari keberadaan kita. Pertama dan utamanya, ia adalah satu gambar dari seni kehidupan khususnya seksualitas pada tubuh wanita, bagi warga kota yang beradab dan canggih, memenuhi tataran cinta, erotisme dan kenikmatan hidup, sejajar dengan risalah di bidang politik, ekonomi dan etik, Dharma Sastra dan Artha Sastra ” . ( Alain Danielou – The Complete Kama Sutra Park Street Press).
Di dalam Kama Sutra seks seolah-olah diberikan kebebasan tanpa batas, Di sini seks memang dieksploitasi secara luas dari segala kemungkinannya. Tetapi Kama Sutra juga mengatakan ” Seseorang tidak dapat memberikan dirinya kesenangan tanpa batasan. Aktivitas seseorang harus dikoordinasikan dengan memperhatikan Dharma dan Artha “. “Orang yang cabul adalah sia-sia, ia mengalami penghinaan, tidak menimbulkan kepercayaan dan mengundang cemohan orang. Mereka yang memanjakan dirinya dengan seks secara berlebihan menghancurkan dirinya sendiri dan juga hubungan-hubungan mereka “.
Kama harus diletakkan dalam bingkai Dharma dan Moksha. “Tiga tujuan pertama ( Dharma, Artha dan Kama ) tidak hanya dikejar demi kesenangan yang mereka berikan, tetapi juga demi pertumbuhan spiritual, menggabungkannya dengan tujuan keempat (Moksha) menjamin tiga tujuan pertama tidak dikejar secara tidak etis atau berlebihan, dan menyesuaikan seluruh kehidupan dan banyak kesenangannya dengan kesenangan tak terbayangkan dari pencerahan.” (Roger Walsh – Essential Spirituality )
Berbagai teknik percumbuan dan hubungan seksual dalam Kama Sutra ditujukan kepada laki-laki dan perempuan. Dengan menguasai teknik-teknik itu secara baik, kedua pasangan akan mencapai kepuasan. Jadi perempuan bukan sekedar sawah yang dapat digarap oleh laki-laki sesuka hatinya sendiri… Tujuan Kama Sutra adalah untuk menjamin kepuasan maksimal bagi suami istri, sehingga mereka dapat memelihara kasih sayang dan kesetiaan dalam berumah tangga mereka. Dan karena itu tidak mencari yang lain (selingkuh – admin).
Seks diciptakan agar manusia saling membutuhkan satu sama lain. Saling berkomunikasi satu sama lain. Saling mencintai. Dan untuk belajar rendah hati. Supaya dapat menikmati seks, kita perlu untuk dipersatukan dengan manusia yang lain untuk secara fisik menjadi cukup dekat bagi pemuasan seksual. Kita perlu mengatasi keangkuhan kita untuk membuat teman, untuk menjadi baik, romantis. Seks mengajari kita kerendahan hati ! Kita harus memberi untuk menerima kasih sayang, dan kita perlu saling membantu satu sama lain. Seks mengajarkan tanpa-keserakahan, cinta dan kemurahan hati.

Seks Adalah Sesuatu Yang Alamiah.
Narasi dan simbolisasi seks dalam agama Hindu dilakukan dengan bebas dan penuh rasa hormat. Gambar-gambar wanita dengan dada subur yang terbuka, relief-relief tentang hubungan seks dipahatkan di candi-candi, dipandang secara wajar. Patung-patung itu memang tidak dibuat untuk merangsang nafsu rendah manusia. Itu adalah symbol penciptaan dan pemeliharaan. Orang-orang Hindu memandang seksualitas, tanpa kecurigaan atau ketakutan. Para  lelaki Hindu tidak memandang seksualitas pada tubuh wanita sebagai godaan bagi kesehatan moral mereka. Mereka tidak boleh melemparkan kesalahan kepada orang lain atas tindakan yang dilakukannya akibat kelemahan atau ketidakmampuan moralnya sendiri. Seks tidak dibebani dengan konsep negatif seperti dosa atau penggodaan. Kama tidak pernah dipandang sebagai suatu yang kotor.
Erotisme dan sensualitas adalah kodrat manusia. Erotisme dan sensualitas mengafirmasi kehidupan, karena melalui seks kehidupan manusia terus berlanjut di muka bumi ini. Seks yang baik akan melahirkan generasi yang baik. Oleh karena itu perilaku seksual harus di atur oleh Dharma atau moral. DHARMA dan moral menuntut pengendalian diri, atau Sedhana. Yoga bahkan memberi jalan bagi sublimasi seksual menjadi energi spiritual. Jadi seks di samping baik harus juga benar.
Dalam pandangan Hindu perempuan bukan sumber dosa, setumpuk daging yang hanya berfungsi membangkitkan nafsu seksual laki-laki, atau pabrik untuk melahirkan anak-anak, tetapi partner sejajarnya untuk membagi cinta kasih dan melahirkan generasi demi generasi.
Sumber bacaan buku ” Tuhan Agama dan Negara “ oleh Ngakan Made Madrasuta penerbit Media Hindu. Ditulis oleh Rare Angon Nak Bali Belog untuk blog nakbalibelog.wordpress.com. Insert Potho ” Seks Ala Binatang ” – Taman Safari Gianyar Bali oleh Pecalang Bali Photo

Postingan Terkait Seks

Dewi Sri Laksmi Dewi Kesuburan

Trsna Papa Buddhi

Masturbasi dan Daya Spiritual

Sensualitas Bidadari Supraba

Seksualitas Dalam Hindu

“Seksualitas adalah penting bagi kehidupan manusia, seperti makanan perlu untuk kesehatan badan, dan atas mereka bergantung dharma dan artha “.  Kama Sutra I.37.

Seks diberikan tempat terhormat di dalam agama Hindu. Dalam 4 (Catur) Purusharta, tujuan hidup orang-orang Hindu ia menempati urutan ketiga, setelah “Dharma” dan “Artha”. Tujuan ketiga ini disebut “Kama” yang artinya kebahagiaan karena kenikmatan yang timbul dari hubungan seksual, atau Sanggama ( Sa = satu, Angga = badan, Ma = menjadi ), atau persatuan tubuh antara seorang lelaki dengan seorang wanita. Dalam bingkai Purusharta, Kama melibatkan tubuh, tetapi juga cinta dan jiwa. Hubungan seks yang dilakukan dalam hubungan perkawinan karena cinta akan memberikan kebahagiaan. Setelah Kama adalah Moksha, yaitu kebahagiaan abadi karena persatuan antara jiwa (atman) dengan Sang Hyang Widhi (Brahman, atau jiwa semesta). Keduanya ada kemiripan. Keduanya memberi kebahagiaan dalam gradasi yang berbeda. Bahkan ada agama yang menggambarkan tujuan terakhirnya adalah kenikmatan hubungan seks di sorga.

Tujuan Kama Continue reading →