Tag Archives: Panca Sradha

Jaman Berubah Kenapa Sifat Manusia Tidak ??

“Nang kenapa ya dari jaman Mahabaratha , Ramayana, Kerajaan, Kemerdekaan, hingga jaman Milenial saat ini sifat manusia tidak berubah ?”, Tanya Rare kepada Nang Belog pada saat mereka sedang menonton televisi, dimana berita televisi hampir seluruh salurannya memberitakan tentang kegiatan pasca pengumuman pemilu ( yach tahu sendirilah). Keadaan alam telah berubah tetapi kenapa ya sifat-sifat manusia selalu sama ? Kemajuan jaman dari primitif hingga modern telah dilalui oleh jaman, tetapi sifat manusia tidak ada yang berubah.

” Jaman adalah suatu keadaan Rare ” jelas Nang Belog. “Sedangkan sifat adalah suatu yang melekat pada diri suatu benda atau objek baik hidup maupun benda mati, sifat air dari jaman sebelum ada handphone juga sifatnya cair, mengikuti bentuk wadahnya, molekulnya bebas bergerak, pergerakannya selalu mencari tempat yang lebih rendah, itulah sifat air. Demikian juga dengan batu, benda mati lainnya, akan selalu sama walaupun dia telah sirna dari muka bumi ini ” lanjut Nang Belog.

Rare mungkin belum bisa mendapatkan jawaban dari Nang Belog, karena pertanyaan yang ia ajukan mengenai sifat yang tidak berubah. “Bisa lebih diperjelas gak Nang ” Tanya Rare sambil menyeruput kopi pahit tanpa gula kesukaannya.

” Sifat manusia dari jaman-ke jaman tidak akan berubah, karena dari jaman ke jaman manusia itu, ya itu-itu saja. Jaman ini ia lahir dengan sifat pemarah, dan pada jaman berikutnya ia lahir lagi juga dengan sifat yang sama, yaitu pemarah “, jawan Nang Belog. Kenapa bisa manusia itu lahir dari jaman yang satu dengan jaman yang lain ? .

Kita percaya akan Punarbhawa, ini merupakan lima (5) dasar Kepercayaan dan Keyakinan agama Hindu, yang diantaranya Percaya akan adanya Tuhan (Brahman), Percaya akan adanya Atman, Percaya akan adanya Karmaphala, Percaya akan adanya Punarbhawa (Samsara) dan Percaya akan adanya Moksa.

Dengan keyakinan ini, yaitu pada percaya dan yakin akan adanya Punarbhawa inilah menyebabkan sifat-sifat manusia tidak berbeda dari jaman ke jaman, justru bisa lebih buruk lagi yang dulunya memiliki sifat pemarah kini menjadi selain pemarah juga penjudi, misalnya.

“Nang … kok semakin ngelantur, dari pertanyaan sifat manusia tidak berubah, sampe bawa-bawa agama ? ” , Tanya Rare semakin tidak mengerti. ” Apakah batu, air juga mengalami Punarbhawa ?” Punarbhawa adalah bahasa Sanskerta yang berarti kelahiran kembali atau lahir lagi, kelahiran baru atau kelahiran berulang-ulang. Punarbhawa juga dapat disebut sebagai Reinkarnasi. Seperti dinyatakan dalam Bhagawadgita V.6 ” Ajo pisanavya yatma, bhutanam iswaro pisan, prakarthim svam adhisthaya, sambhawany atma mayaya” yang artinya ” Meskipun Aku telah dilahirkan, Sikap Ku kekal serta menjadi Iswara, Tetapi Aku memegang teguh sifat KU, Datang menjelma dengan jalan maya “.

Dapat dikatakan bahwa manusia-manusia jaman sekarang ini tidak ada bedanya dengan manusia-manusia terdahulu bahkan hingga jaman batu sekalipun. Ia adalah orang yang sama, dengan sifat yang sama pula, ia telah lahir, hidup, mati kembali lagi lahir, hidup dan mati lagi, begitu terus menerus. Sehingga tidaklah mengherankan bagi Nang Belog yang melihat sifat-sifat manusia seperti pemarah, perusak, penghasut (seperti Sengkuni), atau sifat-sifat yang menyejukkan seperti Dharmawangsa yang senantiasa sabar dan penuh keikhlasan, atau sifat Bima Sena yang berani dan membela kebenaran, dan lain sebagainya.

“Bagaimana mengupayakan agar sifat-sifat tadi bisa berubah ? Apakah harus lahir kembali ? ” Tanya Rare yang penasaran, karena tontonan televisi semakin tidak menentu, berita hoak juga semakin dipercaya, semua informasi ditelan mentah-mentah, sepertinya otak ini adalah tempat sampah yang memiliki memori super Gigabyte. Beragama tetapi sifatnya tidak berubah sama sekali, ikut-ikutan korupsi walaupun sudah berjanji dihadapan Tuhan, aneh memang manusia saat ini. Dulu hanya ada satu Sengkuni, saat ini semakin banyak Sengkuni-Sengkuni lain, tumbuh subur, dulu Sengkuni mengasut Duryodana, kini kembali ia menghasut, bisa jadi orang yang sama ….

