Tag Archives: Pering Selonjor

Hari Raya Hindu, Jangan Hanya Sekedar Seremonial

Hari raya Hindu Bali, tiang tekankan pada Bali karena Hindu itu sangat luas dengan kebebasan yang sangat luas dalam menerapkan isi Kitab Suci Weda. Semua jalan menuju pada-Nya, itulah kalimat singkat yang ada dalam ajaran Weda. Hendaknya umat Hindu Dharma sekarang ini tidak hanya menekankan pada  hal-hal upakara dan upacara atau ritus (seremoni) semata, hingga Filsafat dan Susila agama Hindu yang sebenarnya merupakan isi ajaran agama Hindu sering diabaikan. Seakan-akan agama Hindu Dharma kelihatannya sebagai agama upacara semata.

Pada hakekatnya hari raya Hindu mempunyai tujuan ganda yaitu Wahya dan Adyatmika, Sekala dan Niskala, Nyata dan Gaib atau Material dan Spiritual. Sehingga setiap perayaan hari raya hendaknya diikuti kegiatan-kegiatan nyata yang relevan dengan tujuan hari raya tersebut. Hari raya dengan yadnya yang dipersembahkan sebagai alat didaktik metodik pembinaan umat Hindu, yang mengandung unsur-unsur positif dalam berbagai aspek kehidupan.

Hal-hal nyata yang dapat dilaksanakan saat persiapan, pelaksanaan maupun setelah hari raya yang tentunya relevan dengan hari raya tersebut. Berikut contoh hari raya dan kegiatan yang relevan, agar terjadi peningkatan dalam hal pengetahuan Filsafat maupun Susilanya.

Hari Raya Galungan 

Hari raya Galungan dan Kuningan sangat berkaitan dengan kisah kemenangan Dharma, ” Satyam Eva Jayate ” Kebenaran pasti menang ! Hal-hal yang dapat dilaksanakan dalam rangka hari raya Galungan adalah :

  1. Lomba membuat penjor, baik dari segi bentuk, kelengkapan sarana dalam sebuah penjor maupun sejarah, kenapa dibuatnya sebuah penjor.
  2. Lomba membuat lawar, dari segi kuliner bisa dinilai kelezatannya, dari segi Filsafat tentunya diperlombakan dalam bentuk penulisan latar belakang dibuatnya lawar merah dan lawar putih.
  3. Kontes menggambar baik lukisan, wayang, ataupun seni pahat tokoh-tokoh yang berkaitan dengan kisah dibalik hari Raya Galungan seperti Mayadenawa, Dewa Indra, Senjata Dewata Nawa Sanga dan lain sebagainya.
  4. Kontes mebebasan atau membaca sloka Ramayana.

Dewasa ini, ritual upakara dan upacara yang digelar umat Hindu Bali bukan hanya di Bali, namun sudah diseluruh Indonesia. Perkembangannya sangat pesat, sehingga pengetahuan Filsafat agama sangat diperlukan agar terjadi kesamaan persepsi  antara umat Hindu di Bali dengan di seluruh Indonesia lebih-lebih dengan umat Hindu yang berlatar belakang budaya Jawa, Sumatera ataupun Kalimantan. Pembinaan yang dilakukan melalui Dharma Wacana, ataupun seminar-seminar. Umat Hindu Bali seyogyanya meningkatkan pengetahuan Filsafat seperti agama Hindu diluar Bali, seperti Hindu yang berlatar belakang Jawa maupun di India. (RANBB)

Penjor | Pering Selonjor

Penjor adalah Pering Selonjor, Pering (bambu) selonjor (sebatang) jadi bambu sebatang  yang dihias dan dibuat sedemikian rupa sehingga akan terlihat indah. Selain indah Penjor di Bali yang berhubungan dengan Upacara Yadnya, dituntut pula benar dan sesuai dengan Filsafat, Susila dan Apacara. Pada Hari Raya Galungan, yang jatuh pada tanggal 1 Februari 2012 ini, masyarakat Hindu Bali di seluruh Nusantara bahkan di dunia tentunya sudah bersiap-siap membuat Penjor. Pada Hari Raya Galungan umat Hindu “Memenjor” yang terbuat dari Sebatang bambu dihiasi dengan “busung” /janur, dilengkapi pula dengan “keraras” /daun pisang kering, “kolong-kolong” terbuat dari janur, “Plawa” / kayumas, Pala Bungkah – Pala Gantung, Kelapa Bungkulan, Jajan dan Sampyan Penjor. Untuk mengikat dipergunakan “Tali Tutus ” / tali bambu, bukan tali plastik seperti kebanyakan saat ini. Penjor untuk keperluan Upakara Yadnya dilengkapi dengan Sanggah Cucuk sebagai tempat  menaruh persembahan / Yadnya.

Penjor merupakan perlambang dari Gunung Udaya / Tohlangkir yang lazim disebutkan dengan nama Gunung Agung, Penjor merupakan ungkapan rasa syukur dan bakti kita kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atas segala kesejahteraan dan kedamaian yang telah dianugrahkan kepada umat manusia. Gunung Agung adalah tempat suci, demikian pula gunung-gunung yang lain di Nusantara, sehingga kesucian ini diwujudkan dengan didirikannya tempat-tempat suci Hindu / Pura, seperti di Gunung Mahameru, Gunung Semeru, atau Gunung Himalaya.

Rahajeng Galungan lan Kuningan ring Umat Hindu Sedharma, Dumogi mawit saking asung kertha waranugraha Ida Sanghyang Widhi Wasa, Semeton ngemolihang napi sane keaptiang ring warsa 2012 tur ngantos riwekasan. Ajeg Bali.

Bahan bacaan ; dari buku Arti dan Makna Sarana Upakara oleh Pinandita, Drs. I Ketut Pasek Swastika. di posting oleh Rare Angon Nak Bali Belog.