Tag Archives: Orang Bali

Orang Bali, Pancasila Dan Burung Garuda

Orang Bali, Pancasila Dan Burung Garuda . Tak perlu diragukan kesetiaan Orang Bali pada Pancasila dan Lambang Negara Indonesia Yaitu Burung Garuda. Bila ada yang tidak setia merupakan suatu penghianatan terhadap bangsa, Leluhur dan agamanya. Hukum Karma yang akan diterimanya sungguh berat. “Tulah Hidup” itulah yang biasa Orang Bali katakan bila ada yang menghianati Leluhur dan Agamanya. Selama hidupnya akan menderita, lebih-lebih setelah meninggal dunia, yang mana Sang Atma akan kebingungan di alam maya. Tidak tahu jalan menuju Sorga dan tidak disambut oleh Keluarganya..

Seperti kita ketahui bersama, Burung Garuda adalah Kendaraan Dewa Wishnu. Dewa yang dipercaya Orang Bali sebagai Dewa Kemuliaan yang penuh dengan kasih sayang dalam memelihara dunia alam semesta ini. Lambang Negara Republik Indonesia adalah Burung Garuda Pancasila. Garuda Pancasila sendiri adalah Burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuno dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu kendaraan Wishnu yang menyerupai burung Elang Rajawali. Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.

Continue reading

Advertisements

Muda Mudi Banjar Ciledug

Kegiatan me-Banjar merupakan hal utama dalam kehidupan bermasyarakat bagi orang Bali baik itu di daerah Asli, Pulau Dewata, maupun di daerah perantauan seperti Jakarta, Batam, Sulawesi bahkan di Luar Negeri. Me-Banjar memiliki peran yang sangat penting dalam mempertahankan seni budaya, adat istiadat, sradha dan bakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Me-Banjar bagi orang Bali yang sering disebut Suka-Duka ini akan meningkatkan ikatan kekerabatan sesama orang Bali, dalam hal suka dan duka. Kunjungi http://www.banjarciledug.org

10748171_1493299407588373_199905060_n

Merdah Tualen

Me-Banjar tidak hanya untuk kalangan orangtua, atau yang sudah berkeluarga saja, namun bagi Muda-Mudinya pun akan me-Banjar. Perkumpulan Muda-Mudi ini sering disebut Sekaa Truna-Truni (STT), atau lebih lengkap STHD ‘Sekaa Trunia Truni Hindu Dharma‘. Demikian pula dengan STHD Banjar Ciledug yang berprestasi di bidang olahraga dan seni. Berikut kutipan dari media online bali.tribunnews, tentang Kontingen Sekaa Teruna Hindu Dharma (STHD) Ciledug sukses mempertahankan gelarnya dalam ajang Olahraga Gembira X 2014 yang digelar Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma (Peradah) Indonesia DPP DKI Jakarta di pelataran Pura Agung Taman Sari, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Minggu (2/11/2014). 

Ciledug Pertahankan Gelar, Puspayoga Dukung Simakrama Pemuda Hindu

Continue reading

Lagu Pop Bali Kerupuk

Lagu Pop Bali Kerupuk. Orang Bali adalah juru hibur yang bagus. Sejak berabad-abad silam, seni pertunjukan mereka selalu membuat penikmatnya terlena. Wayang, arja, topeng, prembon, drama gong, barong, gong kebyar, kelentangan, semara pegulingan, adalah kesenian yang menghibur. Gambuh, drama tari yang selalu dipuja dan diagung-agungkan sebagai cikal bakal dan sumber hampir semua seni tari Bali, sesungguhnya adalah seni yang menghibur, yang melenakan.
( Klik disini pilih winamp untuk mendengar lagu pop Bali )

Bali itu Seni

Orang Bali adalah juru hibur yang bagus

Sebagai juru hibur, orang Bali tak membedakan seni untuk entertainment, untuk dipersembahkan kepada Hyang Widhi, atau cuma untuk pelepas penat seperti pertunjukan joged bungbung. Awalnya, dalam urusan berkesenian, apapun yang dibuat dan disuguhkan oleh orang Bali selalu berupaya keras mengacu kepada mutu. Jika kemudian kesenian itu berkembang menjadi seni kemasan, yang mutunya dinilai sangat rendah, itu karena yang menggarapnya tidak lagi bisa disebut seniman. Mereka kaum tukang, yang lebih mementingkan wujud kemasan tinimbang isinya. Para tukang ini biasanya bekerja main comot, tak perlu bersusah-susah merenung untuk mendapat gagasan atau ilham.