Memiliki sebuah pertanyaan apakah sifat-sifat bisa berubah ?, itu adalah suatu perubahan. Dulu mungkin saja hanya menerima suatu sifat yang ada dalam diri kita, lah rasanya aku memiliki sifat pemarah, apakah bisa berubah ?. Perubahan dapat terjadi, dan sangat mungkin terjadi walaupun harus kita lahir berulang-ulang (ber-Reinkarnasi), namun ini harus kita syukuri dan berbahagialah kita telah terlahir sebagai manusia yang dianugrahi sabda, bayu dan idep ini. Mungkin saja dulu kita ini seekor binatang yang baik hati, dengan kebaikan itulah kita berubah menjadi manusia pada kehidupan ini.

Dalam Sloka Sarasamuccaya 2 disampaikan “Manusah sarwabhutesu, warttate wai cubhacubhe, acubhesu samawistam, cubheswewa wakarayet ” yang artinya “Dari semua mahluk yang hidup, Hanya manusia dapat berbuat baik dan buruk, Peleburan perbuatan buruk menjadi baik, hanya dapat dilakukan oleh manusia, itulah menfaatnya menjadi manusia “. Dari sloka ini, melakukan perbuatan baik secara terus menerus dapat merubah sifat-sifat kita sebagai manusia yang awalnya pemarah menjadi penyabar.

Rare semakin memahami hal yang ditontonnya di televisi, bahwasanya hal itu juga telah pernah terjadi pada jaman-jaman sebelumnya, jaman kemerdekaan dimana membutuhkan pejuang-pejuang untuk bisa merdeka, demikian pula saat ini, masih ada sifat-sifat sebagai pejuang. Pejuang pengisi kemerdekaan, mungkin sifatnya sama, sifatnya selalu penuh dengan gairah disaat memperjuangkan sesuatu. Sepertinya sifat-sifat ini lebih disalurkan kepada yang lebih elegan, dulu berjuang dengan fisik, mungkin kini berjuang menggunakan diplomasi atau diskusi untuk mendapatkan solusi.

Ternyata penyebabnya karena sifat-sifat itu ber-Reinkarnasi pada tubuh-tubuh yang baru, dan semoga sifat-sifat baiklah yang akan banyak tumbuh di jaman-jaman yang akan datang….

Adat Bali Dikenal Sebatas Pakaian

BALI . Bila mau memasuki pura diwajibkan berpakaian adat, prewed dengan pakaian adat, atau pernikahan anak-anak muda dewasa ini sangat “mewah” dengan pakaian Adat Bali yang lengkap dengan keris. Demikianlah adat yang dikenal hanya sebatas pakaian. Sudahkah anak-anak muda Bali, tamu wisatawan mengetahui dengan jelas apa itu Adat Bali ? Di Bali ada beberapa hal yang berhubungan dengan Adat, seperti  Desa Adat, Hukum Adat, Lembaga Adat dan Tanah Adat

Adat Bali adalah adat yang bersumber kepada ajaran-ajaran Agama Hindu. Ini berarti bahwa keseluruhan dari Adat Bali, baik itu yang berhubungan dengan aspek budaya, maupun aspek hukumnya harus bertitik tolak dari segi ajaran Agama Hindu dan nilai-nilai budaya yang terdapat di kalangan masyarakat Adat Hindu itu sendiri yaitu dalam mereka menghubungkan diri dengan Hyang Widhi Wasa, dengan alam sekitarnya dan dengan sesamanya, yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

Tri Hita Karana mengajarkan bahwa adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) antara manusia dengan wilayah tempat pemukiman dan alam sekitarnya, serta antara manusia dengan sesamanya, akan memungkinkan mereka untuk menikmati kesejahteraan dan kebahagiaan yang disebut Moksha dan Jagatdhita.

Adapun cara untuk melaksanakan hubungan-hubungan  tersebut dilukiskan dalam tiga kerangka ajaran Agama Hindu yaitu yang berkaitan dengan pengamalan Tattwa, Sila Sesana dan Upakara Yajna. Dalam bidang Tattwa misalnya Panca Sradha, Catur Purusartha, Tri Kaya Parisudha, Siwa Sesana, Widhi Tattwa, Purana Dewa, Purwa Gama, Yama Purana Tattwa dan sebagainya. Dalam bidang Sila Sesana, antara lain memahami makna yang terkandung dalam ajaran Catur Guru Bhakti, Sila Kramaning Aguron-guron, Wreti Sesana, Yama Brata, Yama Niama Brata, Sad Guna, Sad Atatayi, Sadripu, Catur Periksa dan lain-lain. Sedang dalam bidang Upakara Yajna melaksanakan Panca Yajna yang terdiri dari Dewa Yajna, Manusa Yajna, Pitra Yajna, Resi Yajna dan Butha Yajna baik dalam arti yang sempit maupun luas.

Secara umum Adat Bali diarahkan untuk membimbing warga adatnya melaksanakan Dharma agama yaitu mengamalkan ajaran Agama Hindu seutuhnya dan mengamalkan Dharma Negara atau menjalankan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya sebagai warga bangsa dan warga negara di bawah bimbingan pemerintah.

Adat Bali bukan sebatas pakaian atau penampilan luar saja, namun sangat penting dan utama adalah pada pemahaman ajaran agama Hindu diatas. Semoga masyarakat Bali dalam memperkenalkan Adat Bali tidak sebatas pakaian, tarian, sejarah, tempat suci, pura, namun juga inti dari Adat Bali yang sebenarnya, yang bersumber dari ajaran agama Hindu. Sehingga tidak ada lagi dualisme sebagian masyarakat kita, dimana objek wisata, budaya,  dan  alam Bali di sanjung (lebih tepat dieksploitasi ) habis-habisan tetapi ajaran agama Hindu yang suci dilecehkan dan dihinakan.

(RANBB)