Seni main comot ini semakin terasa ketika kemasan-kemasan itu disukai pasar. Jika dulu orang Bali menggelar hiburan dengan kesenian bermutu, kini mereka mencoba menyuguhkan seni massal; ramai, hiruk-pikuk, meriah, mendatangkan banyak duit, dirubung fans, dan mudah membuat orang berjingkrak-jingkrak. Seniman Bali lantas diajak terbiasa akrab dengan seni pop. Seni yang secepat mungkin digarap, dicomot entah dari mana, diolah, dan laris manis.

Dulu, seni yang menghibur itu ibarat nyamikan. Dia bukan makanan utama, cukup sebagai makanan ringan di kala senggang atau menjadi makanan penutup ketika bersantap malam. Kendati sebagai nyamikan, makanan itu tak bisa dianggap enteng. Es krim, misalnya, adalah makanan penutup yang mahal dan sedap. Banyak orang menunggu makanan penutup itu tinimbang menikmati makanan utama.
( Klik disini pilih winamp untuk mendengar lagu pop Bali )

Seni pertunjukan Bali zaman dulu itu seperti es krim. Sangat sedap, dan selalu membuat yang pernah mencicipi kangen bisa segera menikmatinya kembali. Sekarang pun, seni hiburan Bali juga seperti nyamikan. Tentu tak bisa disepadankan nyamikan itu dengan makanan Bali zaman dulu, ketika para seniman belum mengenal seni kemasan. Mereka mencipta tidak dikungkung waktu. Mereka bebas.

Terasa sekali kebebasan itu tak tampak dalam industri lagu pop Bali. Para penggubah lagu mencoba membuat lagu yang disukai pasar. Mereka tak bebas, karena mereka harus menyuguhkan hidangan sesuai selera umum. Seperti apa selera itu, lazimnya bisa segera diketahui lewat lagu macam apa yang laris. Ibarat membuat nyamikan, mereka menggubah lagu pop yang meriah, ramai, cepat menggoda orang untuk membelinya. Yang begini bukan jenis nyamikan es krim, tapi kerupuk. Digigit, ribut. Enteng. Yang penting orang menyukainya.

Tak heran, ketika mendengar sebuah lagu pop Bali, tiba-tiba langsung terasa kita pernah mendengar potongan lagu yang nyaris sama, entah kapan, entah di mana. Ya, seperti makan kerupuk, kita hanya merasakan satu rasa sama. Tentu beda dengan es krim, yang memang kaya aneka rasa. Dalam industri lagu pop Bali, kemasan itu, rasa itu, sama. Yang terasa kemudian adalah, orang begitu mudah menciptakan lagu, dan demikian gampang seseorang menyanyikannya. Tiba-tiba ada sekian pencipta lagu muncul, dan sekian bintang lagu pop melesat kencang.

Mungkin memang seperti itulah umumnya kesenian Bali masa kini. Tatkala sesuatu kesenian muncul, rasanya itu baru, padahal tak lebih dari pengulangan. Kesenian itu sungguh-sungguh jadi hiburan, lebih merosot tinimbang seni kemasan. Industri lagu pop Bali mempertajam bukti, dalam berkesenian masa kini, orang Bali benar-benar terseret dalam industri kesenian massal. Seni kriya Bali sudah dijejali oleh patung massal, patung pulasan. Kini kerawitan Bali modern didesak oleh industri lagu pop yang susah dibedakan oleh telinga awam lagu satu dengan lainnya. Rasanya, semua lagu pop Bali sama saja. Sama-sama Kerupuk.
( Klik disini pilih winamp untuk mendengar lagu pop Bali )
Sumber bacaan buku ” Jangan Mati di Bali – Tingkah Polah Negeri Turis”  merupakan judul buku karya Bapak Gde Aryantha Soethama. Ditulis di blog NakBaliBelog.wordpress.com oleh Eben Nak Bali Belog

Alangkah Lucu Orang Bali

Alangkah Lucu Orang Bali. Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa, yang ditertawakan adalah ketidaklucuan itu. “Kasihan deh lu…!” celetuk orang-orang.

Sesuap Nasi

Sesuap Nasi

Tetapi, orang Bali beda. Selain dikenal sebagai bangsa sederhana, terbuka, melontarkan pendapat apa adanya, orang Bali juga dikenal punya bakat besar untuk melucu. Orang Bali yang sering kumpul-kumpul dengan rekan-rekan mereka dari suku lain di Tanah AIr, pasti pernah mengalami, betapa mereka diharapkan menjadi pengocok perut dalam pertemuan itu. Agar suasana jadi santai dan yang hadir bisa tertawa terpingkal-pingkal. Orang Bali dianggap memiliki takdir untuk menjadikan suasana  hangat dan bersahabat.
Logat orang Bali berbahasa Indonesia, misalnya, hampir selalu dianggap lucu. Logat mereka udik, lugu, mengundang gelak tawa dan kasihan, namun membuat pendengarnya menjadi senang dan segera akrab. Tak sedikit orang akhirnya menjalin persahabatan dengan orang Bali berkat bakat lucu itu. Mungkin, kelucuan itu bersumber dari watak orang Bali yang, konon, suka tersenyum, rendah hati, dan terbuka dengan siapa saja. Bukankah senyum merupakan bibit tawa?
Pelancong-pelancong dari Jakarta atau Bandung yang senang memanfaatkan jasa sopir orang Bali ketika mereka dolan ke objek wisata, senantiasa terkesan oleh kelucuan dan keluguan sopir-sopir itu. Sopir yang merangkap pemandu wisata itu sering memberi layanan dan penjelasan tentang objek yang dikunjungi disertai cerita-cerita lucu dan guyonan-guyonan segar. Kemudian pelancong itu menyarankan kepada rekannya yang hendak liburan ke Bali untuk menggunakan jasa sopir lucu itu. “Lu cari aja Pak Ketut, sopir yang suka melucu itu. Nich… nomor hape-nya!”
Belakangan, predikat lucu bagi orang Bali kian melebar dan beragam. Tidak lagi lucu dalam arti sesungguhnya, tetapi lucu sebagai sebuah sindiran. Misalnya, orang Bali dikenal sangat suntuk dan khusuk kalau ada upacara di pura atau kegiatan adat dan keagamaan. Tak lama kemudian, mereka juga asyik bermain ceki atau domino. Ini dianggap lucu oleh pelancong-pelancong itu, ketika mereka diajak menyaksikan odalan di sebuah pura desa. “Lucu ya!?” ujar pelancong itu. “Bersujud dan berbakti, tetapi juga berbuat dosa sekaligus. Ha, ha, ha !’ Sopir orang Bali itu juga ikut tertawa. Benar-benar lucu. Lucunya dobel; Peristiwanya lucu, kisahnya pun tak kalah lucu.
Orang Bali lucu tidak hanya bisa disaksikan dalam pertunjukan drama-gong. Ada orang Bali yang lama di Jakarta berkomentar, “Bali itu memang sudah habis-habisan lucu, lebih lucu dari pentas drama-gong.” Ia menyebut begitu gigih orang Bali mempertahankan agar Bali tetap Bali. Mereka mencermati perkembangan tempat-tempat tujuan wisata. Jika ada vila hendak dibangun, ditelisik dengan ketat. Pembangunan resort baru dikaji. Apalagi jika pembangunan wisata itu menyangkut kawasan suci. Tapi, mereka kemudian bersilang pendapat antara setuju dan menolak. Ini tergolong lucu, karena selalu terjadi seperti itu, berulang kali. Alangkah lucu, karena orang Bali tak mau belajar dari pengalaman.
Alangkah Lucu Orang Bali. Rencana pemanfaatan ratusan hektar hutan dan Danau Buyan untuk bisnis hiburan industri pariwisata, juga bisa dijadikan contoh, betapa Bali memang sungguh-sungguh lucu. Pejabat yang berwenang memberi izin, begitu mendengar hasrat investor hendak mencaplok kawasan danau itu, sepantasnya langsung menolak. Jika investor tetap melangkah, pejabat itu semestinya berang. Jika kemudian si pejabat yang orang Bali hendak coba-coba memberi izin, itulah yang disebut lucu.
Kelucuan-kelucuan di Bali memang sudah berhamburan. Ketika tanah-tanah di kawasan suci Pulau Serangan, tempat keberadaan Pura Sakenan, dicaplok investor, orang Bali marah besar. Tapi, tatkala investor memperluas pulau suci itu, membangun jembatan untuk menghubungkannya dengan daratan Denpasar Selatan, orang Bali senang. Mereka girang, karena bisa langsung naik motor dan mobil ke Pura Sakenan, tak usah naik jukung. Tidakkah ini super-lucu?
Sebuah keluarga menghabiskan puluhan juta rupiah untuk menyelenggarakan upacara ngenteg linggih di sanggah, tapi si ayah menolak membiayai sekolah anaknya ke universitas. “Untuk apa kuliah, toh tamat nanti susah cari kerjaan. Berlayar saja, kerja di kapal pesiar, duitnya banyak!” Hardik si bapak. Si anak lanang menangis, karena ia cinta ilmu dan benci jadi jongos. Ini contoh kesedihan yang lucu.
Banyak tempat keramat, dekat kuburan misalnya, yang dulu lengang kini dipadati penghuni. Pelopor hunian itu adalah kaum pendatang. Orang Bali awalnya marah karena tempat keramat dilabrak. Tapi, lambat laun, orang Bali juga ikut berebut rezeki di wilayah itu membangun warung atau toko. Lucu.
Orang Bali itu pun bekerja giat, meniru kegigihan para pendatang. Ia jadi sibuk, tak sempet lagi bikin canang. Ia pun berlangganan canang untuk sesaji sehari-hari. Karena punya banyak duit, ia beli kulkas besar. Dan canang-canang dimasukkan ke kulkas itu agar tetap segar. Dulu, ini aneh dan lucu, sekarang tidak. Sudah lazim. Mereka menganggap dewa-dewi, bhatara-bhatari, layak juga menikmati “santapan” dingin.
Banyak hal bisa dijadikan contoh untuk membuktikan betapa orang Bali itu sungguh-sungguh lucu. Satu per satu, sehari-hari, bisa disaksikan betapa mereka berlomba-lomba untuk menjadi lucu. Kalau Bali menerus lucu, tentu tiada henti ia akan ditertawakan orang. Ha-ha !
Sumber bacaan ” Jangan Mati di Bali Tingkah Polah Negeri Turis “ oleh Gde Aryantha Soethama. Di posting oleh Rare Angon Nak Bali Belog.

Jasa Rendering 3D 081294894000

Jasa Rendering 3D http://eben3d.blogspot.com

Siapa Pemilik Bali ?

Penari Bali caka 1934

Penari Bali caka 1934

Bali milik siapa ? Benarkah Bali masih tetap, hingga kini sepenuhnya milik orang Bali ? Pertanyaan ini muncul dari sanubari manusia Bali, karena mereka menyadari industri turisme yang menumpahkan kekayaan juga menerbitkan masalah-masalah baru tentang kepemilikan Bali. Semakin banyak tanah dikuasai oleh orang luar, dibanguni hotel, jalan-jalan dibenahi dan diperlebar untuk kehadiran orang-orang luar yang bermukim di Bali. Bandara diperbaiki dan ditata rapi untuk para pendatang.  Jembatan yang hendak dibentang antara Tanjung Benoa ke Pulau Serangan sesungguhnya untuk kaum pendatang itu.

Orang Bali kian menyadari , “Kekuasaan” mereka akan tanah kelahiran makin melorot. Semakin hari kian banyak orang berniat “menguasai” Bali. Tetapi, lazimnya orang Bali tidak bisa langsung menyadari proses penguasaan itu. Mereka baru sadar setelah membahas dengan mendalam liku-liku turisme di Bali.

Photo kegiatan Masyarakat Hindu Bali Pura dan lokasi

Continue reading